Tag: zilenial

  • Frugal Living Jadi Cara Zilenial Bertahan: Apakah Angan-angan Mereka Jadi Terbatasi?

    Frugal Living Jadi Cara Zilenial Bertahan: Apakah Angan-angan Mereka Jadi Terbatasi?

     

    7cloud.asia – Frugal living menjadi salah satu alternatif yang dipilih anak muda dan kelas menengah untuk bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu seperti saat ini.

    Tingkat pengangguran di kalangan anak muda juga tinggi, terutama karena banyak keterampilan mereka justru tidak cocok dengan kebutuhan industri saat ini alias skill mismatch.

    Anak muda akhirnya memilih banting setir ke gig economy, seperti freelancer atau pekerja lepas di platform digital.

    Mungkin ekonomi gig lebih bagi mereka menarik karena fleksibel. Namun, di balik tetapi risikonya adalah tidak ada jaminan sosial dan kepastian pendapatan.

    Pemerintah juga belum mengeluarkan regulasi yang jelas seputar ekonomi gig. Akhirnya pekerja di ekosistem ini rawan mengalami eksploitasi oleh penyedia platform.

    Gaji tak kunjung naik. Promosi mesti pindah perusahaan. Skripsi belum juga ACC. Diet ketat, berat badan tak turun juga. Lingkungan kerja toksik, bosnya narsistik.

    Gaji bulan ini mesti dibagi untuk orang tua dan anak. Mau sustainable living, ongkosnya mahal. Notifikasi kantor berdenting hingga tengah malam. Generasi Zilenials hidup di tengah disrupsi teknologi, persaingan ketat, dan kerusakan lingkungan.

    Kelas menengah pun punya tantangan tersendiri. Mereka tidak cukup aman dari guncangan ekonomi, tetapi tidak mendapatkan bantuan sosial seperti masyarakat miskin.

    Baca: Protes kebijakan pemerintah dengan jalani frugal living struktural

    Pertanyaannya adalah: apakah frugal living memang solusi jitu di tengah kondisi saat ini? Apakah frugal living bisa membuat kita bahagia?

    Prinsip frugal living bukan hanya soal mengurangi pengeluaran, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang dan sumber daya di sekitar kita.

    Riset membuktikan bahwa orang-orang yang mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi. Dengan membatasi konsumsi yang tidak perlu, kita tidak hanya mengurangi tekanan finansial tetapi juga meningkatkan perasaan kendali atas kehidupan.

    Dari perspektif behavioral science, kebahagiaan sering berhubungan dengan pengalaman dibandingkan kepemilikan barang.

    Pengalaman cenderung memberikan kepuasan jangka panjang karena lebih melekat dalam ingatan dan membangun keterhubungan sosial yang lebih kuat dibandingkan kepemilikan benda materi.

    Misalnya, membeli tiket konser Taylor Swift yang harganya mahal dan menontonnya bersama teman-teman mungkin bisa lebih berarti bagi kebahagiaan kita, ketimbang mengeluarkan duit yang hampir sama untuk gadget terbaru.

    Mereka yang menjalani gaya hidup minimalis juga cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah karena tidak tertekan untuk terus membeli barang. Saat memiliki lebih sedikit barang, kita juga tidak akan terlalu cemas seputar pemeliharaannya.

    Baca: Ketidakpastian mendorong orang jalani frugal living

    Frugal living= Membatasi angan-angan?
    Menjalani frugal living juga berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam mengelola ekspektasi. Orang dengan ekspektasi realistis terhadap hidup cenderung lebih bahagia daripada mereka yang menetapkan standar tinggi yang sulit dicapai.

    Dalam Prospect Theory, ekspektasi merupakan titik perhitungan kebahagian. Ekspektasi disebut juga titik referensi yang dijadikan alat pembanding mental psikologis manusia.

    Jika ekspektasi tinggi (titik referensi tinggi) maka sulit untuk mencapai kepuasaan (kebahagiaan) dan sebaliknya jika ekspektasi rendah (titik referensi rendah), lebih mudah untuk mencapai kepuasan.

