Tag: vaksin

  • Vaksin Untuk Orang Dewasa, Nggak Cuma Covid-19 Loh!

    Vaksin Untuk Orang Dewasa, Nggak Cuma Covid-19 Loh!

    7cloud.asia – Vaksin merupakan produk biologis yang memicu respon imun secara aman terhadap penyakit tertentu sehingga memberikan perlindungan ketika seseorang terpapar penyakit tersebut secara alami.

    Proteksi yang dihasilkan oleh vaksin telah dievaluasi pada studi klinis untuk memastikan keamanan vaksin serta mengukur efikasi atau kemampuan mencegah dari vaksin.

    Pengukuran efikasi vaksin ini menggunakan parameter dengan titik akhir klinis seperti pencegahan infeksi, berkurangnya keparahan penyakit dan tingkat rawat inap.

    Hingga saat ini vaksin telah mencegah lebih dari 20 penyakit yang mengancam jiwa serta membantu orang dari segala usia untuk hidup lebih sehat dan lebih lama.

    Baca: Kasus Covid-19 meningkat, vaksinasi dosis lengkap digalakkan

    Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dalam keterangantertulis yang diterima 7cloud.asia menyebut, vaksin juga memainkan peran penting untuk pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi.

    “Imunisasi atau suntik vaksin memiliki peran penting dalam memberikan proteksi terhadap penyakit dengan meningkatkan kekebalan spesifik (antibodi),” ujar ketua umum PAPDI, Sally Aman Nasution

    Vaksinasi, ujarnya, dapat mengurangi angka kesakitan, mengurangi beban penyakit, perawatan di rumah sakit, komplikasi akibat penyakit, dan menurunkan angka kematian.

    Dengan demikian vaksinasi bisa membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan menurunkan beban biaya, baik individu maupun pemangku kepentingan pembiayaan, serta beban biaya langsung maupun tak langsung.

    Baca: Manfaat meniran untuk kesehatan

    Sally menambahkan, imunisasi tidak hanya penting bagi anak, namun juga bagi orang dewasa, bahkan mereka yang telah lanjut usia.

    Sebagian besar penyakit, kejadian rawat inap, angka kesakitan, kecacatan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi terjadi pada orang dewasa, khususnya lansia.

    “WHO memperkirakan vaksinasi dapat mencegah kurang lebih 2,5 juta kematian di dunia akibat penyakit menular setiap tahunnya, termasuk pada negara berkembang seperti Indonesia,” imbuhnya.

    Namun, dalam pemantauan PAPDI cakupan imunisasi dewasa khususnya lansia di Indonesia masih rendah.

    Baca: Manfaat teh hijau untuk kesehatan

    Minimnya pemahaman masyarakat mengenai vaksinasi menjadi salah satu faktor penyebab, sehingga berbagai upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap vaksinasi perlu dilaksanakan.

    Penyedia layanan kesehatan baik pemerintah dan swasta, perusahaan asuransi, serta tokoh masyarakat diharapkan dapat ikut berpartisipasi untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin.

    Pihak yang berwenang juga diminta mendukung pelaksanaan vaksinasi dewasa di Indonesia.

    Baru-baru ini PAPDI mengumumkan rekomendasi dan perubahan/tambahan vaksin baru pada tahun 2023 ini meliputi:

    Baca: Air kelapa muda tak disarankan untuk kelompok ini

    1. Vaksin pneumokokal PCV-13, Diberikan mulai usia 19 tahun dari semula mulai usia 50 tahun. 

    2. Vaksin pneumokokal PPV-23, Diberikan mulai usia 50 tahun dari semula mulai usia 60 tahun

    3. Vaksin meningitis meningokokal, Wajib untuk jemaah haji dan sangat dianjurkan untuk jemaah umrah dari semula diwajibkan untuk jamaah haji dan juga umrah

    4. Vaksin dengue Diberikan untuk usia 19-45 tahun beserta catatan dari semula belum tercantum dalam jadwal

    5. Vaksin Covid -19, Ada penambahan jenis vaksin darisebelumnya diberikan 1 atau 2 dosis

    6. Vaksin polio (IPV), 1 dosis wajib untuk jemaah haji dari wilayah tertentu dari sebelumnya belum tercantum dalam jadwal

     

  • Dinkes DKI Jakarta Terapkan Vaksinasi Covid-19 Berbayar Mulai Januari 2024

    Dinkes DKI Jakarta Terapkan Vaksinasi Covid-19 Berbayar Mulai Januari 2024

    7cloud.asia – Menyikapi kembali naiknya kasus Covid-19 Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta berencana akan menerapkan vaksin Covid-19 berbayar pada 1 Januari 2024.

