{"id":11396,"date":"2026-07-30T01:31:02","date_gmt":"2026-07-30T01:31:02","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11396"},"modified":"2026-07-30T01:31:02","modified_gmt":"2026-07-30T01:31:02","slug":"mengapa-pengelolaan-lahan-gambut-jadi-isu-lingkungan-strategis-di-tingkat-nasional-dan-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11396","title":{"rendered":"Mengapa Pengelolaan Lahan Gambut Jadi Isu Lingkungan Strategis di Tingkat Nasional dan Global"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN, I Wayan Susi Dharmawan, menegaskan perlunya restorasi intensif untuk mengatasi lahan gambut yang berada dalam kondisi kritis.<\/p>\n<p>Hal ini dia ungkapkan dalam webinar bertema &ldquo;Pengelolaan Vegetasi Adaptif Lahan Gambut untuk Memulihkan Hutan Rawa Gambut Terdegradasi.&rdquo; diinisiasi oleh Kelompok Riset (Kelris) Pengelolaan Gambut dari PREE BRIN, pada 19 Desember 2024.<\/p>\n<p>Webinar ini mendiskusikan pendekatan berbasis vegetasi adaptif, yang dinilai sesuai dengan karakteristik lahan gambut, seperti ketebalan gambut, karakter kimia, dan tinggi muka air.<\/p>\n<p>&ldquo;Pendekatan yang tepat dalam restorasi hutan rawa gambut tidak hanya memulihkan fungsi ekosistem, tetapi juga dapat menghasilkan tegakan tanaman produktif, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem yang mendukung kehidupan dan kesejahteraan masyarakat sekitar,&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan hutan gambut terdegradasi sekaligus menjaga fungsinya sebagai penyangga kehidupan.<\/p>\n<p>Kepala Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN, Asep Hidayat, mengemukakan pentingnya pengelolaan vegetasi adaptif dalam upaya restorasi hutan rawa gambut yang terdegradasi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245467204\/beragam-upaya-untuk-memulihkan-hutan-rawa-gambut-yang-terdegradasi\">Baca: Upaya untuk memulihkan hutan rawa gambut yang terdegradasi<\/a><\/p>\n<p>Ia menyebutkan bahwa pengelolaan lahan gambut merupakan isu strategis yang relevan di tingkat nasional dan global.<\/p>\n<p>&ldquo;Ekosistem gambut tidak hanya menjadi penyimpan karbon terbesar, tetapi juga habitat penting bagi flora, fauna, dan mikroorganisme, serta penopang kehidupan masyarakat sekitar.<\/p>\n<p>Namun, aktivitas pemanfaatan sumber daya hutan yang berlebihan dan tidak berkelanjutan telah menyebabkan kerusakan signifikan pada hutan rawa gambut di Indonesia,&rdquo; jelasnya.<\/p>\n<p>Asep menekankan bahwa upaya pemulihan harus menjadi prioritas. BRIN memandang pengembangan pengelolaan vegetasi adaptif sebagai langkah penting untuk memperbaiki lahan gambut yang terdegradasi.<\/p>\n<p>Pendekatan ini sangat krusial untuk melindungi keseimbangan ekosistem, yang vital bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Ia juga mengungkapkan bahwa pada 2025, PREE BRIN akan meluncurkan pembangunan Kebun Raya Gambut dengan konsep CBSC (<em>Climate, Biodiversity, Social Economy Combined)<\/em>.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244610965\/restorasi-gambut-di-kalimantan-barat-untuk-menjaga-sumber-plasma-nutfah\">Baca: Restorasi hutan rawa gambut selamatkan kekayaan plasma nutfah<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Konsep ini mengintegrasikan empat pilar penting sebagai langkah pemulihan komprehensif untuk hutan rawa gambut yang terdegradasi. Di kebun raya ini, akan ada stasiun riset dengan sensor canggih yang memungkinkan pengumpulan data secara real-time dan dapat diakses oleh peneliti dari berbagai pihak,&rdquo; papar Asep.<\/p>\n<p>Inisiatif ini diharapkan menjadi platform kolaborasi antara peneliti dan berbagai lembaga untuk menemukan solusi terbaik dalam mengelola vegetasi adaptif.<\/p>\n<p>&ldquo;Melalui pendekatan ini, kami berkomitmen untuk terus memulihkan ekosistem hutan rawa gambut yang terdegradasi di Indonesia,&rdquo; tutup Asep.