7cloud.asia – Ketua Tim Pengembangan Kreatif Media dan Teknologi Bidang Ekonomi Kreatif Disbudpar Kota Bandung, Mega mengatakan, Kota Bandung menyimpan potensi wisata gastronomi yang sangat besar, namun belum terekspos secara optimal.
Karena itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus mendorong pengembangan potensi wisata gastronomi agar lebih dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Salah satu langkah strategisnya adalah penyusunan big data sebagai alat untuk merumuskan kebijakan dan regulasi terkait sektor ini.
“Di creator space kami, Patra Komala, data yang kami himpun akan menjadi dasar kebijakan. Big data ini akan menjadi tools pemerintah kota untuk menentukan regulasi pengembangan gastronomi,” ujar Mega, Jumat(15/8/2025) eperti dilansir bandung.go.id.
Menurutnya, pengembangan gastronomi membutuhkan pemahaman dari seluruh pihak, termasuk model kolaborasi hexahelix yang melibatkan unsur pendanaan agar pelaku dapat membangun bisnis yang berkelanjutan.
Baca: ‘Open Top Tour of Jakarta’ tawarkan pengalaman unik dalam menikmati Kota Jakarta
Mega memaparkan, di tingkat global, melalui UNESCO Creative Cities Network (UCCN), pengembangan gastronomi mencakup tujuh subsektor yang harus diaktivasi.
”Pengembangan wisata gastronomi ini lebih mendalam dibanding kuliner, sehingga butuh kolaborasi erat dengan akademisi yang memiliki kajian mendalam,” katanya.
Sementara itu, Pakar Gastronomi Indonesia, Dewi Turgarini, menuturkan UPI telah berkolaborasi dengan Disbudpar Bandung sejak 2018 untuk membangun wisata gastronomi berbasis riset dan pengabdian masyarakat.
sekaligus Dosen Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini mengatakan, salah satu program yang sudah berjalan adalah paket wisata Gastronomi Tour on Bandros yang diadakan sebulan sekali bersama Himpunan Pramuwisata Indonesia.
Baca: Serunya menjelajahi kawasan Kota Tua Jakarta
“Hingga kini sudah ada 30 paket wisata gastronomi yang melibatkan hotel, restoran, katering, dan destinasi wisata. Bahkan, 6 September mendatang akan ada kunjungan wisatawan mancanegara untuk mengikuti wisata gastronomi di Bandung,” katanya.
Dewi menjelaskan, wisata gastronomi bukan sekadar menikmati makanan, tetapi juga memahami sejarah, tradisi, filosofi, keunikan bahan baku, cara penyajian, nilai edukasi, manfaat kesehatan, hingga etika makan.
“Pengalaman yang diberikan harus melampaui ekspektasi wisatawan dan pada akhirnya mensejahterakan pelaku serta pelestari gastronomi,” katanya.
Ia menggambarkan Bandung sebagai kota wisata yang memikat di setiap sudutnya.
“Masuk ke Bandung itu seperti masuk ke Disneyland. Hampir di semua titik ada potensi wisata, terutama gastronominya,” tandasnya.