    Untuk itu warga yang belum melengkapi vaksinasi Covid-19 bisa segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah terdekat mumpung masih gratis.

    “Betul, 1 Januari 2024 vaksinasi Covid-19 mulai bayar,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

    Ani menyebut vaksin Covid-19 berbayar ini berlaku untuk penyuntikan semua dosis vaksin.

    Baca: Penyebaran Covid-19 terpantau di 21 Provinsi

    Namun, ada beberapa kelompok yang tetap mendapatkan vaksin Covid-19 secara gratis seperti lansia dan kelompok rentan lainnya.

    Ani belum mengetahui rincian biaya yang akan dikenakan setiap dosis vaksin Covid-19 ini.

    Dinkes DKI Jakarta masih menunggu mekanisme dan teknis pelayanan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

    Ia memperkirakan vaksinasi Covid-19 mungkin akan dilepas ke mekanisme pelayanan biasa. Seperti saat ini ada vaksin program yang tidak berbayar, ada juga vaksin yang bukan vaksin program.

    Baca: DPR minta pemerintah efektifkan vaksin Covid-19 dosis lengkap

    “Mungkin dilepas seperti itu. Tapi kita tunggu regulasi Kemenkes seperti apa terkaitvaksinasi Covid-19 ini,” jelas Ani.

    Lebih lanjut, Ani memastikan khusus di DKI Jakarta vaksinasi Covid-19 gratis masih tersedia di seluruh puskesmas kecamatan hingga akhir tahun.

    Pemprov DKI Jakarta juga terus mengingatkan masyarakat untuk melengkapi vaksinasi Covid-19, menggunakan masker, memastikan tubuh dalam kondisi sehat demi menjaga penyebaran kasus Covid-19 saat libur tahun baru.

    Adapun Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat tetap memakai masker dan menjalani hidup sehat untuk mencegah potensi lonjakan kasus Covid-19.

    Baca: Penularan Covid-19 meningkat, warga diminta terapkan protokol kesehatan

    Protokol ini terutama disarankan untuk golongan lanjut usia dan kelompok yang belum melakukan vaksinasi.

    Imbauan memakai masker ditujukan terutama untuk orang yang sedang sakit (flu), orang yang kontak erat dengan orang yang sedang sakit dan apabila kita berada di keramaian dan kerumunan.

    Sebelumnya, pemerintah pusat juga sudah mengingatkan kepada khalayak bahwa penanganan pasien Covid-19 tidak lagi gratis atau ditanggung pemerintah

    Kebijaka ini diambil setelah ada perubahan status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi.

    Baca: Seperti ini protokol saat endemi Covid-19

    “Ini hati-hati kalau sudah masuk endemi kalau kena Covid-19 bayar. Saat ini masih ditanggung pemerintah, begitu masuk endemi jangan tepuk tangan dulu, sakit Covid-19 bayar. Konsekuensinya itu,” ujar Jokowi Juni lalu. 

    Sumber: Antaranews.com

     

  • DPR Minta Pemerintah Pastikan Akses Vaksin di Daerah Rentan Penyebaran Penyakit Menular

    DPR Minta Pemerintah Pastikan Akses Vaksin di Daerah Rentan Penyebaran Penyakit Menular

    7cloud.asia – Wakil Ketua Komisi IX DPR Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan seluruh stakeholder harus memastikan bahwa setiap orang memiliki akses yang sama terhadap vaksin.

    Akses terhadap vaksin ini, terutama ditujukan kepada masyarakat yang rentan di daerah berisiko tinggi terhadap penyebaran penyakit menular.

    Selain itu, kesadaran masyarakat tentang teknologi dan vaksin baru juga menjadi fokus dengan menekankan pentingnya membangun kepercayaan di antara masyarakat.

    Hal ini diungkapkan Melkiades di acara Inaugural Arbovirus Summit Indonesia 2024 di Bali, Senin (22/4/2024).

    Baca Juga: Cek Fakta Benarkah Perubahan Iklim Memicu Kenaikan Kasus DBD?

    Pertemuan tersebut diselenggarakan sebagai wadah bertukar gagasan dan kolaborasi antara para ahli, pemangku kepentingan dan akademisi dalam upaya global mengatasi ancaman penyakit Arbovirus seperti demam berdarah dengue, zika dan chikungunya.