    Dengan menurunkan ekspektasi terhadap standar kesuksesan tradisional, kita bisa lebih puas dan tidak terjebak dalam kekecewaan akibat ekspektasi yang tidak realistis. Kita juga bisa lebih memprioritaskan kemandirian dan fleksibilitas dibandingkan sekadar menumpuk cuan.

    Gaya hidup ini memungkinkan kita untuk mengejar kebahagiaan dari hal-hal yang lebih bermakna, seperti hubungan sosial yang lebih kuat, waktu luang yang lebih banyak, atau bahkan kebebasan finansial yang lebih cepat tercapai.

    Bagian dari budaya ramah lingkungan
    Fenomena frugal living merupakan bagian dari benturan nilai antara konsumerisme dan minimalisme yang semakin kentara di berbagai aspek kehidupan.

    Benturan serupa pernah terjadi di Jepang dan Amerika Serikat. Misalnya, banyak desain rumah yang lebih minimalis dan lebih fungsional, menggantikan konsep rumah besar sebagai simbol kesuksesan.

    Baca: Lima prinsip utama jalani frugal living

    Contoh lainnya, semakin banyak individu dan keluarga di beberapa negara Eropa yang memilih untuk tinggal di rumah mungil yang lebih efisien, mudah dirawat, dan lebih ramah lingkungan dibandingkan rumah konvensional yang besar.

    Konsep ekonomi berbagi (sharing economy) juga meramaikan benturan ini: saat kepemilikan barang dianggap tidak lagi esensial. Banyak orang mulai menggunakan layanan berbasis sewa untuk kendaraan, pakaian, bahkan peralatan rumah tangga.

    Benturan ini bukan hanya menjadi solusi ekonomis, tetapi juga mempercepat pergeseran ke arah gaya hidup yang lebih minimalis dan berkelanjutan.

    Kesadaran akan pelestarian lingkungan pun membentuk cara berpikir baru tentang konsumsi. Semakin banyak anak muda yang menyadari bahwa konsumsi berlebihan tidak hanya menguras dompet, tetapi juga berkontribusi pada perusakan lingkungan.

    Dengan semakin maraknya gerakan kesadaran pelestarian lingkungan, benturan antara konsumerisme dan minimalisme akan terus berlangsung. Perlahan tapi pasti, tren ini turut membentuk bagaimana dunia memandang kemakmuran dan kesejahteraan di masa depan.

    Tren frugal living merupakan salah satu hasilnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia/UIII). Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penyuntingan artikel ini.

     

  • Ini Sebabnya Mengapa Kelompok Zilenial Lebih Konsumtif Ketimbang Generasi Sebelumnya

    Ini Sebabnya Mengapa Kelompok Zilenial Lebih Konsumtif Ketimbang Generasi Sebelumnya

    7cloud.asia – Generasi Z dan milenial –atau yang kerap disebut Zilenial– dianggap lebih boros dibandingkan generasi sebelumnya seperti generasi X dan baby boomers.

    Meski tak bisa digeneralisasi secara umum, anggapan soal Zilenial ini ternyata banyak benarnya. Bahkan, gaya hidup konsumtif di kalangan Zilenial ini bukan hanya ditemukan di kota-kota besar.

    Riset yang dilakukan oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura pada 2025 menemukan bahwa fenomena ini sudah menyebar hingga ke daerah seperti Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

    Menariknya, perilaku konsumtif Zilenial ini sering kali bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan pengaruh dorongan sosial—khususnya media sosial.

    “Karakteristik pengambilan keputusan pembelian dari para Zilenial lebih cepat dan impulsif terpengaruh pesatnya digitalisasi seperti platform media sosial,” kata Psikolog dan Konsultan Laboratorium Psikologi Terapan Universitas Ahmad Dahlan Daerah Istimewa Yogyakarta, M. Nur Syuhada, kepada The Conversation Indonesia.

