{"id":11543,"date":"2026-07-30T01:31:37","date_gmt":"2026-07-30T01:31:37","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11543"},"modified":"2026-07-30T01:31:37","modified_gmt":"2026-07-30T01:31:37","slug":"mengenal-warisan-budaya-takbenda-asal-indonesia-gamelan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11543","title":{"rendered":"Mengenal Warisan Budaya Takbenda Asal Indonesia: Gamelan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pada 15 Desember 2021, atau tepat&nbsp;tiga tahun lalu UNESCO memasukkan Gamelan ke dalam daftar Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO.<\/p>\n<p>Gamelan merupakan Warisan Budaya Takbenda Dunia dari Indonesia yang ke-12. Sebelumnya, Indonesia juga telah berhasil mencatatkan 11 Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO.<\/p>\n<p>Warisan budaya itu antara lain, Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Pendidikan dan Pelatihan Membatik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), Noken (2012), Tiga Genre Tari Bali (2015), Kapal Pinisi (2017), Tradisi Pencak Silat (2019), dan Pantun (2020).<\/p>\n<p>Melansir kemendikbud.id, gamelan adalah alat musik tradisional yang sering ditemui di berbagai daerah di Indonesia, seperti misalnya di Jawa, Bali, Madura, dan Lombok.<\/p>\n<p>Istilah gamelan Jawa mengacu secara umum kepada gamelan di Jawa Tengah. Nama gamelan berasal dari dua suku kata &#8220;gamel&#8221; dan &#8220;an&#8221;. Adapun Gamel dalam bahasa Jawa berarti memukul atau menabuh, sedangkan an dalam bahasa Jawa berarti kata benda.<\/p>\n<p>Jadi gamelan merupakan suatu aktivitas menabuh yang dilakukan oleh orang zaman dahulu yang kemudian menjadi nama alat musik ansambel.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/245399024\/perjuangan-di-balik-penetapan-kebaya-sebagai-warisan-budaya-takbenda-dunia\">Baca: Perjuangan di Balik Penetapan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia<\/a><\/p>\n<p>Gamelan diperkirakan sudah ada di Jawa sejak tahun 404 Masehi. Hal tersebut terlihat dari adanya penggambaran masa lalu di relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan.<\/p>\n<p>Gamelan tidak hanya dimainkan untuk pertunjukan seni, tetapi juga dalam berbagai kegiatan tradisional dan ritual keagamaan.<\/p>\n<p>UNESCO mencatat nilai filosofi Gamelan sebagai salah satu sarana ekspresi budaya dan membangun koneksi antara manusia dengan semesta.<\/p>\n<p>UNESCO juga mengakui bahwa Gamelan, yang dimainkan secara orkestra, mengajarkan nilai-nilai saling menghormati, mencintai, dan peduli satu sama lain.<\/p>\n<p>Gamelan telah lama dimanfaatkan sebagai aset diplomasi. Ia berkomitmen untuk terus mempromosikan Gamelan melalui berbagai aktivitas seperti pembelajaran Gamelan untuk masyarakat asing dan pertukaran budaya.<\/p>\n<p><strong>Apa itu gamelan.<\/strong><br \/>Melansir wikipedia.com, Gamelan Jawa adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Musik yang tercipta pada Gamelan Jawa berasal dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/243294957\/kabar-gembira-jamu-akan-segera-ditetapkan-sebagai-warisan-budaya-tak-benda-oleh-unesco\">Baca: Jamu Segera Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO<\/a><\/p>\n<p>Irama musik gamelan umumnya lembut dan mencerminkan keselarasan hidup, sebagaimana prinsip hidup yang dianut pada umumnya oleh masyarakat Jawa.<\/p>\n<p>Pada awalnya, gamelan hanya terdiri atas satu buah gong besar saja, kemudian lama-kelamaan ditambah dengan gong-gong yang ukurannya lebih besar dengan berbagai macam bentuk termasuk seperti apa yang bisa kita lihat sekarang ini.<\/p>\n<p>Menurut kepercayaan orang Jawa, gamelan diciptakan oleh dewa yang menguasai daratan Jawa yaitu Sang Hyang Guru yang mendiami Gunung Mahendra atau saat ini lebih terkenal dengan sebutan Gunung Lawu.