{"id":11621,"date":"2026-07-30T01:31:59","date_gmt":"2026-07-30T01:31:59","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11621"},"modified":"2026-07-30T01:31:59","modified_gmt":"2026-07-30T01:31:59","slug":"kesehatan-tanah-global-terus-menurun-industri-pertanian-menjadi-salah-satu-penyebab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11621","title":{"rendered":"Kesehatan Tanah Global Terus Menurun, Industri Pertanian Menjadi Salah Satu Penyebab"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong>&nbsp;&#8211; Kesehatan tanah menjadi topik hangat Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) Konvensi PBB untuk Memerangi Penggurunan (<em>UN Convention to Combat Desertification\/UNCCD<\/em>) di Riyadh, Arab Saudi.<\/p>\n<p>Para perunding membahas komitmen yang telah dibuat oleh negara-negara untuk membendung hilangnya lahan akibat&nbsp;penggurunan&nbsp;dan upaya&nbsp;mencapai netralitas degradasi lahan pada tahun 2030.<\/p>\n<p>&ldquo;Degradasi tanah berdampak pada ketahanan pangan, sistem air, keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim,&rdquo; kata Bruno Pozzi, Wakil Direktur Divisi Ekosistem di Program Lingkungan PBB (UNEP).<\/p>\n<p>&ldquo;Dengan mengatasi akar penyebab degradasi tanah, kita dapat memulihkan kesehatan tanah dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi ratusan juta orang.&rdquo;<\/p>\n<p>Di laman resminya UNEP merilis lima alasan utama penurunan kesehatan tanah dan solusi potensial yang bisa dilakukan.<\/p>\n<p>Dalam tulisan sebelumnya telah diulas dua penyebab utama penurunan kesehatan tanah global, yakni kekeringan dan degradasi lahan akibat aktivitas manusia.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/242962861\/sos-sepertiga-tanah-di-planet-bumi-sudah-rusak\">Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak<\/a><\/p>\n<p>Dalam tulisan ini akan diulas tiga hal lain yang menyebabkan turunnya kesehatan tanah, seperti dilansir di unep.org&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Industri pertanian<\/strong><br \/>Meskipun pertanian industri menghasilkan pangan dalam jumlah besar, hal ini sangat membahayakan kesehatan tanah.<\/p>\n<p>Penggunaan alat berat, pengolahan tanah, penanaman tunggal, serta penggunaan pestisida dan pupuk secara berlebihan menurunkan kualitas tanah, mencemari sumber air dan berkontribusi terhadap hilangnya keanekaragaman hayati.<\/p>\n<p>UNEP menyebut industri pertanian juga menyumbang sekitar 22 persen emisi gas rumah kaca global.<\/p>\n<p>Praktik-praktik berkelanjutan, seperti pengelolaan tanah tanpa pengolahan, pemasukan kembali hewan ke dalam sistem tanam, diversifikasi tanaman, dan penggunaan bahan organik, dapat membantu menjaga integritas tanah dan memulai biologi tanah yang tidak aktif.<\/p>\n<p>Peralihan ke pertanian tanpa pengolahan tanah, penggunaan tanaman penutup tanah dan penggabungan pepohonan dan semak dengan tanaman dapat memperbaiki struktur tanah, mencegah erosi dan meningkatkan kesuburan.<\/p>\n<p>Misalnya, banyak negara di Afrika yang mengadopsi model &ldquo;kebun hutan&rdquo; yang menggabungkan pepohonan dan semak belukar ke dalam sistem pertanian dengan tujuan membangun kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen petani kecil.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245428701\/perjuangan-mengembangkan-pertanian-regeneratif-di-daerah-gersang-di-portugal\">Baca: Pertanian regeneratif berhasil mengubah daerah gersang di Portugal<\/a><\/p>\n<p><strong>Bahan kimia dan polusi<\/strong><br \/>Polusi tanah, seringkali tidak terlihat tetapi sangat membahayakan tanaman, hewan, dan kesehatan manusia.<\/p>\n<p>Proses industri, pertambangan, pengelolaan limbah yang buruk, dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan memasukkan bahan kimia, seperti pupuk sintetis, pestisida, dan logam berat, ke dalam tanah.<\/p>\n<p>Penggunaan pupuk yang berlebihan mengganggu keseimbangan unsur hara, sementara pestisida merugikan organisme tanah yang bermanfaat, seperti cacing tanah dan jamur.<\/p>\n<p>Logam berat, seperti timbal dan merkuri, terakumulasi di dalam tanah, mengganggu aktivitas mikroba dan penyerapan unsur hara tanaman.<\/p>\n<p>Mengurangi polusi, meminimalkan penggunaan bahan kimia, dan mendorong pertanian organik dapat memulihkan vitalitas tanah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245424232\/uncdd-lebih-separuh-permukaan-bumi-terancam-kekeringan-permanen-dalam-beberapa-dekade-mendatang\">Baca: UNCDD sebut separuh permukaan Bumi terancam kekeringan permanen<\/a><\/p>\n<p><strong>Pola makan hewani<\/strong><br \/>Pola makan dan pilihan nutrisi dunia saat ini secara signifikan mempengaruhi kesehatan tanah melalui praktik pertanian yang digunakan untuk memproduksi pangan.<\/p>\n<p>Pola makan yang bergantung pada tanaman pokok, seperti gandum, jagung, dan beras, sering kali mendorong pertanian monokultur intensif. Praktek ini menghabiskan nutrisi tanah, mengurangi bahan organik, dan menyebabkan pemadatan dan erosi.<\/p>\n<p>Demikian pula, pola makan yang tinggi akan produk hewani, terutama daging sapi, meningkatkan penggunaan lahan untuk penggembalaan dan pakan tanaman. Penggembalaan ternak yang berlebihan memperburuk pemadatan tanah dan erosi.<\/p>\n<p>Transisi ke pola makan nabati dan keberagaman pangan dapat mengurangi permintaan akan pertanian intensif.<\/p>\n<p>Dengan menyelaraskan kebiasaan pola makan dengan praktik pertanian berkelanjutan, suatu negara dapat meningkatkan kesehatan tanah dan menjamin ketahanan pangan jangka panjang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia&nbsp;&#8211; Kesehatan tanah menjadi topik hangat Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) Konvensi PBB untuk Memerangi Penggurunan (UN Convention to Combat Desertification\/UNCCD) di Riyadh, Arab Saudi. Para perunding membahas komitmen yang telah dibuat oleh negara-negara untuk membendung hilangnya lahan akibat&nbsp;penggurunan&nbsp;dan upaya&nbsp;mencapai netralitas degradasi lahan pada tahun 2030. &ldquo;Degradasi tanah berdampak pada ketahanan pangan, sistem air, keanekaragaman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11622,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17,735],"class_list":["post-11621","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-lingkungan","tag-tanah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11621","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11621"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11621\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11622"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11621"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11621"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11621"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}