    Nafsu belanja dipicu tren, FOMO, dan promo
    Lahir di era kemajuan teknologi dan digitalisasi, Zilenial tumbuh dengan akses terhadap informasi dan ilmu pengetahuan yang luas.

    Hal ini tak hanya membuat mereka piawai teknologi, tapi juga memiliki kualitas kecerdasan dan kemampuan berpikir logis lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.

    Pikiran mereka juga lebih terbuka akan banyak hal termasuk berani memiliki jiwa wirausaha yang tinggi.

    Baca: Frugal living di kalangan Zilenial

    Namun di lain sisi, perkembangan teknologi yang pesat juga mendorong Zilenial menjadi konsumtif.

    Salah satu pemicunya adalah kehadiran media sosial dan influencer—sebutan bagi individu populer di media sosial dengan basis pengikut besar yang bisa memengaruhi persepsi bahkan keputusan membeli pengikutnya.

    Teknologi membuat semua orang bisa punya akun media sosial. Dan dengan interaksi dua arah, influencer dengan mudah memicu tren baru yang membuat orang merasa tertinggal jika tidak ikutan—alias FOMO fear of missing out.

    Pada saat yang bersamaan, kemajuan platform belanja daring e-commerce juga kian memanjakan pengguna untuk berbelanja—tinggal klik, bayar secara digital, barang meluncur ke rumah.

    Apalagi, algoritma canggih e-commerce kini bisa membaca minat pengguna sehingga terus menampilkan berbagai produk yang diminati dengan promo menggiurkan.

    Alhasil, tak heran jika pasar e-commerce di Indonesia diprediksi akan naik dari 65 miliar dolar atau sekitar Rp1.094,32 triliun pada 2024 menjadi Rp1.291,3 triliun pada 2029 nanti.

    Dan yang belanja? Mayoritas atau tepatnya 70 persen di antaranya berasal dari kawula muda Zilenial. Bahkan, data Statista mengungkap, 70 persen dari mereka melakukan transaksi di e-commerce setelah melihat rekomendasi influencer atau iklan di media sosial.

    Bukan enggak mau beli aset, tapi…
    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pola belanja masyarakat Indonesia bergeser dalam 10 tahun terakhir. Sekarang, orang lebih banyak menghabiskan yang untuk bersenang-senang.

    Baca: Tren ‘Thrifting’ di kalangan Zilenial

    Pengeluaran untuk kebutuhan hiburan meningkat dari 0,22 persen pada 2014 menjadi 0,38 persen pada 2024.

    Belanja untuk pakaian juga naik. Sebaliknya, pengeluaran untuk makanan, minuman, dan kebutuhan tempat tinggal justru turun. Bahkan, pengeluaran di sektor pendidikan dan kesehatan di kalangan kelas menengah juga turun.

    “Hal ini menandakan adanya perbedaan prioritas. Generasi sebelumnya lebih fokus pada kepemilikan barang fisik, seperti rumah atau mobil. Sementara Zilenial lebih mengutamakan pengalaman seperti travelling, nonton konser, atau belanja barang-barang yang sedang viral,” kata Nur Syuhada.

    Zilenial sebenarnya bukannya tidak mau memiliki aset fisik. Tapi, harga barang-barang fisik berharga seperti rumah sudah melonjak tinggi dengan kenaikan rata-rata 10% per tahun.

    Mobil murah macam low cost green car (LCGC) yang 2013 lalu harganya cuma Rp76,5 juta, kini sudah melambung menjadi Rp100 juta per unit.

    Sedangkan kenaikan gaji Zilenial tidak secepat dan tidak sebanding dengan kenaikan harga properti itu.

    Jadi, meskipun angka rata-rata gaji karyawan di Indonesia meningkat dari Rp1,9 juta pada 2015 menjadi Rp3,04 juta per bulan di 2024, jumlah tersebut tidak bisa mengejar laju kenaikan properti yang harganya mulai dari ratusan juta hingga miliaran rupiah.

