Tag: tsunami

  • BRIN: Indonesia Perlu Segera Membuat Peta Batimetri untuk Petakan Tsunami yang Dipicu Gempa

    BRIN: Indonesia Perlu Segera Membuat Peta Batimetri untuk Petakan Tsunami yang Dipicu Gempa

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusuf Surachman Djajadihardja mengungkapkan Indonesia perlu membuat Peta Batimetri

    Menurutnya, Peta Batimetri dapat membantu Indonesia dalam mengumpulkan data penting untuk memprediksi bencana tsunami yang dipicu gempa.

    “Batimetri dapat diartikan sebagai pengukuran dan pemetaan topografi dasar laut. Manfaat Peta Batimetri adalah dapat langsung mengevaluasi deformasi setelah terjadinya gempa besar bawah laut yang menyebabkan tsunami,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Rabu (10/7/2024).

    Yusuf menjelaskan implementasi Peta Batimetri telah dilakukan oleh Jepang, antara lain dalam memprediksi bencana tsunami yang melanda negara tersebut pada 11 Maret 2011 silam.

    “Jepang dapat langsung mengidentifikasi penyebab tsunami, dan sehari setelah bencana tersebut mengumumkan adanya pergerakan sebesar 50 meter dilihat dari awal data pembanding,” tambahnya.

    Baca: BRIN lakukan pemetaan sesar gempa di Pulau Jawa

    Jika dibandingkan dengan bencana tsunami di Indonesia yang pernah terjadi di Aceh pada 2004 silam, kata Yusuf, Indonesia tidak memiliki data awal, sehingga tidak dapat melihat perambatan tsunami.

    Selain itu, dampak yang ditimbulkan akibat bencana tersebut juga sangat dahsyat, tidak hanya di darat, namun juga mengakibatkan permukaan dasar laut yang berantakan dan menghasilkan lumpur yang sangat banyak.

    “Antisipasi mempunyai data sebelum dan sesudah bencana menunjukkan pentingnya Batimetri menjadi dasar informasi untuk dapat memprediksi bencana itu akan terjadi,” tegasnya.

    Di samping itu, Yusuf mengungkapkan Peta Batimetri juga dibutuhkan sebagai pertahanan di daerah laut, karena laut tidak dapat dilihat secara visual, namun bisa dibayangkan.

    “Peta Batimetri membantu Indonesia untuk mengetahui wilayah perairannya secara detail, termasuk kedalaman laut, bentuk dasar laut, dan keberadaan berbagai fitur geomorfologi seperti terumbu karang, gunung bawah laut, dan palung laut,” paparnya.

    Baca: Indonesia rawan gempa tapi literasi rendah

    Menurut Yusuf, manfaat Peta Batimetri tidak hanya terbatas pada sektor maritim, tetapi juga meluas ke berbagai bidang lain seperti riset, perikanan, industri, pariwisata, dan penanggulangan bencana alam.

    “Peta Batimetri adalah aset berharga yang harus dimanfaatkan secara bijak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian laut bagi generasi sekarang dan mendatang,” ucapnya.

    Yusuf berharap Peta Batimetri dapat segera diimplementasikan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

    Karena dengan memanfaatkan peta batimetri secara optimal, berbagai faktor seperti keselamatan, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.

    Sumber:Antaranewws.com

  • Empat Cara Ini Perlu Dilakukan Dalam Menanggulangi dan Mitigasi Tsunami

    Empat Cara Ini Perlu Dilakukan Dalam Menanggulangi dan Mitigasi Tsunami

    7cloud.asia – Indonesia kerap disebut sebagai ring of fire karena kondisi geologis dikelilingi oleh gunung berapi dan posisinya diapit tiga lempeng bumi Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, serta Lempeng Pasifik.

    Kondisi seperti ini menuntut masyarakat untuk selalu hidup berdampingan dengan potensi bencana alam gempa bumi dan juga tsunami.

    Bencana alam dan tsunami dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.karena itu perlu edukasi terkait penanggulangan dan mitigasi bencana untuk mengurangi risiko bencana alam.

    Baca: Mengenang tsunami Aceh

    Melansir Antaranews, ada empat cara untuk penanggulangan dan mitigasi tsunami, yaitu:

    1. Sistem peringatan dini tsunami

    Indonesia saat memiliki teknologi-teknologi deteksi bencana Tsunami, yaitu :

    • Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS) 4.0 untuk mendukung keselamatan dari ancaman gempa bumi dan tsunami.
    • Info BMKG 4.0 yang memberikan layanan informasi cuaca dan iklim secara lebih presisi dan akurat.
    • Digital Enhanced Cordless Telecommunications (DECT) Handset yaitu perangkat yang dikhususkan untuk membantu petugas dalam memantau lokasi-lokasi bencana yang lebih berbahaya, seperti tanah longsor atau lokasi letusan gunung.
    • Teknologi Call Center dapat secara otomatis membuat laporan statistik mengenai jenis-jenis panggilan darurat yang pernah masuk dari petugas lapangan, sehingga proses analisa keadaan dapat segera dilakukan tanpa hambatan teknis apapun.
    • Multi Parameter Radar (MPR) bisa memberi peringatan dini bila terjadi bencana dan bisa dipindahkan sesuai kebutuhan serta membantu dalam perekaman data cuaca.
    • INA TRITON Buoy untuk memantau perubahan unsur cuaca di atas dan bawah laut.

    2. Edukasi dan kesadaran masyarakat

    Tak bisa dipungkiri, pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda dan tindakan yang harus diambil saat terjadi tsunami masih rendah.

