Tag: virus

  • Mengenal Lebih Dekat Cacar Monyet, yang Diperkirakan Akan Tembus 3600 Kasus

    Mengenal Lebih Dekat Cacar Monyet, yang Diperkirakan Akan Tembus 3600 Kasus

    7cloud.asia – Beberapa pekan ini, kementerian kesehatan RI disibukkan dengan kehadiran penyakit cacar monyet (monkey pox). Penyakit zoonosis langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox.

    Virus cacar monyet termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar), virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar), dan virus cacar sapi.

    Cacar monyet pertama kali ditemukan pada tahun 1958. Pada saat itu ditemukan wabah penyakit mirip cacar yang menyerang koloni monyet yang dipelihara untuk penelitian.

    Hal tersebut yang menyebabkan penyakit ini disebut sebagai cacar monyet atau monkeypox.

    Kemudian tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo kasus cacar monyet pertama yang menginfeksi manusia.  

    Baca: jumlah kasus cacar monyet bertambah terbanyak dari jakarta

    Sejak saat itu, kasus cacar monyet dilaporkan telah menginfeksi orang-orang di beberapa negara Afrika Tengah dan Barat lainnya.

    Seperti Kamerun, Republik Afrika Tengah, Pantai Gading, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, dan Sierra Leone.

    Dari banyaknya kasus cacar monyet, diketahui virus cacar monyet dapat menular ketika seseorang bersentuhan dengan virus dari hewan yang terinfeksi, orang yang terinfeksi, atau bahan yang terkontaminasi virus.

    Selain itu, virus ini dapat menyebar dari hewan ke manusia melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi ketika menangani atau memproses hewan buruan.

    Baca: kasus cacar monyet meningkat pengawasan kesehatan bandara soetta diperketat

    Manusia bisa saja tertular melalui penggunaan produk yang terbuat dari hewan yang terinfeksi.

    Selain itu, virus juga dapat melewati plasenta dari ibu hamil ke janin.

    Virus dengan mudahnya dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau luka pada orang yang terinfeksi atau dengan bahan yang telah menyentuh cairan atau luka tubuh, seperti pakaian atau linen.

    Cacar monyet ditularkan pula dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan luka infeksi, koreng, atau cairan tubuh penderita.

    Penyakit ini juga dapat menyebar melalui droplet pernapasan Ketika melakukan kontak dengan penderita secara berkepanjangan.

    Baca: kasus cacar monyet di jakarta bertambah dinkes dki imbau masyarakat waspada

    Berbagai spesies hewan telah diidentifikasi juga rentan terinfeksi virus cacar monyet.

    Gejala Cacar Monyet

    Sebenarnya gejala cacar monyet pada manusia mirip dengan gejala cacar air, namun lebih ringan. Gejala dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

    Namun, ada perbedaan utama diantara keduanya, yaitu cacar monyet menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati) sedangkan cacar air tidak.

    Masa inkubasi cacar monyet biasanya berkisar dari 6 hingga 13 hari tetapi dapat pula 5 hingga 21 hari.

    Gejala dan tanda cacar monyet :

    • Sakit kepala
    • Demam akut >38,5oC
    • Limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening)
    • Nyeri otot/Myalgia
    • Sakit punggung
    • Asthenia (kelemahan tubuh)
    • Lesi cacar (benjolan berisi air ataupun nanah pada seluruh tubuh)

    Dalam 1 sampai 3 hari (kadang-kadang lebih lama) setelah munculnya demam, penderita akan mengalami ruam, sering dimulai pada wajah kemudian menyebar ke bagian lain dari tubuh.

    Penyakit ini biasanya berlangsung selama 2−4 minggu. Di Afrika, cacar monyet telah terbukti menyebabkan kematian pada 1 dari 10 orang yang terinfeksi penyakit tersebut.

