Tag: WHOOSH

  • Resmi, Nama Kereta Cepat Jakarta-Bandung “Whoosh”

    Resmi, Nama Kereta Cepat Jakarta-Bandung “Whoosh”

    7cloud.asia – Setelah pekan lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan uji coba Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB), kini kereta tercepat di ASEAN itu telah diberi nama. “Whoosh” yang merupakan singkatan Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Handal.

    “Namanya adalah ‘Whoosh’. Sesuai dengan jadi kita bilang ‘whoosh whoosh. Pak Presiden, Pak Menteri selalu kalau itu ‘whoosh whoosh’. Jadi sudah ditentukan namanya. Kemudian kita lemparkan ke profesional desian grafis ditemukan 3 finalis,” jelas Triawan Munaf, Ketua Tim Panel Sayembara Desain Jenama Kereta Cepat Jakarta Bandung.

    Dilansir Detik.com, nama Whoosh untuk Kereta Cepat Jakarta Bandung ini merupakan ide dari pejabat hingga masyarakat yang telah mencoba KCJB yang berarti sangat cepat karena mampu mencapai kecepatan 350 km/jam.

    Baca Juga: Tak Disubsidi, Tarif Kereta Cepat Jakarta Bandung Berkisar Rp250.000 hingga Rp350.000

    Sementara itu, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menjelaskan awal mula nama ‘Whoosh’ untuk Kereta Cepat Jakarta Bandung

    Dalam tiga minggu terakhir, Budi mengaku banyak berbincang dengan Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Sekretariat Negara Pratikno, hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi), bahwa kata ‘Whoosh’ ini sering muncul ketika uji coba.

    Budi menceritakan nam aitu lahir dari dialog sejumlah meneteri. Jadi, ujarnya, dalam 3 minggu terakhir kami itu berdialog antara Pak Presiden, Pak Pratik, Pak Erick, saya, Pak Triawan dan kawan-kawan, japri-japrian, diskusi gitu ya.

    “Dan bersamaan dengan itu kami juga uji coba dengan Pak Luhut, Pak Edo, jadi memang dikatakan itu ‘siapa kita? Jaya. Nah kalau di sana itu ungkapan kegemberiaan begini, ngomong ‘whoosh whoosh’,” ungkap Budi.

    Baca Juga: Pertama Kali, Konvensi Manufaktur Dunia 2023 Gunakan Pasokan Listrik Hijau

    Selanjutnya Budi mengatakan bahwa kata whoosh ini kerap disebut-sebut saat bersama Jokowi dan Pratikno berkumpul di lain kesempatan.

    Kala itu, Budi mengatakan bahwa Jokowi menyebut jika kereta dengan kecepatan cepat namanya ‘whoosh, whoosh’.

    “Di lain waktu Pak Pratik, Pak Presiden, saya bergabung, beliau juga mengatakan kalau namanya cepat namanya kan whoosh whoosh gitu kan. Kita cobalah itu,” katanya.

    Kala itu belum langsung tersebut sebutan whoosh. Kata itu dicari yang memang juga memiliki arti cepat, maka ditentukanlah whoosh.

    Baca Juga: Terowongan Stasiun Tugu Difungsikan, Perjalanan ke Yogyakarta dengan Kereta Makin Nyaman

    “Tetapi kita cari nama yang seusia dengan whoosh itu cepat. Jadi ada beberapa nama-nama yang ada, whoosh itu paling cepat. Jadi pak Presiden punya peran banyak, tetapi ini dialog, dialog kebatinan kita,” jelasnya.

    Selain itu, pemerintah saat ini juga tengah membuat sayembara untuk logo Whoosh. Saat ini telah terpilih 3 kandidat dengan logo yang berbeda.

    Di laman KCI, masing-masing logo terdapat penjelasan serta maknanya. Sehingga masyarakat dapat melihat dan memilih logo mana yang akan digunakan.

    Reporter: Nurakhmayani 

     

     

     

     

  • Resmi Beroperasi Hari Ini, Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Diharapkan Dongkrak Jumlah Wisatawan

    Resmi Beroperasi Hari Ini, Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Diharapkan Dongkrak Jumlah Wisatawan

    7cloud.asia – Kereta Cepat Jakarta Bandung “Whoosh” mulai beroperasi pada hari ini, Senin (2/10/2023) ini.

    Beroperasinya Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh ini juga diharapkan bisa mendukung capaian target jumlah wisatawan di Indonesia pada tahun 2023.

    Adapun hingga pertengahan semester tahun 2023, atau sebelum Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh resmi dioperasikan, jumlah pergerakan wisatawan nusantara telah mencapai sekitar 433 juta.

    Dilansir Kompas.com, target pergerakan wisatawan nusantara tahun 2023 adalah 1,2 sampai 1,4 miliar.

    Baca: Integrasi Kereta Cepat Jakarta Bandung dengan moda angkutan lain

    “(Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh ) Ini tentunya akan mendukung peningkatan kualitas pariwisata yang dapat membantu konektivitas ke berbagai destinasi wisata,” kata Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Dessy Ruhati dalam rilis resmi, Minggu (1/1/2023).