    Baca: Kenang gempa Palu, masyarakat hijaukan Teluk Palu

    Karena itu, program edukasi di sekolah, kampanye kesadaran masyarakat terhadap tsunami, dan latihan evakuasi berkala dapat membantu masyarakat memahami risiko tsunami dan cara bertindak dengan siaga.

    Dengan demikian, ketika terjadi tsunami masyarakat dapat menyelamatkan nyawa dengan memastikan bahwa orang tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus dilakukan ketika ada peringatan tsunami yang dikeluarkan.

    3. Rencana evakuasi dan infrastruktur pendukung

    Rencana evakuasi yang jelas dan infrastruktur pendukung yang memadai sangat penting dalam mitigasi tsunami.

    Baca: Ini saran BRIN untuk petakan tsunami yang dipicu gempa

    Pemerintah dan otoritas setempat harus memastikan bahwa ada jalur evakuasi yang jelas dan dapat diakses, serta tempat evakuasi yang aman dan cukup untuk menampung warga yang terdampak.

    Adapun hal-hal yang harus dilakukan setelah terjadi tsunami adalah:

    • Perhatikan cedera yang dialami diri sendiri dan coba untuk mendapatkan pertolongan pertama sebelum membantu orang lain yang terluka atau terjebak dalam reruntuhan.
    • Jangan kembali ke rumah jika belum dinyatakan aman.
    • Selalu perhatikan kekuatan bangunan atau rumah sebelum masuk untuk menghindari runtuhan bangunan.
    • Hindari puing-puing yang terbawa arus karena dimungkinkan terdapat benda yang bisa berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan.

    4. Monitoring dan penelitian

    Selain melakukan hal-hal diatas, peneliti perlu melakukan monitoring dan penelitian berkelanjutan tentang tsunami dan fenomena terkait.

    Baca: BMKG ajak pihak swasta untuk mitigasi bencana

    Hal ini  sangat penting dilakukan untuk memahami dan mengurangi risiko tsunami.

    Para peneliti harus terus mempelajari pola gempa bumi, perubahan permukaan laut, dan fenomena alam lainnya yang dapat memicu tsunami.

    Hasil penelitian dan data tersebut nantinya digunakan untuk meningkatkan sistem peringatan dini, merancang bangunan yang lebih aman, dan mengembangkan strategi mitigasi yang lebih efektif.

  • Mengenal Apa Itu Megathrust yang Bisa Picu Gempa dan Tsunami di Indonesia

    Mengenal Apa Itu Megathrust yang Bisa Picu Gempa dan Tsunami di Indonesia

    7cloud.asia – Potensi gempa megathrust menjadi perbincangan publik setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan potensi gempa megathrust yang bisa terjadi di Indonesia.

    Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, gempa megathrust bisa terjadi karena seismic gap Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.

    Megathrust Selat Sunda berpotensi memicu terjadinya gempa dahsyat dengan magnitudo mencapai 8,7. Sedangkan Megathrust Mentawai-Siberut bisa menyebabkan gempa berkekuatan magnitudo 8,9.

    “Kedua segmen megathrust ini boleh dikata tinggal menunggu waktu karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar,” kata Daryono, dilansir dari Kompas.com, Senin (13/8/2024).

    Selain gempa berkekuatan tinggi, gempa megathrust juga disebut dapat memicu terjadinya tsunami jika sumber gempa terjadi di laut.

    Baca Juga: Tujuh Segmen Sesar Semangko Berada di Sumatra Barat, Ini Daftarnya

    Sebenarnya apa itu gempa megathrust? Secara etimologi, gempa megathrust adalah gempa bumi yang berasal dari zona megathrust.

    Kata “Mega” itu artinya besar, sedangkan kata “Thrust” berarti sesar sungkup. Letaknya berada di perbatasan pertemuan continental crust (kerak benua) dan oceanic crust (kerak samudra).

    Dilansir dalam buku “Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia tahun 2017” berdasarkan hasil kajian para pakar gempa bumi, zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona megathrust.

    Zona megathrust menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal. Menurut Daryono, gempa megathrust berpusat di bidang kontak antarlempeng dengan kedalaman kurang dari 45-50 kilometer.

    Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng yang kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa.

    Baca Juga: BMKG Ingatkan Warga Garut untuk Mewaspadai Dua Sesar Gempa di Wilayah Itu

    Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting). Gempa dalam skala besar di laut kemudian memicu tsunami.

    Kapan gempa megathrust terjadi? Kepala Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya Adi Susilo mengatakan, gempa megathrust memang berpotensi terjadi di Indonesia.

    Kendati demikian, beberapa gempa yang terjadi di Indonesia belakangan diharapkan tidak membuat masyarakat panik dan mengaitkannya dengan gempa megathrust.

    “Gempa megathrust memang potensi ada, tetapi bukan diprediksi pasti terjadi,” kata dia, dilansir dari Kompas.id.

    Ia juga mengatakan, gempa megathrust terjadi ribuan tahun sekali. Menurut penelitian yang diterbitkan di berbagai jurnal, gempa megathrust baru terjadi ketika gempa berbarengan di sepanjang zona subduksi selatan Jawa.

    Baca Juga: BRIN Lakukan Pemetaan Sesar di Pulau Jawa: Sejumlah Kota Ini Rawan Terdampak Gempa

    “Inilah yang berpotensi menyebabkan gempa besar sekitar 8 MMI dengan potensi tsunami 20 meter. Kapan itu terjadi? Kemungkinan bisa 2000 tahun sekali,” ujar Adi.

    Dikutip dari Kontan, gempa megathrust berbesar dalam 20 tahun terakhir adalah gempa Tohoku berkekuatan 9,0–9,1 skala Richter pada 2011 silam.

    Gempa megathrust bisa picu tsunami Kepala Bidang (Kabid) PK BPBD Provinsi Sumbar, Syahrazad Jamil mengatakan, gempa megathrust M 8,9 dapat memicu terjadinya tsunami setinggi 6-10 meter.

