{"id":11130,"date":"2026-07-30T01:27:31","date_gmt":"2026-07-30T01:27:31","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11130"},"modified":"2026-07-30T01:27:31","modified_gmt":"2026-07-30T01:27:31","slug":"pejabat-tunjukkan-perilaku-tak-sesuai-etika-mungkinkah-menerapkan-cancel-culture","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11130","title":{"rendered":"Pejabat Tunjukkan Perilaku Tak Sesuai Etika, Mungkinkah Menerapkan Cancel Culture?"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>Foto:freepik<\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Beberapa waktu belakangan kita disuguhi perilaku tak pantas dari para pejabat pemerintah yang melukai akal sehat rakyat.<\/p>\n<p>Simak apa yang dilakukan utusan khusus presiden bidang kerukunan beragama dan pembinaan sarana keagamaan, Miftah Maulana yang menghina penjual es teh.<\/p>\n<p>Juru Bicara (jubir) Kantor Komunikasi Kepresidenan, Adita Irawati yang menggunakan diksi rakyat jelata yang dinilai tidak inklusif.<\/p>\n<p>Dan, terakhir perilaku arogan Patwal mobil Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad yang secara arogan memotong jalurvdi tengah kemacetan lalu lintas.<\/p>\n<p>Meski menuai kritik tajam, perilaku tak pantas ini tetap saja terulang seolah mereka berhak mendapatkan perlakuan istimewa karena jabatan mereka.<\/p>\n<p>Dalam kondisi ini, penulis tiba-tiba teringat dengan <em>cancel culture<\/em> yang di banyak negara lain sukses menghukum mereka yang dianggap melanggar etika moral bermasyarakat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/245470734\/selain-tidak-pantas-penggunaan-istilah-rakyat-jelata-juga-tidak-inklusif\">Baca: Penggunaan istilah rakyat jelata oleh jubir Istana dinilai tidak pantas<\/a><\/p>\n<p><em>Cancel culture<\/em> merupakan budaya memboikot secara massal terhadap seseorang yang dianggap bermasalah baik dalam perkataanmengatakan atau melakukan sesuatu yang dianggap tidak pantas atau menyinggung.<\/p>\n<p>Praktik pemboikotan massal ini biasanya juga diikuti dengan pemberhentian dukungan kepada orang tersebut.<\/p>\n<p>Fenomena <em>cancel culture<\/em> sebenarnya sudah lama&nbsp;ada, tetapi makin populer dengan berkembangnya media sosial.<\/p>\n<p>Semua orang bisa saja mengalami <em>cancel culture<\/em>, tetapi fenomena ini biasanya paling banyak dialami oleh tokoh-tokoh masyarakat, seperti politisi, aparatur negara, pemuka agama, dan selebritas.<\/p>\n<p>Hingga kini, banyak fenomena cancel culture yang berhasil memerangi hal-hal negatif, seperti seksisme dan rasisme, karena fenomena ini menuntut adanya perubahan sosial.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Selain itu, cancel culture juga memungkinkan seseorang terutama publik figur untuk berpikir lebih jauh mengenai dampak dari setiap perkataan dan tindakannya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/245395156\/gus-miftah-maulana-akhirnya-mundur-dari-posisinya-sebagai-utusan-khusus-presiden\">Baca: Tuai hujatan Miftah Maulana akhirnya mundur sebagai utusan khusus presiden<\/a><\/p>\n<p>Secara umum, ada tiga proses psikologis yang terjadi dalam diri seseorang, sebelum ia melakukan cancel culture pada orang lain.&nbsp;Pertama,&nbsp;dia&nbsp;menyadari bahwa terdapat hal-hal negatif pada sosok yang disasar<\/p>\n<p>Kedua, dia merasakan berbagai emosi negatif, seperti kesal, sedih, dan marah yang kuat. Dan, terakhir merasa harus menghukum seorang tokoh akibat hal negatif yang dikatakan atau dilakukannya<\/p>\n<p><strong>Dampak Cancel Culture bagi Kesehatan Mental<\/strong><br \/>Kendati memang memiliki beberapa manfaat, fenomena c<em>ancel culture<\/em> juga bisa membawa dampak yang kurang baik bagi kesehatan mental korban, pelaku, dan pengamat atau orang yang hanya melihat fenomena <em>cancel culture<\/em>.