{"id":11881,"date":"2026-07-30T01:33:10","date_gmt":"2026-07-30T01:33:10","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11881"},"modified":"2026-07-30T01:33:10","modified_gmt":"2026-07-30T01:33:10","slug":"ancaman-sampah-plastik-kian-nyata-konvensi-pembatasan-produksi-plastik-global-mendesak-dilakukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=11881","title":{"rendered":"Ancaman Sampah Plastik Kian Nyata, Konvensi Pembatasan Produksi Plastik Global Mendesak Dilakukan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Polusi dari sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan hidup yang paling mendesak di planet Bumi.<\/p>\n<p>Seiring dengan terus meningkatnya produksi plastik sekali pakai, pengelolaan sampah plastik menjadi semakin sulit.<\/p>\n<p>Polusi dari sampah plastik sangat menonjol di banyak negara di dunia, terutama di negara-negara dengan sistem pengumpulan sampah yang tidak efisien.<\/p>\n<p>Hal ini juga terjadi di negara-negara maju dengan tingkat daur ulang yang rendah dan tidak mengelola sampah plastik secara memadai.<\/p>\n<p>Diperkirakan lebih dari 8 juta ton sampah plastik berakhir di lautan setiap tahunnya. Karena sebagian besar plastik tidak terurai, dibutuhkan waktu berabad-abad untuk terurai dan tidak akan pernah benar-benar hilang.<\/p>\n<p>Sampah plastik ini kemudian secara bertahap terakumulasi di lautan dan mencemari sekaligus merusak ekosistem.<\/p>\n<p>Hal ini menimbulkan ancaman signifikan terhadap kehidupan akuatik, kesehatan manusia, dan ekosistem laut. Studi memperkirakan bahwa pada tahun 2050, jumlah sampah&nbsp;plastik di lautan mungkin lebih banyak dibandingkan jumlah ikan.<\/p>\n<p>Masalah polusi sampah&nbsp;plastik telah menjadi begitu luas sehingga mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa mengkampanyekan perjanjian plastik global.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245385212\/inc-5-gagal-batasi-produksi-plastik-global-ini-dampaknya-pada-lingkungan\">Baca: INC 5 Gagal Batasi Produksi Plastik Global<\/a><\/p>\n<p><strong>Sejarah Plastik<\/strong><br \/>Kisah plastik dimulai pada awal abad ke-19 dengan penemuan Parkesine, plastik sintetis pertama, yang dipatenkan pada tahun 1862 oleh Alexander Parkes.<\/p>\n<p>Hal ini menandai dimulainya era baru dalam ilmu material, seiring dengan keserbagunaan dan daya tahan plastik yang membuka pintu bagi penerapan yang tak terhitung jumlahnya.<\/p>\n<p>Abad ke-20 menyaksikan revolusi dalam produksi plastik: munculnya plastik sintetis sepenuhnya. Pada tahun 1907, ahli kimia dan pemasar Belgia Leo Baekeland memelopori plastik sintetis pertama &ndash;Bakelite&ndash; yang semakin memperkuat posisi plastik dalam manufaktur modern.<\/p>\n<p>Titik balik sebenarnya terjadi setelah Perang Dunia II, ketika produksi plastik meledak. Perang telah mempercepat kemajuan dalam kimia polimer, yang mengarah pada produksi massal plastik seperti polietilen dan polipropilen.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Pada tahun 1960an, plastik mulai mendominasi barang konsumsi, mulai dari kemasan hingga barang rumah tangga. Adopsi yang cepat ini didorong oleh biaya rendah dan fleksibilitas bahan tersebut.<\/p>\n<p>Namun, dampak ledakan ini terhadap lingkungan belum terlihat secara langsung. Selama beberapa dekade, plastik dipuji karena kemudahan dan kegunaannya, sementara konsekuensi jangka panjang dari produksi dan pembuangannya sebagian besar diabaikan.<\/p>\n<p><strong>Plastik dalam angka<\/strong><br \/>Meskipun ada peningkatan upaya global, hanya 9 persen plastik yang didaur ulang. Rendahnya angka ini disebabkan oleh rumitnya proses daur ulang produk yang terbuat dari berbagai jenis polimer, serta infrastruktur pengelolaan limbah yang tidak memadai.<\/p>\n<p>Plastik, yang dihasilkan dari bahan bakar fosil, menyumbang 3,4 persen emisi gas rumah kaca global, sebanding dengan emisi seluruh industri penerbangan. Manusia kini menghasilkan 400 juta ton sampah plastik setiap tahunnya, 60 persen di antaranya berakhir di lingkungan alami kita.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245380528\/inc-5-gagal-hasilkan-kesepakatan-untuk-batasi-produksi-dan-polusi-plastik-global\">Baca: Ini penyebab INC 5 gagal hasilkan kesepakatan untuk membatasi Produksi Plastik Global<\/a><\/p>\n<p>Menurut artikel yang diterbitkan pada bulan Maret 2023 oleh PLOS ONE, diperkirakan terdapat sekitar 82 hingga 358 triliun partikel plastik yang mengapung di lautan dunia.<\/p>\n<p>Diperkirakan rata-rata sebesar 171 triliun partikel plastik yang tercatat pada tahun 2019, dengan berat rata-rata sebesar 171 triliun partikel plastik. 2,3 juta ton<\/p>\n<p>Dampak polusi plastik tidak hanya berdampak pada lingkungan laut; mereka mengancam ekosistem, satwa liar, dan kesehatan manusia.<\/p>\n<p>Mikroplastik, partikel plastik kecil yang dihasilkan dari degradasi plastik yang lebih besar, ditemukan di air minum, makanan laut, dan bahkan udara yang kita hirup.<\/p>\n<p>Meski masih diselidiki, beberapa penelitian menunjukkan bahwa partikel tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan endokrin dan berpotensi kanker.<\/p>\n<p>Dampak polusi plastik terhadap satwa liar sangat mengkhawatirkan. Hewan laut seperti penyu, lumba-lumba, dan burung laut sering kali menelan sampah plastik dan salah mengiranya sebagai makanan.<\/p>\n<p>Pada tahun 2019, seekor penyu ditemukan mati dengan 104 potongan plastik di perutnya.<\/p>\n<p>Menurut PBB, lebih dari 51 triliun partikel mikroplastik telah mengotori lautan dunia, dan diperkirakan 99 persen spesies laut akan mengonsumsi mikroplastik pada tahun 2050 jika tidak ada tindakan yang dilakukan untuk memperlambat polusi plastik.<\/p>\n<p>Fakta inilah yang mendasari sikap sejumlah negara untuk mengurangi produksi global. Sikap menunda-nunda hanya akan melahirkan bencana yang lebih besar pada lingkungan.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Gauri Sharma, Design and Production Intern di Earth.org<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Polusi dari sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan hidup yang paling mendesak di planet Bumi. Seiring dengan terus meningkatnya produksi plastik sekali pakai, pengelolaan sampah plastik menjadi semakin sulit. Polusi dari sampah plastik sangat menonjol di banyak negara di dunia, terutama di negara-negara dengan sistem pengumpulan sampah yang tidak efisien. Hal ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":11882,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17,686],"class_list":["post-11881","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-lingkungan","tag-sampah-plastik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11881","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11881"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11881\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11882"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11881"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11881"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11881"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}