    “20 sampai 30 menit kemudian disusul gelombang tsunami di Kota Padang setinggi enam hingga 10 meter dengan jarak dua hingga lima kilometer,” ungkapnya dilansir dari Antara.

    Melihat potensi bencana tersebut, pihaknya mempersiapkan mitigasi dengan menjadikan kawasan Gunung Padang sebagai tujuan evakuasi warga binaan apabila tsunami terjadi.

    Baca Juga: BMKG: Aktivitas Sesar Cugenang Terus Berlanjut Timbulkan Gempa di Cianjur dan Sekitarnya

    Sementara itu, pada segmen zona megathrust Selat Sunda, gempa megathrust dengan M 8,7 yang terjadi bersamaan dengan segmentasi di atas dan timur kawasan tersebut dapat memicu terjadinya tsunami.

    Segmentasi di atas megathrust Selat Sunda adalah megathrust Enggano. Sedangkan segmentasi di timur Selat Sunda adalah megathrust Jawa Barat-Tengah.

    Doktor yang pernah meneliti potensi gempa bumi megathrust dan tsunami di Selatan Jawa, Widjo Kongko mengatakan, ketika gempa terjadi secara bersamaan di zona tersebut, kekuatannya bisa mencapai M 9,0.

    “Energi yang dihasilkan dari potensi gempa itu mirip dengan gempa bumi dan tsunami Aceh 2004,” ucapnya, dikutip dari Antara.

    Menurut permodelan, Widjo mengatakan bahwa secara saintifik tsunami yang mungkin terjadi akibat megathrust Selat Sunda ini bisa lebih tinggi dari Aceh.

    “Namun, karena secara umum kedalaman laut di daerah sumber gempa lebih dalam dibandingkan dengan yang kejadian 2004, maka berdasar perhitungan model, secara saintifik tsunami yang terjadi bisa lebih tinggi dari Aceh,” tandasnya.

    Sumber:Kompas.com

  • Tiga Kecamatan di Cianjur Berpotensi Terjadi Tsunami

    Tiga Kecamatan di Cianjur Berpotensi Terjadi Tsunami

    7cloud.asia – Setidaknya tiga kecamatan di Kabupaten Cianjur yang berpotensi terdampak tsunami jika gempa bumi 8,7 magnitudo melanda Pantai Selatan Cianjur.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Asep Kusmana Wijaya mengatakan tsunami yang berpotensi terjadi diperkirakan memiliki ketinggian air 18-26 meter.

    Jika tsunami terjadi, maka akan berdampak luas bagi seluruh pantai dan perkampungan warga. Bangunan dan perkebunan akan habis tersapu tsunami.

    “Berdasarkan peta bahaya tsunami yang diperoleh dari BMKG terdapat tiga wilayah yang berpotensi terdampak bencana tsunami, Kecamatan Cidaun, Sindangbarang dan Agrabinta dimana terdapat 18 desa, sehingga warga diminta untuk waspada,” jelas Asep.

    Baca: Mengenal megathrust yang bisa picu gempa dan tsunami di Indonesia

    Meski ada potensi bencana tsunami, Asep mengimbau warga agar tidak panik dan selalu mewaspadai tanda-tanda bencana alam yang berpotensi muncul sewaktu-waktu.  

    Melansir Antaranews, Asep menjelaskan pihaknya sudah menempatkan sekitar 90 orang Relawan Tangguh Bencana (Retana) di sepanjang pesisir pantai selatan.

    Hal ini dilakukan sebagai upaya pengawasan, pelaporan dan tindakan cepat dengan mengevakuasi warga ketika melihat tanda alam akan terjadinya bencana alam tsunami.

    “Termasuk memberikan pelatihan dan kesiap siaga-an pada warga di sepanjang pesisir selatan terkait antisipasi dan penanganan cepat ketika terjadi bencana termasuk melakukan evakuasi melalui jalur yang sudah dipasang di setiap kecamatan,” paparnya.

    Sebagai antisipasi bencana tsunami, lanjut Asep, pihaknya telah memasang rambu atau jalur evakuasi di sejumlah titik terutama sepanjang bibir pantai selatan yang membentang di tiga kecamatan.

    Baca: Indonesia perlu buat peta batimetri untuk petakan daerah yang berpotensi tsunami

    Bahkan simulasi bencana alam tsunami di ketiga wilayah tersebut kerap dilakukan sebagai upaya antisipasi dan bentuk kesiapan warga menghindari bencana alam.

    “Namun ketika hal tidak diinginkan terjadi minimal warga sudah siap untuk melakukan langkah termasuk mengungsi ke tempat yang dinilai aman dari jangkauan tsunami,” ujarnya.

    Pihaknya juga memastikan alat peringatan tsunami yang dipasang BMKG di pantai selatan akan berbunyi, sehingga masyarakat dapat segera mengevakuasi diri ke dataran yang lebih tinggi.

    “Sedangkan untuk alternatif lainnya, apabila alat peringatan tsunami mengalami kendala, maka Retana dan aparat setempat akan memberikan peringatan melalui pengeras suara yang ada di masjid setempat,” pungkasnya.

     

  • Refleksi 20 tahun Gempa dan Tsunami Aceh: Picu Berkembangnya Riset dan Mitigasi Bencana

    Refleksi 20 tahun Gempa dan Tsunami Aceh: Picu Berkembangnya Riset dan Mitigasi Bencana

    7cloud.asia – Kondisi geografis Indonesia yang sangat rawan bencana membuat banyak peneliti dari berbagai penjuru dunia datang untuk mempelajari katastrofe negeri ini, terutama setelah Tsunami Aceh 2004.

