{"id":1121,"date":"2026-07-30T00:25:28","date_gmt":"2026-07-30T00:25:28","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1121"},"modified":"2026-07-30T00:25:28","modified_gmt":"2026-07-30T00:25:28","slug":"karena-mengejar-viral-banyak-tempat-wisata-potensial-layu-sebelum-berkembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1121","title":{"rendered":"Karena Mengejar Viral, Banyak Tempat Wisata Potensial Layu Sebelum Berkembang"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong>&nbsp;&#8211;&nbsp;Beberapa tahun terakhir pascapandemi Covid-19, banyak tempat wisata baru yang mendadak ramai karena viral di media sosial. Dalam hitungan hari, sebuah lokasi yang sebelumnya relatif sepi atau bahkan baru dikembangkan langsung dipadati pelancong yang FOMO atau khawatir ketinggalan tren.<\/p>\n<p>Di berbagai destinasi pariwisata unggulan nasional, seperti Bali, lonjakan wisatawan kerap terjadi dan terus meluas karena viralitas. Setelah Canggu dan Ubud, keviralan beralih ke kawasan <a href=\"https:\/\/crosscelesta.com\/the-viral-effect-how-tiktok-is-quietly-reshaping-nusa-penidas-real-estate-landscape\/\">Nusa Penida<\/a>.<\/p>\n<p>Fenomena ini sekilas tampak menguntungkan karena meningkatkan eksposur, jumlah wisatawan, dan mempercepat lajunya roda ekonomi lokal. Tak salah jika pelaku industri pariwisata menganggap <a href=\"https:\/\/accurate.id\/digital-marketing\/apa-itu-viralitas\/\">viralitas<\/a> sebagai indikator keberhasilan utama pengembangan kawasannya.<\/p>\n<figure>  <!--iframe1--> <br \/><figcaption><span class=\"caption\">Svargabumi Magelang jadi salah satu contoh situs destinasi pariwisata yang sempat viral. Tapi kini antusiasme warga terhadap lokasi ini amat rendah.<\/span><\/figcaption><\/figure>\n<p>Sayangnya, begitu masa viralnya lewat, tempat wisata tersebut bak tak pernah muncul sejak awal. Jadi apakah pendekatan berbasis viralitas ini benar-benar ideal dan berkelanjutan bagi pariwisata Indonesia?&nbsp;<\/p>\n<h2>Ketika algoritma menjadi acuan keberhasilan<\/h2>\n<p>Dalam perspektif pemasaran, viralitas memang efektif untuk meningkatkan kesadaran merek <a href=\"https:\/\/business.adobe.com\/au\/blog\/basics\/marketing-analytics?utm_source=chatgpt.com\">(<em>brand awareness<\/em>)<\/a>. Strategi pemasaran digital saat ini cenderung berfokus pada satu metrik utama, yakni jangkauan (<em>reach<\/em>).&nbsp;<\/p>\n<p>Semakin banyak orang melihat dan membagikan konten, pemasaran suatu produk semakin dianggap berhasil. Peran <a href=\"https:\/\/www.taylorfrancis.com\/chapters\/edit\/10.4324\/9781315565736-13\/influencer-marketing-travel-tourism-ulrike-gretzel\"><em>influencer<\/em><\/a> dalam ekosistem ini juga tidak bisa diabaikan. Promosi destinasi melalui figur dengan jutaan pengikut mampu mempercepat arus kunjungan dalam waktu singkat.&nbsp;<\/p>\n<p>Visual yang indah, pengalaman unik, dan lokasi yang &ldquo;<em>instagrammable<\/em>&rdquo; menjadi bahan bakar utama. Akibatnya, destinasi wisata direduksi menjadi sekadar objek visual yang siap dikonsumsi, bukan ruang hidup yang memiliki batas ekologis dan sosial.<\/p>\n<p>Namun, pendekatan ini sering mengabaikan satu faktor krusial, yakni daya dukung destinasi. Sayangnya, peningkatan ini tidak selalu diikuti dengan kesiapan infrastruktur dan pengelolaan destinasi yang memadai.<\/p>\n<p>Ketika kualitas pengalaman melancong menurun akibat keramaian berlebih, citra destinasi juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan daya saing dan keberlanjutan industri pariwisata.<\/p>\n<h2>Rentetan risiko yang muncul setelah viral<\/h2>\n<p>Yang perlu dipahami adalah algoritma media sosial tidak dirancang untuk mempertimbangkan keberlanjutan. Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan (<em>engagement<\/em>), sehingga konten yang paling menarik perhatian akan diperkuat dan disebarkan lebih luas.<\/p>\n<p>Dalam konteks pariwisata, <em>awareness<\/em> tanpa kontrol justru dapat menjadi bumerang. Destinasi yang belum siap secara infrastruktur, tata kelola, maupun regulasi akan kesulitan mengelola lonjakan pengunjung yang datang secara tiba-tiba dan masif.<\/p>\n<p>Siapa yang mau kembali, ketika mendatangi sebuah situs pariwisata baru, tetapi mengalami susah parkir, makanan mahal, dan berdesak-desakan tak karuan?<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Ketika promosi tidak disertai informasi mengenai kapasitas destinasi, aturan lokal, atau etika berwisata, dampaknya tak hanya terhadap lingkungan tapi juga masyarakat dan penghidupan mereka.<\/p>\n<p>Kelebihan jumlah wisatawan <a href=\"https:\/\/www.weforum.org\/stories\/2018\/07\/overtourism-a-growing-global-problem\/\">(<em>overtourism<\/em>)<\/a> secara tiba-tiba kerap mendorong kenaikan harga barang dan jasa, yang pada akhirnya membebani masyarakat lokal. Lalu lintas kawasan jadi macet, penuh polusi, dan pembangunan yang cepat.&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam beberapa kasus, warga setempat justru tersisih dari ruang hidupnya akibat komersialisasi yang berlebihan.<\/p>\n<p>Di kawasan seperti Canggu dan Seminyak, misalnya, peningkatan jumlah wisatawan mancanegara mendorong kenaikan harga sewa properti, tanah, hingga makanan.<\/p>\n<p>Situasi serupa juga terlihat di <a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/adrianopangaribuan8357\/67f3a52334777c494e486763\/labuan-bajo-kritis-antara-kemegahan-dan-ancaman-pariwisata\">Labuan Bajo<\/a>. Pengembangan pariwisata yang berorientasi pada konsep super premium cenderung lebih banyak melibatkan investor berskala besar yang tak terjangkau oleh wisatawan berkantong tipis.<\/p>\n<p>Tekanan terhadap lingkungan juga semakin terlihat di sejumlah destinasi utama. Di Kuta dan beberapa pantai populer lainnya di Bali, peningkatan jumlah wisatawan berkontribusi pada lonjakan <a href=\"https:\/\/tarubali.baliprov.go.id\/krisis-pengelolaan-sampah-di-bali-menjelang-penutupan-tpa-suwung-23-desember-2025-analisis-regulasi-risiko-praktik-internasional-dan-refleksi-kolektif-menuju-sistem-ekonomi-sirkular\/\">volume sampah<\/a> yang kerap melampaui kapasitas pengelolaan setempat.<\/p>\n<p>Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan wisatawan, tetapi juga berdampak pada kualitas lingkungan pesisir.<\/p>\n<p>Sementara itu, di Labuan Bajo, aktivitas pariwisata yang semakin intensif turut memberi tekanan pada <a href=\"https:\/\/mongabay.co.id\/2025\/12\/22\/kala-pariwisata-ancam-ekosistem-terumbu-karang-di-labuan-bajo\/\">ekosistem laut<\/a>.<\/p>\n<p>Pun lalu lintas kapal wisata yang sibuk berlebih berisiko merusak terumbu karang dan mengganggu keseimbangan biodiversitas laut.&nbsp;<\/p>\n<h2>Sebelum semua terlambat<\/h2>\n<p>Meski tidak bisa dibenarkan sepenuhnya, kondisi yang terjadi di Canggu dan Seminyak masih sedikit lebih baik. Sebab, kawasan ini tetap hidup meskipun menjelma jadi <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/nomad-digital-bikin-ekonomi-canggu-melesat-tapi-bagaimana-dengan-warga-lokal-275322\">wilayah &ldquo;jajahan&rdquo; turis internasional<\/a> dan meminggirkan masyarakat lokal, .<\/p>\n<figure>  <!--iframe2--> <\/figure>\n<p>Persoalannya adalah tunas situs-situs pariwisata di wilayah nonpopuler tapi potensial. Tak sedikit dari mereka yang mati sebelum berkembang karena pengelola tak siap menghadapi lonjakan instan akibat sempat viral di media sosial.