    Baca: Kredit macet pinjol banyak disumbang Zilenial

    Fintek: jalan pintas memenuhi hasrat belanja Zilenial saat bokek
    Inovasi digital juga telah melahirkan Fintek alias layanan keuangan digital. Kehadiran Fintek ini ibarat angin surga untuk memenuhi sifat konsumerisme Zilenial. Sebab, proses pengajuannya jauh lebih gampang dibanding bank konvensional.

    Selain itu, strategi pemasarannya juga luwes dilakukan secara digital dan multichannel, menyentuh berbagai aplikasi sampai gim yang banyak digandrungi anak muda.

    “Akibatnya, paparan iklan pinjol dalam mobile games terbukti memicu ketergantungan dan dapat menimbulkan masalah keuangan jangka panjang bagi konsumen seperti perilaku ‘gali lubang, tutup lubang’ untuk melunasi utang lama,” kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Imam Salehudin.

    Masifnya pemasaran yang dilakukan pinjol cukup sukses menyasar Zilenial yang butuh dana cepat.

    Data Otoritas Jasa Keuangan menyebut bahwa Zilenial (19-34 tahun) merupakan kategori umur peminjam terbesar layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi (LPBBTI)/peer-to-peer lending/ atau pinjaman online (pinjol)

    Data OJK mencatat, total outstanding pinjaman hingga Rp39,2 triliun dari total seluruh kategori umur di angka Rp72,4 triliun per Desember 2024.

    Data juga menunjukkan bahwa tren belanja para Zilenial lebih mengarah untuk kebutuhan konsumtif ketimbang produktif dengan porsi 70 persen banding 30 persen.

    Karena itu, perlu upaya ekstra dari seluruh pihak untuk meningkatkan literasi dan inklusi media sosial dan keuangan.

    “Sebab, selain membuat depresi, FOMO juga bisa menyeret kamu ke dalam lubang kemiskinan,” kata Peneliti Bidang Kependudukan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Sonyaruri Satiti.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Andi Ibnu Masri Rusli (Economy Editor, The Conversation Indonesia)

  • DIlema Zilenial: Gaji Minimal Tapi Gaya Hidup Maksimal

    DIlema Zilenial: Gaji Minimal Tapi Gaya Hidup Maksimal

    7cloud.asia – Pada Kamis, 17 April 2025, The Conversation Indonesia (TCID) kembali menggelar diskusi dengan tema “Born to be Cutesy, Forced to be Money-Hungry: Dilema Finansial Gen Zilenial”.

    Acara ini sekaligus menjadi ajang peluncuran dan penguatan kampanye #LikaLikuZilenial yang membahas berbagai tantangan hidup yang dihadapi generasi milenial dan Gen Z atau yang dikenal dengan istilah Zilenial.

    Diskusi ini dimoderatori oleh Nurul Fitri Ramadhani, Editor Politik & Masyarakat TCID, dan menghadirkan dua narasumber utama.

    Realita Zilenial: Rata-rata gaji empat juta di Ibu Kota
    Salah satu ciri khas dari Zilenial adalah pilihan mereka dalam memasuki dunia kerja.

    Berbeda dengan generasi sebelumnya, seperti Generasi X dan baby boomers, yang cenderung mendambakan pekerjaan di sektor formal seperti PNS untuk jaminan hidup yang stabil, banyak Gen Zilenial justru lebih memilih bekerja di sektor informal, khususnya di bidang ekonomi kreatif.

    Pilihan ini tentu berdampak pada penghasilan mereka. Gaji rata-rata Zilenial yang bekerja di sektor informal berkisar antara Rp4–6 juta per bulan. Apakah jumlah tersebut cukup atau tidak, sebenarnya sangat bergantung pada gaya hidup masing-masing individu.

    Baca: Mengapa Zilenial lebih konsumtif

    Namun, di era media sosial seperti sekarang, gaya hidup Zilenial kerap dibentuk oleh dorongan untuk tampil mengikuti tren.