    Berdasarkan data platform Google Scholar, terdapat lebih dari seribu makalah ilmiah seputar gempa dan tsunami Indonesia yang telah terbit sejak 2005 hingga 2024.

    Penelitian-penelitian ini sangat membantu pemahaman kita seputar sumber dan pola gempa di Indonesia. Riset tentang Tsunami Palu dan Selat Sunda pada 2018, misalnya, menjadi catatan yang sangat penting.

    Kedua kejadian tsunami ini tidak disebabkan oleh gempa secara langsung. Tsunami Palu dipicu oleh longsor bawah laut akibat gempa 7,5 skala magnitudo (Mw) pada 28 September 2018.

    Sementara itu, kejadian Tsunami Selat Sunda dipicu oleh runtuhan sisi dinding Gunung Anak Krakatau (volcanic flank failures).

    Baca: 15 segmen ini berpotensi diguncang gempa megathrust

    Peneliti dalam negeri juga tidak ketinggalan mengkaji sumber-sumber gempa besar dan gempa susulan (rangkaian gempa setelah gempa besar).

    Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai Gempa Lombok 2018 dan Gempa Cianjur 2022.

    Analisis terhadap gempa-gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama memberikan gambaran tentang pola seismisitas yang dapat dijadikan acuan mempelajari sumber dan mekanisme gempa serta mitigasi dan pengurangan risiko yang terjadi akibat gempa.

    Melalui Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS)-jaringan seismik yang dikelola BMKG, ruang kolaborasi riset kegempaan di Indonesia terus berkembang.

    Hingga 2024, sistem ini telah memiliki 521 stasiun seismik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendeteksi gempa dengan cepat.

     

    Baca: BRIN sebut kapan gempa Megathrust akan terjadi tak bisa dipastikan

    Dengan data dari stasiun seismik tersebut, BMKG bisa lebih cepat memberikan informasi parameter gempa kepada masyarakat, terutama peringatan dini tsunami, yang bisa terjadi setelah gempa besar.

    Mitigasi butuh kolaborasi
    Para ilmuwan terus mempelajari pergerakan kerak bumi. Namun, sampai saat ini, kejadian gempa atau tsunami belum dapat terprediksi secara pasti.

    Untuk itu, langkah penting yang dapat dilakukan adalah melakukan mitigasi dan mengurangi risiko yang dapat timbul karena bencana tersebut.

    Selain memahami sumber dan pola gempa, mitigasi bencana mencakup berbagai hal, termasuk edukasi masyarakat hingga penerapan konstruksi bangunan yang tahan gempa. Semua upaya ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

    Tiga tahun setelah Tsunami Aceh, Indonesia membuat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengatur berbagai upaya mengurangi risiko bencana, termasuk mitigasi.

    Jika mengacu pada undang-undang ini, maka prinsip utama dalam penanggulangan bencana adalah koordinasi dan keterpaduan antar berbagai pihak atau pentahelix. Koordinasi pentahelix melibatkan lima elemen penting: pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media.

    Baca: BMKG diminta siapkan mitigasi antisipasi gempa megathrust

    Setiap elemen memiliki peran yang saling melengkapi. Pemerintah bertugas sebagai regulator, media berperan menyebarluaskan informasi, dunia usaha memberikan dukungan finansial dan teknologi.

    Masyarakat bertindak sebagai pelaksana di lapangan, sementara akademisi dan pakar berfokus pada konsepsi serta inovasi.

    Kolaborasi antar elemen adalah kunci keberhasilan mitigasi bencana. Mungkin ini dianggap klise, tapi kenyataannya tanpa kerja sama yang solid, upaya mitigasi tidak akan efektif.

    Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah menghilangkan ego sektoral yang sering kali menghambat. Contoh sederhananya adalah keengganan berbagi data dan informasi antar lembaga. Padahal, ini penting untuk memperkuat penelitian dan mitigasi kegempaan di Indonesia.

    Pada akhirnya, pengurangan risiko bencana adalah tanggung jawab bersama. Penguatan koordinasi dan komunikasi antar lembaga menjadi elemen esensial dalam menciptakan sistem mitigasi bencana yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

    Artikel ini diterbitkan The Conversation Indonesia bersama para akademisi sebagai edisi khusus 20 Tahun Pemulihan Aceh selama Desember 2024. Edisi ini menjadi upaya merawat ingatan bersama, sekaligus memantik refleksi atas langkah pemulihan dan perdamaian di negeri Serambi Makkah.

    Penulis: Zulfakriza Z, Associate Professor, Global Geophysics Research Group, Institut Teknologi Bandung

  • Refleksi 20 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh: Waspada Ancaman ’Megathrust’

    Refleksi 20 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh: Waspada Ancaman ’Megathrust’

     

    7cloud.asia – Desember ini tepat 20 tahun gempa dan tsunami Aceh yang menimbulkan duka mendalam bagi Indonesia, khususnya para penyintas.

    Dalam periode yang berdekatan, Aceh juga berusaha bangkit setelah didera konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan pemerintah selama puluhan tahun.

    Ahad, 26 Desember 2004, pukul 07:58:53 WIB, gempa berkekuatan 9,1 skala magnitudo (Mw) mengguncang lepas pantai barat Aceh. Gempa yang berasal dari kedalaman 30 kilometer di bawah laut itu memicu tsunami yang memporak-porandakan wilayah Aceh.

    Penelitian terbaru pada 2021 menemukan bahwa kekuatan gempa Aceh bahkan sebenarnya lebih besar, yaitu 9,2 Mw.

    Angka ini diperoleh setelah para peneliti menghitung ulang data tsunami menggunakan Green’s Function-metode matematika untuk menganalisis bagaimana gelombang tsunami terbentuk dan menyebar, sehingga memberikan estimasi lebih akurat tentang kekuatan gempa.

