Tag: whatsapp

  • WhatsApp Janjikan Filter yang Bisa Membedakan Chat di Grup dan Japri

    WhatsApp Janjikan Filter yang Bisa Membedakan Chat di Grup dan Japri

    7cloud.asia – Kabar gembira buat pengguna aplikasi WhatsApp yang sering merasa terganggu dengan tercampurnya obrolan atau chat di grup dengan chat di jaringan pribadi atau japri.

    WhatsApp tengah menyiapkan pembaruan yang akan dirilis dalam waktu dekat. Fitur baru dari WhatsApp itu diberi nama filter obrolan yang menjanjikan perubahan cara pengguna menangani obrolan chat di grup. 

    Filter ini disetel untuk memberdayakan pengguna WhatsApp, sekaligus memberi mereka kendali yang belum pernah ada sebelumnya atas percakapan mereka.

    Hasilnya, fitur baru WhatsApp ini dapat menyederhanakan pengelolaan dan prioritas pesan pengguna.

    Baca: Seperti ini AI digunakan penjahat untuk melancarkan aksinya

    Antaranews.com mengutip Gizchina melaporkan, filter baru ini membantu pengguna WhatsApp memisahkan grup dengan obrolan individual.

    Selain itu, mereka telah mengucapkan selamat tinggal pada filter “Pribadi” dan memilih untuk mengganti namanya menjadi “Kontak”.

    Perubahan ini menghilangkan kebingungan antara chat individu dan grup karena “Pribadi” dulunya mencakup grup dan komunitas.

    Baca: Tiga jenis pekerjaan yang belum akan tergeser oleh AI

    Dengan filter “Kontak”, yang terpenting adalah percakapan individual. Tak ketinggalan, mereka mengucapkan selamat tinggal pada filter “Bisnis”.

    Gizchina menyebut fitur ini cukup penting. Alasannya, dengan kemampuan memfilter grup, pengguna WhatsApp akan dengan mudah mengorganisir percakapan.

    “Kita semua tergabung dalam berbagai group chat atau obrolan grup pekerjaan, keluarga, teman, hobi, apa saja. Dan saat ini seluruhnya masih bercampur dengan percakapan individual,” demikian WhatsApp dalam pernyataannya yang dirilis Minggu (10/9/2023)

    Baca: Kenali generasi alfa yang akan menentukan wajah dunia kerja di masa yang akan datang

    Dengan filter ini, pengguna WhatsApp dapat dengan cepat mengakses dan mengatur percakapan grup, mengetahui bahwa filter tersebut secara eksklusif menampung obrolan grup.

    Ini adalah cara WhatsApp mendengarkan masukan dan permintaan pengguna, sehingga mempermudah pengelolaan obrolan grup yang sudah lama dinantikan.

    Filter “Grup” yang ditunggu-tunggu masih dalam tahap pengembangan, namun, filter ini akan segera hadir pada pembaruan mendatang.

  • Kenali Modus Baru Penipuan Lewat Aplikasi WhatsApp

    Kenali Modus Baru Penipuan Lewat Aplikasi WhatsApp

    7cloud.asia – Kemajuan teknologi juga membuat modus penipuan makin beragam macamnya. Salah satu platform yang paling sering digunakan penipu untuk menjebak mangsanya adalah aplikasi pesan WhatsApp.

    Modus penipuan yang paling sering ditemui di aplikasi WhatsApp adalah dengan mengirimkan file APK secara acak ke nomor ponsel orang lain.

    Tujuannya supaya penerima chat mengklik dan mendownload file kiriman, lalu tanpa sadar menginstal aplikasi jahat di HP-nya. Apabila aplikasi tersebut terinstall, penipu dapat membajak data atau akun finansial seseorang.

    Berikut adalah 7 modus penipuan paling umum terjadi di aplikasi WhatsApp, sebagaimana dilansir di CNBC:

    1. File Undangan Nikah
    Penipuan ini sempat jadi banyak perbincangan karena banyaknya pengguna WhatsApp yang mendapatkan. Mereka dikirimi file apk oleh orang yang tidak dikenal yakni sebuah undangan pernikahan.