    Dengan begitu, sambung dia, kehadiran kereta cepat dapat menggerakkan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

    “Ke depan, (kereta cepat) akan juga dikembangkan tidak hanya sampai Bandung tapi sampai ujung Pulau Jawa seperti Surabaya,” ujar Dessy.

    Menurut dia, KAI mungkin juga akan memperluas jaringan kereta cepat di Sumatera, Sulawesi, atau daerah lain dalam rangka menyongsong visi Indonesia Emas 2045.

    Baca: Tak disubsidi segini harga tiket Kereta Cepat Jakarta Bandung

    Adapun, Kereta Cepat Jakarta Bandung “Whoosh” ini berkecepatan maksimal hingga 350 kilometer per jam. 

    Kereta akan berhenti di empat stasiun yakni Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Padalarang, dan Stasiun Tegalluar. 

    lantas berapa tiket Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh? Harga tiket Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh dibanderol sesuai kelas.

    Yakni Rp 250.000 untuk kelas premium ekonomi, Rp 300.000 untuk kelas bisnis, dan Rp 350.000 untuk kelas pertama.

    Baca: Kontroversi proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung

    Nantinya, tiket  Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh dapat dipesan secara online lewat aplikasi KAI

    “Pesan bisa melalui Access by KAI,” ucapnya.

    Dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kelas pertama atau first class ada di dua gerbong kereta dengan masing-masing kapasitas 18 tempat duduk.

    Sementara untuk kelas bisnis dengan susunan bangku 2-2 ada di satu gerbong kereta dengan kapasitas 28 tempat duduk.

    Sedangkan sisanya, untuk kelas premium ekonomi berjumlah 555 tempat duduk dengan susunan bangku 2-3.

    Baca: Prinsip frugal living yang ramah lingkungan

     

  • Baru Diresmikan, Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Tandai Modernisasi Transportasi Massal Indonesia

    Baru Diresmikan, Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Tandai Modernisasi Transportasi Massal Indonesia

     

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan, peresmian operasional Kereta Cepat Jakarta Bandung yang diberi nama Whoosh menandai berlangsungnya modernisasi transportasi massal di tanah air.

    Hal tersebut disampaikan oleh Jokowi saat Peresmian Operasional Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh, di Stasiun KCJB Halim, Jakarta, Senin (02/10/2023).

    “Kereta Cepat Jakarta Bandung ini menandai modernisasi transportasi massal kita yang efisien, yang ramah lingkungan, dan terintegrasi dengan moda transportasi lainnya, maupun terintegrasi dengan TOD (transit oriented development),” ujar Jokowi.

    Baca: Kereta Cepat Jakarta Bandung diharapkan ungkit sektor pariwisata

    Seperti Moda Raya Transportasi (MRT) dan Lintas Raya Terpadu (LRT), kereta cepat merupakan hal yang baru bagi Indonesia, baik dari sisi teknologi, kecepatan dan konstruksi, serta model pembiayaan.

    Namun, Jokowi menekankan bahwa bangsa Indonesia tidak perlu takut untuk mengadopsi dan mempelajari teknologi transportasi massal yang modern untuk kemajuan bangsa.

    “Dalam proses itu bisa muncul hal-hal yang tidak terduga, kesulitan-kesulitan di lapangan, masalah-masalah, dan ketidaksempurnaan, pengalaman itu mahal namun sangat berharga”.

    Baca: Integrasi Kereta Cepat Jakarta Bandung dengan modra transportasi lainnya

    Dan, lanjutnya kita tidak perlu takut, karena jika kita konsisten, kesalahan itu akan semakin sedikit, biaya kesalahan juga akan semakin menurun.

    Pada akhirnya, biaya produksi, biaya proyek, lama-kelamaan juga akan semakin rendah,” ujarnya.

    Keberanian untuk mencoba hal-hal baru serta memberikan kesempatan kepada anak bangsa untuk belajar, kata Jokowi, akan sangat berguna bagi pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk Indonesia yang semakin maju dan mandiri.

    Baca: Tak disubsidi, segini tarif Kereta Cepat Jakarta Bandung

    Jokowi juga berpesan agar pihak terkait tidak alergi terhadap kritik, dan tetap semangat untuk belajar.

    “Karena pengalaman kita membangun infrastruktur, baik jalan tol, pelabuhan, bandara, bendungan, transportasi, telah memberikan pengalaman dan bekal kita untuk menghasilkan hasil-hasil yang lebih baik di masa depan,” tandasnya.

    Sumber: Setkab RI

     

  • Jajal Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh, Ini Kata Ganjar Pranowo

    Jajal Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh, Ini Kata Ganjar Pranowo

    7cloud.asia – Bakal Calon Presiden (Bacapres) Ganjar Pranowo pada hari Selasa (3/10/2023) berkesempatan menjajal Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh.

    Kepergian Ganjar Pranowo ke Bandung, adalah dalam rangka mengisi kuliah umum di Universitas Pasundan, Bandung, Jawa Barat.  Untuk menuju lokasi acara, Ganjar tidak menggunakan kendaraan pribadi, namun lebih memilih menaiki Kereta Cepat Jakarta Bandung ‘Whoosh’.

    Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh sendiri baru diresmikan Senin (2/10/2023) kemarin oleh Presiden Joko Widodo.

