{"id":11056,"date":"2026-07-30T01:27:16","date_gmt":"2026-07-30T01:27:16","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11056"},"modified":"2026-07-30T01:27:16","modified_gmt":"2026-07-30T01:27:16","slug":"keracunan-alkohol-bisa-picu-kematian-indonesia-tercatat-negara-dengan-jumlah-kasus-terbanyak-sedunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11056","title":{"rendered":"Keracunan Alkohol Bisa Picu Kematian: Indonesia Tercatat Negara dengan Jumlah Kasus Terbanyak Sedunia"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Jelang akhir November 2024, dunia dihebohkan dengan kasus keracunan&nbsp;minuman mengandung&nbsp;alkohol di Laos yang menewaskan enam wisatawan remaja asal Australia, Denmark, Inggris, dan Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Mereka terindikasi keracunan minuman&nbsp;mengandung&nbsp;alkohol dengan kandungan metanol (spiritus).<\/p>\n<p>Dua bulan sebelum kejadian tersebut, tiga remaja asal Garut, Jawa Barat, meninggal dunia akibat menenggak minuman keras (miras) oplosan dengan kandungan alkohol 70 persen yang mengandung isopropanol.<\/p>\n<p>Fenomena keracunan alkohol bukan hal baru dan insidennya terus berulang saban tahun.<\/p>\n<p>Menurut laporan organisasi kesehatan internasional, M&eacute;decins Sans Fronti&egrave;res (MSF), hingga pekan awal Januari 2024 terdapat sekitar 994 kasus keracunan alkohol di dunia.<\/p>\n<p>Insiden keracunan&nbsp;alkohol&nbsp;ini mengakibatkan lebih dari 40 ribu kasus keracunan dan menewaskan 13 ribu orang di antaranya.<\/p>\n<p>Hal yang mengejutkan adalah Indonesia menjadi negara dengan insiden keracunan alkohol terbanyak di dunia, yaitu 339 kasus.<\/p>\n<p>Dalam kasus miras oplosan, keracunan alkohol umumnya disebabkan teknik penyulingan yang tidak sesuai standar.<\/p>\n<p>Selain itu, produsen miras oplosan secara sengaja menambahkan metanol ataupun isopropanol demi meningkatkan efek memabukkan yang ekonomis. Pasalnya, harga metanol dan isopropanol jauh lebih murah dibandingkan alkohol murni.<\/p>\n<p>Namun, hal yang tidak banyak orang tahu, efek samping keracunan alkohol justru lebih mengerikan dibandingkan sensasi sesaat yang dihasilkannya. Keracunan alkohol dapat menyebabkan kebutaan hingga kematian.<\/p>\n<p><strong>Bagaimana keracunan alkohol terjadi?<\/strong><br \/>Keracunan alkohol atau dikenal sebagai asidosis metabolik terjadi karena metabolisme (proses biokimia tubuh) mengubah alkohol beracun menjadi zat perusak keseimbangan asam basa sehingga dapat membahayakan kesehatan.<\/p>\n<p>Setidaknya, ada tiga jenis alkohol berbahaya yang digunakan dalam bahan pangan dan obat-obatan dan dapat menyebabkan keracunan alkohol, antara lain:<\/p>\n<p><strong>1. Metanol<\/strong><br \/>Metanol merupakan bahan kimia yang digunakan dalam plastik, bahan bangunan, dan cat. Dalam tubuh, alkohol dengan campuran metanol diubah menjadi formaldehida (formalin).<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Tubuh kemudian mengubah formalin secara langsung menjadi asam format. Zat ini dapat merusak penglihatan hingga menyebabkan kebutaan.<\/p>\n<p><strong>2. Etilen glikol &amp; dietilen glikol<\/strong><br \/>Jenis alkohol beracun berikutnya adalah etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Pada 2023, kandungan EG\/DEG dalam sirup obat batuk mengakibatkan kematian 195 anak balita di Indonesia.<\/p>\n<p>Hal ini diduga terjadi akibat kesalahan penggunaan bahan baku obat. Drum berlabel propilen glikol (yang diperbolehkan digunakan dalam pembuatan obat) ternyata berisi EG.<\/p>\n<p>Ketika EG dicampur dalam obat, kadarnya menjadi jauh lebih tinggi, yaitu lebih dari 30 persen. Ini jauh melebihi ambang batas cemaran EG dalam produk yang tidak boleh melampaui 0,1 persen.<\/p>\n<p>EG dan DEG biasanya digunakan dalam industri produk antibeku dan minyak rem. Harganya jauh lebih murah dibandingkan bahan baku obat, seperti gliserol dan propilen glikol.<\/p>\n<p>Bahayanya, rasa manis yang dimiliki EG disalahgunakan sejumlah oknum sebagai bahan pelarut sekaligus pemanis obat sirup untuk anak.<\/p>\n<p>EG yang diproses tubuh menghasilkan asam glikolat. Sedangkan DEG menghasilkan 2-hydroxyethoxyacetic acid. Kedua alkohol beracun ini dapat menyebabkan kerusakan sel nefron (bagian ginjal yang menyaring darah dan menghasilkan urine) sehingga memicu gagal ginjal akut.<\/p>\n<p><strong>3. Isopropanol<\/strong><br \/>Isopropanol paling sering ditemukan dalam kandungan alkohol gosok 70% yang biasa digunakan untuk membersihkan noda membandel. Dalam tubuh, isopropanol dimetabolisme menjadi aseton yang bisa merusak organ tubuh.<\/p>\n<p>Lantas, adakah cara agar keracunan alkohol&nbsp;ataupun&nbsp;miras oplosan ini tidak&nbsp;kembali terulang? Ikuti jawabannya dalam tulisan selanjutnya.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Benediktus Yohan Arman (Peneliti di Klaster Health Sciences, Doctrine UK dan Mahasiswa Doktoral (DPhil) di bidang Biochemistry, University of Oxford)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Jelang akhir November 2024, dunia dihebohkan dengan kasus keracunan&nbsp;minuman mengandung&nbsp;alkohol di Laos yang menewaskan enam wisatawan remaja asal Australia, Denmark, Inggris, dan Amerika Serikat. Mereka terindikasi keracunan minuman&nbsp;mengandung&nbsp;alkohol dengan kandungan metanol (spiritus). Dua bulan sebelum kejadian tersebut, tiga remaja asal Garut, Jawa Barat, meninggal dunia akibat menenggak minuman keras (miras) oplosan dengan kandungan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11057,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3256,675],"class_list":["post-11056","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-alkohol","tag-keracunan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11056","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11056"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11056\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11057"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11056"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11056"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11056"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}