{"id":10612,"date":"2026-07-30T01:25:20","date_gmt":"2026-07-30T01:25:20","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10612"},"modified":"2026-07-30T01:25:20","modified_gmt":"2026-07-30T01:25:20","slug":"tidak-perlu-latah-indonesia-bisa-unggul-jika-fokus-pada-riset-tumbuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10612","title":{"rendered":"Tidak Perlu Latah, Indonesia Bisa Unggul Jika Fokus pada Riset Tumbuhan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Indonesia sudah mengalami ketertinggalan dalam riset dan inovasi di hampir semua bidang.<\/p>\n<p>Mulai dari industri elektronika, kesehatan, kosmetika, komputer, manufaktur, transportasi, hingga kecerdasaran buatan (AI), riset&nbsp;kita jauh di belakang Eropa dan Amerika, bahkan negara-negara Asia Timur.<\/p>\n<p>Ketertinggalan riset&nbsp;ini membuat Indonesia lebih banyak menjadi penonton dan konsumen produk-produk yang dihasilkan oleh negara lain.<\/p>\n<p>Namun, janganlah kita muram. Indonesia sebenarnya masih memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan&mdash;bahkan menyalip negara-negara tersebut dengan riset biodiversitas darat dan laut.<\/p>\n<p>Sayangnya, selama ini kita sibuk melirik rumput tetangga yang lebih hijau dan lupa melihat potensi besar di tanah air.<\/p>\n<p>Sebagai negara tropis, Indonesia diberkahi dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa.<\/p>\n<p>Namun selama ini kita hanya sibuk mengekstraksi sumber daya alam tersebut dan kurang memanfaatkannya untuk pengembangan inovasi berbasis riset. Inovasi dapat berujung pada penghiliran (peningkatan nilai tambah) produk.<\/p>\n<p>Dengan luas daratan mencapai 1,9 juta kilometer persegi, banyak sekali ragam tanaman yang bisa tumbuh di tanah tropis bernama Indonesia ini.<\/p>\n<p>Belum lagi, keanekaragaman yang ada di lautan seluas lebih dari 3 juta kilometer persegi. Dalam artikel ini, sesuai bidang yang penulis kuasai, saya akan mengulas khusus kekayaan tumbuhan yang ada di daratan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245633058\/brin-temukan-98-taksa-baru-sepanjang-2024-didominasi-kelompok-flora\">Baca: BRIN Temukan 98 Taksa Baru Sepanjang 2024<\/a><\/p>\n<p><strong>Kekayaan alam Indonesia<\/strong><br \/>Menurut data POWO (The Plants of the World Online), ada hampir 400 ribu jenis tumbuhan berpembuluh di dunia. Sekitar 369 ribu di antaranya merupakan tumbuhan berbunga.<\/p>\n<p>Dari jumlah tersebut, diperkirakan ada sekitar 30 ribu jenis tanaman tumbuh dan berkembang di Indonesia.<\/p>\n<p>Keberadaan tumbuhan berbunga sangat vital bagi kelangsungan hidup di Bumi. Selain berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mereka juga merupakan sumber pangan, obat, dan bahan baku industri.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Potensi biodiversitas luar biasa ini seharusnya &lsquo;memprovokasi&rsquo; para ilmuwan, akademisi, pelaku bisnis, dan komunitas untuk menghasilkan produk-produk inovasi yang bisa diterima di pasar global.<\/p>\n<p>Untuk tanaman pangan, misalnya, penulis bersama rekan-rekan peneliti mengkaji beberapa tanaman pangan utama dunia seperti beras dan juga tanaman pangan lokal seperti talas dan ubi jalar.<\/p>\n<p>Penelitian dilakukan di tiga provinsi yang terkenal dengan keragaman tanaman yang tinggi: Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Kepulauan Maluku. Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keragaman tanaman pangan (agrobiodiversitas) yang sangat kaya.<\/p>\n<p>Banyak pula spesies unik yang belum teridentifikasi. Saat ini misalnya, terdapat 10.092 sampel genetik padi yang dikumpulkan dan disimpan dalam bank gen atau koleksi plasma nutfah.<\/p>\n<p>Sampel ini dikelola oleh Kementerian Pertanian dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), termasuk 54 varietas beras merah yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia.<\/p>\n<p>Temuan kami di lapangan juga mengidentifikasi 91 etnovariat padi (varietas padi lokal yang dikembangkan oleh masyarakat tradisional). Kebanyakan di antaranya berasal dari Kalimantan Tengah (72) dan Jawa Tengah (15).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245448331\/iucn-sekitar-46300-spesies-terancam-punah\">Baca: IUCN sebut 46.300 spesies terancam punah<\/a><\/p>\n<p>Pada 2010, ditemukan 200 jenis talas di daerah Cibinong, Bogor. Pada 2014, sebuah misi pengumpulan atau penelitian di Jawa Tengah juga menemukan 28 jenis talas.<\/p>\n<p>Namun, penemuan ini baru mewakili sekitar 60 persen dari total keragaman talas di wilayah tersebut. Artinya, masih ada banyak jenis talas lain yang belum ditemukan atau terdokumentasi dalam misi tersebut.<\/p>\n<p>Kultivar lokal ubi kecil (Dioscorea esculenta) ditemukan di Magelang, Jawa Tengah, dan dikenal secara lokal seperti tapak celenk, yang secara harafiah berarti: jejak kuku babi hutan, mengacu pada bentuk umbinya yang unik. Sumber: A.Keim, BRIN, 2021.<\/p>\n<p><strong>Keragaman etnobotani<\/strong><br \/>Selain keragaman tumbuhan, Indonesia juga memiliki etnik dan budaya yang kaya. Interaksi antara komunitas masyarakat lokal dengan tumbuhan, dikenal sebagai etnobotani.