    United States Geological Survey atau USGS mencatat gempa besar tersebut diikuti 2.050 gempa susulan selama 26 Desember 2004 – 26 Februari 2005.

    Imbas gempa dan tsunami Aceh 2004 tidak hanya melanda negeri Serambi Makkah, tetapi juga menyapu pantai-pantai negara lain di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan bahkan Afrika.

    Secara keseluruhan, lebih dari 227.000 jiwa meninggal akibat gempa dan tsunami Aceh ini, dengan sekitar 167.000 korban jiwa ada di Aceh.

    Baca: Megathrust bukan mitos, sudahkah warga Indonesia sadar bencana

    Gempa dan Tsunami Aceh 2004 tercatat sebagai salah satu bencana alam terparah dalam sejarah. Tragedi ini meninggalkan luka mendalam, sekaligus menjadi alarm pengingat urgensi mitigasi bencana.

    Peta tektonik, zona megathrust, dan seismic gap
    Indonesia adalah negara yang sangat rawan bencana karena berada di daerah yang sangat aktif secara tektonik.

    Negara ini terletak di pertemuan empat lempeng tektonik utama: Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina—yang terus bergerak dan saling bertabrakan.

    Tumbukan antara lempeng-lempeng berpotensi memicu gempa besar, khususnya di wilayah barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Banda, Maluku, Papua, dan Sulawesi.

    Peristiwa di Aceh pada 2004, gempa hebat terjadi akibat pergeseran dua lempeng tektonik di Samudra Hindia yang menyebabkan patahan naik (thrust fault). Panjang patahan mencapai 500 kilometer, atau kira-kira jarak dari Jakarta ke Yogyakarta, dengan lebar sekitar 150 kilometer.

    Fenomena ini dikenal dengan istilah ‘gempa megathrust’. Pergeseran lempeng di sepanjang patahan ini mencapai lebih dari 20 meter, sehingga menciptakan energi luar biasa yang memicu gelombang tsunami setinggi 35 meter atau setara dengan tinggi gedung 10 lantai.

    Selain gempa dan tsunami, pergerakan lempeng juga bisa memicu aktivitas gunung berapi. Indonesia memiliki 127 gunung api aktif yang menjadikannya sebagai bagian dari Cincin Api Pasifik-wilayah dengan konsentrasi jumlah gunung berapi dan aktivitas seismik tertinggi di dunia.

    Sejak 1900 sampai 2023, Indonesia telah mengalami 14.820 kejadian gempa dengan kekuatan di atas 5 Mw. Dari jumlah tersebut, 15 kejadian di antaranya adalah gempa dengan berskala di atas 8 Mw, seperti Gempa Aceh 2004.

    Baca: BRIN sebut kapan gempa Megathrust akan terjadi tak bisa dipastikan

    Beberapa gempa besar lainnya, seperti di Sumba (1977), Biak (1996), Nias (2005) dan Bengkulu (2007), juga memicu tsunami yang menyebabkan banyak korban jiwa serta kerugian materi yang sangat besar.

    Indonesia juga memiliki beberapa zona megathrust, yaitu area di sepanjang pertemuan lempeng tektonik yang berpotensi menghasilkan gempa besar, seperti yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004.

    Terdapat 13 zona megathrust di sekitar perairan laut barat Sumatera, selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, utara Sulawesi, Halmahera dan Papua. Zona-zona ini berisiko memicu gempa dengan kekuatan antara 7,8 hingga 9,2 Mw yang berpotensi menghasilkan guncangan sangat besar dan bisa memicu tsunami.

    Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, beberapa zona megathrust di Indonesia telah aktif melepaskan energi gempa. Sejumlah gempa besar tercatat berasal dari zona ini.

    Sebut saja Gempa Biak (1996), Gempa Banyuwangi (1994), Gempa Aceh (2004), Gempa Nias (2005), Gempa Pangandaran (2006), dan Gempa Bengkulu (2007).

    Namun, jika kita melihat data gempa selama 123 tahun terakhir, ada beberapa area di sepanjang zona megathrust yang jarang mengalami gempa besar. Hal ini disebabkan karena pergerakan lempeng di daerah tersebut tertahan dan mengakibatkan tekanan tektonik terus terakumulasi.

    Zona-zona dengan energi tertahan tanpa pelepasan yang signifikan, berpotensi tinggi memicu gempa besar di masa depan. Dalam geologi, fenomena ini disebut seismic gap atau celah seismik.

    Salah satu contoh seismic gap terdapat di zona megathrust bagian barat dan timur Pulau Jawa. Di zona subduksi barat Jawa, misalnya, pergerakan lempeng yang tertahan atau disebut slip deficit—tercatat mencapai 40-60 mm per tahun.

    Artinya, setiap tahun, energi yang tertahan semakin besar. Jika suatu saat zona ini melepaskan energi tersebut, maka gempa besar akan terjadi dan mungkin juga memicu tsunami.

    Artikel ini diterbitkan The Conversation Indonesia bersama para akademisi sebagai edisi khusus 20 Tahun Pemulihan Aceh selama Desember 2024. Edisi ini menjadi upaya merawat ingatan bersama, sekaligus memantik refleksi atas langkah pemulihan dan perdamaian di negeri Serambi Makkah.

    Penulis: Zulfakriza Z, Associate Professor, Global Geophysics Research Group, Institut Teknologi Bandung

  • 20 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh: Membangun Pendidikan Risiko Bencana untuk Generasi Muda Mulai dari Sekolah

    7cloud.asia – Pulau Sumatra bagian utara memiliki pengalaman langsung dengan bencana alam, khususnya tsunami 2004 yang meluluhlantakkan Kota Banda Aceh dan daerah di sekitarnya.

