Tag: warisan dunia

  • Perubahan Iklim Mengancam Keberadaan Situs Warisan Budaya UNESCO

    7cloud.asia – Meskipun penting, Situs Warisan Dunia yang berada di bawah naungan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB UNESCO menghadapi banyak tantangan akibat perubahan iklim.

    Meningkatnya suhu, kenaikan permukaan laut, dan peristiwa cuaca ekstrem mempengaruhi banyak lokasi, terutama lokasi alami Situs Warisan Dunia.

    World Monument Fund (WMF) telah mengidentifikasi bahwa perubahan iklim merupakan ancaman utama terhadap Situs Warisan Dunia di Afrika Sub-Sahara,

    Sedangkan urbanisasi dan pembangunan menimbulkan risiko terbesar terhadap Situs Warisan Dunia yang bersejarah di Asia.

    Great Barrier Reef, misalnya, mengalami pemutihan karang yang parah akibat perubahan kondisi laut, sehingga membahayakan keanekaragaman hayatinya.

    Di Eropa dan Amerika Utara, pendanaan yang tidak mencukupi merupakan tantangan utama, sementara pariwisata yang berlebihan berdampak signifikan terhadap lokasi-lokasi di Amerika Latin dan Karibia.

    Baca: Perubahan iklim mengancam kimchi

    Aktivitas manusia, seperti pariwisata yang berlebihan, pembangunan perkotaan, dan industrialisasi, semakin berkontribusi terhadap degradasi situs-situs tersebut.

    Venesia, yang terkenal dengan arsitektur bersejarah dan kanal-kanal ikoniknya, tenggelam karena proses alam dan faktor ulah manusia, yang mengancam warisan budayanya.

    Di Timur Tengah dan Afrika Utara, kekhawatiran utama adalah konflik bersenjata dan kurangnya sumber daya lokal.

    Misalnya, krisis yang sedang berlangsung di Suriah telah menyebabkan kerusakan signifikan pada situs-situs kuno seperti Palmyra, yang semakin menegaskan betapa rentannya warisan budaya pada saat terjadi kekacauan.

    Tentang Konvensi Warisan Dunia
    Konvensi Warisan Dunia didirikan pada tahun 1972 dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan melindungi situs yang memiliki nilai budaya atau alam yang luar biasa.

    Konvensi Warisan Dunia ini didirikan di bawah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO),

    Baca: Perubahan iklim mengancam keberadaan negara kepulauan di Pasifik

    Saat ini, terdapat lebih dari 1.100 Situs Warisan UNESCO di seluruh dunia, yang mencakup kategori budaya dan alam. Situs Warisan Budaya tersebut meliputi monumen, kelompok bangunan, dan situs arkeologi, seperti Piramida Giza di Mesir dan Tembok Besar China.

    Situs Warisan Alam, sebaliknya, terkenal karena keindahan alam dan keanekaragaman hayatinya, misalnya Taman Nasional Grand Canyon di AS dan Great Barrier Reef di Australia.

    Agar sebuah situs dapat ditetapkan sebagai Situs Warisan UNESCO, situs tersebut harus memenuhi setidaknya satu dari sepuluh kriteria khusus.

    Kriteria ini memastikan bahwa hanya situs-situs yang paling signifikan yang menerima predikat bergengsi ini, sehingga menyoroti pentingnya situs tersebut secara global.

    Situs mungkin dikenal karena kejeniusan artistiknya, kesaksiannya terhadap tradisi budaya, atau fenomena alamnya yang luar biasa.

    Proses seleksi yang ketat menekankan perlunya melestarikan situs-situs ini untuk generasi mendatang sambil memupuk pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah kolektif kita.

    Baca: Negara-negara Kepulauan Ajukan Kasus Perubahan Iklim ke Pengadilan Tinggi PBB

    Situs Warisan UNESCO memiliki beberapa fungsi penting yang melampaui lokasi terdekatnya. Situs-situs ini sangat penting untuk melestarikan warisan budaya masyarakat dan bangsa, memberikan hubungan nyata dengan masa lalu.

    Situs-situs ini memungkinkan generasi mendatang untuk belajar tentang sejarah, tradisi, dan beragam narasi yang membentuk dunia kita.

    Selain itu, Situs Warisan Alam memainkan peran penting dalam melestarikan keanekaragaman hayati, ekosistem, habitat satwa liar, dan spesies yang terancam punah.

    Penunjukan ini seringkali meningkatkan pariwisata, menarik pengunjung dari seluruh dunia dan menghasilkan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.

    Masuknya dana ini dapat meningkatkan pendanaan untuk upaya konservasi, memastikan bahwa harta karun ini tetap terjaga selama bertahun-tahun yang akan datang.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Gauri Sharma, Design and Production Intern di Earth.org

  • Empat Situs Warisan Dunia UNESCO Terancam Perubahan Iklim

    Empat Situs Warisan Dunia UNESCO Terancam Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Meskipun penting, Situs Warisan Dunia di bawah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB UNESCO menghadapi banyak tantangan akibat perubahan iklim.

    Meningkatnya suhu, kenaikan permukaan laut, dan peristiwa cuaca ekstrem mempengaruhi banyak lokasi, terutama lokasi alami Situs Warisan Dunia.

    Berikut 4 Situs Warisan Dunia yang berada dalam kondisi kritis, baik karena perubahan iklim maupun penyebab lainnya, seperti dilansir di Earth.org.