<\/p>\n<p>Di bawah ini adalah penjelasan lengkapnya sebagaimana dikutip dari alodokter.com:<\/p>\n<p>1. Dampak bagi korban cancel culture<br \/>Fenomena <em>cancel culture<\/em> seharusnya bisa menjadi sarana untuk membuat korban memahami kesalahannya, memperbaiki kesalahan tersebut, dan mengambil langkah yang tepat agar ia tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.<\/p>\n<p>Namun, bukannya membuat sang korban menjadi paham akan kesalahannya, fenomena cancel culture, terlebih yang kerap terjadi akhir-akhir ini, tak jarang malah berubah menjadi perilaku intimidasi atau bullying kepada korbannya.<\/p>\n<p>Hal ini tentu bisa membuat korban merasa terkucilkan, terisolasi, bahkan kesepian. Tak menutup kemungkinan, korban pun akan lebih berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, bahkan bunuh diri.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/pendidikan\/243326018\/pakar-sudah-saatnya-pendidikan-moral-dan-etika-mendapat-perhatian-serius\">Baca: Pendidikan moral dan etika butuh perhatian serius<\/a><\/p>\n<p><strong>2. Dampak bagi pelaku cancel culture<\/strong><br \/>Perlu kamu ketahui, fenomena cancel culture juga tidak selalu berhasil membuat korbannya sadar akan kesalahannya, apalagi jika pelaku cancel culture dan korbannya tidak memiliki hubungan yang dekat.<\/p>\n<p>Terkadang, praktik cancel culture seperti itu justu hanya akan membuat Si Korban merasa lebih tertantang untuk mempertahankan ego dan reputasinya.<\/p>\n<p>Bila demikian, hal tersebut justru dapat menyebabkan pelaku cancel culture semakin merasakan berbagai emosi negatif, seperti kesal, marah, bahkan frustasi.<\/p>\n<p>Selain itu, fenomena cancel culture disebut juga bisa menurunkan tingkat empati pelakunya. Pasalnya, saat melakukan praktik cancel culture, pelaku akan cenderung menolak untuk mendengarkan atau memahami posisi korban cancel culture.<\/p>\n<p><strong>3. Dampak bagi pengamat cancel culture<\/strong><br \/>Fenomena cancel culture tidak hanya akan membawa dampak bagi kesehatan mental pelaku dan korbannya saja, tapi juga bagi pengamat atau orang yang sekadar menyaksikan fenomena tersebut.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Terlalu sering melihat praktik cancel culture bisa menyebabkan seseorang diliputi ketakutan dan kekhawatiran bahwa dirinya bisa saja ditinggalkan oleh orang lain.<\/p>\n<p>Selain itu, pihak yang mengamati fenomena cancel culture juga bisa mengalami rasa cemas bahwa orang lain akan menemukan suatu hal pada dirinya yang bisa digunakan untuk melawannya di kemudian hari.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Foto:freepik 7cloud.asia &#8211; Beberapa waktu belakangan kita disuguhi perilaku tak pantas dari para pejabat pemerintah yang melukai akal sehat rakyat. Simak apa yang dilakukan utusan khusus presiden bidang kerukunan beragama dan pembinaan sarana keagamaan, Miftah Maulana yang menghina penjual es teh. Juru Bicara (jubir) Kantor Komunikasi Kepresidenan, Adita Irawati yang menggunakan diksi rakyat jelata yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11131,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3276,292],"class_list":["post-11130","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-cancel-culture","tag-pejabat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11130","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11130"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11130\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11131"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11130"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11130"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11130"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}