    File atau aplikasi dengan judul Surat Undangan Pernikahan Digital berukuran 6,6 mb. Para penipu mengajak korbannya membuka file untuk mengecek kebenaran file di dalamnya.

    Baca: 823 WNI jadi korban Online Scam dengan kerugian puluhan miliar

    2. Surat Tilang Palsu
    Sejumlah warganet juga mendapatkan dirinya dikirimi surat tilang palsu. Terdapat file apk berjudul ‘Surat Tilang-1.0 apk’ dalam chat tersebut.

    “AWAS! Hati-hati terhadap penipuan menggunakan modus kirim surat tilang lewat WhatsApp seperti ini. Jangan sekali-kali mengklik/download file dgn ekstensi “.apk” dari orang tak dikenal di gadget anda,” kicau akun @MurtadhaOne1.

    3. Modus kurir
    Penipuan ini dilaporkan akun Instagram yakni mengungkapkan chat Telegram dengan seseorang yang mengaku berasal dari J&T. Penipu mengirimkan lampiran dengan nama file berbentuk apk dengan tulisan LIHAT Foto Paket’.

    Mereka yang mengunduh file itu akan kehilangan uang yang disimpan di bank. Berbagai data termasuk keuangan yang bakal diambil oleh para pelaku.

    4. Catut MyTelkomsel
    Penipuan di WhatsApp lainnya juga pernah ada yang menggunakan nama MyTelkomsel. Ini merupakan aplikasi milik operator Telkomsel.

    Korban akan diminta klik file apk yang dikirimkan. Berikutnya mereka akan diminta memberikan izin akses pada sejumlah aplikasi, termasuk foto, video, SMS, dan akses akun layanan perbankan digital atau fintech.

    Baca: Awas penipuan dengan mengatasnamakan Ditjen Pajak kerugian puluhan juta

    5. Pengumuman dari Bank
    Penipuan lain adalah membuat pengumuman yang seakan berasal dari bank. Isinya mengenai perubahan tarif transaksi dan transfer yang tidak masuk akal.

    Pengguna WhatsApp akan diberikan link untuk mengisi formulir. Link tersebut akan membuat data mereka dicuri para pelaku.

    6. Undangan VCS
    Modus lainnya adalah melakukan video call sex (VCS) dari nomor tidak dikenal. Mereka disebut akan memeras para korbannya.

    Dihubungi beberapa waktu lalu, Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya mengatakan modus ini memanfaatkan ketidaktahuan seseorang soal teknologi dan menjadikannya ancamannya.

    “Ini pada prinsipnya adalah pemerasan yang memanfaatkan ketidaktahuan atau keamanan seseorang tentang teknologi,” kata dia.

    “Kalau ragu dan diperas, hubungi teman yang mengerti dan minta bantuannya untuk menghadapi ancaman-ancaman yang tidak kita mengerti, jangan main mengikuti ancaman saja,” paparnya.

    7. Kuras rekening pakai kode QR
    Metode lainnya yang sering digunakan adalah quishing, yaitu kombinasi dari kode QR dan phishing. Pelaku akan memancing korbannya agar mendapatkan informasi dan detail pribadi mereka.

    Saat memindai QR Code, biasanya korban akan dibawa ke situs tertentu. Selain bisa menunjukkan pesan teks biasa, situs tersebut bisa melacak daftar aplikasi hingga alamat peta korban.

    Pelaku memanfaatkan kemampuan tersebut untuk mengarahkan calon korbannya ke situs web palsu. Mereka akan membuat orang sulit mendeteksi situs yang akan dikunjungi sebelum membuka web.

    Wired menyebut, pelaku quishing akan mengelabui seseorang untuk mengunduh sesuatu ke dalam perangkat. Unduhan tersebut akan membahayakan perangkat milik korban.

    Langkah berikutnya, para korban akan diminta memasukkan beberapa kredensial login. Informasi itu akan didapatkan oleh pelaku quishing.

    Kejahatan ini semakin masif karena kode QR bisa dibuat dengan mudah dan siapa saja. Seseorang bisa membuatnya bahkan tanpa keahlian khusus.