    Baca: Baru diresmikan Kereta Cepat Jakarta Bandung tandai modernisasi transportasi massal di Indonesia

    “Saya ada acara di Universitas Pasundan, tadi pilihannya naik apa gitu, mau naik mobil, cuma naik kereta aja gitu saya baru ngeeh kalo Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh kan kemarin sudah mulai,” kata Ganjar saat ditemui di Stasiun Halim, Jakarta Timur, Selasa (3/10/2023).

    Setelah peresmian operasional dilakukan, untuk sekarang ini Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh masih belum dikenakan biaya alias gratis bagi masyarakat.

    Ganjar mengaku baru mengetahui kalau ternyata Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh masih digratiskan hingga pertengahan Oktober 2023.

    Baca: Integrasi Kereta Cepat Jakarta Bandung dengan moda transportasi umum lainnya

    Ia pun mendukung langkah pemerintah untuk menggrastiskan Kereta Cepat Jakarta Bandung ini agar masyarakat bisa menjajal kereta cepat pertama di Indonesia ini.

    “Lho gratis alhamdulillah sekalian lah mau ada acara di Bandung, sekalian bisa naik,” ucap Ganjar.

    Gubernur Jawa Tengah dua periode ini berharap ke depannya masyarakat dapat diberikan transportasi publik yang nyaman untuk beraktivitas seperti Kereta Cepat Jakarta Bandung ini. 

    Baca: Tak disubsidi, segini tarif Kereta Cepat Jakarta Bandung

    Kemudian transportasi publik harus terintegrasi untuk memudahkan warga, dengan begitu dapat mengurangi kemacetan yang kerap terjadi di Indonesia.

    Kalau kita melihat, ujarnya, beberapa negara yang lebih dulu melakukan ini ya, itu rasanya orang udah senang ngelihat, saya dari sini jalan ke sini.

    Ia membayangkan, ke depan warga sudah bisa mengetahui dari rumah ke stasiun naik apa, dari stasiun nanti berhenti di mana, connecting-nya di mana.

    “Maka sampai ujungnya dia semuanya transportasi publik. Maka kalau itu terjadi di tempat kita wow, kemacetan bisa dikurangi,” tandas Ganjar.

  • Penumpang Whoosh Melonjak Saat Arus Mudik Lebaran

    Penumpang Whoosh Melonjak Saat Arus Mudik Lebaran

    7cloud.asia – PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memperkirakan ada 20 ribu lebih penumpang kereta cepat Whoosh pada H+4 Lebaran atau Minggu (14/4/2024).

    General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa memperkirakan puncak lonjakan penumpang Whoosh bakal terjadi pada Minggu (14/4/2024) atatau H+4.

    “Hari ini merupakan weekend terakhir sebelum cuti bersama Idul Fitri usai pada 15 April 2024. Hal itu diprediksi akan membuat adanya lonjakan pergerakan penumpang untuk kembali ke Jakarta pada Minggu, 14 April 2024,” kata  di Bandung, Jawa Barat, Minggu (14/4/2024).

    Eva memperkirakan di puncak arus balik ini jumlah penumpang Whoosh dapat melebihi angka 20 ribu untuk volume penumpang. Hal tersebut dikarenakan penjualan masih terus berlangsung dan diprediksi penumpang yang akan membeli di hari keberangkatan masih tinggi.

    “Pergerakan dan peningkatan penumpang mulai terlihat dan diprediksi hari ini akan menjadi puncak arus balik Kereta Cepat Whoosh. Hal ini juga terlihat dari penjualan tiket Whoosh keberangkatan Minggu (14/4) sudah melebihi 17 ribu per Sabtu (13/4/2024) malam,” kata Eva.

    Untuk mengantisipasi tingginya minat masyarakat terhadap kereta cepat Whoosh, KCIC sudah melakukan penambahan perjalanan Whoosh sebanyak 30 persen menjadi 52 perjalanan per hari hingga 18 April 2024.

    Ia menyebut keberangkatan penumpang didominasi melalui dari Stasiun Bandung dan menggunakan KA Feeder ke Stasiun Padalarang. Tidak sedikit juga penumpang yang memilih keberangkatan langsung dari Stasiun Padalarang dan Tegalluar.

    “Adapun jam-jam favorit penumpang pada puncak arus balik ini adalah mulai jam 13.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB dengan okupansi di atas 90 persen,” katanya.

    Eva mengimbau kepada penumpang untuk memperhitungkan waktu perjalanan menuju area stasiun Kereta Cepat. Baik itu Stasiun Bandung, Padalarang ataupun Tegalluar.

    Menurut dia pada puncak arus balik rawan terjadi kemacetan di Jl Soekarno Hatta menuju Stasiun Tegalluar, Pintu Tol Pasteur menuju Stasiun Padalarang maupun jalan dalam kota menuju Stasiun Bandung.

    “Mengingat kemungkinan adanya peningkatan volume kendaraan sehingga menimbulkan kemacetan di ruas jalan menuju stasiun,” kata dia.

    Selain itu, ia juga meminta penumpang untuk hadir setidaknya 30 menit sebelum keberangkatan untuk mengantisipasi tertinggal kereta Whoosh ataupun kereta feeder.

    Hal tersebut dikarenakan Gate Whoosh dan KA feeder ditutup lima menit sebelum keberangkatan.

