Tag: uni emirat arab

  • Mengenal Metode Cloud Seeding di Uni Emirat Arab dan Dampaknya pada Lingkungan

    Mengenal Metode Cloud Seeding di Uni Emirat Arab dan Dampaknya pada Lingkungan

    7cloud.asia – Banjir yang terjadi di Dubai pada Selasa (16/4/2024), mengakibatkan gangguan serius di kawasan pemukiman, jalanan utama, dan Bandara Internasional Dubai.

    Seorang ahli meteorologi, Ahmed Habib menyebut banjir tersebut diduga disebabkan karena adanya modifikasi cuaca dengan metode penyemaian awan atau yang sering disebut dengan cloud seeding

    Namun, pendapat Ahmed yang menyebut bahwa hujan di Dubai ini berkat cloud seeding tersebut dibantah oleh Wakil Direktur Jenderal Pusat Meteorologi UEA (NCM). 

    Jika di antara pembaca yang bertanya-tanya apa itu cloud seeding, ikuti artikel ini hingga tuntas ya.

    Cloud seeding adalah metode teknologi yang digunakan untuk meningkatkan curah hujan dengan menyebarkan partikel dalam awan.

    Proses ini melibatkan serangkaian prosedur seperti pengamatan pola curah hujan di awan, identifikasi awan yang cocok untuk penyemaian, hingga persiapan pesawat khusus dengan peralatan penyemaian.

    Dilansir Wikipedia, teknik cloud seeding ini sudah sering dilakukan di Uni Emirat Arab. Teknik modifikasi cuaca yang digunakan oleh pemerintah setempattuntuk mengatasi tantangan air di negara tersebut. Penyemaian awan juga disebut sebagai presipitasi buatan dan pembuatan hujan buatan.

    Uni Emirat Arab adalah salah satunya negara pertama di kawasan Teluk Persia yang menggunakan teknologi cloud seeding untuk mengatasi kurangnya pasokan air  yang disebabkan oleh iklim yang sangat panas di negara tersebut.

    Mereka menggunakan radar cuaca untuk terus memantau atmosfer negara tersebut. Peramal cuaca dan ilmuwan memperkirakan bahwa operasi penyemaian awan dapat meningkatkan curah hujan sebanyak 30-35% persen di atmosfer yang cerah, dan hingga 10-15% di atmosfer yang lebih lembab.

    Praktik ini telah menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak terhadap lingkungan karena sulit untuk memprediksi implikasi global jangka panjang.

    Uni Emirat Arab memiliki iklim kering dengan curah hujan kurang dari 100 mm per tahun, tingkat penguapan air permukaan yang tinggi, dan tingkat pengisian ulang air tanah yang rendah.

    Curah hujan di Uni Emirat Arab berfluktuasi selama beberapa dekade terakhir pada musim dingin antara bulan Desember dan Maret.

    Iklim Uni Emirat Arab adalah wilayah yang sangat kering di luar pantai dan perbatasan UEA dan Oman, yang memiliki kelembapan tinggi.

    Uni Emirat Arab terletak di titik panas debu yang berkontribusi terhadap iklim kering. Curah hujan rendah atau bahkan tidak ada sama sekali, karena sistem frontal dari barat dan barat laut, yang menghasilkan curah hujan beberapa inci per tahun.

    Kurangnya curah hujan ini membuat para ilmuwan dan pemerintah khawatir tentang keamanan air di masa depan. Lima]

    Karena industrialisasi dan pertumbuhan populasi, kebutuhan akan air meningkat pesat.Sumber daya yang ada saat ini semakin menipis dan masalah kelangkaan semakin meningkat.

    Oleh karena itu, UEA mencari teknologi penyemaian awan untuk meningkatkan jumlah air keamanan serta energi terbarukan untuk memerangi kelangkaan air dan pangan yang mungkin timbul.

    Sejarah
    Para ilmuwan telah bereksperimen dengan teknologi penyemaian awan sejak tahun 1940an. Program penyemaian awan di UEA dimulai pada akhir tahun 1990an, sebagai salah satu negara Timur Tengah pertama yang memanfaatkan teknik ini.

    UEA meluncurkan Penghargaan UEA untuk Keunggulan dalam Memajukan Ilmu Pengetahuan dan Praktik Modifikasi Cuaca bekerja sama dengan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

    Proyek yang dimulai pada Juli 2010 dan menelan biaya 11 juta USD ini berhasil menciptakan badai hujan di gurun Dubai dan Abu Dhabi.