    Dikenal sebagai tsunami Boxing Day, atau tsunami Samudra Hindia, bencana ini merupakan bencana alam paling mematikan di abad ke-21.

    Gempa dan tsunami Aceh ini mengakibatkan 230 ribu orang meninggal dengan Indonesia sebagai negara yang paling parah terkena dampaknya.

    Pada Desember 2023, Pusat Penelitian Mitigasi Bencana dan Tsunami (TDMRC) Universitas Syiah Kuala bekerja sama dengan Proyek Aceh-Kamaishi mengadakan acara yang menyoroti pentingnya pendidikan bencana untuk memberdayakan kaum muda agar menjadi agen perubahan di komunitas mereka.

    Melalui diskusi, simulasi, dan kesaksian pribadi, acara tersebut berusaha menggali wawasan tentang dampak bencana dan strategi untuk membentuk mitigasi dan respons yang efektif, serta membangun hubungan yang kuat dengan warga terdampak lainnya.

    Pesertanya adalah 12 siswa yang berasal dari SMA Otsuchi Jepang, SMA Labschool Banda Aceh, MAN Model Banda Aceh, SMA Modal Bangsa Banda Aceh, SMA 5 Banda Aceh, dan MAN 3 Rukoh Aceh Besar.

    Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa sekolah dapat menjadi titik awal untuk menyebarluaskan pendidikan bencana.

    Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengintegrasikan materi pengurangan risiko bencana (PRB) ke dalam kurikulum sekolah. Tujuannya untuk mempersiapkan generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan Pengurangan Risiko Bencana sejak dini.

    Namun, usaha ini perlu dilengkapi dengan sistem peringatan dini multi-bahaya sekolah, peran kelembagaan, dan pemberdayaan guru.

    Baca: 20 Tahun gempa dan tsunami Aceh: waspada ancaman ’Megathrust’

    Sistem peringatan dini multi-bahaya sekolah
    Saat tsunami terjadi pada 20 tahun silam, Aceh masih memiliki pengetahuan yang sangat terbatas tentang bencana. Hanya beberapa daerah, Simeulue misalnya, yang memiliki pengetahuan lokal dan tradisi kesiapsiagaan tsunami yang dikenal dengan istilah smong.

    Pengetahuan lokal ini telah membantu dalam membaca tanda-tanda bahaya sehingga menyelamatkan masyarakat setempat saat tsunami melanda.

    Pengurangan risiko bencana merupakan salah satu keterampilan hidup (life skills) yang sepatutnya dimiliki oleh setiap peserta didik yang hidup di daerah rawan bencana.

    Artinya, sekolah semestinya menjadi wadah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kesiapsiagaan bencana.

    Pengetahuan tentang tanda-tanda tsunami yang diperoleh Tilly Smith, seorang pelajar asal Inggris, dari pelajaran geografi di sekolahnya, contohnya, telah menyelamatkan banyak orang saat tsunami 2004 yang juga melanda Thailand.

    Selain itu, tiga ribu siswa di sekitar daerah Unosumai di Jepang juga berhasil menyelamatkan diri dari gempa berukuran 9.1 magnitudo yang disusul tsunami pada 11 Maret 2011. Nasib baik itu terjadi berkat pengetahuan tanda-tanda tsunami yang mereka pelajari di sekolah.

    Kedua contoh tersebut menegaskan pentingnya peran sekolah dalam pendidikan pengurangan risiko bencana.

    Untuk mendukung hal ini, sekolah dapat membuat mekanisme yang sistematis dan melibatkan berbagai disiplin ilmu untuk menyebarkan informasi multibahaya.

    Informasi ini berisikan berbagai jenis bencana, baik bencana alam maupun maupun bencana nonalam, yang berpotensi merusak infrastruktur dan lingkungan serta menimbulkan kerugian dari segi ekonomi, sosial dan kemasyarakatan.

    Baca: 20 Tahun gempa dan tsunami Aceh: Picu perkembangan riset dan mitigasi bencana

    Dari segi komunikasi, Kementerian Pendidikan dapat memasukkan informasi multibahaya tersebut sebagai bagian dari sistem sekolah, misalnya melalui integrasi sistem InaRisk dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

    Tujuannya untuk membantu sekolah dalam memahami potensi bahaya, mengenal tanda-tanda peringatan dini dan menyebarkan informasi tentang berbagai jenis risiko bencana.

    Melalui pemahaman tersebut, sekolah akan terlatih dan terbiasa untuk menangani berbagai risiko bencana di sekitar mereka.

    Kolaborasi antarlembaga
    Lembaga pendidikan dapat membangun hubungan dengan lembaga lain untuk meningkatkan kapasitas individu dan masyarakat dalam mengurangi risiko bencana. Namun, dalam konteks pendidikan PRB, kejelasan peran antarlembaga sangat penting.

    Lembaga pendidikan seperti universitas—terutama fakultas pendidikan—berperan dalam mengembangkan konsep pedagogis untuk pengajaran PRB dalam kurikulum calon guru. Ini berarti, pendidikan PRB harus dilihat sebagai salah satu prioritas dalam pengembangan kurikulum calon guru.

    Sementara itu, badan penanggulangan bencana daerah dan dinas pendidikan bertanggung jawab untuk menyediakan kebijakan politik dan pendanaan untuk pelaksanaan PRB.

    Salah satu contoh kemitraan universitas dan otoritas pendidikan telah dilakukan oleh Filipina. Negara ini berhasil mengintegrasikan pendidikan terkait bencana ke dalam kurikulum di semua jenjang pendidikan, termasuk mengadakan program pelatihan untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana para mahasiswa.