    Keinginan untuk memiliki barang-barang terbaru dan menjaga eksistensi di dunia digital membuat Zilenial rentan terjebak dalam utang konsumtif.

    Dosen dan peneliti di bidang ekonomi publik, Septian Bayu Kristanto mengatakan, problem yang ditemukan di lapangan adalah gajinya Gen Z itu rata-rata masih sekitar Rp4-6 juta.

    Pendapatan ini tidak akan menutupi biaya hidup di Jakarta, yang berada di kisaran Rp6-8 juta. Oleh karena itu, banyak Zilenial yang kebeban yang namanya utang konsumtif.

    “Yang paling banyak sih cicilan untuk gadget, kemudian untuk fashion, atau untuk paylater, karena kan mereka kebutuhan eksistensinya lebih tinggi dibandingkan kebutuhan primernya,“ ujarnya.

    Gaya hidup performatif akibat kehadiran media sosial
    Media sosial bukan sekadar tempat bersenang-senang, tapi juga panggung validasi dan pencitraan untuk Zilenial.

    Baca: Zilenial juga jalani frugal living

    Berbeda dengan generasi sebelumnya yang hidup tanpa paparan digital, generasi ini tumbuh di tengah arus informasi dan standar kehidupan yang terus menerus ditampilkan secara visual.

    Setiap hari, Zilenial disuguhi narasi kesuksesan: memiliki rumah di usia muda, karier yang cemerlang sebelum usia 30, dan pasangan yang “ideal”.

    Ketika realita hidup mereka tidak sejalan dengan standar tersebut, perasaan gagal pun kerap muncul, dan membuat mereka tak bisa menikmati pencapaian pribadi mereka yang sebetulnya sangat berarti.

    Tekanan sosial ini menciptakan beban mental yang tidak sedikit. Banyak dari mereka merasa lelah secara emosional karena merasa harus membuktikan diri di dunia nyata maupun dunia digital.

    Fasilitator wellness yang juga dikenal sebagai Sandwich Gen & Clarity Coach, Rahne Putri menambahkan, orang tua Zilenial berhasil di kantor pas jadi PNS nggak ada tuh harus menunjukkan diri, nggak ada panggungnya.

    Namun, saat ini tersedia sangat banyak panggung untuk Zilenial. Jadi banyak Gen Z yang tidak sadar mengejar validasi sehingga mengorbankan koneksi sama diri sendiri.

    “Seperti mengejar validasi tapi juga haus maknanya karena semuanya juga melakukan hal yang sama,“ ujarnya.

    Baca: OJK ingatkan zilenial pentingnya perencanaan keuangan

     

  • Prospek Green Jobs di Mata Zilenial di Indonesia

    Prospek Green Jobs di Mata Zilenial di Indonesia

    7cloud.asia – Di tengah krisis iklim dan jurang kesenjangan sosial yang makin lebar, muncul gelombang baru dalam cara Gen Z dan milenial atau biasa disebut Zilenial dalam memaknai karier.

    Zilenial tidak lagi menjadikan gaji dan jabatan sebagai satu-satunya tujuan hidup. Mereka juga memilih pekerjaan berdasarkan kejelasan nilai dan dampak sosial-lingkungannya.

    Survei global yang dilakukan oleh perusahaan Big 4 Deloitte pada 2024 menunjukkan bahwa 86 persen Gen Z dan 89 persen milenial menganggap pentingnya memiliki sense of purpose dalam pekerjaan.

    Bahkan, 50 persen Gen Z dan 43 persen milenial mengaku pernah menolak proyek atau pekerjaan karena tidak sejalan dengan nilai etika pribadi mereka, termasuk yang berkaitan dengan isu lingkungan dan nilai-nilai inklusi.

    Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam etika karier: bekerja tidak lagi semata-mata mencari nafkah, tetapi juga bentuk aktualisasi nilai spiritualitas di tempat kerja.

