7cloud.asia – Frugal living menjadi salah satu alternatif yang dipilih anak muda dan kelas menengah untuk bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu seperti saat ini.
Tingkat pengangguran di kalangan anak muda juga tinggi, terutama karena banyak keterampilan mereka justru tidak cocok dengan kebutuhan industri saat ini alias skill mismatch.
Anak muda akhirnya memilih banting setir ke gig economy, seperti freelancer atau pekerja lepas di platform digital.
Mungkin ekonomi gig lebih bagi mereka menarik karena fleksibel. Namun, di balik tetapi risikonya adalah tidak ada jaminan sosial dan kepastian pendapatan.
Pemerintah juga belum mengeluarkan regulasi yang jelas seputar ekonomi gig. Akhirnya pekerja di ekosistem ini rawan mengalami eksploitasi oleh penyedia platform.
Gaji tak kunjung naik. Promosi mesti pindah perusahaan. Skripsi belum juga ACC. Diet ketat, berat badan tak turun juga. Lingkungan kerja toksik, bosnya narsistik.
Gaji bulan ini mesti dibagi untuk orang tua dan anak. Mau sustainable living, ongkosnya mahal. Notifikasi kantor berdenting hingga tengah malam. Generasi Zilenials hidup di tengah disrupsi teknologi, persaingan ketat, dan kerusakan lingkungan.
Kelas menengah pun punya tantangan tersendiri. Mereka tidak cukup aman dari guncangan ekonomi, tetapi tidak mendapatkan bantuan sosial seperti masyarakat miskin.
Baca: Protes kebijakan pemerintah dengan jalani frugal living struktural
Pertanyaannya adalah: apakah frugal living memang solusi jitu di tengah kondisi saat ini? Apakah frugal living bisa membuat kita bahagia?
Prinsip frugal living bukan hanya soal mengurangi pengeluaran, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang dan sumber daya di sekitar kita.
Riset membuktikan bahwa orang-orang yang mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi. Dengan membatasi konsumsi yang tidak perlu, kita tidak hanya mengurangi tekanan finansial tetapi juga meningkatkan perasaan kendali atas kehidupan.
Dari perspektif behavioral science, kebahagiaan sering berhubungan dengan pengalaman dibandingkan kepemilikan barang.
Pengalaman cenderung memberikan kepuasan jangka panjang karena lebih melekat dalam ingatan dan membangun keterhubungan sosial yang lebih kuat dibandingkan kepemilikan benda materi.
Misalnya, membeli tiket konser Taylor Swift yang harganya mahal dan menontonnya bersama teman-teman mungkin bisa lebih berarti bagi kebahagiaan kita, ketimbang mengeluarkan duit yang hampir sama untuk gadget terbaru.
Mereka yang menjalani gaya hidup minimalis juga cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah karena tidak tertekan untuk terus membeli barang. Saat memiliki lebih sedikit barang, kita juga tidak akan terlalu cemas seputar pemeliharaannya.
Baca: Ketidakpastian mendorong orang jalani frugal living
Frugal living= Membatasi angan-angan?
Menjalani frugal living juga berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam mengelola ekspektasi. Orang dengan ekspektasi realistis terhadap hidup cenderung lebih bahagia daripada mereka yang menetapkan standar tinggi yang sulit dicapai.
Dalam Prospect Theory, ekspektasi merupakan titik perhitungan kebahagian. Ekspektasi disebut juga titik referensi yang dijadikan alat pembanding mental psikologis manusia.
Jika ekspektasi tinggi (titik referensi tinggi) maka sulit untuk mencapai kepuasaan (kebahagiaan) dan sebaliknya jika ekspektasi rendah (titik referensi rendah), lebih mudah untuk mencapai kepuasan.
Dengan menurunkan ekspektasi terhadap standar kesuksesan tradisional, kita bisa lebih puas dan tidak terjebak dalam kekecewaan akibat ekspektasi yang tidak realistis. Kita juga bisa lebih memprioritaskan kemandirian dan fleksibilitas dibandingkan sekadar menumpuk cuan.
Gaya hidup ini memungkinkan kita untuk mengejar kebahagiaan dari hal-hal yang lebih bermakna, seperti hubungan sosial yang lebih kuat, waktu luang yang lebih banyak, atau bahkan kebebasan finansial yang lebih cepat tercapai.
Bagian dari budaya ramah lingkungan
Fenomena frugal living merupakan bagian dari benturan nilai antara konsumerisme dan minimalisme yang semakin kentara di berbagai aspek kehidupan.
Benturan serupa pernah terjadi di Jepang dan Amerika Serikat. Misalnya, banyak desain rumah yang lebih minimalis dan lebih fungsional, menggantikan konsep rumah besar sebagai simbol kesuksesan.
Baca: Lima prinsip utama jalani frugal living
Contoh lainnya, semakin banyak individu dan keluarga di beberapa negara Eropa yang memilih untuk tinggal di rumah mungil yang lebih efisien, mudah dirawat, dan lebih ramah lingkungan dibandingkan rumah konvensional yang besar.
Konsep ekonomi berbagi (sharing economy) juga meramaikan benturan ini: saat kepemilikan barang dianggap tidak lagi esensial. Banyak orang mulai menggunakan layanan berbasis sewa untuk kendaraan, pakaian, bahkan peralatan rumah tangga.
Benturan ini bukan hanya menjadi solusi ekonomis, tetapi juga mempercepat pergeseran ke arah gaya hidup yang lebih minimalis dan berkelanjutan.
Kesadaran akan pelestarian lingkungan pun membentuk cara berpikir baru tentang konsumsi. Semakin banyak anak muda yang menyadari bahwa konsumsi berlebihan tidak hanya menguras dompet, tetapi juga berkontribusi pada perusakan lingkungan.
Dengan semakin maraknya gerakan kesadaran pelestarian lingkungan, benturan antara konsumerisme dan minimalisme akan terus berlangsung. Perlahan tapi pasti, tren ini turut membentuk bagaimana dunia memandang kemakmuran dan kesejahteraan di masa depan.
Tren frugal living merupakan salah satu hasilnya.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII). Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penyuntingan artikel ini.




