{"id":10575,"date":"2026-07-30T01:24:35","date_gmt":"2026-07-30T01:24:35","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10575"},"modified":"2026-07-30T01:24:35","modified_gmt":"2026-07-30T01:24:35","slug":"pemanasan-suhu-bumi-cetak-rekor-pada-2024-dunia-menuju-arah-yang-salah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10575","title":{"rendered":"Pemanasan Suhu Bumi Cetak Rekor pada 2024: Dunia Menuju Arah yang Salah"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211;&nbsp;Para peneliti mengatakan bahwa rekor suhu panas pada 2024 menandakan bahwa rata-rata suhu Bumi sedang melewati batas 1,5&deg;C seperti yang ditetapkan di Perjanjian Paris&nbsp;2015.<\/p>\n<p>Para ilmuwan memprediksi, dengan peningkatan suhu Bumi seperti yang terjadi saat ini akan terjadi bencana besar pada sistem alam yang menopang kehidupan di planet ini.<\/p>\n<p>Studi-studi tentang&nbsp;suhu&nbsp;Bumi&nbsp;ini dilakukan secara independen oleh para peneliti dari Eropa dan Kanada.<\/p>\n<p>Mereka berusaha menjawab pertanyaan mendasar: apakah satu tahun di atas 1,5&deg;C merupakan tanda bahwa kita telah melewati ambang batas Perjanjian Paris?<\/p>\n<p>Kedua studi ini menggunakan data observasi dan simulasi model iklim untuk menjawab pertanyaan ini, dengan pendekatan yang sedikit berbeda.<\/p>\n<p>Dalam studi dari Eropa, para peneliti menganalisis tren pemanasan historis. Mereka menemukan bahwa ketika suhu rata-rata Bumi mencapai ambang batas tertentu, maka dalam 20 tahun berikutnya suhu tersebut juga cenderung berada di ambang batas yang sama.<\/p>\n<p>Pola ini menunjukkan bahwa jika Bumi mencapai pemanasan 1,5&deg;C tahun lalu, maka kita mungkin telah memasuki periode 20 tahun saat suhu rata-rata juga akan mencapai tingkat tersebut.<\/p>\n<p>Sementara itu, studi dari Kanada menggunakan data suhu bulanan. Juni 2024 merupakan bulan ke-12 berturut-turut dengan suhu di atas 1,5&deg;C.<\/p>\n<p>Para peneliti menemukan bahwa jika selama 12 bulan berturut-turut suhu melampaui ambang batas iklim tertentu, maka kemungkinan besar ambang batas tersebut akan tercapai dalam jangka panjang.<\/p>\n<p>Kedua studi ini juga menunjukkan bahwa, meskipun pengurangan emisi yang ketat dimulai dari sekarang, Bumi tetap berisiko melewati batas 1,5&deg;C.<\/p>\n<p><strong>Dunia&nbsp;menuju arah yang salah<\/strong><br \/>Dengan temuan seperti&nbsp;di&nbsp;atas, apa yang akan dilakukan oleh umat manusia selanjutnya menjadi sangat penting untuk masa depan Bumi,<\/p>\n<p>Selama beberapa dekade, ilmuwan iklim telah memperingatkan bahwa pembakaran bahan bakar fosil untuk kebutuhan energi melepaskan karbon dioksida dan gas lain yang memanaskan Bumi.<\/p>\n<p>Namun, emisi gas rumah kaca terus meningkat. Sejak Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menerbitkan laporan pertamanya pada 1990, emisi karbon dioksida tahunan dunia telah meningkat sekitar 50&nbsp;persen.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Singkatnya, kita bahkan belum berjalan ke arah yang benar, apalagi bergerak dengan kecepatan yang diperlukan.<\/p>\n<p>Sains menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca harus mencapai net-zero untuk menghentikan pemanasan global. Bahkan setelah itu, beberapa aspek iklim akan terus berubah selama berabad-abad, karena pemanasan regional, terutama di lautan, sudah terkunci dan tidak dapat diubah.<\/p>\n<p>Jika Bumi memang telah melewati batas 1,5&deg;C, dan umat manusia ingin berada di bawah ambang batas itu lagi, maka kita perlu mendinginkan planet ini dengan mencapai net-negative emissions.<\/p>\n<p>Artinya, kita harus menghilangkan lebih banyak gas rumah kaca dari atmosfer daripada yang kita hasilkan. Tentunya hal ini menjadi pekerjaan yang sangat menantang.<\/p>\n<p><strong>Dampak pemanasan global<\/strong><br \/>Dampak perubahan iklim yang merusak sudah dirasakan di seluruh dunia. Dan generasi mendatang sepertinya akan menghadapi ancaman yang lebih besar lagi.<\/p>\n<p>Cuaca ekstrem, terutama gelombang panas semakin sering terjadi dan semakin parah. Hal ini memberikan tekanan besar pada alam, masyarakat, dan perekonomian .<\/p>\n<p>Namun di tengah kesuraman ini, setidaknya masih ada tanda-tanda kemajuan.&nbsp;Di seluruh dunia, pembangkit listrik tenaga terbarukan semakin berkembang. Penggunaan bahan bakar fosil telah menurun di banyak negara.<\/p>\n<p>Kemajuan teknologi berhasil memperlambat pertumbuhan emisi di industri pencemar seperti penerbangan dan konstruksi. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan.<\/p>\n<p><strong>Umat manusia bisa mengubah arah<\/strong><br \/>Berbagai studi ini menjadi pengingat keras betapa jauh kita masih tertinggal dalam menangani perubahan iklim.<\/p>\n<p>Masyarakat&nbsp;dunia&nbsp;harus segera beradaptasi dengan pemanasan global yang kian meningkat.<\/p>\n<p>Di antara serangkaian perubahan yang diperlukan, salah satu langkah penting adalah negara-negara kaya harus membantu negara-negara miskin yang akan menanggung dampak terparah.<\/p>\n<p>Meskipun sudah ada beberapa kemajuan, dana yang tersedia masih jauh dari cukup.<\/p>\n<p>Dunia&nbsp;juga perlu melakukan perubahan besar untuk mendekarbonisasi masyarakat dan ekonomi kita. Masih ada harapan, tetapi kita tidak boleh menunda tindakan.<\/p>\n<p>Jika tidak, manusia akan terus memanaskan planet&nbsp;Bumi dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Andrew King (Associate Professor in Climate Science, ARC Centre of Excellence for 21st Century Weather, The University of Melbourne) dan Liam Cassidy (PhD Candidate, The University of Melbourne)<\/strong><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Para peneliti mengatakan bahwa rekor suhu panas pada 2024 menandakan bahwa rata-rata suhu Bumi sedang melewati batas 1,5&deg;C seperti yang ditetapkan di Perjanjian Paris&nbsp;2015. Para ilmuwan memprediksi, dengan peningkatan suhu Bumi seperti yang terjadi saat ini akan terjadi bencana besar pada sistem alam yang menopang kehidupan di planet ini. Studi-studi tentang&nbsp;suhu&nbsp;Bumi&nbsp;ini dilakukan secara independen [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":10576,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1500,3143],"class_list":["post-10575","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-perjanjian-paris","tag-suhu-bumi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10575","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10575"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10575\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10576"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10575"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10575"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10575"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}