<\/p>\n<p>Dengan etnobotani kita bisa memahami kegunaan tumbuhan secara empiris yang telah dipraktikkan oleh masyarakat lokal sejak berpuluh atau bahkan ratusan tahun.<\/p>\n<p>Contoh paling terkenal adalah jamu, yang telah diakui sebagai &lsquo;warisan budaya tak benda&rsquo; oleh UNESCO pada 2023. Ini membuktikan bahwa interaksi budaya lokal dengan sumber daya tumbuhan Indonesia sudah diakui dunia akan eksistensi dan kegunaannya.<\/p>\n<p>Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) Kementerian Kesehatan sudah mendokumentasikan ribuan jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh berbagai etnik, dari Sumatra hingga Papua.<\/p>\n<p>Namun, jika melihat data Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu), baru sekitar ratusan jenis tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan jamu.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sorotan\/245178528\/keanekaragaman-hayati-di-ambang-kritis-jadi-tugas-besar-strategi-konservasi\">Baca: Keanekaragaman hayati Indonesia di ambang kritis<\/a><\/p>\n<p>Riset dan pengembangan RISTOJA sejatinya bisa diperluas lagi dengan menyasar masyarakat yang tinggal di pedalaman pulau-pulau kecil dan terluar. Mereka pun memiliki pengetahuan lokal yang sangat berharga.<\/p>\n<p>Bisa dibayangkan bagaimana mereka mampu bertahan dengan akses layanan kesehatan yang minim dan mengandalkan resep warisan leluhur secara turun-temurun&mdash;yang dulunya telah melalui proses trial and error.<\/p>\n<p>Beberapa di antaranya telah terbukti bermanfaat dan berkhasiat. Semua kearifan lokal ini harus bisa kita manfaatkan.<\/p>\n<p>Di negara-negara Asia Timur, rumah sakit herbal memiliki tingkat okupansi lebih dari 70%. Meskipun biaya pengobatannya sebenarnya lebih mahal dari rumah sakit modern, tapi pengobatan herbal lebih digemari dan dipercaya oleh masyarakat.<\/p>\n<p>Di Indonesia, klinik herbal Hortus Medicus di Tawangmangu sudah menunjukkan potensi besar dalam memberikan pengobatan berbahan alam.<\/p>\n<p>Ini bisa menjadi pemicu untuk memperluas riset, pengembangan produk, hingga implementasi dalam bentuk klinik atau rumah sakit berbasis herbal.<\/p>\n<p>Di Maluku, kita mengenal &lsquo;Herbarium Amboinense&rsquo;, buku catatan yang berisi sekitar 1.200 jenis tanaman obat lokal yang didokumentasikan oleh ahli botani kelahiran Jerman Georgius Everhardus pada abad ke-17.<\/p>\n<p>Di Jawa ada dokumentasi pengetahuan lokal serupa dalam Serat Centhini, di Pulau Dewata ada Usada Bali dan masih banyak lagi pengetahuan lokal yang tersebar di seluruh Indonesia.<\/p>\n<p>Pengetahuan lokal Indonesia ini tidak kalah pentingnya dengan temuan luar negeri, seperti penemuan obat malaria Artemisia oleh perempuan ilmuwan Cina, Tu Youyou yang meraih Nobel Kesehatan pada 2015.<\/p>\n<p>Contoh senyawa obat lain yang ditemukan melalui pengetahuan tradisional antara lain aspirin (obat pengencer darah dari Filipendula ulmaria), digoxin (obat jantung dari Digitalis purpurea),<\/p>\n<p>Morphine (penghilang nyeri dari Papaver somniferum), quinine (obat malaria dari Cinchona pubescens), dan masih banyak lagi. Semua ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal kita berpotensi menghasilkan inovasi besar di masa depan.<\/p>\n<p>Sudah saatnya Indonesia serius menggarap potensi dan kekayaan alam ini. Dengan fokus pada sektor yang kita miliki, yakni keanekaragaman tumbuhan, kita bisa menciptakan produk-produk inovatif yang berbasis riset dan berpotensi menjadi pemasok utama kebutuhan pasar global.<\/p>\n<p>Mengembangkan riset dan inovasi tentu tidak seperti cerita Candi Prambanan yang katanya dibangun hanya dalam waktu semalam. Kita butuh konsistensi dan napas yang panjang.<\/p>\n<p>Jika fokus mengelola keanekaragaman hayati, dengan dukungan sumber daya manusia unggul, infrastruktur riset memadai, pendanaan yang cukup, serta konsistensi kebijakan yang berpihak pada riset, maka&nbsp;penulis hakulyakin kita bisa menciptakan inovasi yang mampu mengubah masa depan Indonesia.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Wawan Sujarwo (Profesor Riset, Badan Riset dan Inovasi Nasional)<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Indonesia sudah mengalami ketertinggalan dalam riset dan inovasi di hampir semua bidang. Mulai dari industri elektronika, kesehatan, kosmetika, komputer, manufaktur, transportasi, hingga kecerdasaran buatan (AI), riset&nbsp;kita jauh di belakang Eropa dan Amerika, bahkan negara-negara Asia Timur. Ketertinggalan riset&nbsp;ini membuat Indonesia lebih banyak menjadi penonton dan konsumen produk-produk yang dihasilkan oleh negara lain. Namun, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":10613,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[818],"class_list":["post-10612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-riset"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10612"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10612\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}