    Aktualisasi nilai kini hadir tak hanya berbentuk ritual, tetapi melalui sikap profesionalisme yang berdampak positif pada masyarakat dan lingkungan.

    Baca: Ketrampilan yang dibutuhkan green jobs di pembangkit energi terbarukan

    Dalam kondisi ini, green jobs menjadi Jalan tengah antara etika, inovasi, dan upaya Zilenial dalam merintis karier dan masa depannya.

    Istilah green jobs merujuk pada pekerjaan yang berkontribusi pada pelestarian atau pemulihan lingkungan, seperti sektor energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, pengelolaan limbah, desain ramah lingkungan, hingga teknologi bersih.

    Sayangnya, di Indonesia, green jobs masih dimaknai sempit dan kerap disalahartikan sebagai bentuk aktivisme semata.

    Riset Coaction Indonesia menunjukkan, hanya 2 dari 5 kaum muda yang mengaku paham tentang green jobs, itu pun dalam pengertian yang dangkal.

    Hal ini tergambar dari variasi definisi yang mereka sampaikan, yang umumnya hanya mengaitkan green jobs dengan istilah seperti “pekerjaan hijau” atau “ramah lingkungan”, tanpa pengetahuan konkret mengenai sektor, dampak, atau keterampilan yang relevan.

    Meski begitu, setelah mendapatkan penjelasan, 76 persen responden mengaku sangat tertarik bekerja di bidang ini, khususnya karena green jobs menjawab tantangan yang menyatukan inovasi, teknologi, dan keberlanjutan.

    Baca: Upaya pemerintah ciptakan green jobs

    Di dalam negeri, peluang green jobs terus berkembang seiring dengan tuntutan beralih ke energi bersih. Teknisi dan insinyur panel surya kini sangat dibutuhkan untuk membangun sistem energi bersih mulai dari tingkat desa hingga kawasan industri.

    Di sektor teknologi juga muncul profesi baru seperti analis emisi karbon dan pengembang aplikasi berbasis lingkungan.

    Data Coaction Indonesia menyebutkan bahwa investasi di energi terbarukan bisa menciptakan 70 persen lebih banyak lapangan kerja dibandingkan dengan sektor energi fosil. Besar sekali bukan?

    Tak hanya lapangan kerja formal, green jobs juga bisa mencakup berbagai wirausaha ramah lingkungan. Contohnya adalah usaha bank sampah, yang sudah menjadi model kewirausahaan sosial di berbagai daerah.

    Di sektor pangan, pertanian organik dan urban farming muncul sebagai bentuk usaha yang makin relevan. Contohnya adalah perusahaan Javara Indonesia, yang memberdayakan petani lokal untuk memproduksi bahan pangan organik tanpa bahan kimia berbahaya.

    Produk-produk ini kemudian dipasarkan secara luas sampai ke mancanegara, membuktikan bahwa ramah lingkungan bisa sekaligus menguntungkan secara ekonomi.

    Baca: Kenali tiga indikator green jobs

    Di industri kreatif, bisnis fesyen ramah lingkungan seperti Sejauh Mata Memandang membuktikan bahwa kesadaran terhadap limbah tekstil bisa melahirkan peluang usaha baru dengan penerimaan publik yang tinggi.

    Dengan menggunakan bahan daur ulang dan pewarna alami, usaha ini menunjukkan bahwa nilai estetika dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan serta menghasilkan cuan tentunya.

    Sementara itu, di sektor pariwisata, desa wisata berbasis ekowisata seperti Nglanggeran Yogyakarta menjadi contoh sukses green job berbasis komunitas.

    Melalui pelestarian alam, budaya lokal, dan pelibatan warga, desa ini mampu menarik wisatawan tanpa merusak lingkungan sekitarnya.

    Meski peminat tinggi dan peluang terbuka lebar, jalan menuju green jobs belum semudah yang diucapkan.

