7cloud.asia – Menjelang penetapan hasil Pemilu 2024 pada Rabu (20/3/2024), unjukrasa makin ramai dilakukan masyarakat dari berbagai kelompok/organisasi.
Massa mendatangi KPU dan gedung DPR/MPR guna menyuarakan aspirasi mereka menolak pemilu 2024 karena dinilai penuh kecurangan dan menuntut dilakukan pemilu ulang.
Dalam tiga hari menjelang penetapan hasil Pemilu 2024 berbagai elemen masyarakat akan menggelar unjuk rasa menyuarakan aspirasi mereka.
Menanggapi ramainya aksi unjuk rasa yang mewarnai proses rekapitulasi hasil penghitungan suara Pemilu 2024, Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang berada dalam pusaran tuduhan kecurangan itu akhirnya buka suara.
Baca: Jelang pemungutan suara unjukrasa tuntut pemilu ulang makin intens
Anggota KPU August Mellaz menanggapi tuntutan massa, meskipun jawabannya terkesan normatif dan tidak menjawab subtansi yang disoal pengunjuk rasa.
Ia mengatakan, proses penghitungan suara yang dilakukan lembaganya sudah sangat terbuka.
“Yang bisa kita jawab adalah proses yang sedemikian terbuka, proses yang kami lakukan bisa dicek oleh siapa pun,” kata Mellaz di Kantor KPU, Jakarta Pusat, Senin (18/3/2024).
Ia menyebut, transparansi sudah diterapkan sejak awal rekapitulasi, tepatnya ketika rapat pleno penghitungan suara luar negeri dimulai.
Menurut Mellaz, rapat-rapat pleno terbuka yang dilakukan KPU pusat lantas menjadi inspirasi bagi PPLN dan kecamatan-kecamatan saat menghitung hasil pemungutan suara.
Prosesnya sedemikian terbuka dan itu kemudian menjadi satu benchmark untuk PPLN, dan kemudian ditiru situasi yang sama untuk kecamatan.
“Rekap-rekap pleno yang terbuka di kecamatan sampai kabupaten kota, kemudian provinsi dan sekarang nasional,” tuturnya.
Di sisi lain ia menyebut, unjuk rasa menjelang hasil akhir rekapitulasi pemungutan suara adalah hal yang normal yang wajar. Unjuk rasa serupa juga pernah terjadi di Pemilu tahun 2019.
Baca: Terkait penggunaan server Sirekap, KPU dinilai telah melanggar hukum
“Unjuk rasa kan sudah ada kalau dilihat pemilu-pemilu sebelumnya sama proses-proses rekapitulasi menjelang penetapan, kan pasti ada unjuk rasa. Tapi itu bagian yang normal saja,” jelasnya.


