{"id":11837,"date":"2026-07-30T01:33:00","date_gmt":"2026-07-30T01:33:00","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11837"},"modified":"2026-07-30T01:33:00","modified_gmt":"2026-07-30T01:33:00","slug":"memanen-air-hujan-upaya-mitigasi-bencana-hidrometeorologi-yang-makin-sering-terjadi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11837","title":{"rendered":"Memanen Air Hujan: Upaya Mitigasi Bencana Hidrometeorologi yang Makin Sering Terjadi"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Perubahan iklim telah membuat potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor maupun kekeringan akan semakin sering terjadi.<\/p>\n<p>Bencana hidrometeorologi, yakni banjir di Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia yang terjadi setiap tahun, dan kekeringan pada musim kemarau intensitasnya makin sering terjadi.<\/p>\n<p>Masyarakat awam mengira, bencana hidrometeorologi disebabkan semata&nbsp;oleh&nbsp;hujan. Namun, sebenarnya bukanlah hujan sebagai penyebab utama dari banjir, melainkan bagaimana mengelola air hujan yang turun di Daerah Aliran Sungai (DAS) selanjutnya mengalir ke hilir.<\/p>\n<p>Selain cuaca ekstrem, bencana hidrometeorologi diperburuk oleh daya dukung lingkungan terutama di wilayah sekitar Daerah Aliran Sungai yang semakin berkurang.<\/p>\n<p>Karena itu dibutuhkan mendesak mitigasi bencana hidrometeorologi dari hulu ke hilir untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban.<\/p>\n<p>Daya dukung lingkungan harus diperkuat agar dapat menyerap dan mengalirkan air hujan sedekat mungkin dengan kondisi aslinya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244664344\/kota-bandung-berbenah-menanggulangi-banjir-sekaligus-memanen-air-hujan\">Baca: Upaya kota Bandung untuk memanen air hujan<\/a><\/p>\n<p>Dilansir Tempo.co, peneliti di Pusat Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyebut salah satu konsep yang perlu diuji-coba diterapkan di kota-kota besar Indonesia untuk mencegah banjir, yaitu sistem penangkapan dan pemanenan air hujan atau <em>rain water harvesting system<\/em>.<\/p>\n<p>Sistem ini harus dibangun oleh setiap pabrik, gedung perkantoran, atau hotel, yang membutuhkan kebutuhan air yang besar. Salah satu negara yang telah menerapkan konsep memanen air hujan pada skala yang luas adalah Singapura.<\/p>\n<p>Melansir buku Memanen Air Hujan karya Agus Maryono (Dosen Teknik Sipil UGM),&nbsp;di Indonesia, sebagian besar masyarakat belum mengelola air hujan dengan baik.<\/p>\n<p>Di banyak tempat dilakukan perbaikan drainase yang intinya secepat-cepatnya &ldquo;mengatuskan&rdquo; air genangan akibat hujan.<\/p>\n<p>Air hujan dibuatkan &ldquo;jalur cepat&rdquo; dengan&nbsp;drainase konvensional untuk&nbsp;mengalir ke hilir. Semakin baik drainase konvensional di suatu tempat, semakin besarlah kemungkinan banjir yang akan terjadi di bagian hilirnya.<\/p>\n<p>Sebaliknya,&nbsp;semakin besar kemungkinan terjadinya kekeringan di bagian hulunya saat musim kemarau.&nbsp;Karena itu, beberapa waktu belakangan mulai dikenalkan drainase ramah lingkungan yang bisa maksimal memanen air hujan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/244591982\/membangun-waduk-menjadi-salah-satu-cara-pemprov-jakarta-atasi-banjir\">Baca: Membangun waduk menjadi salah satu cara Pemprov Jakarta memanen&nbsp;air&nbsp;hujan<\/a><\/p>\n<p>Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air hujan dengan cara menampung, meresapkan, mengalirkan, dan memelihara dengan tidak minimbulkan gangguan aktivitas sosial, ekonomi, dan ekologi lingkungan yang bersangkutan.<\/p>\n<p>Drainase ramah lingkungan dikenal dengan slogan drainase TRAP, yaitu Tampung, Resapkan, Alirkan, dan Pelihara&nbsp;air&nbsp;hujan.<\/p>\n<p>&#8220;Memanen air&nbsp;hujan merupakan bagian dari drainase ramah lingkungan pada bagian Tampung dan Resapkan,&#8221; tulis Agus dalam bukunya.<\/p>\n<p>Air hujan ditampung untuk dipakai sebagai sumber air bersih dan perbaikan lingkungan hidup, dan diresapkan untuk mengisi air tanah.<\/p>\n<p>Efek memanen air hujan di antaranya ialah berkurangnya banjir, berkurangnya kekeringan, berkurangnya masalah air bersih, berkurangnya penurunan muka air tanah, dan berkurangnya masalah lingkungan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244445342\/mungkinkah-membangun-waduk-yang-ramah-lingkungan-sulit-tapi-sangat-dimungkinkan\">Baca: Membangun waduk yang ramah lingkungan<\/a><\/p>\n<p>Praktik memanen air hujan, tak harus menggunakan teknologi modern, tapi bisa dilakukan secara tradisional di rumah-rumah warga.<\/p>\n<p>Adapun, penerapan konsep memanen air hujan di kota besar adalah dengan menyediakan tangki atau sumur-sumur artesis bawah tanah yang berguna untuk menampung air hujan.<\/p>\n<p>&#8220;Jika ini dilakukan pada setiap gedung-gedung besar maka dapat mereduksi signifikan limpasan air hujan,&#8221; kata Erna dikutip Tempo.co.<\/p>\n<p>Menurut Erma, air hujan yang ditampung itu juga tak hanya bisa mengurangi limpasan yang langsung menuju saluran drainase tapi juga dapat dimanfaatkan sebagai persediaan air yang bisa dimanfaatkan sebagai air bersih.<\/p>\n<p>Cara ini, kata Erma, sekaligus mengajak masyarakat dalam hal ini pelaku usaha untuk ikut berkontribusi terhadap solusi mengatasi banjir yang dipicu oleh hujan persisten maupun ekstrem.<\/p>\n<p>&#8220;Terbukti, Singapura yang juga mengalami hujan persisten dampak dari fenomena gangguan cuaca seperti Malaysia memiliki ketangguhan bencana hidrometeorologi sehingga negara tersebut tidak mengalami banjir,&#8221; ucapnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Perubahan iklim telah membuat potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor maupun kekeringan akan semakin sering terjadi. Bencana hidrometeorologi, yakni banjir di Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia yang terjadi setiap tahun, dan kekeringan pada musim kemarau intensitasnya makin sering terjadi. Masyarakat awam mengira, bencana hidrometeorologi disebabkan semata&nbsp;oleh&nbsp;hujan. Namun, sebenarnya bukanlah hujan sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11838,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[791,3418],"class_list":["post-11837","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-bencana-hidrometeorologi","tag-memanen-air-hujan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11837","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11837"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11837\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11838"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11837"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11837"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11837"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}