    “Pastikan kembali rute dan jadwal perjalanan Whoosh maupun KA Feeder Anda. Jangan sampai ada yang tertinggal karena terlambat ke stasiun yang diakibatkan kemacetan di masa puncak arus balik kali ini,” kata Eva.

  • Seperti Ini Pelayanan Whoosh untuk Penumpang Prioritas, Disabilitas dan Lansia

    Seperti Ini Pelayanan Whoosh untuk Penumpang Prioritas, Disabilitas dan Lansia

    7cloud.asia – PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh menyebut telah melayani lebih dari 10 ribu penumpang prioritas seperti penyandang disabilitas.

    Penumpang prioritas lain yang diangkut Whoosh adalah lansia, anak-anak tanpa pendamping, ibu hamil dan menyusui hingga orang yang bepergian dalam kondisi sakit dari Jakarta ke Bandung sepanjang 2024.

    General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, data tersebut tercatat melalui permintaan khusus dari penumpang untuk membantu memudahkan aktivitasnya dan laporan resmi petugas pada evaluasi harian KCIC.

    Whoosh memprioritaskan penumpang yang membutuhkan penanganan khusus akan dibantu agar dapat menggunakan layanan Whoosh dengan nyaman.

    “KCIC ingin memastikan bahwa setiap penumpang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, bisa merasakan kenyamanan dan keamanan saat menggunakan layanan Kereta Cepat Whoosh,” ujar Eva melalui keterangan di Jakarta, Selasa (24/9/2024)

    Baca: Penumpang Whoosh melonjak saat mudik Lebaran

    Pada 2024, Stasiun Halim menjadi stasiun yang paling banyak melayani penumpang berkebutuhan khusus yaitu sebanyak 4.600 ribu penumpang.

    Selanjutnya diikuti Stasiun Padalarang sekitar 3.200 penumpang dan Tegalluar 2.200 penumpang berkebutuhan khusus.

    Sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan transportasi yang nyaman untuk kebutuhan masyarakat beraktivitas, KCIC telah menerapkan berbagai inovasi yang mendukung aksesibilitas bagi penyandang disabilitas di seluruh stasiun dan kereta Whoosh.

    Di stasiun fasilitas khusus yang disediakan meliputi ruang Jemput Khusus, lantai Tactile, Tombol Braille, Lift, Loket dan Toilet Khusus disabilitas, Informasi Audio Visual, Ramp Kursi Roda, Gate Khusus, dan Kursi Tunggu Prioritas.

    Sementara di kereta terdapat juga sejumlah fasilitas ramah disabilitas seperti Toilet Khusus Disabilitas dengan luasan yang memudahkan penumpang dengan kursi roda melakukan pergerakan hingga 180 derajat.

    Selain itu, terdapat juga 32 Kursi Prioritas dengan lokasi strategis, Rak Penyimpanan Kursi Roda, Informasi Audio Visual dan Ramp untuk kursi roda.

    Baca: Sejak Februari 2024 Whoosh terapkan tarif dinamis

    Seluruh petugas Whoosh siap mendampingi penumpang prioritas dari stasiun, diterima oleh Kondektur maupun Pramugari Whoosh untuk diantarkan ke kursi yang telah dipesan, hingga nantinya disambut oleh petugas di stasiun kedatangan.

    KCIC juga terus mengedepankan integrasi antar moda yang lengkap dan nyaman di seluruh stasiun Whoosh.

    Melalui integrasi yang lengkap dan baik, Stasiun Halim mendapatkan penghargaan dari Dewan Transportasi Kota Jakarta sebagai Fasilitas Integrasi Moda Teramah Disabilitas.

    Di Stasiun Halim, terdapat konektivitas intermoda dengan layanan LRT Jabodebek, Bus menuju Bandara Soekarno-Hatta, Shuttle menuju Bandara Halim Perdanakusuma, Bus Transjakarta, Taksi, dan Transportasi Online.

    Seluruh layanan tersebut sudah dilengkap fasilitas konektivitas yang lengkap dan nyaman untuk memudahkan seluruh penumpang disabilitas dalam mengaksesnya.

    “Ini akan menjadi penyemangat KCIC dalam menyambut ulang tahunnya yang pertama. KCIC akan terus memberikan pelayanan yang maksimal kepada seluruh penumpang whoosh,” kata Eva.

  • Menkeu Tolak Penggunaan APBN untuk Bayar Utang Whoosh, DPR: Kaji Ulang Apa Pemicu Pembengkakan Biaya

    Menkeu Tolak Penggunaan APBN untuk Bayar Utang Whoosh, DPR: Kaji Ulang Apa Pemicu Pembengkakan Biaya

    7cloud.asia – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak penggunaan APBN untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) menuai reaksi beragam.

    Ada yang mendukung sikap Menkeu, dengan alasan pelaksanaan proyek ini tidak didasarkan pada studi kelayakan yang memadai. Namun, tidak sedikit yang mengecam karena proyek ini didasari undang-undang.

    Menanggapi polemik ini, Anggota Komisi V DPR, Adian Napitupulu menilai penolakan tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, yakni adanya dugaan pembengkakan biaya yang perlu dikaji secara serius.