<\/p>\n<p>Karena itu, konsep <a href=\"https:\/\/etc-corporate.org\/uploads\/2021\/02\/Tool-14-Knowledge-Booster-2-Marketing-Sustainability.pdf\">pemasaran berbasis keberlanjutan<\/a> menjadi semakin relevan dalam konteks ini. Fokusnya tidak lagi semata-mata pada seberapa luas jangkauan promosi, tetapi juga pada seberapa sesuai jumlah wisatawan dengan kapasitas destinasi.<\/p>\n<p>Dalam pendekatan ini, promosi pariwisata tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga mendukung keberlanjutan destinasi dan kesejahteraan masyarakat lokal. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah kurasi promosi destinasi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/2071-1050\/13\/19\/10592\">Tidak semua lokasi perlu dipromosikan<\/a> secara masif. Dilema antara algoritma dan keaslian alam bukanlah tentang memilih salah satu, melainkan tentang menemukan keseimbangan.&nbsp;<\/p>\n<p>Media sosial dan teknologi digital tetap berperan penting dalam mempromosikan pariwisata. Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, kekuatan tersebut dapat berubah menjadi ancaman bagi keberlanjutan destinasi.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang datang, tetapi juga oleh seberapa baik sebuah destinasi mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan masyarakat lokal.<\/p>\n<p>Tanpa perubahan sudut pandang dan sikap, viralitas hanya akan menjadi kemenangan jangka pendek yang berujung pada kerugian jangka panjang dan permanen.<!-- Di bawah ini adalah tag penghitung halaman The Conversation. Tolong JANGAN HAPUS. --> <!--img2--> <!-- Akhir kode. Jika Anda tidak melihat kode apa pun di atas, silakan dapatkan kode baru dari tab Lanjutan setelah Anda mengklik tombol publikasikan ulang. Penghitung halaman tidak mengumpulkan data pribadi apa pun. Info lebih lanjut: https:\/\/theconversation.com\/republishing-guidelines --><\/p>\n<hr \/>\n<p><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/profiles\/eunike-martha-gegung-2658484\">Eunike Martha Gegung<\/a>, Dosen Administrasi Bisnis, <em><a href=\"https:\/\/theconversation.com\/institutions\/universitas-nusa-cendana-4664\">Universitas Nusa Cendana<\/a><\/em><\/p>\n<p>Artikel ini terbit pertama kali di <a href=\"https:\/\/theconversation.com\">The Conversation<\/a>. Baca <a href=\"https:\/\/theconversation.com\/akibat-kebelet-viral-tempat-wisata-potensial-kerap-layu-sebelum-berkembang-283129\">artikel sumber<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; 7cloud.asia&nbsp;&#8211;&nbsp;Beberapa tahun terakhir pascapandemi Covid-19, banyak tempat wisata baru yang mendadak ramai karena viral di media sosial. Dalam hitungan hari, sebuah lokasi yang sebelumnya relatif sepi atau bahkan baru dikembangkan langsung dipadati pelancong yang FOMO atau khawatir ketinggalan tren. Di berbagai destinasi pariwisata unggulan nasional, seperti Bali, lonjakan wisatawan kerap terjadi dan terus meluas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":1122,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[513,283],"class_list":["post-1121","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-wisata","tag-wisatawan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1121","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1121"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1121\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1122"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1121"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1121"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1121"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}