    Baca: jumlah kasus cacar monyet terus meningkat ahli perkirakan bisa tembus 3600 kasus

    Pencegahan Cacar Monyet

    Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus cacar monyet, yang meliputi :

    • Hindari kontak dengan hewan yang dapat menjadi reservoir virus (termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan mati di daerah di mana cacar monyet terjadi).
    • Hindari kontak dengan bahan apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit.
    • Pisahkan pasien yang terinfeksi dari orang lain yang mungkin berisiko terinfeksi.
    • Lakukan cuci tangan yang baik dan benar setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi.
    • Menggunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien yang terinfeksi
    • Memasak daging dengan benar dan matang

     

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Masih Bingung? Ini Dia Perbedaan dan Persamaan HMPV dan Covid-19

    Masih Bingung? Ini Dia Perbedaan dan Persamaan HMPV dan Covid-19

    7cloud.asia – Beberapa anak di Indonesia saat ini diketahui telah terpapar Virus Human Metapneumovirus (HMPV). Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat tidak panik.  Karena virus ini berbeda dengan Covid-19.

    HMPV merupakan virus pernapasan yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas dan bawah. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 2001 di Belanda, meskipun bukti menunjukkan keberadaannya sejak 1958.

    “Berbeda dengan Covid-19 yang baru muncul beberapa tahun lalu, HMPV adalah virus lama yang sudah ada sejak 2001 dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Selama ini juga tidak terjadi apa-apa juga,” jelas Budi.

    Baca: Kenali gejala dan cara mencegah HMPV

    Melansir The Economic Times dan Deccan Herald, ada beberapa perbedaan dan persamaan HMPV dan Covid-19.

    Perbedaan HMPV dan Covid-19

    Pertama, jenis virusnya. HMPV disebabkan oleh metapneumovirus dari famili Pneumoviridae HMPV yang juga mencakup Respiratory Syncytial Virus (RSV). sementara COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 dari famili Coronavirus.

    Kedua, gejalanya. HMPV cenderung memiliki gejala ringan hingga sedang. Meski demikian gejala ini berpotensi menjadi parah pada kelompok berisiko tinggi. Komplikasinya dapat seperti bronkiolitis atau pneumonia.

    Sedangkan gejala COVID-19 memiliki spektrum yang lebih luas. Bahkan penderita Covid-19 bisa tertular tanpa gejala.

    Gejala Covid-19 dapat memicu terjadinya komplikasi berat seperti sindrom distres pernapasan akut (ARDS) dan kegagalan multi-organ.

    Baca: HMPV telah masuk ke Indonesia

    Ketiga, penularannya. HMPV penularannya lebih rendah dibandingkan Covid-19. Virus ini tidak bertahan lama di udara.

    Sedangkan SARS-CoV-2 dapat menyebar melalui aerosol di ruang tertutup. Seperti varian baru Covid-1, yakni Omicron bahkan memiliki kemampuan penularan yang sangat tinggi.

    Keempat, vaksin. Hingga kini belum ada vaksin untuk HMPV. Sebaliknya, COVID-19 memiliki berbagai vaksin, seperti vaksin mRNA dan vektor virus.

    Baca: Varian baru Covid-19 landa Australia

    Persamaan HMPV dan Covid-19

    Pertama, gejala yang timbul sama. Kedua virus yang berasal dari keluarga berbeda ini memiliki gejala yang sama seperti demam, batuk, sesak napas, dan hidung tersumbat.

    Kedua, sasarannya sama. Kedua virus tersebut akan menyasar kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan imunitas lemah.

    Ketiga, proses penyebarannya. Baik HMPV maupun Covid-19, sama-sama menular melalui droplet pernapasan, kontak langsung atau permukaan yang terkontaminasi.

    Keempat, kasus akan meningkat pada musim tertentu. Kasus HMPV mencapai puncaknya di akhir musim dingin hingga awal musim semi. Lalu COVID-19 akan meningkat selama bulan-bulan dingin.