    “Kita harus menciptakan sistem yang kuat untuk mencapai hal ini. Dan melalui upaya bersama ini, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan dan penerapan teknologi dan vaksin inovatif,“ ujarnya.

    Ia menambahkan, dengan upaya ini pada akhirnya akan meningkatkan hasil kesehatan masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi di Indonesia

    Pada kesempatan ini, Melkiades juga menyoroti pentingnya promosi teknologi dan vaksin untuk pencegahan penyakit menular di Indonesia.

    Baca Juga: DPR Menilai Penerapan Vaksin Covid-19 Berbayar Kurang Tepat Waktunya

    Langkah tersebut ditekannya dapat dicapai melalui peningkatan pendanaan dan investasi dalam penelitian dan pengembangan.

    Termasuk juga dengan menetapkan kerangka legislatif dalam membuat aturan dan cara yang jelas untuk menyetujui vaksin arboviral agar aman, efektif dan berkualitas.

    Parlemen, ujar Melkiandes, berperan besar dalam pembuatan peraturan dan pedoman ini.

    Kita juga harus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai teknologi dan vaksin baru dan membangun kepercayaan diantara masyarakat,” ujar Melkiades dalam rilis video yang diterima Parlementaria, Jakarta, Jumat (26/4/2024).

    Baca Juga: Vaksin Untuk Orang Dewasa, Nggak Cuma Covid-19 Loh!

    Politisi Fraksi Partai Golkar itu juga menegaskan pentingnya bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah lainnya, lembaga penelitian, dan perusahaan farmasi.

    “Melalui kemitraan dan kolaborasi internasional, kita dapat memanfaatkan keahlian, sumber daya, dan praktik terbaik global dalam pengembangan teknologi dan vaksin,” tandasnya.

  • Penjelasan Kemenkes Soal Bayi MKA yang Meninggal Setelah Mendapatkan 4 Vaksin Sekaligus

    Penjelasan Kemenkes Soal Bayi MKA yang Meninggal Setelah Mendapatkan 4 Vaksin Sekaligus

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan atau Kemenkes pada Minggu (30/6/2024) menyampaikan kronologi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang mengakibatkan bayi MKA berusia 2 bulan 28 hari meninggal dunia.

    KIPI yang dialami bayi MKA terjadi beberapa jam setelah mendapatkan imunisasi dengan empat jenis vaksin.

    Vaksin tersebut berjenis Bacille Calmette-Guerin (BCG) untuk penyakit tuberkulosis (TB), Difteri-Pertusis-Tetanus-Hepatitis B-Haemophilus Influenzae Type B (DPT-HB-Hib), Polio tetes dan Rotavirus untuk pencegahan diare.

    Dari hasil investigasi yang dilakukan Komite Daerah (Komda) KIPI Jawa Barat dan Pokja KIPI Kota Sukabumi bersama Dinas Kesehatan Kota Sukabumi menyampaikan bayi tersebut lahir dengan bantuan bidan dan sudah mendapatkan vitamin K juga vaksin hepatitis B.

    Namun setelah lahir, bayi yang berusia hampir 3 bulan ini tidak pernah dibawa ke Puskesmas. Ia baru kembali dibawa oleh orangtuanya saat berusia 2 bulan 28 hari ke Posyandu untuk mendapatkan imunisasi.

    Baca Juga: Pekan Imunisasi Polio Nasional Sikapi Kejadian Luar Biasa

    Imunisasi yang diberikan tenaga kesehatan terhadap bayi MKA ini merupakan imunisasi ganda, yaitu pemberian vaksin lebih dari satu jenis vaksin dalam sekali kunjungan.

    Pemberian imunisasi dengan 4 jenis vaksin (BCG, DPT-HB-Hib, Polio, Rotavirus) untuk melengkapi status imunisasinya dan mengejar imunisasi yang belum didapatkan.

    Pada saat di Posyandu, terdapat 18 anak yang mendapatkan imunisasi pada hari tersebut dan ada 3 anak yang mendapatkan empat jenis vaksin sama seperti almarhum bayi MKA, dan kondisinya saat ini sehat.

    Setelah menerima imunisasi, bayi MKA pulang ke rumah. Pada waktu itu, kondisi bayi normal lalu tak berapa lama menunjukkan gejala tubuh yang melemah. Melihat kondisi sang anak tidak normal, orangtua bayi pun langsung menghubungi puskesmas.