    “Kalau menurut saya, memang seharusnya dikaji ulang bagaimana bisa terjadi pembengkakan biaya untuk kereta cepat itu,” ujar Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini dalam keterangan video yang dikutip Parlementaria, di Jakarta, Senin (20/10/2025).

    Ia menekankan bahwa proyek serupa tidak hanya dibangun di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain dengan teknologi yang berbeda, seperti produksi dari China maupun Jepang.

    “Dibandingkan saja harganya, lalu diperiksa kenapa kita bisa lebih mahal. Bagaimana perjanjian awalnya, siapa yang melakukan negosiasi, dan sebagainya,” imbuhnya.

    Legislator Dapil Jawa Barat V itu menilai, sikap Menteri Keuangan menolak pembayaran utang proyek menggunakan APBN tentu memiliki alasan tersendiri.

    Namun demikian, Adian menilai hal ini tidak menghapus kewajiban pemerintah untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap manajemen proyek tersebut.

    Terkait wacana perpanjangan rute Kereta Cepat hingga Jakarta–Surabaya, Adian menilai ide tersebut baik, namun harus diimbangi dengan perencanaan dan pelaksanaan yang matang.

    “Gagasan kereta cepat itu bagus. Problemnya, yang bagus tidak cuma di gagasan saja. Tapi bagaimana cara merealisasikannya juga harus bagus,” tegasnya.

    Lebih lanjut, Adian menyoroti bahwa hampir setiap proyek besar di Indonesia kerap mengalami pembengkakan biaya. Ia pun menegaskan bahwa jika proyek ini pada akhirnya menggunakan APBN, maka pemerintah harus menjelaskan evaluasi yang telah dilakukan.

    “Kalau sampai menggunakan APBN, berarti ini kan mengkhianati janji awal. Maka yang harus dipikirkan, siapa yang melakukan negosiasi, berapa harga yang patut, dan apakah perjanjian itu dibuat dengan niat baik,” ujarnya.

    Menurut Adian, penilaian terhadap niat baik dapat dilihat dari kepatutan harga dalam kontrak proyek. Jika terbukti perjanjian tidak dibuat dengan dasar niat baik, maka pemerintah dapat meninjau ulang atau menegosiasikan kembali perjanjian tersebut.

    “Kalau bisa dibuktikan perjanjian itu tidak dilakukan berdasarkan niat baik, ya bisa diminta dibatalkan atau dinegosiasikan ulang. Tapi problemnya adalah kok biayanya bisa gede banget,” pungkasnya.

  • Dugaan Mark Up dalam Proyek Pembangunan Kereta Cepat Whoosh

    Dugaan Mark Up dalam Proyek Pembangunan Kereta Cepat Whoosh

    7cloud.asia – Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan menyebut kuatnya dugaan korupsi dalam pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) yang kini bernama Kereta Whoosh.

    “Untuk itu, auditor negara seperti BPK atau BPKP perlu melakukan audit proyek Kereta Whoosh. Karena menimbulkan beban keuangan yang begitu berat. Dan sekarang heboh di internal pemerintahan. Tapi kalau saya yakin ada yang tidak beres di proyek itu,” kata Anthony di Jakarta, Sabtu (18/10/2025).

    Berdasarkan perhitungan Anthony, biaya pembangunan Kereta Whoosh yang mencapai 7,27 miliar dolar AS atau setara Rp118,37 triliun (kurs Rp16.283/dolar), termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dolar AS, terlalu mahal.

    Dia membandingkan biaya pembangunan kereta cepat di China berada di kisaran 17 juta hingga 30 juta dolar AS per kilometer (km). Sedangkan biaya pembangunan Kereta Whoosh sekitar 52 juta dolar AS per kilometer.

    Asumsikan nilai tengah untuk biaya kereta cepat di China, misalnya 25 juta dolar AS per km, biaya pembangunan Kereta Whoosh yang rutenya 142,3 km itu, lebih mahal 27 juta dolar AS per km.

    “Saya duga proyek Kereta Whoosh kemahalannya luar biasa, sekitar 40-50 persen dibanding biaya pembangunan kereta cepat di China. Tapi okelah, untuk membuktikannya, harus diaudit,” kata Anthony.

    Baca: DPR minta pemicu pembengkakan biaya pembangunan Whoosh ditelusuri

    Karena mahal dan dibiayai 75 persen dari utang Bank Pembangunan China atau China Development Bank (CDB), lanjut Anthony, pemerintah saat ini menjadi kelabakan.

    Tunggakan ini sempat membuat tegang antara Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa dengan CEO BPI Danantara Indonesia, Rosan P Roeslani, terkait pembayaran utang Kereta Whoosh.

    Sebelumnya, lanjut Anthony, pemerintah Jepang sempat mengajukan proposal pembangunan kereta cepat dengan biaya yang lebih rendah. Sama-sama dibiayai dari utang, namun Jepang menawarkan bunga yang 20 kali lebih rendah ketimbang China.

    Di mana, Jepang menawarkan bunga 0,1 per per tahun, sedangkan China menawarkan bunga 2 persen per tahun. Khusus utang untuk cost overrun, bunganya ditetapkan CDB lebih tinggi, yakni 3,4 persen per tahun.