    Riset Coaction Indonesia mengungkap sejumlah hambatan struktural, seperti kurangnya informasi, keterbatasan keterampilan, dan ketimpangan akses membuat banyak kaum muda ragu melangkah ke bidang ini.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis:
    Imam Salehudin (Associate professor, Universitas Indonesia), Aswin Dewanto Hadisumarto (Dosen Manajemen Kewirausahaan , Universitas Indonesia), Dony Abdul Chalid (Associate professor, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia)

  • Meredam Perilaku Konsumtif Anak Sejak Dini: Tip untuk Orangtua Muda

    Meredam Perilaku Konsumtif Anak Sejak Dini: Tip untuk Orangtua Muda

    7cloud.asia – Bagi para Zilenial, kelompok usia yang berada di perbatasan milenial dan Gen Z, tren berbelanja 10-15 tahun lalu tidak semudah sekarang. Misalnya, kita harus pergi ke mall untuk membeli baju lebaran, atau pun pergi ke restoran untuk makan enak.

    Kita juga harus memiliki uang di dompet, atau setidaknya memiliki kartu ATM. Kebanyakan pembelian barang harus cash alias tunai. Sedikit sekali dari kita yang mempunyai kartu kredit.

    Situasi jauh berbeda dan makin mudah saat ini ketika para Zilenial dewasa—sebagian di antaranya mungkin sudah memiliki anak. Akses terhadap produk dan layanan finansial lebih mudah dan cepat. Belanja melalui kanal e-commerce misalnya, cukup dari ponsel saja, lalu barang sudah bisa diantar ke rumah kita.

    Namun, kemudahan ini menyimpan paradoks. Di sisi lain, ia membuka celah kecenderungan pola konsumsi impulsif dan perilaku keuangan yang merugikan seperti judi online.

    Di sini, peran orang tua menjadi penting untuk menangkal konsekuensi negatif dari perkembangan teknologi, dengan menggunakan teknologi itu sendiri

    Melawan efek negatif teknologi
    Hampir separuh penduduk Indonesia masih belum piawai merencanakan, mengelola, dan mengevaluasi keuangan pribadi maupun keluarga mereka.

    Padahal, di tengah masifnya digitalisasi, kemampuan ini menjadi semakin penting. Bukan cuma untuk kita, tetapi untuk anak-anak yang sudah terbiasa dengan smartphone.

    Peran keluarga dengan literasi keuangan memadai sangat krusial di tengah tren belanja masyarakat yang tidak sehat.

    Baca: Tidak Membeli Barang berarti turut menjaga lingkungan

    Teknologi bisa menjadi senjata untuk menanggulangi dampak buruk teknologi. Orang tua—tanpa perlu bersekolah tinggi—bisa memberikan edukasi keuangan kepada anak, misalnya melalui aplikasi pencatatan keuangan, perencana anggaran, kalkulator investasi, hingga dompet digital syariah yang berseliweran di internet.

    Selain itu, platform digital juga membuka akses luas terhadap informasi dan edukasi finansial. Pilihan edukasi bisa diakses melalui kanal YouTube, podcast keuangan, hingga kelas daring bersertifikat yang diselenggarakan oleh institusi terpercaya seperti Ototitas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), atau lembaga perguruan tinggi.

    Pekerjaan rumah orang tua adalah melakukan verifikasi mandiri terhadap akun pilihan anak. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih kritis terhadap teknologi: memilah informasi, mengevaluasi tawaran finansial daring, dan menjaga privasi data pribadi.

    Sebab, di tengah banyaknya aplikasi dan layanan digital, tidak sedikit pula yang menyasar pengguna rentan dengan skema pinjaman ilegal, phishing, dan penipuan investasi.

    Menjadi keluarga cerdas finansial di era digital bukan berarti menolak perkembangan zaman. Sebaliknya, itu adalah tentang bagaimana memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa kehilangan kendali dengan mengedepankan kesadaran, bukan keinginan.

    Dan orang tualah yang bisa menjadikan rumah sebagai pusat pendidikan finansial agar generasi penerusnya bisa lebih tangguh secara ekonomi dan bijak secara digital.