    Petugas kesehatan langsung datang ke rumah Bayi MKA, dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lanjutan.

    “Pertolongan pertama diberikan karena petugas imunisasi langsung datang ke rumah almarhum dan membawa ke rumah sakit untuk memberikan pertolongan lanjutan,” kata Ketua Komda KIPI Kusnandi Rusmil.

    Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Pastikan Akses Vaksin di Daerah Rentan Penyebaran Penyakit Menular

    Sayangnya, kata Kusnandi, saat sesampainya di rumah sakit, nyawa bayi MKA tidak terselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa meninggalnya bayi ini dilaporkan terjadi pada 11 Juni 2024.

    Atas meninggalnya bayi MKA, keluarga almarhum menginginkan kasus kematian bayi tersebut diselidiki lebih lanjut.

    Sementara, Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Prima Yosephine mengatakan keamanan imunisasi ganda atau lebih dari satu jenis vaksin telah direkomendasikan ahli.

    “Imunisasi ganda sudah direkomendasikan oleh Indonesian Technical Advisory Group on Immunization dan Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi ganda ini aman dalam satu kali kunjungan,” katanya di Jakarta, Minggu (30/6/2024)

    Dikatakan Prima, pemberian vaksin sesuai jadwal imunisasi nasional dilakukan sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), baik jadwal imunisasi rutin maupun kejar (catch up).

    “Pemberian imunisasi kombinasi lebih dari satu antigen atau satu jenis vaksin sama aman dan efektifnya dengan imunisasi tunggal,” katanya.

    Baca Juga: Vaksin Untuk Orang Dewasa, Nggak Cuma Covid-19 Loh!

    Dikatakan Prima, beberapa vaksin atau kombinasi vaksin yang didapat dalam satu kunjungan penting untuk melindungi anak dari berbagai penyakit sedini mungkin.

    “Hal ini juga memudahkan untuk menyelesaikan dosis yang dianjurkan tepat waktu,” katanya.

    Hal yang juga penting untuk diketahui, kata dia, bahwa menerima suntikan dosis ganda juga tidak membebani sistem kekebalan tubuh.

    “Antigen yang ada dalam vaksin hanyalah sebagian kecil dibandingkan dengan apa yang secara alami ditemui oleh tubuh kita setiap hari,” ujarnya.

    Laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, menunjukkan menerima kombinasi vaksin sekaligus tidak menimbulkan masalah kesehatan kronis.

    Sejumlah penelitian telah dilakukan peneliti dunia untuk melihat dampak pemberian berbagai kombinasi vaksin.

    Baca Juga: Mengenal Vaksin DBD dan Efektifitasnya Mencegah Penyebaran Demam Berdarah

    Vaksin yang direkomendasikan terbukti efektif jika dikombinasikan maupun secara disuntikkan tunggal.

    Terkadang kombinasi vaksin tertentu yang diberikan bersamaan dapat menyebabkan demam. Akan tetapi, kondisi ini bersifat sementara dan tidak menyebabkan kerusakan permanen.

    Dikatakan Prima, manfaat imunisasi ganda di Indonesia antara lain memberikan perlindungan secepat mungkin. Imunisasi diberikan tepat waktu secepat mungkin untuk melindungi anak pada usia yang rentan.

    Selain itu, pemberian beberapa imunisasi secara bersamaan mengurangi jumlah kunjungan sehingga orangtua dan anak tidak perlu datang berulang kali ke fasilitas kesehatan.

    “Imunisasi ganda mengurangi trauma pada anak, terutama kecemasan dan rasa sakit yang dirasa anak saat penyuntikan,” katanya.

    Selain itu, vaksinasi ganda juga meningkatkan efisiensi dan cakupan petugas kesehatan memiliki waktu untuk melakukan imunisasi ke lebih banyak anak, serta program kesehatan lainnya.

    Sumber:Antaranews.com

  • Penyakit Campak Merebak Karena Masyarakat Takut Vaksin

    Penyakit Campak Merebak Karena Masyarakat Takut Vaksin

    7cloud.asia – Sebanyak 46 wilayah di Indonesia mengalami kejadian luar biasa (KLB) campak. Campak merebak dari Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Utara, hingga Sulawesi Selatan.

    Sekitar 53 persen kasus campak menyerang anak usia 0 – 4 tahun. Di Sumenep, Jawa Timur, penyakit akibat infeksi Morbilivirus ini menyebabkan 20 anak meninggal dunia.

