{"id":12153,"date":"2026-07-30T01:35:01","date_gmt":"2026-07-30T01:35:01","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12153"},"modified":"2026-07-30T01:35:01","modified_gmt":"2026-07-30T01:35:01","slug":"hati-hati-pengaruh-influencer-dan-media-sosial-bisa-memicu-pembelian-impulsif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12153","title":{"rendered":"Hati-hati! Pengaruh Influencer dan Media Sosial Bisa Memicu Pembelian Impulsif"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pernahkah kamu membeli sebuah barang hanya karena idola atau selebritas favoritmu memilikinya? Padahal, sebenarnya kamu tidak benar-benar membutuhkannya.<\/p>\n<p>Atau mungkin kamu membeli tiket konser atau boneka &lsquo;Labubu&rsquo; hanya karena sedang tren dan semua orang di media sosial tampak melakukannya?<\/p>\n<p>Fenomena ini disebut pembelian impulsif, atau pembelian yang dilakukan secara spontan dan lebih didorong oleh emosi daripada kebutuhan.<\/p>\n<p>Ada banyak faktor yang menyebabkan&nbsp;seseorang bisa terjebak dalam perilaku pembelian impulsif.&nbsp;Salah&nbsp;satunya&nbsp;adalah&nbsp;berkembangnya&nbsp;media&nbsp;sosial.<\/p>\n<p>Pemasaran melalui media sosial yang memanfaatkan jasa endorsement dari influencer atau selebriti adalah salah satu faktor utama yang memperkuat perilaku ini, terutama di kalangan generasi Z (Gen Z) yang dikenal melek digital dan sangat lekat dengan media sosial.<\/p>\n<p>Dalam artikel ini, penulis akan mengeksplorasi bagaimana media sosial mengubah perilaku konsumsi publik melalui hubungan parasosial dengan influencers dan beberapa fenomena psikologis.<\/p>\n<p>Fenomena psikologis seperti FOMO (<em>Fear of Missing Out<\/em>), YOLO (<em>You Only Live Once<\/em>), dan FOPO (<em>Fear of Other People&rsquo;s Opinions<\/em>) yang menjadi faktor pemicu perilaku pembelian impulsif.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/gaya-hidup\/244929459\/hindari-jebakan-fomo-atau-bakal-rasakan-berbagai-efeknya\">Baca: Jebakan FOMO dan efeknya pada kondisi keuanganmu<\/a><\/p>\n<p><strong>Media sosial dan perkembangan hubungan parasosial<\/strong><br \/>Media sosial seperti Instagram dan X (sebelumnya Twitter) telah mengubah cara kita berinteraksi dan berkomunikasi, sekaligus memperkenalkan fenomena baru yang memengaruhi identitas sosial kita.<\/p>\n<p>Salah satu fenomena ini adalah hubungan parasosial&ndash;perasaan memiliki ikatan emosional dengan figur publik atau selebritas yang tidak kita kenal secara langsung.<\/p>\n<p>Misalnya, penggemar BTS, yang dikenal sebagai &ldquo;Army&rdquo;, mungkin merasa sangat dekat dan terhubung secara emosional dengan anggota BTS, meski mereka mungkin belum pernah bertemu langsung.<\/p>\n<p>Begitu pula dengan &ldquo;Blink&rdquo; untuk penggemar Blackpink atau &ldquo;Swifties&rdquo; untuk penggemar Taylor Swift.<\/p>\n<p>Media sosial memperkuat hubungan parasosial ini karena memungkinkan penggemar mendapatkan &ldquo;akses&rdquo; langsung ke kehidupan selebritas, seolah-olah mereka teman dekat.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Hubungan semacam ini juga berlaku pada pengikut influencers, yang sering dipandang sebagai figur inspiratif atau &ldquo;idola&rdquo; modern di media sosial.<\/p>\n<p>Banyak perusahaan melihat ini sebagai peluang bisnis dan memanfaatkan kedekatan para influencer dengan pengikutnya sebagai bagian dari strategi pemasaran mereka.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/gaya-hidup\/244929489\/langkah-sederhana-agar-tidak-terlalu-lama-terjebak-dalam-sindrom-fomo\">Baca: Kiat menghindari jebakan FOMO<\/a><\/p>\n<p><strong>Hubungan parasosial dengan influencer dan pembelian impulsif<\/strong><br \/>Secara psikologis, pengikut sering melihat influencers sebagai sumber informasi yang kredibel dan autentik.<\/p>\n<p>Karena influencers terkesan lebih akrab dan nyata, rekomendasi mereka terasa lebih meyakinkan ketimbang iklan biasa.<\/p>\n<p>Melalui pengungkapan diri (<em>self-disclosure<\/em>) dengan berbagi kisah pribadi, hobi, atau kegemaran mereka di media sosial, influencers bisa membangun rasa keterhubungan dengan pengguna.<\/p>\n<p>Dengan demikian, ketika influencers mempromosikan produk, pengikut mereka lebih mudah tersentuh secara emosional dan terdorong untuk merasakan pengalaman yang sama dengan idola mereka.<\/p>\n<p>Selain itu, rasa kedekatan dengan influencers membuat pengikut cenderung melihat upaya endorsement mereka sebagai rekomendasi dari seorang teman dekat, bukan iklan komersial.<\/p>\n<p>Inilah yang membuat perusahaan tertarik bekerja sama dengan influencers, memanfaatkan ikatan emosional mereka dengan pengikut untuk meningkatkan penjualan.<\/p>\n<p>Beberapa studi terbaru mengonfirmasi bahwa endorsement artis atau influencer secara signifikan memengaruhi pembelian impulsif, terutama di kalangan Generasi Z.<\/p>\n<p>Adakah cara yang tepat untuk mengatasi situasi ini? Tentunya ada, tetapi jawabannya baru akan diulas di tulisan selanjutnya.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Arifatus Sholekhah (Research Officer, Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pernahkah kamu membeli sebuah barang hanya karena idola atau selebritas favoritmu memilikinya? Padahal, sebenarnya kamu tidak benar-benar membutuhkannya. Atau mungkin kamu membeli tiket konser atau boneka &lsquo;Labubu&rsquo; hanya karena sedang tren dan semua orang di media sosial tampak melakukannya? Fenomena ini disebut pembelian impulsif, atau pembelian yang dilakukan secara spontan dan lebih didorong [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":12154,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2056,765,3485],"class_list":["post-12153","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-influencer","tag-media-sosial","tag-pembelian-impulsif"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12153","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12153"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12153\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12154"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12153"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12153"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12153"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}