     

  • Super Flu Marak di Indonesia, Menkes Imbau Masyarakat Waspada Tanpa Panik

    Super Flu Marak di Indonesia, Menkes Imbau Masyarakat Waspada Tanpa Panik

    7cloud.asia – Kasus Super Flu atau Influenza A H3N2 saat ini marak di Indonesia, apalagi di tengah cuaca hujan seperti ini. Meski demikian Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat tetap waspada tanpa perlu panik.

    Kementerian Kesehatan mencatat hingga Desember 2025 terdapat 62 kasus Super Flu yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS).

    Menurut Budi, virus H3N2 bukanlah virus baru seperti Covid-19, melainkan sudah lama terdeteksi di Indonesia dan kerap muncul saat musim hujan atau musim dingin.

    Baca: Penyebaran Influenza A Masih Terkendali

    “Ini bukan virus baru. Sudah puluhan tahun ada di Indonesia. Sekarang memang muncul varian baru, subclade K. Masyarakat harus hati-hati dan sadar, tapi tidak perlu panik karena ini sama seperti flu biasa, bukan seperti Covid-19 varian mematikan,” ujar Budi beberapa waktu lalu.

    Budi menjelaskan, meski penularan Super Flu tergolong cepat, tingkat kematiannya sangat rendah.

    Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, menggunakan masker saat sakit, serta rajin mencuci tangan.

    Baca: Kondisi Udara Memperburuk Penyebaran ISPA

    Sementara itu, mengutip Halodoc, terdapat sejumlah perbedaan antara influenza musiman biasa dan Super Flu subclade K.

    Pada flu biasa, gejala umumnya berupa demam ringan dan hidung meler. Sedangkan pada Super Flu, gejala yang muncul cenderung lebih berat.

    Gejala tersebut antara lain demam tinggi hingga mencapai 39–41 derajat Celsius, nyeri otot dan sendi yang hebat hingga menyebabkan tubuh sangat lemas, sakit kepala berat, sakit tenggorokan tajam, serta batuk kering yang menetap.

    Baca: Penyebaran Influenza A di Inggris Catat Angka Tertinggi

    Meski sebagian besar kasus tidak berbahaya, Super Flu berpotensi menimbulkan komplikasi serius pada kelompok rentan.

    Penderita dengan penyakit penyerta (kormobid) seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

    Komplikasi berupa pneumonia atau infeksi pernapasan akut berat dapat berujung pada kegagalan organ jika tidak segera ditangani di fasilitas kesehatan.

    Oleh karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala berat atau memburuk.

  • Hantavirus Telah Masuk Indonesia, Tiga Orang Dinyatakan Meninggal

    Hantavirus Telah Masuk Indonesia, Tiga Orang Dinyatakan Meninggal

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sejak 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026 total 251 kasus suspek hantavirus. Sebanyak 23 kasus diantaranya dinyatakan positif hantavirus dan 3 orang diantaranya meninggal dunia.

    Sedangkan 20 orang dinyatakan sembuh. Kasus hantavirus yang paling banyak tercatat adalah pada 2025 sebanyak 17 kasus, kemudian 2026 sebanyak 5 kasus, dan 2024 sebanyak 1 kasus.

    Kasus hantavirus di Indonesia tersebar di berbagai wilayah. Di Jakarta dan Yogyakarta 6 kasus, Jawa Barat 5 kasus, Jawa Timur, Banten, Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat dan Jawa Timur masing-masing 1 kasus.

    Baca: Pakar UGM Sebut Infuenza A Bisa Berakiba Fatal

    Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman menjelaskan dengan adanya tiga kasus yang meninggal dunia tersebut menunjukkan case fatality rate hantavirus di Indonesia mencapai 13%.

    Lebih jauh Aji menjelaskan jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan jenis Sol virus. Seluruh pasien mengalami gejala setelah 1 hingga 2 minggu terpapar virus.

    Gejala infeksi hantavirus dapat meliputi demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, hingga gangguan pernapasan. Dalam beberapa kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi serius yang mengancam jiwa.

    Baca: Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Virus Nipah

    Sementara faktor risiko utamanya adalah kontak dengan tikus atau celurut, ataupun terpapar ekskresi dan sekresinya.