    1. Karang Penghalang Besar, Australia
    Great Barrier Reef adalah eksistem terumbu karang terbesar di dunia, yang membentang sepanjang lebih dari 2.300 kilometer di sepanjang pantai timur laut Australia.

    Pulau ini terkenal dengan keanekaragaman hayatinya dan menjadi rumah bagi ribuan spesies kehidupan laut.

    Terumbu karang menghadapi ancaman besar terutama akibat perubahan iklim. Meningkatnya suhu laut telah menyebabkan terjadinya pemutihan karang secara massal, dimana karang mengeluarkan alga yang memberi mereka nutrisi dan warna.

    Menurut Institut Ilmu Kelautan Australia (AIMS), sekitar setengah dari tutupan karang di terumbu karang telah hilang sejak tahun 1995, dan peristiwa pemutihan yang terjadi baru-baru ini semakin diperburuk oleh pola cuaca ekstrem yang terkait dengan perubahan iklim.

    Pada bulan Oktober 2024, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengkonfirmasi bahwa peristiwa pemutihan karang massal yang terjadi di puluhan negara di seluruh dunia merupakan peristiwa pemutihan karang terbesar yang pernah tercatat.

    Selain itu, polusi dari limpasan pertanian dan pembangunan pesisir menimbulkan risiko terhadap kesehatan terumbu karang.

    2. Kepulauan Galápagos, Ekuador
    Kepulauan Galápagos, yang terkenal dengan ekosistem uniknya, terancam oleh spesies invasif, penangkapan ikan berlebihan, dan perubahan iklim.

    Spesies invasif seperti kambing dan tikus mengganggu ekosistem lokal dengan memangsa satwa liar asli dan bersaing untuk mendapatkan sumber daya.

    Misalnya, kura-kura Galápagos yang ikonik menghadapi penurunan populasi yang signifikan akibat perburuan, perusakan habitat, dan persaingan dengan spesies invasif seperti kambing.

    Sebagai ekosistem dan vertebrata besar, kura-kura Galápagos memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem pulau tersebut. Kepekaan mereka terhadap perubahan lingkungan menjadikan mereka sebagai indikator gangguan ekologi yang berharga.

    Upaya konservasi sedang dilakukan untuk melindungi dan memulihkan populasinya. Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2021 oleh Galápagos Conservancy menyoroti bahwa invasi ini telah menyebabkan penurunan populasi spesies asli.

    Selain itu, perubahan iklim menyebabkan pengasaman laut dan kenaikan permukaan air laut, yang mengancam keseimbangan ekosistem pulau-pulau tersebut.

    3.Venesia, Italia
    Venesia, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1987, terkenal karena arsitekturnya yang unik dan sistem kanal yang rumit, namun kota ini menghadapi ancaman signifikan terhadap integritas struktural dan warisan budayanya.

    Naiknya permukaan air laut, yang diperburuk oleh perubahan iklim, telah memperburuk banjir, menyebabkan kerusakan parah pada bangunan dan infrastruktur. Selain itu, kota ini juga tenggelam akibat proses geologi dan pengambilan air tanah.

    Wisata berlebihan menambah lapisan tekanan lain, dengan jutaan pengunjung setiap tahunnya berkontribusi terhadap kerusakan situs bersejarah dan kepadatan penduduk.
    Polusi dari kapal dan aktivitas industri mengancam ekosistem laut, sementara kapal pesiar besar menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak lingkungan dan struktural.

    Inisiatif seperti proyek MOSE, yang menampilkan sistem penghalang bergerak canggih yang dirancang untuk dipasang saat terjadi gelombang pasang ekstrem untuk melindungi Laguna Venesia dari banjir, sangat penting untuk menjaga kota.

    Namun, komitmen berkelanjutan sangat penting untuk memastikan bahwa situs ikonik ini dilestarikan untuk generasi mendatang.

    4. Kota Kuno Aleppo, Suriah
    Ketidakstabilan politik di daerah yang mengalami konflik juga dapat membahayakan situs warisan budaya.

    Banyak situs berjuang dengan sumber daya yang terbatas untuk pemeliharaan dan konservasi, sehingga menghambat upaya untuk melindungi harta karun ini dari pembusukan.

    Kota Kuno Aleppo adalah salah satu kota tertua yang terus dihuni di dunia, dengan kekayaan sejarah tercermin dalam arsitektur bersejarahnya, termasuk Benteng Aleppo dan Masjid Agung.

    Namun, Perang Saudara di Suriah yang terus berlangsung telah mengakibatkan kerusakan besar pada warisan budaya kota tersebut.

    Menurut laporan dari Pusat Warisan Dunia UNESCO, banyak bangunan bersejarah yang hancur atau rusak parah akibat aksi militer, penjarahan, dan pengabaian.

    Kurangnya sumber daya yang memadai untuk restorasi dan perlindungan menambah risiko, sehingga situs tersebut kini terdaftar sebagai situs Warisan Dunia UNESCO dalam bahaya.

    Ini hanyalah beberapa dari sekian banyak lokasi yang berisiko akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia. Ancaman yang dihadapi bukan hanya tantangan tersendiri; hal ini mencerminkan pola degradasi lingkungan yang lebih luas.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Gauri Sharma, Design and Production Intern di Earth.org