    Keahlian mengatur uang berasal dari rumah
    Dalam konteks keluarga, literasi keuangan menjadi benteng pertama dalam menghadapi tekanan gaya hidup digital.

    Perencanaan keuangan yang matang—mulai dari penyusunan anggaran bulanan, pencatatan pengeluaran, hingga pembagian alokasi antara kebutuhan, tabungan, dan hiburan akan menghindari dari sikap boros.

    Diskusi keuangan keluarga yang terbuka bahkan terbukti dapat memperkuat relasi emosional dan mengurangi stres. Perilaku keuangan orang tua inilah yang akan diturunkan kepada anak-anaknya.

    Baca: Menguak kebohongan di balik konsumerisme

    Dalam urusan keuangan, orangtua tetap menjadi panutan anak-anaknya. Jika orangtua mencontohkan hidup hemat, berdiskusi terbuka tentang keuangan, dan merencanakan masa depan, anak-anak akan cenderung mengadopsi perilaku serupa.

    Benteng pertahanan perilaku keuangan negatif juga akan makin kuat jika dikombinasikan dengan nilai luhur agama.

    Nilai-nilai kultural dan spiritual seperti prinsip syariah mengajarkan untuk hidup secukupnya, menghindari riba dan utang konsumtif, serta semangat saling berbagi kepada sesama. Saya meyakini agama lainpun melarang umatnya untuk berfoya-foya.

    Penelitian dari University of Cambridge mengungkapkan bahwa kebiasaan keuangan anak mulai terbentuk sejak usia tujuh tahun. Ini mengindikasikan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk literasi keuangan generasi masa depan.

    Sayangnya, pendekatan ini masih kurang mendapat perhatian dalam praktik pendidikan di rumah tangga Indonesia. Mau tidak mau, orangtua harus memiliki kesadaran dini untuk menjaga perilaku keuangannya.

    Karena itu, selain memfokuskan pada pendidikan formal anak semata, keluarga perlu mulai membiasakan anak dengan pemahaman nilai uang, menabung, dan membuat prioritas pengeluaran.

    Praktik sederhana seperti memberi uang jajan harian dan mendorong anak mencatat pengeluaran bisa menjadi langkah awal dalam membentuk karakter finansial yang sehat.

    Baca: Dampak konsumerisme terhadap lingkungan

    Godaan akan kian besar seiring waktu
    Berbagai studi menunjukkan bahwa paparan iklan yang dipersonalisasi di media sosial dapat mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan.

    Dalam psikologi perilaku konsumen, ini dikenal sebagai perceived need—keinginan yang dipersepsi sebagai kebutuhan karena intensitas paparan dan pengemasan pesan yang manipulatif.

    Fenomena flash sale, notifikasi diskon, dan metode belanja paylater, rentan mengerek anak pada konsumsi instan. Menurut survei Populix tahun 2022, sebanyak 86 persen konsumen digital di Indonesia pernah melakukan pembelian impulsif, dengan promosi dan diskon menjadi pemicu utama perilaku tersebut.

    Tidak jarang, keputusan tersebut menimbulkan penyesalan dan beban finansial di kemudian hari.

    Ditambah lagi, godaan dari pinjaman online yang mengintai mulai memanfaatkan fasilitas pinjaman online dan kredit tanpa agunan yang menyasar masyarakat minim literasi tanpa pemahaman yang memadai tentang bunga, denda, dan konsekuensi hukum.

    Akumulasi utang ini bisa berujung pada ketidakstabilan ekonomi rumah tangga, bahkan konflik dalam keluarga.

    Jika berkaca pada kondisi 20 tahun lalu, apa yang kita rasakan sekarang mungkin tak terbayangkan bagi mayoritas orang. Satu hal yang pasti: teknologi pasti akan terus berkembang dan memengaruhi hidup manusia, termasuk anak-anak kita.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Rusydi Umar ST., M.T., Ph.D sebagai dosen, Universitas Ahmad Dahlan