7cloud.asia – Saat sedang menunggu hasil ujian, balasan pesan, atau jadwal pemeriksaan kesehatan kadang kita sulit berkonsentrasi atau mengerjakan apapun. Ternyata ada penjelasan ilmiah terkait kondisi ini. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai “waiting mode”.
Dikutip dari Psychology Today pada Selasa (14/7/2026), waiting mode menggambarkan keadaan ketika seseorang merasa seolah hidupnya tertahan karena ada sesuatu yang belum pasti.
Akibatnya, perhatian, energi, dan kemampuan untuk fokus tersita oleh hal yang sedang ditunggu, meski sebenarnya belum ada tindakan yang perlu dilakukan saat itu.
Istilah waiting mode memang belum tercantum sebagai diagnosis resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM).
Baca: Kebiasaan Ini Bisa Menumpuk Stres!
Fenomena ini lebih dahulu dikenal di komunitas penyandang attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), karena dianggap sebagai cara otak menghindari risiko lupa terhadap janji atau tugas yang akan datang.
Namun, faktanya kondisi waiting mode ini tidak hanya dialami oleh penyandang ADHD. Waiting mode juga dapat muncul pada orang yang mengalami kecemasan, memiliki kecenderungan perfeksionis, atau sangat berhati-hati dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Salah satu faktor yang diduga berperan adalah intolerance of uncertainty atau kesulitan mentoleransi ketidakpastian.
Kondisi ini telah banyak diteliti sebagai faktor yang berkaitan dengan berbagai gangguan kecemasan dan depresi.
Baca: Fenomena Parasosial, Ketika Penggemar Sangat Larut dalam Kehidupan Idolanya
Orang dengan tingkat intolerance of uncertainty yang tinggi cenderung lebih sulit menghadapi situasi yang hasilnya belum dapat diprediksi sehingga lebih mudah terjebak dalam kekhawatiran.
Pada sebagian orang, waiting mode dapat berkaitan dengan pengalaman traumatis di masa lalu yang tidak tertangani dengan baik.
Pengalaman hidup di lingkungan yang tidak stabil atau penuh ketidakpastian dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada terhadap situasi yang belum memiliki kepastian.
Waiting mode dapat berkurang ketika seseorang mulai menerima bahwa tidak semua hal dapat dipastikan atau dikendalikan.
Dengan cara itu, seseorang dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus menunggu semua persoalan terselesaikan.
