{"id":10491,"date":"2026-07-30T01:24:12","date_gmt":"2026-07-30T01:24:12","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10491"},"modified":"2026-07-30T01:24:12","modified_gmt":"2026-07-30T01:24:12","slug":"kaitan-kerusakan-lingkungan-perubahan-iklim-dan-penularan-penyakit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10491","title":{"rendered":"Kaitan Kerusakan Lingkungan, Perubahan Iklim dan Penularan Penyakit"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pendekatan <em>One Health<\/em> yang dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengakui interaksi rumit antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.<\/p>\n<p>Prakarsa <em>One Health<\/em>&nbsp;ini sangat penting, mengingat cepatnya penyebaran penyakit menular yang terkait dengan masalah lingkungan, khususnya penggundulan hutan dan perubahan iklim.<\/p>\n<p>Ketika lanskap dan iklim global berubah secara drastis, munculnya penyakit zoonosis dan penyakit yang ditularkan melalui vektor atau&nbsp;inang&nbsp;juga&nbsp;tmenjadi masalah kesehatan utama.<\/p>\n<p>Memahami berbagai faktor lingkungan untuk berbagai penyakit menular sangat penting untuk memastikan keamanan kesehatan di masa mendatang.&nbsp;Berikut ulasan Joshua Hadi yang telah terbit di Earth.org.<\/p>\n<p><strong>Deforestasi, Keanekaragaman Hayati dan Wabah Penyakit<\/strong><br \/>Pada tahun 2018, peneliti dari Polandia dan Prancis menerbitkan artikel opini yang menyoroti potensi munculnya infeksi virus corona baru akibat penggundulan hutan, khususnya di Asia Tenggara.<\/p>\n<p>Para peneliti berpendapat bahwa populasi kelelawar pembawa virus tersebut telah tinggal di dekat tempat tinggal manusia karena hilangnya habitat dan kesesuaian gaya hidup kelelawar dengan lingkungan tempat tinggal manusia tertentu (misalnya, rumah dan lumbung sebagai tempat berlindung).<\/p>\n<p>Kondisi ini meningkatkan risiko penularan penyakit dari kelelawar ke manusia, yang menjadi inti masalah penularan zoonosis sebagai akibat degradasi lingkungan akibat ulah manusia.<\/p>\n<p>Peringatan ilmuwan ini ternyata bukan isapan jempol. Pada 2020, dunia dilanda pandemi Covid-19 yang kemudian diketahui mulai menyebar dari Wuhan, China.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245479849\/deforestasi-picu-penyebaran-penyakit-pemerintah-diminta-tidak-mengabaikannya\">Baca: Deforestasi picu penyebaran penyakit<\/a><\/p>\n<p>Limpahan zoonosis, juga dikenal sebagai infeksi limpahan, adalah penularan patogen dari hewan (biasanya vertebrata) ke manusia. Rute penularan ini mencakup sekitar 60 persen penyakit menular yang muncul.<\/p>\n<p>Salah satu contoh utama penularan zoonosis adalah munculnya <em>virus imunodefisiensi<\/em> manusia (HIV) dari lentivirus yang berasal dari primata non-manusia Afrika, yang telah menyebabkan pandemi sindrom imunodefisiensi didapat (AIDS) global.<\/p>\n<p>Demikian pula, potensi penularan virus Ebola dari kelelawar buah ke manusia kemudian mengakibatkan wabah Ebola yang mencapai puncaknya di Afrika Barat.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, seiring dengan perubahan penggunaan lahan global, terutama perluasan populasi manusia ke kawasan hutan, terdapat risiko paparan manusia terhadap patogen atau hewan pembawanya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Selain itu, penggundulan hutan dapat mengubah kelimpahan dan distribusi hewan atau vektor pembawa patogen.<\/p>\n<p>Penularan patogen dari hewan vertebrata ke manusia juga dapat difasilitasi oleh vektor (biasanya artropoda), seperti nyamuk, kutu, lalat, dan kutu.<\/p>\n<p>Contoh penyakit yang ditularkan melalui vektor meliputi demam berdarah, malaria, Zika, dan chikungunya. Mirip dengan penularan zoonosis langsung, penyakit yang ditularkan melalui vektor ini dipengaruhi oleh penggundulan hutan.<\/p>\n<p>Satu studi yang mengkaji dampak penggundulan hutan terhadap kelimpahan nyamuk di 12 negara di lima benua menemukan bahwa dari 87 spesies nyamuk yang dianalisis, lebih dari separuhnya (52,9 persen) terkena dampak positif oleh penggundulan hutan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/245324352\/riset-perubahan-iklim-memicu-penyebaran-demam-berdarah-atau-dbd\">Baca: Perubahan iklim memicu penyebaran penyakit demam berdarah<\/a><\/p>\n<p>Hal ini termasuk yang menjadi vektor patogen manusia (misalnya, nyamuk Aedes atau Anopheles).<\/p>\n<p>Meskipun alasannya belum sepenuhnya dipahami, ketersediaan badan air buatan manusia untuk tempat berkembang biak dan hewan pertanian sebagai inang alternatif merupakan faktor penting.<\/p>\n<p>Studi lain menunjukkan korelasi antara berkurangnya kawasan hutan, khususnya akibat perluasan perkebunan kelapa sawit, dengan wabah penyakit zoonosis atau yang ditularkan melalui vektor di seluruh dunia dari tahun 1990 hingga 2016.<\/p>\n<p>Temuan ini menekankan ancaman penyakit menular sebagai akibat sampingan dari degradasi lingkungan.<\/p>\n<p>Aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati hewan vertebrata yang tinggi dapat mengurangi kemungkinan vektor memakan hewan inang pembawa penyakit, sebuah fenomena yang disebut efek pengenceran.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, karena suatu vektor memiliki lebih banyak hewan inang yang tersedia untuk dimakan, kemungkinan besar ia akan bergantung pada hewan yang membawa patogen manusia.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, hilangnya keanekaragaman hayati sebagai konsekuensi tak terelakkan dari penggundulan hutan, dapat mendorong peningkatan infeksi yang ditularkan melalui vektor di area yang terdampak.<\/p>\n<p>Kondisi ini telah ditunjukkan pada infeksi penyakit Lyme dan virus <em>West Nile<\/em> di Amerika Serikat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pendekatan One Health yang dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengakui interaksi rumit antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Prakarsa One Health&nbsp;ini sangat penting, mengingat cepatnya penyebaran penyakit menular yang terkait dengan masalah lingkungan, khususnya penggundulan hutan dan perubahan iklim. Ketika lanskap dan iklim global berubah secara drastis, munculnya penyakit zoonosis dan penyakit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":10492,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[82,17,276],"class_list":["post-10491","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-kesehatan","tag-lingkungan","tag-penyakit"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10491"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10491\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10492"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}