    Sebelumnya dunia internasional dihebohkan dengan kemunculan hantavirus usai tiga penumpang kapal pesiar Belanda MV Hondius meninggal akibat dugaan wabah hantavirus.

    Ketiga korban meninggal tersebut berasal dari Belanda dan Jerman. Salah seorang warga negara Inggris dilaporkan dirawat di unit perawatan intensif di Afrika Selatan.

     

  • Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    7cloud.asia – Penyakit yang ditularkan tikus kini menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap hantavirus. Selain hantavirus, ada dua penyakit lain yang juga berbahaya dan kerap menyerang manusia melalui paparan tikus, yaitu pes dan leptospirosis.

    Ketiga penyakit ini sama-sama berasal dari hewan pengerat, tetapi memiliki penyebab, gejala, hingga tingkat fatalitas yang berbeda. Berikut perbedaan ketiganya.

    1. Penyakit pes

    Pes atau plague merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang hidup pada hewan pengerat, termasuk tikus.

    Dalam sejarah dunia, pes pernah menjadi wabah besar yang menewaskan jutaan orang di Eropa pada pertengahan abad pertengahan.

    Kasus pes lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan, kawasan perkebunan, atau wilayah dekat hutan yang menjadi habitat tikus liar.

    Baca: Hantavirus Mengancam, Gejala Mirip Flu Biasa

    Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 6 hari setelah terinfeksi. Penderitanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, menggigil, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

    Meski dapat diobati dengan antibiotik, keterlambatan penanganan bisa memicu komplikasi serius seperti sepsis atau keracunan darah.

    Kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan hebat pada organ vital hingga berujung kematian.

    1. Leptospirosis

    Selain pes, penyakit lain yang juga sering ditularkan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang bersarang di tubuh tikus.

    Penularan terjadi melalui makanan, minuman, tanah, atau air yang telah terkontaminasi urine tikus. Risiko penularan meningkat saat banjir atau lingkungan yang sanitasi buruk.

    Baca: Angka Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat

    Gejala leptospirosis kerap menyerupai flu berat, seperti demam, sakit kepala, muntah, diare, dan nyeri tubuh. Karena gejalanya mirip penyakit ringan, banyak penderita terlambat menyadari infeksi tersebut.

    Padahal, jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius pada ginjal, hati, hingga gangguan pernapasan. Antibiotik dapat membantu penyembuhan, terutama bila diberikan pada fase awal infeksi.

    1. Hantavirus

    Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan mencit yang membawa virus dalam air liur, urine, atau kotorannya.

    Di Indonesia, infeksi hantavirus diketahui dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni sindrom demam berdarah yang disertai gangguan fungsi ginjal.

    Reservoir utama hantavirus di Indonesia antara lain tikus got (Rattus norvegicus), mencit rumah, dan tikus ladang. Virus hidup secara persisten di tubuh hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala.

    Penularan ke manusia terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu di udara. Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka atau kontak langsung dengan ekskresi tikus.

    Baca: Hantavirus Masuk Indonesia, Tiga Orang Meninggal

    Infeksi hantavirus terbagi dalam dua sindrom utama:

    1. HFRS (Ginjal & Demam Berdarah)
    • Inkubasi: 1–2 minggu (dapat sampai 8 minggu).
    • Gejala awal: demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan kulit kuning (jaundice) .
    • Gejala lanjut: gangguan fungsi ginjal seperti penurunan produksi urin dan tekanan darah rendah.
    1. HPS (Paru-paru/Cariopulmonal)
    • Lebih umum di Amerika, namun gejala mirip flu: demam, nyeri otot, mual, muntah, diare.
    • Pada 4–10 hari berikutnya, muncul batuk, sesak napas, dan cairan di paru hingga gagal napas.

    Tingkat kematian

    • HPS: sekitar 38 persen.
    • HFRS (Hantaan virus): tingkat fatalitas sampai 6 persen.