{"id":10860,"date":"2026-07-30T01:26:27","date_gmt":"2026-07-30T01:26:27","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10860"},"modified":"2026-07-30T01:26:27","modified_gmt":"2026-07-30T01:26:27","slug":"sisi-gelap-transisi-energi-mencari-jalan-penambangan-nikel-yang-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=10860","title":{"rendered":"Sisi Gelap Transisi Energi: Mencari Jalan Penambangan Nikel yang Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Ekspansi produksi nikel Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ternyata berdampak buruk bagi wilayah kaya nikel seperti Sulawesi.<\/p>\n<p>Sulawesi selama ini dikenal sebagai kawasan keanekaragaman hayati unik yang dikenal sebagai &lsquo;Wallacea&rsquo;. Berbekal data dari 7.721 desa, studi terbaru yang dilakukan tim penulis menyoroti keberlanjutan praktik penambangan nikel dengan mengkaji dampak lingkungan dan sosialnya di Sulawesi.<\/p>\n<p>Studi kami menunjukkan bahwa selama 2011-2018, hutan di desa-dekat tambang nikel mengalami deforestasi hampir dua kali lebih cepat dibandingkan wilayah nonpertambangan.<\/p>\n<p>Deforestasi tidak hanya memperburuk pemanasan global, tetapi juga menghancurkan habitat dan mengancam populasi satwa liar.<\/p>\n<p>Mengatasi tantangan ini memerlukan pendekatan penambangan nikel yang adil lagi berkelanjutan.<\/p>\n<p>Kerusakan yang terus berlanjut dapat merusak upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati yang unik di Sulawesi. Oleh karena itu, upaya melindungi ekosistem dari pertambangan menjadi sangat penting.<\/p>\n<p>Baca: Ekspansi pertambangan nikel berdampak buruk pada keanekaragaman hayati<\/p>\n<p>Beberapa akademisi dan aktor lainnya telah mengajukan rekomendasi. Tim penulis menyoroti tiga di antaranya:<\/p>\n<p><strong>1. Memperkuat standar lingkungan dan sosial<\/strong><br \/>Pemerintah dan perusahaan tambang harus menerapkan standar lingkungan dan sosial yang ketat untuk meminimalkan dampak pada ekosistem dan masyarakat.<\/p>\n<p>Ini termasuk regulasi ketat tentang deforestasi dan pengelolaan air, serta perlindungan bagi pekerja dan masyarakat terdampak.<\/p>\n<p>Perusahaan tambang dapat mengacu pada kerangka kerja seperti OECD Due Diligence Guidelines untuk memastikan proses identifikasi, pencegahan, dan pertanggungjawaban dampak buruk yang timbul akibat aktivitas pertambangan mereka.<\/p>\n<p>Pada saat yang sama, aktor negara harus terus memenuhi kewajiban untuk melindungi dan menghormati hak-hak pihak yang terdampak kegiatan penambangan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/245264940\/dampak-ekspansi-tambang-nikel-pada-masyarakat-adat\">Baca: Ekspansi pertambangan nikel pinggirkan masyarakat adat<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><strong>2. Memastikan partisipasi masyarakat<\/strong><br \/>Komunitas lokal harus menjadi pusat dalam pengambilan keputusan terkait proyek penambangan. Proses konsultasi dan persetujuan yang inklusif dapat membantu meminimalkan dampak negatif.<\/p>\n<p>Ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa pertambangan tidak merugikan mereka yang bergantung pada lingkungan dalam mencari nafkah.<\/p>\n<p>Pelibatan komunitas dalam pengambilan keputusan dapat membantu meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan tambang sekaligus pembagian manfaatnya.<\/p>\n<p>Studi di Sulawesi membuktikan bahwa pelibatan masyarakat setempat dalam mengevaluasi proses produksi nikel dapat menciptakan aksi korektif (untuk memperbaiki keadaan).<\/p>\n<p>Umpan balik dari masyarakat setempat tidak hanya dapat memastikan kepatuhan hukum aktivitas pertambangan, tetapi juga menyelaraskan aspirasi dan kondisi masyarakat terdampak.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245264775\/ktt-keanekaragaman-hayati-organisasi-masyarakat-sipil-indonesia-serukan-setop-ekspansi-pertambangan-nikel\">Baca: Organisiasi masyarakat sipil menentang ekspansi pertambangan nikel<\/a><\/p>\n<p><strong>3. Membangun pemantauan dan akuntabilitas yang kuat<\/strong><br \/>Pemantauan dan evaluasi secara rutin terhadap operasi pertambangan, dari awal hingga akhir, sangat penting&mdash;tidak hanya untuk nikel tetapi juga komoditas lainnya.<\/p>\n<p>Perusahaan harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan dampak sosial, sementara praktik yang berhasil harus ditonjolkan untuk menjadi model bagi industri lainnya.<\/p>\n<p>Pengawasan independen oleh LSM dan kelompok lokal dapat meningkatkan transparansi, memastikan akuntabilitas, dan mendorong praktik terbaik.<\/p>\n<p>Kita berkejaran dengan waktu. Dengan transisi rendah karbon yang semakin cepat, kita memerlukan tindakan segera untuk mencegah kerusakan lingkungan dan sosial secara global.<\/p>\n<p>Dengan mereformasi praktik penambangan nikel, Indonesia dapat memainkan peran penting dalam membangun masa depan rendah karbon yang adil dan berkelanjutan, serta menjadi model bagi negara lain.<\/p>\n<p>Ini adalah kesempatan untuk menyeimbangkan kemakmuran ekonomi, perlindungan lingkungan, dan keadilan sosial&mdash;memastikan bahwa manfaat dari transisi energi hijau bisa melebihi biayanya.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Tim penulis:<\/strong><br \/><strong>Michaela Guo Ying Lo (Postdoctoral Researcher in Environment, Conservation, and Development, University of Kent)<\/strong><br \/><strong>Jatna Supriatna (Professor of Conservation Biology, Universitas Indonesia)<\/strong><br \/><strong>Matthew Struebig (Reader in Conservation Science, University of Kent)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Ekspansi produksi nikel Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ternyata berdampak buruk bagi wilayah kaya nikel seperti Sulawesi. Sulawesi selama ini dikenal sebagai kawasan keanekaragaman hayati unik yang dikenal sebagai &lsquo;Wallacea&rsquo;. Berbekal data dari 7.721 desa, studi terbaru yang dilakukan tim penulis menyoroti keberlanjutan praktik penambangan nikel dengan mengkaji dampak lingkungan dan sosialnya di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":10861,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17,2237],"class_list":["post-10860","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-lingkungan","tag-nikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10860","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10860"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10860\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10861"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10860"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10860"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10860"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}