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan banyak orang tua enggan vaksinasi anak mereka—salah satunya karena takut potensi efek samping vaksin. Padahal, penularan campak melebihi Covid-19.

    Satu pasien campak kira-kira bisa menulari 18 orang. Cara efektif mencegah penularan campak adalah melalui vaksinasi MR (campak dan rubella) atau MMR (campak, gondongan, dan rubella).

    Sayangnya, cakupan imunisasi dosis kedua campak di Indonesia pada 2024 menurun, persentase anak yang menerima vaksin hanya 82,3 persen.

    Indonesia membutuhkan cakupan vaksinasi 95 persen untuk membentuk kekebalan komunitas (herd immunity) dan memutus rantai penularan campak.

    Baca: Pemerintah diminta memastikan akses vaksin di daerah rentan

    Orang tua sebetulnya tidak perlu mengkhawatirkan efek samping vaksin secara berlebihan. Sebab, vaksin telah melalui uji ketat sehingga manfaatnya dalam mencegah penyakit jauh lebih besar dibandingkan risiko efek sampingnya.

    Berikut tiga cara memahami manfaat dan risiko imunisasi:

    Vaksin diuji belasan tahun
    Jenis, frekuensi, maupun tingkat keparahan efek samping setiap vaksin memang bervariasi.

    Vaksin campak yang digunakan dalam program imunisasi gratis nasional adalah vaksin MR.

    Efek samping yang sering terjadi setelah vaksinasi MR, yaitu nyeri di area suntikan, demam ringan, dan ruam. Adapun efek samping yang jarang terjadi berupa nyeri sendi. Sementara itu, efek samping berat sangat jarang terjadi.

    Komite Nasional Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (Komnas KIPI) pada 2024 menyatakan bahwa mayoritas efek samping vaksin yang dilaporkan di Indonesia tidak tergolong serius.

    Baca: Efektifitas vaksin untuk mencegah penyebaran demam berdarah

    Artinya, efek samping vaksin tidak mengancam jiwa, tidak memerlukan rawat inap, serta tidak menimbulkan kecacatan permanen ataupun kondisi medis berat seperti reaksi alergi anafilaksis.

    Data soal jenis, frekuensi, dan tingkat keparahan efek samping vaksin tidak muncul begitu saja. Data tersebut diperoleh dari proses pengembangan maupun pengawasan vaksin yang ketat, sebelum dan sesudah dipasarkan.

    Sebelum digunakan masyarakat, kandidat vaksin diuji berulang kali untuk memastikan efektivitas dan keamanannnya (tidak menimbulkan efek beracun).

    Tahapannya mulai dari uji simulasi komputer in silico, uji laboratorium sel kultur in vitro, lalu uji coba in vivo pada hewan.

    Setelah lulus tahapan tersebut, kandidat vaksin dapat diujikan pada manusia secara bertahap, mulai uji klinis fase I, II, hingga III. Uji klinis melibatkan ribuan hingga puluhan ribu orang.

    Kandidat vaksin yang menimbulkan efek samping berat ataupun tidak manjur pada uji coba fase awal tidak dapat maju ke tahap berikutnya.

    Baca: Perubahan iklim memicu penyebaran demam berdarah

    Jika kemanjuran sebuah vaksin yang diuji lebih besar daripada risiko efek sampingnya, regulator seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dapat menyetujui penggunaan vaksin di masyarakat.

    Studi terdahulu menyebutkan bahwa proses pengembangan awal vaksin hingga terbit izin edar membutuhkan waktu hingga 15 tahun.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut vaksin sebagai the most cost-effective public health intervention alias tindakan kesehatan masyarakat paling hemat biaya, tapi memberikan manfaat paling besar.

    Sebab, vaksin ampuh dalam mencegah jutaan kematian setiap tahun. Vaksin juga mengurangi beban penyakit dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan perawatan ketika sakit.

    Dua dosis vaksin MR efektif memberikan perlindungan yang sangat tinggi, yaitu sekitar 97 persen dalam mencegah campak. Dosis pertama diberikan saat anak usia 9 bulan, dosis kedua pada usia 18 bulan. Lalu, disusul vaksinasi tambahan saat anak masuk sekolah dasar.

    Sebelum ada vaksin campak, tingkat kematian akibat penyakit ini diperkirakan 3–6 persen di negara berpendapatan rendah. Bahkan jumlahnya bisa mencapai 10–30 persen di kawasan dengan gizi buruk, akses kesehatan rendah, ataupun wabah di populasi terisolasi.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    Sementara setelah ada vaksin campak, angka kematian menurun secara signifikan hingga sekitar 0,1–1 persen di banyak negara.

