7cloud.asia – Vihara Dharma Bakti, demikian Vihara tertua di Kota Jakarta itu dinamai. Vihara Dharma Bakti ini menjadi vihara tertua selain Klenteng Ancol, Jakarta Utara.
Vihara Dharma Bakti ini terletak di Jalan Kemenngan III, RT 03/01, Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat dan juga dikenal dengan nama Kim Tek Ie.
Vihara Dharma Bakti dibangun pertama kali pada abadke-17 tepatnya pada tahun 1650 dan dinamakan Kwan Im Teng.
Kata Kwan Im Teng kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi klenteng yang kemudian menjadi nama tempat ibadah bagi penganut Kong Hu Cu.
Baca: Mengapa tahun baru imlek dirayakan pada awal tahun?
Sebelum Perang Dunia II pecah, Vihara Dharma Bakti merupakan salah satu dari empat kelenteng besar yang berada di bawah pengelolaan Kong Koan, selain Kelenteng Kuan Im Tong, Kelenteng Ancol, dan Kelenteng Hian Thian Shang Te.
Kelenteng atau Vihara Dharma Bakti ini dibangun pada tahun 1650 oleh seorang Letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng.
Menurut sinolog Claudine Salmon, walau tidak ditemukan buktinya, kelenteng ini kemungkinan terbakar dalam peristiwa pembantaian etnis Tionghoa pada tahun 1740.
Vihara Dharma Bakti kemudian dipugar kembali pada tahun 1755 oleh Kapitan Oei Tji-lo dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Nama itu bertahan hingga kini.
Baca: Makna ikan bandeng di peringatan tahun baru imlek
Menjelang Tahun Baru Imlek 2575 pada 10 Februari 2024, Vihara Dharma Bakti juga bersiap menyambut para pengunjung.
Pengurus Vihara, Ayn (45) mengatakan bahwa dibandingkan menjelang Tahun Baru Imlek pada tahun lalu, pengunjung Vihara, baik yang untuk beribadah atau sekadar berkunjung terbilang sepi tahun ini.
“Dibanding tahun lalu, sekarang (jelang Tahun Baru Imlek) sepi orang sembahyang, pengunjung juga,” kata Ayn seperti dilansir Antaranews.com pada Jumat (9/2/2024).
Ayn mengatakan bahwa menjelang Imlek tahun sebelumnya, umat Buddha yang datang beribadah bisa mencapai 500 orang, sementara pada tahun ini hanya sekitar 100 orang.
Baca: Jelang tahun baru imlek di Petak Sembilan
“Kalau yang sembahyang jelang Imlek tahun-tahun sebelumnya itu bisa 500an orang, sekarang hanya 100-an orang,” ujar Ayn.
Selain itu, lilin berukuran raksasa yang biasanya disiapkan hingga 50 batang, kini hanya ada sekitar 30 batang. “Biasanya banyak, sampai 50 batang gitu. Sekarang cuma 30-an batang,” kata Ayn.
Kondisi di vihara yang dibangun pada 1650 M tersebut, kata Ayn, kemungkinan akan berubah pada Sabtu (10/2/2024).
Di lokasi, beberapa pengunjung melakukan ibadah di salah satu Dhammasala, yakni tempat kebaktian umat yang bisa dimasuki masyarakat umum.
Sebagian membakar garu atau semacam lidi yang digunakan untuk ibadah. Kebanyakan dari mereka adalah kaum lansia.
Baca: Mengintip peruntungan tiga capres di tahun naga kayu
Di luar Dhammasala, beberapa orang melakukan pemberian persembahan kepada leluhur berupa sejumlah makanan dan melakukan pembakaran kardus-kardus berisi baju, celana, uang dan beberapa barang lainnya.
Salah satunya adalah Meina (59), wanita asal Pluit, Jakarta Utara. Ia mengatakan bahwa tradisi tersebut rutin dilakukannya setiap tahun untuk menghormati leluhur.
“Kita buat ini untuk menghormati leluhur. Sebenarnya bisa di rumah sendiri, tapi bisa juga di vihara,” kata Meina.
Ia percaya makanan, pakaian serta uang yang dipersembahkan dalam tradisi tersebut dapat menjadi bekal bagi para leluhur yang telah meninggal.
“Ya ini buat mereka ya, makanan, pakaian, ada uang juga. Jadi doanya kita diberkati kesehatan dan umur panjang,” kata Meina.
Sejumlah pengunjung juga duduk di lorong vihara. Menurut Ayn, mereka menunggu angpao dari pengunjung. “Mereka duduk nunggu angpao. Mereka enggak ganggu,” kata Ayn.
Esti Utami, dari berbagai sumber..