<\/p>\n<p>Jadi pada zaman dahulu gamelan tersebut dibuat dan digunakan untuk berkomunikasi dan untuk memanggil dewa-dewa lainnya. Akan tetapi agar bisa menyampaikan pesan yang lebih khusus akhirnya dibuatlah dua macam gong yang menjadi cikal bakal gamelan secara umum seperti saat ini.<\/p>\n<p>Gamelan sendiri termasuk dalam jenis musik ansambel yang dimainkan secara bersama-sama dengan alat musik lain untuk menciptakan alunan suara yang merdu.<\/p>\n<p>Seperangkat gamelan Jawa umumnya terdiri kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, siter, dan slenthem.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/wisata\/243105240\/menghidupkan-relief-candi-borobudur-ke-dalam-seni-dan-budaya-masyarakat\">Baca: Upaya menghidupkan relief Candi Borobudur dalam keseharian<\/a><\/p>\n<p>Berikut penjelasan dan peran masing-masing alat musik dari perangkat gamelan<\/p>\n<p><strong>Kendhang<\/strong><br \/>Kendhang berfungsi untuk mengatur tempo dalam permainan gamelan dan perannya paling utama.<\/p>\n<p><strong>Bonang &amp; Bonang Panerus<\/strong><br \/>Bonang Barung adalah salah satu instrumen pemimpin, perannya lebih penting daripada Bonang Panerus. Bonang Panerus dimainkan dua kali lebih cepat dari Bonang Barung<\/p>\n<p><strong>Demung<\/strong><br \/>Sebagai balungan \/ kerangka dari suatu gendhing yang dimainkan. Merupakan instrument melodi dasar sehingga pemainnya harus punya insting kuat.<\/p>\n<p><strong>Saron<\/strong><br \/>Saron termasuk dalam keluarga balungan yang menghasilkan nada 1 oktaf lebih tinggi dari demung. Satu set gamelan memiliki empat buah saron.<\/p>\n<p>Teknik khusus: tangan kanan menabuh nada selanjutnya, tangan kiri menyentuh nada sebelumnya untuk menghapus sisa dengungan<\/p>\n<p><strong>Peking<\/strong><br \/>Lebih penting daripada engkuk meski engkuk dimainkan 2X lebih cepat daripada<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/peristiwa\/24569236\/mengenal-uniknya-tradisi-seba-masyarakat-badui-tahun-ini-singgung-hak-politik\">Baca: Mengenal uniknya Tradisi Seba masyarakat Badui<\/a><\/p>\n<p><strong>Kenong dan Kethuk<\/strong><br \/>Semacam Gong, tetapi ukurannya lebih kecil daripada gong dan lebih besar daripada bonang. Dimainkan dengan tongkat berlapis<\/p>\n<p><strong>Slenthem<\/strong><br \/>Semacam Demung, tetapi lebih tipis dan mempunyai satu oktaf dibawah Demung. Dimainkan dengan tongkat bundar berbalut kain<\/p>\n<p><strong>Gambang<\/strong><br \/>Terdiri atas 18 bilah kayu yang diletakkan pada sebuah resonator berbentuk perahu. Memiliki tangga nada yang mencakup nada mayor dan minor yang dimainkan dengan dua alat pemukul.<\/p>\n<p><strong>Rebab<\/strong><br \/>Termasuk alat musik gesek yang terbuat dari bahan kayu. Berfungsi mengiringi sinden dalam bernyanyi<\/p>\n<p><strong>Siter<\/strong><br \/>Umumnya siter berukuran 30 cm dengan jumlah senar 11\/13, yang Memiliki senar yang disetel untuk nada selendro dan pelog. Menghasilkan bunyi yang khas.<\/p>\n<p>Esti Utami, dari berbagai sumber<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pada 15 Desember 2021, atau tepat&nbsp;tiga tahun lalu UNESCO memasukkan Gamelan ke dalam daftar Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO. Gamelan merupakan Warisan Budaya Takbenda Dunia dari Indonesia yang ke-12. Sebelumnya, Indonesia juga telah berhasil mencatatkan 11 Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO. Warisan budaya itu antara lain, Wayang (2008), Keris [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11544,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3354,2990],"class_list":["post-11543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-gamelan","tag-warisan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11543"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11543\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11544"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}