    Proses ini didorong oleh undang-undang nasional Republic Act 10121 yang mengamanatkan mitigasi dan manajemen risiko bencana alam sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap generasi muda Filipina.

    Penguatan kapasitas dan peran masing-masing lembaga dapat menghindari potensi konflik dan tumpang tindih peran dalam meningkatkan ketahanan sekolah.

    Sebab, setiap lembaga berperan penting dalam membangun landasan dalam menyebarluaskan pengetahuan dan kesiapsiagaan PRB di tingkat sekolah.

    Baca: Literasi masyarakat soal gempa masih rendah

    Pemberdayaan guru
    Guru merupakan salah satu aktor kunci dalam penyebarluasan pengetahuan bencana. Integrasi PRB dalam kurikulum sekolah menghadapi beberapa tantangan signifikan terutama di daerah terpencil, seperti kurangnya sumber belajar dan guru yang berkualitas.

    Mengembangkan buku panduan praktis, mengadakan pelatihan bagi guru, dan mengembangkan sekolah model di tingkat provinsi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas guru dalam mengajarkan PRB.

    Guru juga perlu lebih aktif dalam mengembangkan metode pengajarannya, dari sekadar pengetahuan bencana murni menjadi lebih berorientasi pada pengetahuan praktis. Sekolah dapat mengintegrasikan pengetahuan kebencanaan dalam mata pelajaran yang relevan, selain melakukan simulasi rutin.

    Kurikulum sekolah baik di tingkat SD, SMP dan SMA saat ini pada dasarnya sudah memuat topik-topik terkait bencana.

    Pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SD, contohnya, memuat sikap peduli, bertanggung jawab, dan patriotisme terhadap berbagai kejadian bencana sebagai kompetensi yang harus dimiliki siswa. Melalui topik ini, siswa dapat diminta mengidentifikasi jenis-jenis bencana yang ada di sekitar mereka.

    Di tingkat SMP, pelajaran IPA turut berisikan topik tentang mekanisme kejadian alam, dan gempa bumi. Di tingkat SMA, mata pelajaran Geografi dan Sains juga telah mencantumkan proses-proses alam seperti topik tentang banjir, perubahan iklim, lingkungan, dan sebagainya.

    Di tingkat ini, siswa dapat diminta menganalisis dampak sosial dan ekonomi dari bencana, sehingga mereka dapat memahami lebih lanjut bahwa bencana tidak hanya berdampak secara lokal, nasional tetapi juga global.

    Sekolah tidak boleh hanya menjadi “agen pasif” tetapi juga “agen aktif” dalam mempromosikan dan mengembangkan masyarakat yang lebih tanggap, sekaligus tangguh bencana.

    Pada akhirnya, penekanan dan optimalisasi peran sekolah diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat. Ini termasuk memberdayakan generasi muda agar bertanggung jawab dan mampu berperan dalam mengatasi dan mengurangi risiko bencana di masa depan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Nurmalahayati (Dosen UIN Ar-Raniry) dengan mendapatkan saran dan masukan dari Najwa Shafiya, mahasiswi Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia (IIUM), salah satu peserta kegiatan kolaborasi proyek Aceh-Kamaishi. Penulis mengucapkan terimakasih atas kontribusi pemikiran yang diberikan.

  • BMKG Ingatkan Semua Pihak Waspada Tsunami di Terowongan Selatan Kulonprogo Saat Lebaran

    BMKG Ingatkan Semua Pihak Waspada Tsunami di Terowongan Selatan Kulonprogo Saat Lebaran

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan semua pihak agar mewaspadai kondisi kerawanan tsunami di Jalan Underpass Lintas Selatan Kulonprogo, Yogyakarta pada periode perjalanan libur Lebaran Idul Fitri 2025.

    “Titik risiko yang perlu diwaspadai salah satunya, ya, jalan underpas lintas selatan Bandara Yogyakarta di Kulonprogo, underpas di situ adalah zona rawan tsunami,” ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati seperti yang dilansir Antaranews.

    Karena itu, Dwikorita berharap kementerian teknis dapat menerapkan skema buka tutup lalu lintas pada ruas masuk ke jalan underpas yang berupa terowongan pada periode perjalanan libur lebaran tahun ini.

    Baca: Mengenal megathrust yang dapat memicu tsunami

    Dengan skema ini, lanjut Dwikorita, kepadatan volume kendaraan yang melintas dalam terowongan dapat berkurang serta membantu sebagai bentuk mitigasi bila kerawanan tsunami di laut pantai selatan sewaktu-waktu terjadi.

    “Jadi mohon Kementerian PU, Polri buka tutup jangan sampai macet, nanti mobil justru akan terjebak saat evakuasi bila terjadi tsunami,” harapnya.

    Dwikorita menegaskan bahwa BMKG menjamin keandalan distribusi informasi terkait peringatan dini tsunami-deteksi gempa bumi termasuk peringatan dini cuaca ekstrem dengan mengaktifkan seluru sumber daya meterologi, klimatologi dan geofisika yang ada.

    Baca: Empat cara yang dapat dilakukan dalam menanggulangi dan mitigasi tsunami

    Sebelumnya, Kemeterian Perhubungan memperkirakan jumlah pelaku perjalanan periode libur lebaran tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya.

    Jumlah pelaku perjalanan diprediksi menjadi sebanyak 146,48 juta orang atau sekitar 52 persen dari jumlah total penduduk Indonesia.

    Pergerakan di Pulau Jawa diperkirakan menjadi yang terbesar pada puncak arus mudik yang mulai berlangsung sekitar 21 Maret dan arus balik 11 April 2025. 