    “Akibatnya, Indonesia harus membayar untuk bunganya saja cukup gede. Sekitar Rp2 triliun per tahun. Ingat, itu hanya untuk bayar bunga saja. Sedangkan jika kerja sama dengan Jepang, pemerintah hanya bayar Rp75 miliar per tahun. Selisihnya lebih dari Rp 1,9 triliun. Dikalikan 10 tahun sudah Rp19 triliun,” terangnya.

    Untuk itu, lanjut Anthony, aparat penegak hukum wajib menindaklanjuti fenomena ini. Agar terungkap secara pasti, siapakah pihak-pihak yang mengalihkan kerja sama pembangunan kereta cepat yang semula digarap Jepang, tiba-tiba beralih ke China.

    Baca: Nama kereta cepat Jakarta-Bandung “Whoosh”

    “Ya dibuka saja, siapa yang berperan dalam proyek-proyek Kereta Whoosh. Kenapa harus dengan China yang belakangan membuat berat keuangan negara. Cicilan bunganya saja Rp2 triliun,” ungkapnya.

    Nama Jokowi disebut
    Sebelumnya, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio mengungkap pengalaman dipanggil Presiden Joowi di Istana Presiden, Jakarta, pada 2016. Untuk berdiskusi proyek KCJB.

    Dalam wawancara dalam siniar Forum Keadilan TV, Agus menyebut, pengalihan proyek KCJB dari Jepang ke China, merupakan ide Jokowi.

    “Pak Jokowi bilang ini ide beliau. Tapi saya tahu itu sebetulnya dari Jepang. Sebelum diserahkan, orang Jepang yang mau menyerahkan proyeknya sempat ketemu saya,” tutur Agus, dikutip Sabtu (18/10/2025).

    Padahal, kata Agus, Jepang sudah melakukan studi kelayakan atau feasibility study (FS), menggandeng UI dan UGM. Melalui JICA, Jepang siap membiayai proyek tersebut dengan bunga ringan dan tenor 40 tahun. Tiba-tiba, China mengambil alih dengan biaya bunga pinjaman lebih besar.

    “Sekarang (dengan China) jadi 85 tahun dengan bunga 2 persen. Jepang itu sulit di depan, tapi cepat di belakang. Sedangkan China, gampang di awal, tapi sulit di belakang. Sekarang buktinya begitu kan,” ujarnya.

    Baca: Kontroversi kelanjutan proyek kereta cepat Jakarta Bandung

    Agus menduga, keputusan Jokowi mengalihkan proyek kereta cepat ke Cina, lebih dilandasi pertimbangan politik ketimbang rasionalitas ekonomi. “Menurut saya, Jokowi merasa lebih nyaman dengan Cina. Mungkin karena banyak bantuan dan kedekatan politik,” katanya.

    Sementara, mantan Menkopolkam Mahfud MD, dalam siniar Terus Terang di kanal YouTube Mahfud MD Official, menilai proyek WHOOSHt penuh kejanggalan sejak awal perencanaan hingga pembiayaan yang kini membebani negara.

    Mahfud menuturkan, proyek yang awalnya ditawarkan ke Jepang dengan skema antarpemerintah (G2G) justru dialihkan ke China, dengan bunga pinjaman yang jauh lebih tinggi dan pembengkakan biaya yang signifikan.

    Dulu pada awalnya, ujar Mahfud, rencana kereta api cepat yang kemudian bernama Whoosh ini adalah perjanjian G2G (Government to Government) antara Pemerintah Jepang dengan Pemerintah Indonesia.

    “Disepakati pada waktu itu berdasarkan hitungan ahli dari UI dan UGM, itu bisa dibangun dengan bunga 0,1 persen dengan Jepang. Tiba-tiba sesudah Jepang minta kenaikan sedikit, oleh pemerintah dibatalkan, dipindah ke China,” ujar Mahfud dalam kanal YouTube Mahfud MD Official.

    Sejumlah pihak yang sejak awal menilai proyek tersebut tidak layak dijalankan, termasuk mantan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan pakar transportasi Agus Pambagio. Menurut Mahfud, Jonan sempat menolak proyek tersebut karena dianggap tidak feasible atau tidak layak secara ekonomi.

    “Ketika mau dipindah ke China, waktu itu Menteri Perhubungan, Pak Ignasius Jonan, menyatakan tidak setuju. ‘Ini tidak feasible’, kata Pak Jonan. Pak Jonannya dipecat, digantikan,” ujarnya. Ia menambahkan, setelah pemecatan Jonan, Presiden Joko Widodo sempat memanggil Agus Pambagio untuk dimintai pendapat.

    Berdasarkan penuturan Mahfud, Agus juga menyampaikan bahwa proyek tersebut berpotensi merugikan negara. “Presiden (Jokowi) panggil nih, sesudah memecat Jonan, dia ditanya, ‘Pak Agus gimana ini, Pak?’ ‘Ini tidak feasible, rugi negara,’ ini menurut Agus yang saya tonton,” tutur Mahfud.

    Lebih jauh, Mahfud mengungkapkan bahwa pembengkakan biaya yang terjadi pada proyek Whoosh dinilai tidak wajar. Ia menyinggung dugaan mark up biaya konstruksi yang mencapai tiga kali lipat dari standar biaya di China.

