{"id":12142,"date":"2026-07-30T01:34:58","date_gmt":"2026-07-30T01:34:58","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12142"},"modified":"2026-07-30T01:34:58","modified_gmt":"2026-07-30T01:34:58","slug":"kantor-bahasa-maluku-sebut-tiga-bahasa-daerah-setempat-telah-punah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12142","title":{"rendered":"Kantor Bahasa Maluku Sebut Tiga Bahasa Daerah Setempat Telah Punah"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Kantor Bahasa Provinsi Maluku menyatakan bahwa tiga dari 70 bahasa daerah yang terdata di wilayah Provinsi Maluku sudah punah, karena tidak ada lagi penutur.<\/p>\n<p>Meski demikian, jika dibandingkan dengan data bahasa punah tahun 2019, bahasa yang punah di Maluku tidak sebanyak sebelumnya, yakni dari delapan bahasa.<\/p>\n<p>&#8220;Adapun tiga bahasa yang telah punah, adalah yaitu bahasa Hoti, bahasa Kaiely (Kayeli), dan bahasa Piru, dari Seram Bagian Barat,&#8221; kata kepala Kantor Bahasa Provinsi Maluku Kity Karenisa di Ambon, Senin (18\/11\/2024)<\/p>\n<p>Ia mengatakan, saat ini teridentifikasi ada 70 bahasa daerah di Maluku. Paling tidak, ada sekitar 19 persen dari bahasa daerah&nbsp;di&nbsp;Maluku&nbsp;ini tidak lagi memiliki penutur-penutur muda.<\/p>\n<p>Dengan ketiadaan penutur muda secara terus-menerus, sebuah bahasa pasti akan ada pada tingkat daya hidup paling rendah dari sebuah bahasa, yaitu punah.<\/p>\n<p>&#8220;Permasalahan yang terjadi generasi tua lebih memilih untuk menggunakan bahasa lain salah satunya bahasa yang sebenarnya turut melemahkan bahasa daerah lain itu adalah bahasa melayu Ambon, katanya.<\/p>\n<p>B<a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/244928967\/bahasa-daerah-terancam-kelestariannya-belajar-bahasa-sunda-harus-di-belanda\">aca: Bahasa Daerah di Indonesia terancam kelestariannya<\/a><\/p>\n<p>Ia menjelaskan perubahan bahasa daerah yang punah di Maluku, didasarkan pada verifikasi yang dilakukan terhadap data yang ada sebelumnya.<\/p>\n<p>Misalnya, bahasa Nila dan bahasa Serua yang dinyatakan sebagai bahasa punah pada tahun 2019 itu masih mempunyai penutur, khususnya di Kecamatan Teon Nila Serua di Kabupaten Maluku Tengah.<\/p>\n<p>Penutur bahasa&nbsp;daerah&nbsp;ini dipindahkan oleh negara pada tahun 1978 dari Pulau Teon, Pulau Nila, dan Pulau Serua di tengah Laut Banda.<\/p>\n<p>Bahasa Hukumina dan bahasa Palumata merupakan bahasa yang sama dan masih ada penutur.<\/p>\n<p>&#8220;Pemutakhiran data pada tahun 2022 mengenai bahasa punah di Maluku hanya menyebutkan tiga bahasa punah, yaitu bahasa Hoti, bahasa Kaiely (Kayeli), dan bahasa Piru,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/244915048\/sos-mayoritas-atau-75-persen-bahasa-daerah-di-indonesia-dalam-kondisi-tidak-aman\">Baca: Mayoritas bahasa daerah di Indonesia dalam kondisi tidak aman<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Diakuinya, kekuatan bahasa melayu Ambon, melemahkan bahasa daerah lainnya. Untuk mengatasi hal itu dilakukan berbagai upaya untuk membangkitkan keinginan penutur di Maluku, bahwa tidak hanya mempunyai bahasa melayu Ambon tapi juga punya bahasa daerah<\/p>\n<p>Bervariasi informasi yang diterima masyarakat, mengenai data bahasa punah di Maluku menjadi pemacu harus dilakukannya kajian vitalitas bahasa lebih lanjut.<\/p>\n<p>Upaya pelestarian bahasa daerah juga perlu ditingkatkan untuk mengiringinya sehingga jumlah bahasa punah di Maluku tidak bertambah dan vitalitas 70 bahasa yang terdata ada di Maluku pun meningkat.<\/p>\n<p>Dua tahun sebelumnya, Kantor Bahasa Provinsi Maluku menyatakan, sebanyak 62 bahasa daerah di Maluku terbatas jumlah penuturnya sehingga perlu dilakukan revitalisasi bahasa daerah.<\/p>\n<p>Dari tiga daerah di Maluku yang dilakukan revitalisasi bahasa daerah yakni Buru, Kei Maluku Tenggara dan bahasa Yamdena di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, jumlah penutur muda di Kei meningkat 24 persen dari jumlah sebelumnya 15 ribu orang.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/244908933\/festival-bulan-bahasa-upaya-komnas-perempuan-merawat-keragaman-budaya-perempuan-nusantara\">Baca: Upaya Komnas Perempuan merawat bahasa daerah<\/a><\/p>\n<p>Maluku termasuk provinsi dengan jumlah bahasa terbanyak di Indonesia. Maluku berada di posisi keempat, di bawah Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur.<\/p>\n<p>Dari bahasa daerah yang ada di Maluku diantaranya bahasa Alune, Ambalau, Asilulu, Balkewan, Banda, Barakai, Batuley, Bobat, Boing, Buru, Damar Timur, Dawelor\/Dawelar, Dobel, Elnama, Emplawas, Fordata, Hoti, Illiun, Kaham, Kayeli.<\/p>\n<p>Bahasa daerah itu tersebar di semua kabupaten\/kota di Maluku yang meliputi Kabupaten Maluku Barat Daya sebanyak 14 bahasa daerah, Kabupaten Kepulauan Aru sebanyak 11 bahasa daerah, Maluku Tengah sebanyak 11 bahasa daerah.<\/p>\n<p>Sedangkan Seram Bagian Timur delapan bahasa daerah, Kabupaten Buru, Seram Bagian Barat, Kabupaten Kepulauan Tanimbar masing-masing empat bahasa, Buru Selatan, Kota Tual dan Ambon sebanyak dua bahasa daerah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Kantor Bahasa Provinsi Maluku menyatakan bahwa tiga dari 70 bahasa daerah yang terdata di wilayah Provinsi Maluku sudah punah, karena tidak ada lagi penutur. Meski demikian, jika dibandingkan dengan data bahasa punah tahun 2019, bahasa yang punah di Maluku tidak sebanyak sebelumnya, yakni dari delapan bahasa. &#8220;Adapun tiga bahasa yang telah punah, adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":12143,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3481,2014],"class_list":["post-12142","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-bahasa-daerah","tag-maluku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12142","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12142"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12142\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12143"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12142"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12142"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12142"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}