{"id":11013,"date":"2026-07-30T01:27:06","date_gmt":"2026-07-30T01:27:06","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11013"},"modified":"2026-07-30T01:27:06","modified_gmt":"2026-07-30T01:27:06","slug":"asal-muasal-istilah-raja-jawa-dan-mengapa-menuai-kritik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11013","title":{"rendered":"Asal Muasal Istilah \u2018Raja Jawa\u2019 dan Mengapa Menuai Kritik"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pada pertengahan 2024 lalu, sempat viral pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai &ldquo;Raja Jawa&rdquo;.<\/p>\n<p>Istilah Raja Jawa tersebut ia lontarkan dalam konteks proses pergantian jabatan Ketua Umum Partai Golkar yang ia terima.<\/p>\n<p>Bahlil yang&nbsp;kemudian&nbsp;menggantikan&nbsp;Airlangga&nbsp;Hartarto&nbsp;menjadi&nbsp;Ketua&nbsp;Umum&nbsp;Partai&nbsp;Golkar,&nbsp;saat itu menyebutkan adanya pengaruh elite politik nasional yang kuat dalam penetapan dirinya.<\/p>\n<p>Pernyataan Bahlil&nbsp;soal&nbsp;Raja&nbsp;Jawa&nbsp;ini mengisyaratkan adanya kekuatan besar yang mengatur jalannya politik di Indonesia, yang sering kali tidak terlihat oleh publik.<\/p>\n<p>Istilah Raja Jawa digunakan untuk menggambarkan kekuatan ini&mdash;merujuk pada figur atau kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah politik nasional.<\/p>\n<p>Istilah Raja Jawa kemudian memicu diskusi hangat di kalangan pengamat politik dan khususnya akademisi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sorotan\/245499446\/jokowi-masuk-daftar-pemimpin-terkorup-dunia-menjadi-senjakala-dinasti-politik-jokowi\">Baca: Dinasti Politik Jokowi masuki masa senjakala<\/a><\/p>\n<p>Pasalnya, istilah ini sudah jarang terdengar sejak era Orde Baru tergantikan oleh era Reformasi. Kembali mencuatnya istilah ini sebenarnya menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi demokrasi di Indonesia.<\/p>\n<p>Asal muasal istilah &lsquo;Raja Jawa&rsquo;<br \/>Istilah &ldquo;Raja Jawa&rdquo; memiliki akar yang mendalam pada budaya feodal Jawa sejak era kerajaan&ndash;kesultanan di Nusantara.<\/p>\n<p>Feodalisme adalah sistem politik dan sosial yang berkembang di Eropa abad pertengahan, dengan bentuk susunan hierarki yang melibatkan hubungan patron (pemimpin) &ndash; klien (yang dipimpin).<\/p>\n<p>Dalam konteks Indonesia, feodalisme sering dikaitkan dengan masa kerajaan-kerajaan di Nusantara, di mana kekuasaan terpusat pada keputusan raja sebagai perwakilan dewa dan rakyat harus menaatinya secara penuh.<\/p>\n<p>Meskipun Indonesia mengadopsi sistem demokrasi, elemen-elemen feodalisme masih terlihat dalam perpolitikan Indonesia.<\/p>\n<p>Feodalisme di era pemerintahan modern Indonesia, sangat terasa sekali terjadi pada masa dekade kedua rezim Orde Baru.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/245488806\/ylbhi-beberkan-indikasi-tipe-korupsi-yang-dilakukan-jokowi-tak-harus-ada-aliran-dana-ke-rekeningnya\">Baca: Indikasi tipe korupsi yang dilakukan Jokowi<\/a><\/p>\n<p>Sebagai seorang yang kental dengan adat tradisi Jawa, Presiden Soeharto mengadopsi nilai filosofis kepemimpinan Kerajaan Mataram di mana ketika seseorang menerima wahyu kepemimpinan, maka harus dilakukan secara total dan jangan ada yang mengganggu prosesnya.<\/p>\n<p>Presiden sebagai posisi eksekutif merupakan core of government, yakni memiliki peran yang tunggal sebagai pemimpin. Hal ini menyebabkan pasifnya peran Wakil Presiden pada era Orde Baru.<\/p>\n<p>Wakil Presiden hanya menjadi pelengkap formalitas demokrasi, namun kekuasaan tetap ada di Presiden. Bahkan orang-orang terdekat Presiden Suharto mengonfirmasi jika Presiden Suharto memosisikan dirinya sebagai Raja Jawa.<\/p>\n<p>Di kemudian hari, istilah ini digunakan untuk menggambarkan sentralisasi kekuasaan di tangan segelintir elite politik yang berpusat di Jawa dan kebetulan juga berasal dari suku Jawa.<\/p>\n<p>Sentralisasi ini menciptakan ketimpangan kekuasaan antara pusat dan daerah&mdash;yang menjadi salah satu kritik utama terhadap pemerintahan Orde Baru.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/nasional\/245488713\/ylbhi-beberkan-10-faktor-yang-membuat-jokowi-layak-masuk-daftar-pemimpin-terkorup-dunia-versi-occrp\">Baca: 10 faktor yang membuat Jokowi layak masuk daftar pemimpin terkorup<\/a><\/p>\n<p>Pada era Reformasi, meskipun ada upaya desentralisasi, nyatanya muncul &ldquo;raja-raja&rdquo; kecil di level provinsi, kabupaten\/kota, bahkan kelurahan\/desa yang menjadi simbol ketimpangan kekuasaan.<\/p>\n<p>Sentralisasi kekuasaan di tangan elite politik tertentu inilah yang kembali menciptakan oligarki dan merusak prinsip demokrasi selepas jatuhnya rezim Orde Baru.<\/p>\n<p>Ben Anderson dan Edward Aspinall telah mengkritik pola oligarki ini, karena menghambat partisipasi politik yang lebih luas dan merata. Selain itu, oligarki di Indonesia beroperasi melalui kontrol ekonomi dan politik yang terpusat.<\/p>\n<p>Raja Jawa juga mengingatkan kita pada teori kekuasaan yang menekankan bahwa kekuasaan tidak hanya terletak pada institusi formal, tetapi juga tersebar dalam jaringan sosial yang kompleks.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: M. Luthfi Khair A (Peneliti Bidang Sejarah Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional \/BRIN)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pada pertengahan 2024 lalu, sempat viral pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai &ldquo;Raja Jawa&rdquo;. Istilah Raja Jawa tersebut ia lontarkan dalam konteks proses pergantian jabatan Ketua Umum Partai Golkar yang ia terima. Bahlil yang&nbsp;kemudian&nbsp;menggantikan&nbsp;Airlangga&nbsp;Hartarto&nbsp;menjadi&nbsp;Ketua&nbsp;Umum&nbsp;Partai&nbsp;Golkar,&nbsp;saat itu menyebutkan adanya pengaruh elite politik nasional yang kuat dalam penetapan dirinya. Pernyataan Bahlil&nbsp;soal&nbsp;Raja&nbsp;Jawa&nbsp;ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11014,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3246],"class_list":["post-11013","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-raja-jawa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11013","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11013"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11013\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11014"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11013"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11013"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11013"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}