    Diawasi dengan ketat setelah beredar
    Setelah lolos uji klinis dan diproduksi massal, sebuah produk vaksin tidak dilepas begitu saja. Vaksin dipantau secara ketat melalui uji klinis fase IV dan sistem pelaporan efek samping, untuk memastikan manfaat dan keamanan penggunaannya di masyarakat.

    Jika menimbulkan efek samping, masyarakat dapat melaporkannya ke fasilitas kesehatan. Laporan kemudian ditindaklanjuti lewat investigasi Komnas KIPI.

    Lewat sistem pemantauan ini, tiap dugaan efek samping akan dianalisis, apakah benar terkait vaksin atau disebabkan oleh faktor lain.

    Jika terbukti karena vaksin, BPOM akan melakukan tindak lanjut dengan memberikan peringatan, pembaruan informasi keamanan, hingga penyesuaian rekomendasi penggunaan untuk melindungi kesehatan masyarakat.

    Imunisasi adalah tanggung jawab kita bersama
    Vaksinasi campak dilakukan bukan hanya untuk melindungi anak, tapi juga diri sendiri dan masyarakat.

    Lewat vaksinasi, kita membentuk kekebalan komunitas yang bisa memutus penularan dan membuat virus sulit menemukan inang baru.

    Hal ini penting, terutama dalam melindungi kelompok rentan yang tidak bisa menerima vaksin, seperti orang dengan sistem kekebalan lemah dan punya kondisi medis tertentu, alergi berat terhadap komponen vaksin MR (seperti neomicin), ataupun ibu hamil.

    Pada akhirnya, vaksinasi merupakan bentuk tanggung jawab moral kita dalam menjaga sesama.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Widya Norma Insani (Dosen Farmakoepidemiologi dan Farmakovigilans, Universitas Padjadjaran)

  • KLB Campak Jadi Alarm Serius, Percepatan Imunisasi Harus Merata

    KLB Campak Jadi Alarm Serius, Percepatan Imunisasi Harus Merata

    7cloud.asia – Posisi Indonesia yang oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) disebut berada di peringkat kedua dunia dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, harus menjadi peringatan serius bagi sistem kesehatan nasional.

    Peringkat ini berdasarkan pada data pengawasan bulanan periode Juli 2025 – Desember 2025 yang dilaporkan kepada WHO per Januari 2026.

    Urutan pertama diduduki oleh Yaman dengan 11.288 kasus campak. Sementara Indonesia memiliki 10.744 kasus campak, lebih tinggi dari India yang memiliki populasi jauh lebih banyak dibanding Indonesia, dengan 9.666 kasus.

    Jumlah kasus campak di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2022, jumlah kasus campak terkonfirmasi sebanyak 4.800 kasus. Kemudian naik menjadi 10.600 kasus di 2023, dan sempat menurun menjadi lebih dari 3.500 kasus.

    Namun, pada tahun 2025, terjadi peningkatan kembali sampai lebih 3.400 kasus hanya sampai bulan Agustus. Dilaporkan juga ada total 46 kejadian luar biasa (KLB) campak sepanjang tahun 2025 hingga bulan Agustus.

    Baca: Penyakit Campak kembali merebak karena masyarakat takut vaksin

    Anggota Komisi IX DPR Nurhadi menegaskan, kondisi tersebut harus menjadi alarm bersama untuk mempercepat dan meratakan cakupan imunisasi campak di seluruh daerah.

    Menurut Nurhadi, campak merupakan penyakit yang secara ilmiah dapat dicegah melalui imunisasi. Karena itu, peningkatan kasus menunjukkan bahwa cakupan imunisasi nasional belum mencapai target minimal 95 persen secara merata.

    “Target (cakupan imunisasi) 95 persen bukan sekadar angka administratif, melainkan ambang batas untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity,” ujar Nurhadi dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria di Jakarta, Senin (23/2/2026).

    Dia menambahkan, jika ada daerah yang cakupannya rendah, maka di situlah potensi wabah muncul. Dan yang paling rentan terdampak adalah anak-anak

    Menurut Nurhadi persoalan ini bukan semata soal peringkat global, melainkan soal komitmen negara dalam melindungi generasi masa depan.

    “Imunisasi adalah hak anak dan kewajiban negara untuk memastikannya terpenuhi tanpa diskriminasi wilayah maupun latar belakang sosial,” tandasnya.

