Tag: Yang Tak Pernah Hilang

  • Bikin Film Yang Tak Pernah Hilang, Ini Harapan Dandik Katjasungkana

    Bikin Film Yang Tak Pernah Hilang, Ini Harapan Dandik Katjasungkana

    7cloud.asia – Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) besama #kawanhermanbimo menggelar grand lauching pemutaran film dokumenter  berjudul “Yang Tak Pernah Hilang”.

    Film Yang Tak Pernah Hilang ini merupakan film dokumenter yang menceritakan sosok dua mahasiswa Surabaya, Petrus Bima dan Herman yang hilang saat pecahnya gerakan Reformasi Mei 1998.

    Ketua IKOHI Jawa Timur, Dandik Katjasungkana mengatakan, pembuatan film Yang Tak Pernah Hilang ini merupakan bagian dari upaya untuk mendesak pemeritah agar menyelesaikan kasus ini.

    Menurut Dandik, penyelesaian kasus ini bergantung pada itikad baik pemerintah untuk menyelesaikannya, karena sejak 2009 telah ada empat rekomendasi yang dikeluarkan DPR  sebagai payung hukum dan politik.

    Dandik tidak menampik peluncuran film Yang Tak Pernah Hilang ini akan memunculkan dugaan terkait kontestan pemilu.

    Baca: Tentang film Yang Tak Pernah Hilang

    Namun, kata Dandik, film ini tidak terkait dengan pemilu karena merupakan upaya menghidupkan kembali ingatan tentang kawan yang hilang dan tidak adanya upaya untuk mengungkap keberadaan mereka hingga kini.

    “Film ini tidak ada kaitannya sama sekali soal pemilu atau tidak ada pemilu, karena memang kami niatkan sebagai upaya memoralisasi terhadap kawan kami yang hilang itu, Herman dan Bimo.

    Yang kami maui, film ini sebagai media untuk menyapa khususnya ini para generasi muda, supaya belajar dari persoalan-persoalan masa lalu terutama kasus penculikan aktivis ini.

    Supaya mereka menjadi bagian dari gerakan yang bisa mencegah terjadinya keberulangan kejahatan kemanusiaan di negeri ini,” kata Dandik Katjasungkana.

    Dandik mengaskan, hadirnya film Yang Tak Pernah Hilang ini menjadi upaya untuk mengingatkan kembali generasi muda terhadap kehidupan demokrasi yang dinikmati saat ini lahir dari perjuangan dan pengorbanan banyak pihak, termasuk Herman dan Bimo.

    Baca: Ini kata keluarga orang hilang jika Prabowo benar-benar jadi presiden

    Kejadian penghilangan paksa pada masa lalu harus menjadi pelajaran berharga agar jangan sampai terulang kembali.

    Kalau anak-anak muda tahu, ujarnya, paling tidak mereka punya pemikiran bagaimana mereka harus bertindak.

    Jika tahu anak muda juga paham bagaimana mereka harus mengantisipasi kalau pemerintahan ini akan mengulangi kejadian-kejadian seperti masa lalu itu.

    Sebaliknya jika anak muda yang tidak mengalami sendiri represifnya Orde Baru tidak tahu apa-apa kan, jadi celaka, tidak mengerti apa-apa.

    ”Seperti hari ini misalnya, tiba-tiba kita tahu penjahat HAM itu menang dalam proses pemilu. Itu artinya mereka tidak paham, tidak tahu sejarah, atau tidak peduli track record, track record para elit yang mau menjadi pemimpin negeri ini,” sebutnya.

    Baca: Ibu-ibu korban penculikan 97-98 menangis di depan Istana

    Rektor Untag Surabaya, Prof Mulyanto Nugroho, mengajak semua pihak untuk mengingatkan pemerintah agar menuntaskan kasus ini, demi tegaknya hukum dan hak asasi manusia di Indonesia.

    Dia berharap film Yang Tak Pernah Hilang dapat terus mengingatkan bahwa negara ini miliknya bangsa dan negara, rakyat semuanya tentunya.

    ”Kita di akademisi tentunya mengingatkan, jangan sampai terulang kembali tahun 1998. Ditemukan, harus kasus tentang orang hilang. Kasus tentang HAM itu harus dilakukan penegakan hukum,” komentarnya.

