{"id":10693,"date":"2026-07-30T01:25:40","date_gmt":"2026-07-30T01:25:40","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10693"},"modified":"2026-07-30T01:25:40","modified_gmt":"2026-07-30T01:25:40","slug":"fenomena-psikologis-fomo-sudah-terjadi-sejak-dulu-tetapi-mengapa-sekarang-dikritisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10693","title":{"rendered":"Fenomena Psikologis FOMO Sudah Terjadi Sejak Dulu, Tetapi Mengapa Sekarang Dikritisi?"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Mari kita kembali menyoroti fenomena <em>Fear of Missing Out&nbsp;<\/em>FOMO yang mendorong orang&nbsp;berperilaku konsumtif. Banyak orang rela mengantre lama di gerai pusat perbelanjaan hanya untuk membeli boneka seharga jutaan bernama Labubu.<\/p>\n<p>Publik juga menyayangkan aksi blokir produk terbaru Iphone 16 oleh pemerintah karena permasalahan investasi. Bahkan, beberapa sudah melakukan importasi mandiri dan jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 12 ribu unit.<\/p>\n<p>Ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk berbelanja barang konsumsi non-primer.<\/p>\n<p>Padahal, situasi ekonomi di tanah air sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, populasi kelas menengah di Indonesia mengalami penyusutan.<\/p>\n<p>Data BPS mencatat pada 2019, kelompok kategori ini masih 21,45 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara tahun ini, jumlahnya tinggal 17,44 persen atau sekitar 47,85 juta jiwa.<\/p>\n<p>Ini tak lepas dari maraknya ajang pamer di media sosial (medsos) yang tanpa disadari telah menjadi standar hidup di masyarakat.<\/p>\n<p>Meski apa yang dipertontonkan di media sosial kerap tidak aktual dan sarat rekayasa, fenomena <em>Fear of Missing Out<\/em> (FOMO)&mdash;kondisi takut ketinggalan tren&mdash;telah mendorong perilaku belanja berlebihan.<\/p>\n<p>Akibatnya, masyarakat kelas menengah di Indonesia rawan jatuh ke kategori rentan miskin akibat perilaku belanja karena FOMO tersebut.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/gaya-hidup\/244929489\/langkah-sederhana-agar-tidak-terlalu-lama-terjebak-dalam-sindrom-fomo\">Baca: Cara sederhana agar tidak terjebak dalam sindrom FOMO<\/a><\/p>\n<p><strong>FOMO dalam konsumsi<\/strong><br \/>Hasil riset Pusat Riset Kependudukan BRIN pada tahun 2024 menunjukkan bahwa FOMO adalah satu dari banyak faktor yang menyebabkan anjloknya jumlah kelas menengah Tanah Air.<\/p>\n<p>Mereka turun kelas ke kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class. Kelompok ini berada di antara kelas menengah dan kelas rentan miskin.<\/p>\n<p>Tak seperti kelas menengah dan menuju kelas menengah yang cenderung menurun, kelompok rentan miskin justru terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.<\/p>\n<p>Pada 2019, persentase kelompok calon kelas menengah masih 128,85 juta dan pada tahun ini naik jadi 137,5 juta.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Pada saat yang bersamaan, kelompok rentan miskin juga terus bertambah, dari 54,97 juta pada 2019 menjadi 67,69 juta pada 2024.<\/p>\n<p>Karena FOMO, pengeluaran masyarakat kelas menengah lebih diprioritaskan pada konsumsi pemenuhan gaya hidup ketimbang kebutuhan primer seperti pendidikan dan perumahan.<\/p>\n<p>Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya peningkatan belanja kelompok kelas menengah untuk kebutuhan hiburan dan pesta dalam 10 tahun terakhir.<\/p>\n<p>Pengeluaran untuk hiburan, contohnya, meningkat dari 0,22 persen pada 2014 menjadi 0,38 persen pada 2024. Kemudian, pengeluaran untuk pakaian juga meningkat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/gaya-hidup\/244928258\/kamu-suka-merasa-khawatir-ketinggalan-tren-waspadai-sindrom-fomo\">Baca: Mengapa banyak orang terjebak dalam sindrom FOMO<\/a><\/p>\n<p>Tercatat pada 2014 pengeluaran kelas menengah untuk pakaian hanya mencapai 2,16 persen, sementara pada 2024 mencapai 2,44 persen.<\/p>\n<p>Ini berbanding terbalik dengan pengeluaran untuk makanan, minuman, dan kebutuhan perumahan. Bahkan, pengeluaran pendidikan dan kesehatan di kalangan kelas menengah juga turun&mdash;menunjukkan pergeseran prioritas pada alokasi pengeluaran mereka.<\/p>\n<p>Sebenarnya, FOMO dalam hal konsumsi bukanlah fenomena baru di Indonesia. Pada tahun 2011, saat Blackberry melansir gawai terjangkaunya Blackberry Bold 9790, antrean pembeli produk ini mengular hingga perlu dikawal polisi.<\/p>\n<p>Namun, setidaknya FOMO yang terjadi pada kala itu masih boleh dimaklumi. Sebab pada saat itu, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang moncer dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 mencapai 6,5 persen yang disokong berkah comodity boom dan pertumbuhan ekonomi Cina yang masih stabil tumbuh 2 digit berturut-turut.<\/p>\n<p>Perbedaan FOMO di era sebelumnya dengan zaman sekarang ini juga ada pada media yang dipakai sebagai pemicu munculnya FOMO.<\/p>\n<p>Zaman dahulu orang-orang yang dapat terpicu mengalami kondisi FOMO adalah orang-orang yang gemar membaca koran artikel di majalah, iklan di radio, bahkan kebaruan dari apa yang dimiliki oleh tetangga sebelah rumah.<\/p>\n<p>Saat ini, masyarakat yang mengalami kehadiran FOMO kemungkinan besar karena kecanduan bermain sosial media.<\/p>\n<p>Lantas adakah cara yang dilakukan untuk tidak terjebak dalam fenomena FOMO? Jawabannya akan kami ulas di tulisan selanjutnya.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Sonyaruri Satiti (Peneliti Bidang Kependudukan di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada , Universitas Gadjah Mada)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Mari kita kembali menyoroti fenomena Fear of Missing Out&nbsp;FOMO yang mendorong orang&nbsp;berperilaku konsumtif. Banyak orang rela mengantre lama di gerai pusat perbelanjaan hanya untuk membeli boneka seharga jutaan bernama Labubu. Publik juga menyayangkan aksi blokir produk terbaru Iphone 16 oleh pemerintah karena permasalahan investasi. Bahkan, beberapa sudah melakukan importasi mandiri dan jumlahnya diperkirakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":10694,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3177,2849],"class_list":["post-10693","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-fomo","tag-konsumtif"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10693","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10693"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10693\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10694"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10693"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10693"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10693"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}