{"id":11150,"date":"2026-07-30T01:27:36","date_gmt":"2026-07-30T01:27:36","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11150"},"modified":"2026-07-30T01:27:36","modified_gmt":"2026-07-30T01:27:36","slug":"greenpeace-indonesia-pembukaan-20-juta-hektare-hutan-akan-perparah-krisis-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11150","title":{"rendered":"Greenpeace Indonesia: Pembukaan 20 Juta Hektare Hutan Akan Perparah Krisis Iklim"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Rencana pemerintahan Prabowo Subianto menyulap 20 juta hektare hutan menjadi lahan untuk pangan, energi, dan air&nbsp;merupakan alarm bahaya bagi komitmen iklim dan&nbsp;keanekaragaman&nbsp;hayati&nbsp;Indonesia.<\/p>\n<p>Alih fungsi hutan bakal kian merusak lingkungan hidup, mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati, dan merugikan masyarakat&ndash;khususnya masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini menjaga dan hidup bergantung dari alam.<\/p>\n<p>&ldquo;Gagasan kedaulatan pangan dan energi seperti yang diinginkan Prabowo tak akan tercapai dan menjadi omon-omon saja jika dilakukan dengan alih fungsi lahan yang justru akan memperparah krisis iklim,&rdquo; kata Iqbal Damanik, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia dikutip dari laman resmi Greenpeace Indonesia.<\/p>\n<p>Iqbal mengingatkan, krisis iklim akan memicu krisis multidimensi yang dampaknya terhadap&nbsp;lingkungan&nbsp;akan sangat besar.<\/p>\n<p>Pembukaan 20 juta hektare hutan, ujarnya, jelas akan meningkatkan emisi karbon, termasuk juga memicu kebakaran dan kabut asap jika alih fungsi lahan ini dilakukan di lahan gambut.<\/p>\n<p>&ldquo;Ujungnya adalah kegagalan pemerintah memenuhi komitmen untuk mengatasi krisis iklim dan menjaga keanekaragaman hayati,&ldquo; tandasnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245491505\/walhi-rencana-pemerintah-membuka-20-juta-hektare-lahan-bisa-memicu-kiamat-ekologis\">Baca: Walhi sebut rencana pembukaan 20 juta hektare hutan akan memicu kiamat ekologis<\/a><\/p>\n<p>Rencana pembukaan 20 juta hektare lahan disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni usai rapat terbatas di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.<\/p>\n<p>&#8220;Kami sudah mengidentifikasi 20 juta hektare hutan yang bisa dimanfaatkan untuk cadangan pangan, energi, dan air,&#8221; katanya, Senin (30\/12\/2024), seperti dikutip dari Antara.<\/p>\n<p>Greenpeace mengingatkan, sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi Internasional Keanekaragaman Hayati, Indonesia berjanji menghentikan kepunahan yang disebabkan manusia pada 2030, mengurangi risiko kepunahan, dan mempertahankan keanekaragaman genetik.<\/p>\n<p>Selain itu, dalam Nationally Determined Contribution (NDC) di bawah Perjanjian Iklim Paris, Indonesia menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca 31,89 persen pada 2030 dengan kemampuan sendiri, dan 43,2 persen dengan bantuan internasional.<\/p>\n<p>Komitmen NDC Indonesia juga bertumpu dari sektor forest and land use (FoLU), salah satunya dengan pengurangan deforestasi.<\/p>\n<p>Namun, laporan tim ilmuwan Global Carbon Project dalam jurnal Earth System Science Data yang rilis pada akhir 2023 menyebut, emisi global karbon dioksida global pada 2023 terus mengalami kenaikan bahkan menduduki tingkat tertinggi dalam sejarah.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245485214\/tanggapi-rencana-pemerintah-buka-20-juta-hektare-lahan-untuk-ketahanan-pangan-madani-berkelanjutan-ingatkan-ancamannya-pada-lingkungan\">Baca: Madani Berkelanjutan ingatkan dampak pembukaan 20 juta hektare hutan<\/a><\/p>\n<p>Indonesia juga menempati posisi kedua sebagai negara penghasil emisi terbesar di dunia dari sektor lahan.<\/p>\n<p>Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization\/WMO) baru-baru ini juga memperingatkan kawasan Asia termasuk Indonesia akan ancaman bahaya akibat krisis iklim yang makin parah, termasuk kondisi ekstrem seperti kekeringan, gelombang panas, banjir, dan badai.<\/p>\n<p>&ldquo;Masalah lainnya, Menteri Kehutanan juga tak transparan membeberkan di mana saja 20 juta hektare lahan yang dia sebut sudah diidentifikasi untuk pangan, energi, dan air tersebut,&rdquo; ujar Sekar Banjaran Aji, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.<\/p>\n<p>Berdasarkan analisis Greenpeace Indonesia, kebutuhan lahan seluas itu jelas berpotensi memicu deforestasi di hutan alam Indonesia.<\/p>\n<p>Pemerintah seharusnya menyetop deforestasi secara total karena kita tak punya pilihan lagi kalau memang ingin selamat dari bencana iklim<\/p>\n<p>Ironisnya, pemerintah sulit diharapkan. Pemerintahan yang lalu di bawah Presiden Joko Widodo bahkan mengalokasikan kuota deforestasi 2021-2030 sebesar 10,43 juta hektare&ndash;seperti tertuang dalam dokumen Rencana Operasional Folu Net Sink 2030.<\/p>\n<p>Deforestasi besar-besaran ini, setara dengan hampir seperempat luas Pulau Sumatera, bisa melepas 10,1 juta gigaton CO2.<\/p>\n<p>Watak pemerintahan Prabowo pun sama. Pernyataan Prabowo baru-baru ini bahwa Indonesia perlu memperluas lahan sawit dan tak perlu khawatir deforestasi sangatlah membahayakan nasib hutan Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Rencana pemerintahan Prabowo Subianto menyulap 20 juta hektare hutan menjadi lahan untuk pangan, energi, dan air&nbsp;merupakan alarm bahaya bagi komitmen iklim dan&nbsp;keanekaragaman&nbsp;hayati&nbsp;Indonesia. Alih fungsi hutan bakal kian merusak lingkungan hidup, mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati, dan merugikan masyarakat&ndash;khususnya masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini menjaga dan hidup bergantung dari alam. &ldquo;Gagasan kedaulatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11151,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[7,95,167],"class_list":["post-11150","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-greenpeace","tag-hutan","tag-krisis-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11150","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11150"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11150\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11151"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11150"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11150"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11150"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}