    Baca: Otoritas AS laporkan tingginya kasus Campak pada 2025

    Ia menilai ada sejumlah faktor yang perlu dievaluasi secara jujur. Pertama, dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan cakupan imunisasi rutin sempat menurun dan belum sepenuhnya pulih.

    Kedua, ketimpangan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah, terutama daerah terpencil dan kepulauan. Ketiga, masih adanya misinformasi yang memengaruhi kepercayaan sebagian masyarakat terhadap imunisasi.

    Legislator Partai NasDem itu menegaskan bahwa perlindungan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama negara.

    Ia menyatakan DPR akan mendorong Kementerian Kesehatan untuk melakukan percepatan imunisasi kejar secara nasional, memperkuat sistem surveilans, serta memastikan respons cepat terhadap setiap potensi KLB.

    “Kami juga akan memastikan distribusi vaksin dan tenaga kesehatan benar-benar merata hingga ke daerah. Target 95 persen harus tercapai bukan hanya secara nasional, tetapi merata di setiap kabupaten dan kota,” tegas Politisi asal dapil Jawa Timur VI itu.

    Nurhadi menekankan, koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu diperkuat karena keberhasilan program imunisasi sangat bergantung pada pelaksanaan di tingkat daerah.

  • Hoaks dan Narasi Antivaksin Memicu Lonjakan Kasus Campak di Indonesia

    Hoaks dan Narasi Antivaksin Memicu Lonjakan Kasus Campak di Indonesia

    7cloud.asia – “Jangan vaksin campak, nanti anak kita autis. Lagian itu cuma akal-akalan bisnis farmasi biar makin untung.”

    Kita mungkin pernah mendengar anggapan keliru mengenai vaksin campak tersebut di platform digital maupun secara langsung di masyarakat.

    Menurut Kementerian Kesehatan dan sejumlah penelitian di berbagai negara, penyebaran informasi keliru mendorong banyak masyarakat antivaksin. Penolakan ini memicu kasus campak melonjak di Indonesia dalam tiga tahun terakhir.

    Dalam dua bulan pertama tahun 2026 saja, ada 572 kasus campak dengan 8.224 suspek dan 4 kematian di Tanah Air. Tahun lalu, Kemenkes bahkan mencatat 11.094 kasus campak, 63.769 suspek (meningkat 147% dibanding tahun 2024), dan 69 kematian.

    Anak usia di bawah satu tahun—mayoritas belum diimunisasi—adalah kelompok dengan kasus campak terbanyak (68%). Jumlah tersebut menyebabkan Indonesia menjadi negara dengan kasus campak terbanyak kedua di dunia, setelah Yaman.

    Di tengah masifnya kasus campak dan gerakan antivaksin, saya sebagai peneliti kebijakan kesehatan masyarakat menilai pemerintah perlu menggunakan strategi komunikasi yang lebih efektif untuk meningkatkan kepercayaan orang tua terhadap imunisasi.

    Hoaks dan COVID-19 bikin publik skeptis

    Vaksinasi merupakan satu-satunya cara mencegah penularan campak yang kemampuan penyebarannya jauh melebihi COVID-19. Satu pasien campak bisa menulari 18 orang.

    Informasi tersebut bisa dengan mudah kita temukan di laman lembaga kesehatan resmi (seperti Kemenkes dan WHO), jurnal ilmiah, ataupun media tepercaya.

    Namun, bak pedang bermata dua, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemudahan akses digital malah membuat masyarakat semakin rentan termakan hoaks soal keamanan vaksin campak.

    Informasi yang berseliweran di media sosial berbalut isu konspirasi dan narasi menakutkan. Misalnya, vaksin memicu autisme, membahayakan kesehatan, mengandung chip, atau diproduksi untuk menguntungkan bisnis farmasi dan elite global. Tak satu pun dari cerita ini yang terbukti kebenarannya secara ilmiah.

    Data UNICEF tahun 2023 menemukan bahwa kepercayaan publik global dan cakupan imunisasi campak menurun drastis, terutama selama pandemi COVID-19.

    Selama 2019 – 2021, sebanyak 67 juta anak di dunia tidak mendapatkan vaksinasi karena keterbatasan akses selama pandemi. Akibatnya, jumlah kasus campak global pada 2022 melonjak lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

    Kondisi sosial – budaya yang mengekang

    Kondisi sosial dan budaya di Indonesia juga turut mengurangi kepercayaan publik terhadap vaksin.