<\/p>\n<p>Sementara itu Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN, Hengki Siahaa, menyampaikan bahwa sebagian besar lahan gambut di Indonesia mengalami degradasi akibat pengelolaan yang tidak tepat, seperti drainase tanpa perencanaan, penebangan liar, dan konversi lahan masif.<\/p>\n<p>&ldquo;Akibatnya, gambut menjadi kering dan rentan terbakar. Kebakaran berulang menghambat regenerasi alami, memperlambat pertumbuhan vegetasi pohon, dan merusak benih di tanah, sehingga lahan didominasi rumput dan tanaman pakis,&ldquo; jelasnya.<\/p>\n<p>Hengki menyoroti pentingnya vegetasi adaptif dalam restorasi lahan gambut terdegradasi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243294874\/13-juta-hektare-lahan-gambut-rusak-ini-dia-penyebabnya\">Baca: 13 juta hektare lahan gambut dalam kondisi kritis<\/a><\/p>\n<p>Vegetasi adaptif dinilai mampu meningkatkan biodiversitas dengan menciptakan habitat bagi berbagai organisme dan mendiversifikasi penutup tanah melalui konsep agroforestry.<\/p>\n<p>Selain itu, vegetasi adaptif menunjukkan pertumbuhan lebih baik dibandingkan regenerasi alami, meningkatkan kualitas tanah dengan siklus hara yang lebih efisien, serta menyerap logam berat dan polutan.<\/p>\n<p>&ldquo;Tanaman adaptif juga berkontribusi menaikkan muka air tanah, mendukung proses rewetting melalui sekat kanal, dan memperbaiki mikroklimat dengan kanopi yang mengurangi radiasi matahari, menurunkan suhu, serta meningkatkan kelembaban tanah dan udara,&ldquo; ujar Hengki.<\/p>\n<p>Hengki memaparkan salah satu model vegetasi adaptif yakni melalui pendekatan paludikultur dan agroforestry.<\/p>\n<p>Paludikultur adalah teknik budidaya di lahan basah yang mempertahankan muka air tanah. <br \/>Sedangkan konsep agroforestry, lanjutnya, menggabungkan penanaman pohon dan tanaman pertanian untuk pemanfaatan ruang tumbuh yang efisien serta diversifikasi pendapatan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245208084\/indonesia-masuk-empat-besar-negara-dengan-lahan-gambut-terluas-di-dunia\">Baca: Indonesia termasuk negara dengan lahan gambut terluas<\/a><\/p>\n<p>Dari model-model yang&nbsp;telah&nbsp;disebutkan, diharapkan diperoleh data dan strategi yang mendukung pengelolaan gambut berkelanjutan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Hengki menambahkan, pengembangan paludikultur yang produktif juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan diversifikasi pendapatan melalui pemanfaatan ruang tumbuh yang optimal.<\/p>\n<p>Teknologi adaptif seperti sistem surjan, amelioran, dan polybag dapat diterapkan untuk mencegah genangan yang merugikan tanaman.<\/p>\n<p>Model vegetasi adaptif ini, menurut Hengki, merupakan pendekatan strategis untuk revegetasi lahan gambut terdegradasi, yang tidak hanya memperbaiki kualitas ekosistem,<\/p>\n<p>&ldquo;Tetapi juga mendukung keanekaragaman hayati, menjaga muka air tanah, memperbaiki iklim mikro, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,&rdquo; pungkas Hengki.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN, I Wayan Susi Dharmawan, menegaskan perlunya restorasi intensif untuk mengatasi lahan gambut yang berada dalam kondisi kritis. Hal ini dia ungkapkan dalam webinar bertema &ldquo;Pengelolaan Vegetasi Adaptif Lahan Gambut untuk Memulihkan Hutan Rawa Gambut Terdegradasi.&rdquo; diinisiasi oleh Kelompok Riset (Kelris) Pengelolaan Gambut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11397,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1641,17],"class_list":["post-11396","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-gambut","tag-lingkungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11396","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11396"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11396\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11397"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11396"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11396"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11396"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}