    Saat menghadiri rapat senat terbuka Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (17/10/2025), Jokowi tak menjawab saat ditanya wartawan soal utang Kereta Whoosh yang tak ditanggung APBN.

  • Dukung Keputusan Menkeu Soal Utang Kereta Cepat Whoosh, DPR: APBN Bukan Penyangga Risiko Bisnis

    Dukung Keputusan Menkeu Soal Utang Kereta Cepat Whoosh, DPR: APBN Bukan Penyangga Risiko Bisnis

    7cloud.asia – Anggota Komisi XI DPR, Anis Byarwati, menilai keputusan pemerintah untuk tidak membebankan pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan langkah yang tepat.

    “Tidak tepat jika APBN yang harus menanggung. Kondisi itu justru memperberat keuangan negara yang saat ini sudah dalam keadaan terbatas,” ujar Anis dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Legislator Fraksi PKS itu juga menyampaikan dukungannya terhadap sikap tegas Menteri Keuangan Purbaya, yang menolak pembayaran utang proyek KCJB dibebankan pada APBN.

    Ia menilai sejak awal proyek kereta cepat ini memang sudah bermasalah dari sisi perencanaan.

    “Permasalahan proyek infrastruktur KCJB muncul sejak awal, seperti tidak masuknya proyek ini dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2030. Bahkan, Menhub saat itu tidak menyetujui proyek Whoosh dengan alasan bakal sulit dibayar,” paparnya.

    Baca: Dugaan mark up dalam proyek pembangunan kereta cepat Whoosh

    Berdasarkan informasi yang beredar, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), anak usaha PT KAI yang juga pemegang saham terbesar PT KCIC, mencatatkan kerugian hingga Rp4,195 triliun pada 2024, dan kembali merugi Rp1,625 triliun pada semester I-2025.

    “Menurut data BPS, Kereta Cepat hanya ramai saat musim liburan saja, padahal biaya investasi dan operasionalnya sangat tinggi,” ungkapnya.

    Anis menegaskan, situasi ini harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah agar setiap kebijakan publik benar-benar ditimbang secara matang antara manfaat dan risikonya.

    “BUMN yang awalnya sehat kini harus menanggung beban utang Rp2 triliun per tahun akibat proyek penugasan presiden terdahulu. Padahal para pembantunya sudah memberikan peringatan sejak awal,” tegasnya.

    Baca: DPR minta pemicu pembengkakan biaya kereta cepat Whoosh

    Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan keuangan negara yang lebih berhati-hati, terlebih setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN, yang mengatur bahwa dividen BUMN disetorkan ke Danantara, bukan langsung ke APBN.

    “Karena itu, Danantara harus mampu mengelola dan mencarikan solusi yang tidak membebani APBN lagi,” kata Anis.

    Menutup pernyataannya, Anis menegaskan bahwa APBN harus menjadi pelindung rakyat, bukan penyangga risiko bisnis.

    Setiap kebijakan yang berpotensi membebani keuangan negara (APBN) wajib melalui audit menyeluruh, pengawasan DPR, dan memiliki dasar hukum yang jelas.

    “DPR harus memastikan bahwa setiap proyek benar-benar memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi bangsa, bukan menjadi beban baru bagi generasi berikutnya,” pungkasnya.

    Baca: Kontroversi kelanjutan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung

  • Dilema Utang Kereta Cepat Whoosh: Mengejar Kecepatan Tapi Kedaulatan Terancam

    Dilema Utang Kereta Cepat Whoosh: Mengejar Kecepatan Tapi Kedaulatan Terancam

    7cloud.asia – Kereta cepat Jakarta–Bandung Whoosh menjadi proyek andalan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan dinarasikan sebagai simbol kemajuan transportasi Indonesia.

    Pada Oktober 2023, Jokowi dengan bangga meresmikannya dan mengatakan bahwa Whoosh hadir sebagai bukti Indonesia mampu bersaing dalam teknologi transportasi modern.

    Namun, di era Presiden Prabowo Subianto saat ini, masalah Whoosh mulai bermunculan, terutama terkait pembayaran utang ke China yang mencapai 7,27 miliar dolar AS atau Rp110-113 triliun).

    Problematika ini mencerminkan realita bahwa kecepatan yang ditawarkan Whoosh telah menyebabkan ketergantungan baru dalam sistem ekonomi global, alih-alih mencerminkan kemajuan teknologi nasional.

    Tumpukan utang di balik gemerlap modernitas
    Proyek kereta cepat Whoosh memang mengesankan. Dengan kecepatan mencapai 350 kilometer per jam, ia menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara—hasil kerja sama perusahaan Indonesia dan China.

    Namun, secara ekonomi, proyek ini menghadirkan paradoks yang sulit diabaikan. Biaya yang semula diperkirakan sekitar 6 miliar dolar AS (Rp99,4 triliun) kini melonjak hingga lebih dari 7,3 miliar dolar AS (Rp120,9 triliun)

    Pemerintah pun harus melakukan negosiasi ulang dengan Cina, yang diwakili oleh China Development Bank dan sejumlah perusahaan milik negara dalam konsorsium proyek Whoosh, untuk menyesuaikan skema utang yang kian membebani keuangan proyek

    Fakta ini memperlihatkan bahwa proyek infrastruktur besar tidak hanya mencakup teknologi dan konektivitas, melainkan juga relasi kekuasaan, kepentingan ekonomi, dan arah politik pembangunan.