    Ada anggapan bahwa imunisasi tidak diperlukan selama anak masih terlihat sehat, atau tidak lebih penting dibanding kebutuhan ekonomi harian. Anggapan tersebut banyak ditemukan dalam keluarga dengan tingkat pendidikan rendah.

    Laporan UNICEF tahun 2025 menunjukkan bahwa norma sosial dan dinamika kekuasaan dalam keluarga Indonesia juga membatasi akses perempuan untuk mengimunisasi anak. Misalnya, suami lebih didengar dan pengurusan anak dibebankan kepada perempuan.

    Penafsiran ajaran religius yang keliru

    Di Indonesia, tidak sedikit orang lebih mempercayai opini tokoh masyarakat dan agama yang justru mengharamkan vaksinasi. Ini termasuk persepsi keliru, seperti “penyakit merupakan takdir Tuhan”, hingga kepercayaan yang bergantung pada dukun dan pengobatan tradisional.

    Faktanya, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa yang membolehkan, bahkan menganjurkan imunisasi campak, demi menjaga kesehatan dan keselamatan jiwa masyarakat.

    Tanpa vaksinasi, campak justru berisiko memicu komplikasi sangat berbahaya, mulai dari kehilangan pendengaran, kebutaan, infeksi paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), penyakit saraf fatal (subacute sclerosing panencephalitis) hingga dehidrasi, yang dapat berujung ke kematian.

    Kesehatan kelompok rentan pun bisa terancam, seperti ibu hamil dan kandungannya, anak yang belum divaksinasi, serta individu dengan kekebalan rendah (ODHIV, kekurangan gizi, atau leukemia).

    Lakukan komunikasi sensitif budaya

    Dengan dinamika masyarakat Indonesia, pemerintah perlu membangun strategi komunikasi imunisasi yang sensitif terhadap budaya dan kepercayaan masyarakat. Strategi vaksinasi harus responsif gender, sesuai kondisi dan melibatkan peran masyarakat setempat.

    Pertama, berikan informasi yang mudah dipahami lewat edukasi transparan dan data yang terbuka.

    Kader posyandu, misalnya, bisa menunjukkan perbandingan anak yang divaksinasi dan tidak. Kader tidak menutupi fakta bahwa imunisasi bisa menyebabkan efek samping ringan. Namun, dampak komplikasinya lebih berbahaya jika anak tidak divaksinasi.

    “Ibu-ibu, bulan lalu di RT sebelah ada dua anak yang kena campak sampai harus dirawat karena sesak napas. Sementara, 50 anak yang ikut imunisasi di wilayah kita semuanya sehat. Hanya ada tiga anak yang sempat demam ringan, tapi langsung sembuh.”

    Kedua, libatkan tenaga kesehatan dalam melakukan edukasi lewat media sosial. Termasuk memantau dan menanggulangi informasi menyesatkan.

    Ketiga, libatkan tokoh agama atau komunitas untuk menyampaikan pentingnya imunisasi.

    Misal, tenaga kesehatan bisa bekerja sama dengan ustaz untuk menyampaikan edukasi lewat pengajian atau khotbah Jumat.

    Pilihan lainnya adalah melibatkan komunitas dalam edukasi vaksinasi campak, seperti Rumah Ramah Rubella. Ini adalah komunitas khusus orang tua dengan anak terinfeksi TORCH (kumpulan penyakit infeksi bawaan yang menyerang ibu dan janin).

    Keempat, sesuaikan waktu dan tempat pelayanan vaksinasi agar lebih bisa menjangkau para ibu.

    Contohnya, layanan posyandu khusus vaksinasi campak bisa dibuka pada Sabtu sore hari. Atau mendirikan pos vaksinasi sementara dalam acara kegiatan pengajian dan PKK warga.

    Kelima, buka sesi tanya-jawab dengan orang tua untuk memvalidasi kekhawatiran mereka dan mengedukasi informasi yang tepat.

    Keenam, perkuat layanan vaksinasi secara merata ke kelompok rentan, mencakup anak yang tidak masuk sekolah formal (misalnya homeschooling), anak jalanan, anak dengan disabilitas, dan pekerja anak.

    Keberhasilan imunisasi bergantung pada kemampuan pemerintah dan tenaga kesehatan dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat. Namun, perlindungan ini sejatinya merupakan tanggung jawab kita bersama dalam menjaga anak, diri sendiri, dan masyarakat.


    Ermi Ndoen, Peneliti Kesehatan Masyarakat, Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) Kupang

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.