  • Film Yang Tak Pernah Hilang: Kisah Mereka yang Dihilangkan karena Tuntut Perubahan

    Film Yang Tak Pernah Hilang: Kisah Mereka yang Dihilangkan karena Tuntut Perubahan

    7cloud.asia – Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) besama #kawanhermanbimo menggelar grand lauching pemutaran film berjudul “Yang Tak Pernah Hilang”.

    Film “Yang Tak Pernah Hilang” ini merupakan film dokumenter yang menceritakan sosok dua mahasiswa Surabaya yang hilang saat pecahnya gerakan Reformasi Mei 1998.

    Launching film “Yang Tak Pernah Hilang” berlangsung di Auditorium Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya dan disesaki mahasiswa dan mantan aktivis mahasiswa.

    Sebuah lagu dilantunkan oleh dua orang penyanyi sambil memetik gitar. Syair lagunya berkisah tentang hilangnya 13 mahasiswa saat gerakan Reformasi 1998 meletus di Jakarta.

    Penampilan dua seniman ini mengawali acara “nonton bareng” dan peluncuran film berjudul “Yang Tak Pernah Hilang”.

    Baca: Keluarga korban penghilangan paksa masih berharap keadilan bisa ditegakkan

    Hilangnya dua aktivis mahasiswa Surabaya yaitu Petrus Bima Anugrah dan Herman Herdrawan, menjadi fokus cerita film Yang (Tak Pernah) Hilang” yang  berdurasi sekitar dua jam ini.

    Sebanyak 31 orang menuturkan kesaksiannya tentang kisah hidup dan perjalanan pergerakan Petrus dan Bima yang saat hilang tercatat sebagai mahasiswa Universitas Airlangga.

    Keduanya hilang bersama 11 mahasiswa lainnya dari kota-kota lain saat terjadi aksi melengserkan penguasa Orde Baru pada 1997/1998.

    Dionysius Utomo Raharjo, ayah dari Petrus Bima Anugrah, turut hadir dan menyaksikan pemutaran film dokumenter ini.

    Baca: Aksi Kamisan tolak pasangan pelanggar HAM dan pelanggar konstitusi

    Bersama pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan film ini, Utomo menyampaikan ucapan terima kasihnnya karena masih ada yang peduli dan mengingat anaknya yang diculik dan tidak jelas keberadaannya hingga kini.

    Dia mengatakan, upaya mengingat anaknya melalui film ini menjadi kekuatan tersendiri bagi Utomo yang lebih memilih ikhlas dan berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

    “Itu bapak tidak pernah komentar apa-apa, ya sudahlah politik memang seperti itu, bapak menyadari hal kemungkinan sesuatu terjadi, ya sudahlah tidak apa-apa,” jelasnya.

    Ia menambahkan, ”Tidak pernah aku emosi, marah, atau menyalahkan, sama sekali. Ya sudah itu namanya politik, bisa saja terjadi kapan pun dan di mana pun,” 

    Baca: 17 tahun Aksi Kamisan, harapan yang belum terjawab

    Hera Haslinda, kakak dari Herman Hendrawan mengatakan, film tentang memorialisasi adiknya ini menegaskan bahwa Herman tidak pernah hilang dari ingatan dan hati semua orang terdekatnya, meski secara fisik Herman tidak berada di antara mereka.

    Hera meminta kesungguhan pemerintah untuk menuntaskan kasus penghilangan paksa 13 orang mahasiswa era 1997-1998, yang berjuang menegakkan demokrasi dari tirani penguasa Orde Baru.

    “Ke depannya untuk pemerintah, minta tolong diselesaikan, dituntaskan masalah ini supaya terungkap. Kalau memang tahu makam, kuburannya, ya diberi tahu agar kami bisa ke sana, ziarah,” kata Hera Haslinda.

    Kalau memang tidak ketemu, lanjutnya, pemerintah memberikan statement, bahwa pemerintah salah, bahwa penghilangan paksa ini memang berisiko besar. Jadi, kami minta ya pemerintah sadar bahwa ini memang kejadiannya ada

    Sumber: VOA Indonesia