{"id":11034,"date":"2026-07-30T01:27:11","date_gmt":"2026-07-30T01:27:11","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11034"},"modified":"2026-07-30T01:27:11","modified_gmt":"2026-07-30T01:27:11","slug":"membalik-keadaan-agar-budidaya-kopi-di-aceh-lebih-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11034","title":{"rendered":"Membalik Keadaan Agar Budidaya Kopi di Aceh Lebih Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Kopi adalah komoditas yang tak lepas dari kehidupan masyarakat Aceh, terutama Aceh Tengah sebagai salah satu sentra produksi kopi arabika gayo.<\/p>\n<p>Namun, penelitian Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan UNDP dari Proyek FOLUR (Food Systems, Land Use, and Restoration,) sepanjang tahun 2023-2024 menemukan persoalan keberlanjutan perkebunan kopi di Aceh Tengah.<\/p>\n<p>Sekitar 56 persen perkebunan kopi berada di dalam kawasan hutan, khususnya di area hutan lindung&mdash;area yang berfungsi untuk menjaga keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem seperti siklus air.<\/p>\n<p>Berkurangnya hutan di Aceh Tengah berkontribusi pada kejadian banjir bandang.<\/p>\n<p>Alih fungsi lahan menjadi perkebunan kopi juga dapat memperburuk perubahan iklim dan kehilangan keberagaman hayati&mdash;yang bisa memengaruhi ketahanan pangan warga setempat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245529909\/menakar-efektifitas-praktik-agroforestri-untuk-pulihkan-fungsi-hutan-lindung\">Baca: Efektifitas praktik agroforestri untuk pulihkan fungsi hutan lindung<\/a><\/p>\n<p>Naiknya permintaan kopi dari luar maupun dalam negeri berisiko meningkatkan perluasan kebun kopi di kawasan hutan.<\/p>\n<p>Berdasarkan pemodelan yang dilakukan tim dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan UNDP dari Proyek FOLUR (Food Systems, Land Use, and Restoration), perkebunan kopi berisiko terus merambah kawasan hutan lindung di Aceh Tengah di masa mendatang.<\/p>\n<p>Namun demikian, laju perluasan kebun kopi mungkin akan lebih rendah dibandingkan 20 tahun terakhir karena sudah tak banyak kawasan hutan yang tersisa untuk dibuka.<\/p>\n<p>Kita semua perlu menyadari risiko ini. Persoalan alih fungsi hutan menjadi kebun kopi tak bisa sepenuhnya menjadi tanggung jawab petani, melainkan juga pemerintah karena aktivitas penyuluhan pertanian kopi yang minim.<\/p>\n<p>Perlu ada jalan tengah yang perlu dipersiapkan pemerintah untuk menjaga kelangsungan hutan sekaligus mempertahankan produksi kopi gayo yang berkelanjutan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245532430\/kritik-terhadap-perhutanan-sosial-sentralisasi-hambat-pengelolaan-hutan-negara-secara-optimal\">Baca: Sentralisasi hambat pengelolaan hutan Negara lewat perhutanan sosial<\/a><\/p>\n<p>Salah satu langkah yang sangat mungkin dilakukan adalah dengan sistem perhutanan sosial untuk menyelesaikan persoalan yang sudah terlanjur terjadi di perkebunan kopi di kawasan hutan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Melalui sistem ini, petani bisa tetap melakukan budidaya kopi meski dengan larangan penebangan pohon dan kewajiban menanam kembali tanaman-tanaman kayu asli setempat.<\/p>\n<p>Di Pulau Jawa, banyak budi daya kopi yang berhasil baik dengan memanfaatkan pinus sebagai tanaman penaung dalam bentuk agroforestri.<\/p>\n<p>Lahan berpinus banyak dijumpai di Aceh Tengah, tapi tidak banyak warga yang memanfaatkannya untuk menanam kopi.<\/p>\n<p>Dengan perhutanan sosial sebagai alas hukum, masyarakat Aceh Tengah bersama pemerintah dapat mengembangkan sentra produksi kopi gayo melalui skema integrated area development (IAD).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245536833\/menhut-sebut-pola-tumpang-sari-di-hutan-untuk-ketahanan-pangan-kepala-staf-kepresidenan-ingatkan-amdal\">Baca: Mungkinkah pola tumpang sari diterapkan di hutan untuk ketahanan pangan<\/a><\/p>\n<p>Sentra ini&mdash;dapat dibentuk dengan produksi kopi dari kebun agroforestri di dalam maupun di luar kawasan hutan&mdash;dapat meningkatkan produktivitas hingga nilai jual kopi gayo.<\/p>\n<p>Solusi kedua adalah terkait dengan peningkatan kapasitas petani kopi arabika gayo, berikut akses mereka terhadap benih dan pupuk berkualitas. Peran pemerintah dalam melaksanakan solusi ini sangatlah sentral.<\/p>\n<p>Pemerintah juga perlu menyediakan lebih banyak sekolah lapang iklim (SLI) dan merangsang petani di Aceh Tengah untuk menerapkan praktik pertanian yang baik.<\/p>\n<p>Harapannya, petani dapat mengetahui iklim yang berubah serta merancang solusi bersama untuk menjaga sumber penghidupan mereka.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Tim Penulis:<\/strong><br \/><strong>Hero Marhaento (Forest Resources Conservation Researcher, Universitas Gadjah Mada)<\/strong><br \/><strong>Eka Tarwaca Susila Putra (Lecturer and Researcher)<\/strong><br \/><strong>Stevie Nissauqodry (Dosen dan Peneliti, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Universitas Gadjah Mada)<\/strong><br \/><strong>Ardyanto Fitrady (Arfie) dan Totok Dwi Diantoro<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Kopi adalah komoditas yang tak lepas dari kehidupan masyarakat Aceh, terutama Aceh Tengah sebagai salah satu sentra produksi kopi arabika gayo. Namun, penelitian Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan UNDP dari Proyek FOLUR (Food Systems, Land Use, and Restoration,) sepanjang tahun 2023-2024 menemukan persoalan keberlanjutan perkebunan kopi di Aceh Tengah. Sekitar 56 persen [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11035,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[353,20],"class_list":["post-11034","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-aceh","tag-kopi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11034","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11034"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11034\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11035"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11034"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11034"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11034"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}