{"id":10121,"date":"2026-07-30T01:22:34","date_gmt":"2026-07-30T01:22:34","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10121"},"modified":"2026-07-30T01:22:34","modified_gmt":"2026-07-30T01:22:34","slug":"ngaji-ramadan-menahan-diri-berbelanja-saat-puasa-ramadan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10121","title":{"rendered":"Ngaji Ramadan: Menahan Diri Berbelanja Saat Puasa Ramadan"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Puasa Ramadan saat ini bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang perilaku konsumsi yang meningkat pesat.<\/p>\n<p>Paradoks&nbsp;puasa&nbsp;Ramadan&nbsp;ini bisa dijelaskan melalui konsep ritual economy (ekonomi ritual), yaitu bagaimana praktik keagamaan dan budaya memengaruhi aktivitas ekonomi dalam suatu masyarakat.<\/p>\n<p>Puasa Ramadan menciptakan pola konsumsi yang khas: masyarakat secara kolektif meningkatkan pengeluaran untuk makanan, pakaian, serta kegiatan sosial lainnya.<\/p>\n<p>Tren melonjaknya konsumsi selama puasa&nbsp;Ramadan ternyata&nbsp;bukan hanya terjadi di Indonesia&nbsp;yang&nbsp;dikenal&nbsp;sebagai&nbsp;negara&nbsp;dengan&nbsp;penduduk&nbsp;muslim&nbsp;terbesar.<\/p>\n<p>Studi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 2021 menunjukkan bahwa di banyak negara Muslim, limbah makanan selama Ramadan&ndash;yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan&ndash;justru meningkat hingga 30&nbsp;persen.<\/p>\n<p>Di berbagai kisah dan penelitian psikologi, kemampuan mengelola pikiran dan menahan impuls terbukti menjadi faktor penting dalam pengendalian diri dan kesuksesan jangka panjang.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/245708694\/ngaji-ramadan-sekadar-menahan-lapar-atau-transformasi-diri\">Baca: Puasa Ramadan sekadar menahan lapar atau transformasi diri<\/a><\/p>\n<p>Berikut adalah strategi yang dapat kita terapkan untuk mencegah pembelian impulsif, sebagaimana dipaparkan Lury Sofyan (Behavioral Economist, Universitas Islam Internasional Indonesia\/UIII) dalam tulisannya di The Conversation.<\/p>\n<p><strong>1. Delay of gratification dan precommitment.<\/strong> <br \/>Delay of gratification (penundaan kepuasan) melibatkan latihan kesabaran dengan menunda kepuasan instan demi manfaat jangka panjang, seperti membuat daftar belanja sebelum pergi ke pasar dan hanya membeli sesuai kebutuhan.<\/p>\n<p>Sementara itu, precommitment (prakomitmen) berarti menciptakan batasan sebelum tergoda.<\/p>\n<p>Caranya, kita dapat membawa uang tunai dalam jumlah terbatas saat berbelanja atau berbuka dengan porsi kecil sebelum memutuskan apakah kita masih perlu makan lagi.<\/p>\n<p><strong>2. Menciptakan batasan lingkungan.<\/strong> <br \/>Menciptakan lingkungan yang mendukung pengendalian diri menjadi langkah penting dalam mengelola impulsivitas.<\/p>\n<p>Menghindari tempat belanja saat perut kosong atau membatasi interaksi dengan iklan makanan dapat membantu mengurangi paparan terhadap godaan konsumsi berlebihan .<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/245716961\/ngaji-ramadan-puasa-dikenal-di-semua-agama-dan-bukan-monopoli-umat-islam\">Baca: Ibadah puasa bukan hanya monopoli umat Islam<\/a><\/p>\n<p>Menggunakan metode pembayaran tertentu&mdash;seperti uang tunai dengan jumlah terbatas&mdash;dapat berfungsi sebagai pengingat fisik terhadap limit pengeluaran kita.<\/p>\n<p>Penelitian menemukan bahwa penggunaan uang fisik memicu efek biaya psikologis lebih tinggi dibandingkan uang elektronik. Ini dapat membantu kita menekan pengeluaran impulsif.<\/p>\n<p>Tak hanya itu, memilih piring kecil dapat membantu kita mengurangi konsumsi makanan saat berbuka puasa.<\/p>\n<p>Sementara memiliki kulkas dan lemari pakaian yang lebih kecil dapat mendorong kita berpikir dua kali sebelum membeli makanan dan pakaian berlebihan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/gaya-hidup\/244499002\/kapan-datangnya-malam-lailatul-qadar-dan-amalan-apa-yang-sebaiknya-dikerjakan\">Baca: Kapan datangnya malam lailatul qadar<\/a><\/p>\n<p><strong>3. Mental accounting atau akuntansi mental.<\/strong> <br \/>Kita sering kali secara subjektif mengelompokkan uang ke dalam kategori mental yang berbeda. Ini kemudian memengaruhi pengambilan keputusan keuangan kita.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, seseorang mungkin memperlakukan bonus tahunan secara berbeda dibandingkan dengan gaji bulanan, meskipun jumlah keduanya sama.<\/p>\n<p>Bonus cenderung digunakan untuk pengeluaran konsumtif atau investasi berisiko, sedangkan gaji lebih sering dialokasikan untuk kebutuhan rutin.<\/p>\n<p>Dalam konteks Ramadan, khususnya THR, bias kognitif ini dapat digunakan untuk tujuan positif. Kita, misalnya, dapat menyisihkan uang tunjangan hari raya (THR) ke rekening pendidikan anak.<\/p>\n<p>Dengan memahami mekanisme psikologis yang mendorong perilaku konsumtif selama Ramadan serta menerapkan strategi yang tepat, kita dapat menjadikan bulan suci ini sebagai latihan nyata dalam menyeimbangkan antara kebutuhan, keinginan, dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Puasa Ramadan saat ini bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang perilaku konsumsi yang meningkat pesat. Paradoks&nbsp;puasa&nbsp;Ramadan&nbsp;ini bisa dijelaskan melalui konsep ritual economy (ekonomi ritual), yaitu bagaimana praktik keagamaan dan budaya memengaruhi aktivitas ekonomi dalam suatu masyarakat. Puasa Ramadan menciptakan pola konsumsi yang khas: masyarakat secara kolektif meningkatkan pengeluaran untuk makanan, pakaian, serta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":10122,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2981,939],"class_list":["post-10121","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-puasa","tag-ramadan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10121","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10121"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10121\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10122"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10121"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10121"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10121"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}