     

  • BNPB Imbau Masyarakat Jauhi Pantai Hingga Peringatan Dini Tsunami Dicabut

    BNPB Imbau Masyarakat Jauhi Pantai Hingga Peringatan Dini Tsunami Dicabut

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan propagasi atau perambatan gelombang tsunami di Samudera Pasifik- wilayah perairan Indonesia masih berlangsung sehingga masyarakat diminta tetap menjauhi pantai sampai peringatan dini tsunami resmi dicabut.

    Peringatan dini tsunami di wilayah Indonesia diterbitkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pascagempa magnitudo 8,7 di Kamchatka, Rusia, Rabu pagi.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers terkait evaluasi potensi tsunami di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa pemantauan di beberapa lokasi menunjukkan kenaikan tinggi muka air laut sekitar 40–50 centimeter di kawasan Indonesia timur.

    Baca: Gempa megathrust mengancam wilayah Indonesia

    “Patokan yang harus menjadi panduan bagi teman-teman di daerah adalah bahwa propagasi tsunami masih terjadi hingga saat ini. Jadi masyarakat tetap harus menjauhi daerah pantai untuk sementara waktu,” katanya.

    Baca juga: BMKG prakirakan tsunami di Biak dan Supiori pada Rabu pukul 16.21 WIT

    Ia menyebut data pengamatan menunjukkan adanya kenaikan muka air laut di Manokwari Papua Barat dari 1,5 meter menjadi lebih dari 2 meter, serta di Sorong Papua dari 1,6 meter menjadi di atas 2 meter.

    “Ini adalah indikasi front wave yang masih bergerak,” ujarnya.

    BNPB mengingatkan bahwa kondisi gelombang yang terlihat tenang tidak berarti situasi sudah aman.

    Baca: Apa itu megathrust yang dapat memicu gempa dan tsunami di Indonesia?

    “All clear hanya ketika BMKG sudah menghentikan peringatan dini tsunami. Sebelum ada pengumuman itu, masyarakat jangan kembali ke pantai,” katanya.

     Dia juga mengapresiasi beberapa daerah yang menunjukkan masyarakat melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih tinggi. Hal ini dinlai respon yang tepat demi keselamatan bersama.

    BNPB meminta BPBD dan aparat daerah bersama TNI-Polri menjaga komunikasi dengan masyarakat agar tetap tenang, disiplin mengikuti arahan, dan tidak kembali ke pantai hingga BMKG mencabut peringatan dini tsunami.

    Sumber: Antaranews

  • BRIN: Pembangunan Wilayah Selatan Jawa Belum Mengintegrasikan Risiko Tsunami

    BRIN: Pembangunan Wilayah Selatan Jawa Belum Mengintegrasikan Risiko Tsunami

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bukti ilmiah tentang keberadaan tsunami raksasa yang pernah melanda wilayah selatan Jawa ribuan tahun lalu.

    Temuan ini merupakan hasil riset paleotsunami yang dilakukan oleh tim Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG), dan menjadi peringatan penting akan potensi ancaman megatsunami yang masih membayangi wilayah selatan Jawa yang padat penduduk tersebut.

    Dilansir di laman resmi BRIN, brin.go.id, Peneliti Ahli Madya PRKG BRIN, Purna Sulastya Putra menyoroti masifnya pembangunan infrastruktur di wilayah selatan Jawa di era Jokowi.

    Dia menyebut pembangunan bandara, pelabuhan, dan kawasan industri di wilayah selatan Jawa belum sepenuhnya mengintegrasikan risiko tsunami.

    “Jika tidak dirancang dengan mempertimbangkan sejarah bencana, dampaknya akan sangat besar, baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian ekonomi,” ujarnya.

    Baca: BRIN temukan jejak tsunami berumur 1800 tahun di wilayah selatan Jawa

    Dengan semakin banyak dibangunnya infrastruktur strategis di wilayah selatan Jawa, kawasan sekitarnyapun ikut berkembang, ditandai dengan semakin banyaknya fasilitas seperti hotel, restoran, hingga destinasi wisata baru akan ikut bermunculan.

    “Peningkatan aktivitas ini, meski memberikan dampak positif dari sisi ekonomi, juga secara tidak langsung menambah kerentanan wilayah terhadap potensi bencana tsunami,” tambah Purna.

    Dia berharap data paleotsunami yang dihasilkan BRIN ini diharapkan dapat menjadi fondasi dalam penetapan kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana.

    Informasi tentang sebaran wilayah terdampak, periode ulang, serta estimasi jarak genangan sangat berguna untuk menetapkan zona rawan, menentukan lokasi tempat evakuasi, dan merancang jalur evakuasi yang efisien.

    “Pemerintah daerah sebaiknya mulai memanfaatkan data ini untuk menyusun rencana pembangunan yang berwawasan risiko, serta melakukan sosialisasi rutin ke masyarakat,” tegasnya.

    Baca: Kapan gempa megathrust terjadi, tidak bisa ditentukan

    BRIN mendorong agar edukasi kebencanaan berbasis riset ditingkatkan di sekolah-sekolah, media massa, hingga komunitas lokal.

    Sebagai peneliti, Purna mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan mengikuti arahan dari pemangku kepentingan di daerah masing-masing.

    “Kalau terjadi gempa kuat di dekat pantai, jangan tunggu sirine atau pemberitahuan. Segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Alam sering memberi sinyal pertama, dan kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan,” pesannya.

    Dengan hasil riset ini, BRIN mengajak semua pihak, baik pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya sadar risiko.

    “Tsunami mungkin tak bisa dicegah, tapi korban jiwa dan kerugian bisa kita minimalisir dengan pengetahuan dan kesiapan,” pungkas Purna.

    Baca: Mengenal 16 titik megathrust di Indonesia