7cloud.asia – Pada Oktober 2021 lalu Kota Surabaya meraih penghargaan sebagai kota besar dengan udara terbersih se Asia Tenggara.
Seusai menerima penghargaan itu, Walikota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan penghargaan udara terbersih di tingkat ASEAN ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah.
Sebab, selama ini Surabaya belum pernah mendapatkan penghargaan sebagai kota dengan udara terbersih apalagi di tingkat ASEAN.
Penobatan Surabaya sebagai kota besar dengan udara terbersih diterima pada akhir 2021. Lantas bagaimana kondisinya saat ini?
Baca: Tiga kota di Indonesia masuk kategori ramah lingkungan di Asia Tenggara
Saat 7cloud.asia mengecek kualitas udara Surabaya di IQAir, indeks PM 2,5 tercatat di angka 160, atau hanya 1 poin di bawah Jakarta. Artinya kualitas udara Surabaya juga tergolong tidak sehat.
Tapi sejenak kita lupakan kondisi buruknya kualitas udara kota Surabaya saat ini. Menengok lebih jauh ke belakang, Surabaya bisa disebut sebagai salah satu kota di Indonesia yang sukses menata lingkungannya.
Surabaya yang memiliki luas sekitar 333,063 kilometer ini sejak tahun 1990 dikenal sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia.
Tak hanya itu taman-taman kota yang rindang dapat ditemukan di hampir setiap sudut kota Surabaya.
Baca: Polusi udara di Jabotabek sudah membahayakan, pemerintah diminta segera bertindak
Taman yang ada di kota Surabaya di antaranya Taman Mundu, Taman Bungkul, Taman Undaan, Taman Surya, Taman Pelangi, Taman Jayengrono dan sebagainya.
Bahkan, pada tahun 2013 Taman Bungkul meraih penghargaan The Asian Townscape Award 2013 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai taman terbaik di Asia.
Penobatan Taman Bungkul sebagai taman terbaik di Asia tak lepas dari fasilitasnya yang sangat lengkap.
Tak hanya tanaman, Taman Bungkul juga dilengkapi kawasan ekonomi (sentra PKL), kawasan terbuka hijau, taman, kawasan disabilitas, internet (Wi-Fi) gratis, serta penataan taman yang baik.
Baca: Polusi udara di Jakarta sudah mengkhawatirkan
Memperbanyak taman kota atau ruang terbuka hijau, diakui Eri menjadi salah satu resep Kota Surabaya menekan polusi udara.
Eri juga menyebut, pengembangan kawasan mangrove yang tersebar di beberapa titik di Kota Surabaya menjadi cara lain untuk mengatasi polusi udara.
Hutan mangrove itu, ujarnya, terus dikembangkan menjadi tempat wisata, sehingga dapat mengurangi polusi udara, sekaligus memperbaiki fungsi tanah dan air.
Kini hutan mangrove di Kota Surabaya itu telah ditetapkan enjaid Kebun raya Mangrove pertama di Indonesia atau bahkan di dunia.
Baca: Mengenal manfaat ekologis dan manfaat ekonomi hutan mangrove
Berdasarkan data Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DK RTH) Surabaya luasan ruang terbuka hijau di Kota Pahlawan selalu bertambah.
Pada 2009, luasan ruang terbuka hijau publik yakni 6.676,55 hektare atau 20,2 persen dari luas wilayah Surabaya. Sedangkan pada 2018 lalu, luasan RTH publik sudah mencapai 21,79% atau sama dengan 7.290,53 hektare.
Sesuai Peraturan Menteri (Permen) PU nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan diamanatkan bahwa proporsi RTH pada kawasan perkotaan minimal 30%.
luasan RTH ini terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% ruang terbuka hijau privat.
Baca: 8 tanaman ini efektif menyerap polusi udara
Saat masih menjabat menjadi Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau
Eri mengatakan, kunci sukses Kota Surabaya dalam mengembangkan ruang terbuka hijau terletak pada mekanisme perawatannya.
Dalam merawat taman, Pemkot Surabaya membentuk satgas yang dibagi tiap rayon. Ada rayon pusat, timur, barat, utara dan selatan.
Setiap rayon memiliki tim masing-masing yang tugasnya menjaga dan merawat setiap taman. Tim inilah yang biasanya mengganti tanaman jika ada yang mati.
“Biasanya satgas menyiram tanaman itu 1-2 kali kalau musim hujan. Tapi kalau musim panas, penyiraman dilakukan 3-4 kali. Mereka pun rutin melakukan pemupukan dengan memberikan kompos yang diolah sendiri,” kata Eri seperti dikutip detik.com.
Esti Utami, dari berbagai sumber
