{"id":12157,"date":"2026-07-30T01:35:01","date_gmt":"2026-07-30T01:35:01","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12157"},"modified":"2026-07-30T01:35:01","modified_gmt":"2026-07-30T01:35:01","slug":"aksi-aliansi-rakyat-untuk-keadilan-iklim-aruki-menuntut-keadilan-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12157","title":{"rendered":"Aksi Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI) Menuntut Keadilan Iklim"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI), Senin (18\/11\/202) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Aksi ARUKI&nbsp;ini digelar sebagai Peringatan <em>Global Day of Action for Climate Justice<\/em>, guna menyuarakan tuntutan keadilan iklim di tengah berlangsungnya&nbsp;Konferensi&nbsp;Iklim&nbsp;PBB atau COP&nbsp;29 di Baku, Azerbaijan.<\/p>\n<p>ARUKI menyayangkan pidato Utusan Khusus Delegasi Republik Indonesia, Hashim Sujono Djojohadikusumo di depan sidang plenary COP 29, karena belum mencerminkan komitmen konkret terhadap keadilan iklim.<\/p>\n<p>Dalam pernyataannya, ARUKI menilai pemerintah memandang krisis iklim yang menjadi perhatian global, sebagai komodifikasi ekonomi, alih-alih pendeakatan berbasis keberlanjutan dan keadilan.<\/p>\n<p>Dalam aksinya, Pemerintah diminta fokus menagih tanggung jawab atau utang ekologis negara-negara maju untuk menggantikan kerugian dampak yang dialami negara selatan akibat krisis iklim.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245312180\/cop-29-delegasi-indonesia-dinilai-tak-bawa-pesan-yang-kuat-terkait-pendanaan-iklim\">Baca: Delegasi Indonesia dinilai tak bawa pesan kuat di COP 29<\/a><\/p>\n<p>Pemerintah diminta mendorong distribusi dana kehilangan dan kerusakan (loss and damage) hingga meminta negara-negara Utara untuk menurunkan secara drastis emisi karbon dari bisnis mereka.<\/p>\n<p>Dalam aksi ini, para pengunjukrasa menuntut pemerintah untuk segera menghentikan proyek energi yang menggunakan bahan bakar fosil di Indonesia.<\/p>\n<p>Para pengunjuk rasa menilai, penggunaan bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batubara dan gas sebagai sumber utama emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.<\/p>\n<p>Selain itu, mereka juga mendesak untuk mempercepat penonaktifan PLTU batubara, menolak biofuel dalam skala besar.<\/p>\n<p>Dalam, orasinya pengunjukrasa juga menyatakan sikap mereka menolak upaya penangkapan karbon lewat mekanisme Carbon capture storage (CCS\/CCUS) pun pengembangan energi hidrogen dalam skala besar.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245311370\/kontroversi-penggunaan-bahan-bakar-fosil-dalam-penyelenggaraan-cop-29\">Baca: Kontroversi penggunaan bahan Bakar fosil dalam penyelenggaraan COP 29<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Langkah ini dinilai sebagai solusi palsu untuk menanggulangi dampak&nbsp;krisis iklim, dan justru berpotensi memicu&nbsp;masalah yang lebih besar pada lingkungan.<\/p>\n<p>Mereka juga meminta agar Pemerintah mendukung penggunaan energi terbarukan &#8212; seperti tenaga matahari, tenaga angin, tenaga air&#8211; yang terdesentralisasi.<\/p>\n<p>Pengunjukrasa juga mendorong langkah-langkah yang menuju efisiensi energi, dan pengembangan transportasi publik rendah karbon yang inklusif.<\/p>\n<p>Langkah-langkah ini mendesak dilakukan segera untuk menanggulangi perubahan iklim yang dampaknya makin terasa nyata.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI), Senin (18\/11\/202) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta. &nbsp; Aksi ARUKI&nbsp;ini digelar sebagai Peringatan Global Day of Action for Climate Justice, guna menyuarakan tuntutan keadilan iklim di tengah berlangsungnya&nbsp;Konferensi&nbsp;Iklim&nbsp;PBB atau COP&nbsp;29 di Baku, Azerbaijan. ARUKI menyayangkan pidato [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":12158,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[158,3439,169],"class_list":["post-12157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-aruki","tag-cop-29","tag-keadilan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12157"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12157\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12158"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}