    Selama dua tahun beroperasi, Whoosh mencatatkan angka penumpang yang cukup tinggi, lebih dari 12 juta penumpang hingga Oktober 2025. Rekor hariannya mencapai 26 ribu penumpang.

    Capaian ini patut diapresiasi sebagai kemajuan nyata dalam sistem transportasi nasional. Namun, angka tersebut ternyata belum cukup untuk menutupi beban finansial yang ditimbulkan.

    Pendapatan dari tiket belum sebanding dengan biaya operasional dan pembayaran bunga utang.
    Dalam jangka panjang, ketidakseimbangan ini berpotensi menjadi beban bagi keuangan publik, apalagi jika tidak disertai perencanaan ekonomi yang matang.

    Ketika proyek besar semacam Whoosh menghadapi tekanan finansial, lagi-lagi rakyat yang kemungkinan besar akan menanggung konsekuensinya.

    Ketergantungan global
    Pembangunan seperti Whoosh tidak berlangsung di ruang yang netral, tetapi merupakan hasil dari proses negosiasi antara kebutuhan domestik dan kepentingan global.

    Dalam dunia yang semakin terhubung, kerja sama ekonomi lintas negara menjadi hal yang tak terelakkan, tetapi hubungan tersebut jarang bersifat setara.

    Modal, teknologi, dan keahlian sering kali datang dari pusat kekuatan ekonomi, sementara negara berkembang menyediakan pasar, sumber daya, dan ruang ekspansi.

    Kemitraan untuk pembangunan kadang tampak sebagai kolaborasi, tetapi pada dasarnya menciptakan struktur ketergantungan yang baru.

    Indonesia tentu membutuhkan investasi asing untuk mempercepat pembangunan. Namun, ketergantungan yang berlebihan terhadap modal dan teknologi eksternal dapat melemahkan kemandirian nasional dalam jangka panjang.

    Ketika kemampuan produksi domestik tidak dikembangkan secara bersamaan, kemajuan yang tercipta hanya bersifat simbolik seolah cepat di permukaan, padahal fondasinya rapuh.

    Pembangunan sejati seharusnya menciptakan kapasitas baru, kemampuan suatu negara untuk merancang, mengelola, dan memperluas teknologi sendiri tanpa harus terus bergantung pada pihak luar.

    Ujian bagi kedaulatan Indonesia
    Proyek Whoosh seharusnya dibaca bukan hanya sebagai simbol kemajuan, tetapi juga sebagai ujian bagi kemampuan Indonesia menegosiasikan kedaulatannya.

    Pemerintah memiliki peluang untuk menjadikan renegosiasi utang dengan Cina sebagai momentum memperkuat posisi strategis nasional. Langkah tersebut tidak semata soal menyesuaikan bunga pinjaman atau memperpanjang tenor, tetapi juga memastikan adanya transfer teknologi, pelibatan industri lokal, serta pengawasan publik yang lebih transparan.

    Tanpa upaya itu, Whoosh berisiko menjadi proyek yang hanya memperindah citra tanpa memperkuat kapasitas nasional.

    Dalam jangka panjang, keberlanjutan proyek ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan negara mengelola relasi internasionalnya secara cerdas dan berdaulat.

    Pada dasarnya, infrastruktur selalu memiliki dimensi politik. Ia menentukan arah distribusi sumber daya, prioritas pembangunan, dan relasi antara negara serta masyarakatnya.

    Kebanggaan terhadap pembangunan yang tidak disertai refleksi kritis bisa berbahaya, banyak risiko ekonomi dan sosial yang akan muncul, termasuk menumpuknya utang negara.

    Dua mata pisau modernitas
    Modernitas selalu datang dengan wajah ganda. Di satu sisi, ia membuka peluang bagi inovasi dan pertumbuhan. Di sisi lain, ia menuntut penyesuaian terhadap struktur global yang sering kali tidak adil.

    Kereta cepat Whoosh mencerminkan dilema ini. Ia melambangkan tekad Indonesia untuk maju, tetapi juga mengingatkan bahwa kemajuan sejati tidak dapat dibeli hanya dengan kecepatan dan investasi asing.

    Baca juga: Politisasi proyek infrastruktur tak terhindarkan, namun kerap tak sejalan dengan kebutuhan publik

    Kemajuan sejati menuntut kemampuan untuk menentukan arah, bukan sekadar mengikuti arus. Whoosh bukan sekadar kisah tentang transportasi, melainkan juga tentang kedaulatan. Ia mengajarkan bahwa pembangunan yang hanya mengejar kecepatan tanpa arah akan kehilangan makna.

    Tugas besar Indonesia hari ini bukan hanya memastikan keretanya berjalan, tetapi memastikan bahwa bangsa ini benar-benar mengendalikan ke mana rel sejarahnya mengarah.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Aniello Iannone (Indonesianists | Research Fellow at the research centre Geopolitica.info | Lecturer, Universitas Diponegoro)