7cloud.asia – Tingkat pengembalian Xyloband, gelang pintar canggih yang menjadi simbol konser Coldplay di Jakarta pada 15 November lalu menuai perbicangan publik.
Angka pengembalian Xyloband yang selalu dilakukan Coldplay ini hanya mencapai angka 77 persen. Dari total 80.000 penonton, 18.400 di antaranya tidak mengembalikan Xyloband.
Angka pengembalian Xyloband di Konser Coldplay di jakarta ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan rata-rata konser Coldplay di negara lain.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan krusial, tentang etika dan kejujuran di kalangan penonton Coldplay di Indonesia? Lebih jauh, sejauh mana pendidikan etika di Indonesia?
Baca: Konser Coldplay, antara hiburan isu lingkungan dan krisis etika
Psikolog Perkembangan Anak, Remaja, dan Pendidikan, Theresia Novi Poespita Candra menilai kondisi ini tak lepas dari sistem pendidikan di Indonesia yang belum menjadikan pendidikan etika sebagai masalah serius.
Pendidikan etika moral memang menjadi keprihatinan banyak pihak, di tengah sistem pendidikan yang lebih menekankan pada prestasi akademik dan nilai.
Karena itu menurut Novi, sistem pendidikan di Indonesia sudah saatnya dievaluasi.
Mengutip jurnal Bhinaka Tunggal Ika, volume 2, nomor 1, Mei 2015 karya Amrina Rosyada, Novi menyebut pendekatan moral reasoning merupakan suatu pendekatan dalam proses pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran melalui diskusi kelompok.
Baca: Konser Coldplay diwarnai penipuan penjualan tiket
Namun, kata Novi, kebiasaan mendiskusikan hal-hal etis belum menjadi fokus utama pendidikan di Indonesia.
Penting untuk mencermati bahwa dampak dari ketidakmampuan berdialog ini dapat terlihat dalam berbagai aspek masyarakat.
“Fenomena ini seharusnya menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan pendidikan berbasis kesadaran diri dan dialog, sebagai langkah krusial dalam mengatasi krisis etika yang tengah melanda,” ujar Novi seperti dikutip Antaranews.
Merujuk pada dari teori social learning dari Albert Bandura dalam buku Belajar dan Pembelajaran karya Moh. Suardi (2018), Novi menyebut manusia mengambil informasi dan memutuskan tingkah laku yang akan diadopsi berdasarkan lingkungan dan tingkah laku orang lain yang ada disekitarnya.
Baca: Orang tua bisa mmeutus rantai bullying dari rumah
Dengan kata lain, orang terdekat, termasuk orang tua, bisa menjadi contoh bagi anak-anak mereka terkait dengan perilaku.
Bila perilaku yang ditampilkan tidak baik, kondisi tersebut dapat turun-menurun dan menjadi tidak baik.
Tetapi, menurut Novi, kebiasaan tidak baik dari orang tua atau lingkungan sekitar bisa diputus rantainya dengan adanya peran dari pemerintah sebagai pembuat peradaban baru melalui pendidikan formal.
Di sekolah, pembelajaran social emotional learning (SEL), seperti yang dilakukan di negara-negara maju, dapat menjadi kunci untuk menciptakan perubahan positif.
Baca: Pola asuh buruk bisa picu budaya bullying
Jika anak-anak mendapatkan cara berpikir baru di sekolah, kebiasaan di rumah mereka dapat terhapus dengan sendirinya.
“Etika tidak hanya sebatas akademis, melainkan dapat ditanamkan melalui pendidikan yang melibatkan diskusi dan dialog,” terang Novi.
Oleh karena itu, pendidikan formal dan peran guru menjadi krusial dalam memberikan pelatihan untuk belajar berdialog, bukan sekadar memberikan materi pembelajaran.
Di negara-negara maju, pendidikan etika sudah menjadi pondasi di tingkat SD, sementara di tingkat SMP dan SMA, etika sudah menjadi bagian dari warga negara.
Baca: Kekerasan marak karena toleransi tak diajarkan sejak dini
Pemerintah, lanjut Novi, perlu mengubah orientasi pendidikan untuk membangun peradaban baru, bukan hanya mengejar ketertinggalan nilai numerasi dan literasi.
Negara seperti Vietnam, kata Novi, bahkan sudah tidak lagi mengukur numerasi dan literasi sebagai prioritas utama.
Semua pihak memiliki peran masing-masing dalam mengatasi krisis etika ini. Memperbanyak ruang interaksi dan dialog menjadi hal yang sangat penting.
Orang tua perlu memiliki keterampilan seperti mendengar dan berkonsekuensi, yang akan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan etika anak-anak.
Baca: Cara cerdas menumbuhkan motivaasi belajar pada anak
Dalam merangkai kebijakan pendidikan, pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk merombak sistem pendidikan yang lebih memperhatikan aspek moral dan etika.
“Dengan demikian, masyarakat Indonesia dapat melangkah menuju arah yang lebih etis, beradab, dan bertanggung jawab, sehingga krisis etika yang tengah melanda dapat diatasi secara komprehensif,” pungkasnya.
Sumber: Antaranews.com