{"id":12221,"date":"2026-07-30T01:35:17","date_gmt":"2026-07-30T01:35:17","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12221"},"modified":"2026-07-30T01:35:17","modified_gmt":"2026-07-30T01:35:17","slug":"cop-29-indonesia-perlu-sumber-pendanaan-iklim-yang-lebih-adil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12221","title":{"rendered":"COP 29: Indonesia Perlu Sumber Pendanaan Iklim yang Lebih Adil"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Komitmen negara-negara maju untuk memenuhi kewajibannya terkait pendanaan iklim kembali ditagih di sela gelaran Konferensi Iklim PBB ke-29 atau COP 29 yang sedang berlangsung.<\/p>\n<p>Manager Policy Koaksi Indonesia, Azis Kurniawan mengatakan negara-negara berkembang membutuhkan 1,1 triliun dolar setiap tahunnya untuk pendanaan iklim.<\/p>\n<p>&ldquo;Pendanaan ini sangat krusial untuk mempercepat transisi energi terbarukan dan membantu negara berkembang menghadapi tantangan adaptasi serta mitigasi krisis iklim yang semakin mendesak,&#8221; kata Azis dalam keterangan pers yang diterima Kamis (14\/11\/2024).<\/p>\n<p>Eka Melisa, Direktur Tata Kelola Berkelanjutan &#8211; Perubahan Iklim, KEMITRAAN menekankan perlunya memperhatikan sumber dan jenis pendanaan.<\/p>\n<p>&ldquo;Sebagian besar pendanaan iklim yang rencananya dikucurkan di negara berkembang lebih banyak yang sifatnya concessional atau loan,&rdquo; kata Eka. Menurut Eka, Indonesia perlu memperjuangkan indikator pendanaan berkelanjutan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245287309\/yang-ditunggu-dari-cop-29-pengembangan-skema-baru-mengenai-pendanaan-iklim\">Baca: COP 29 diharapkan hasilkan pengembangan skema baru Pendanaan iklim<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Ini penting agar investasi swasta, &mdash;terutama untuk proyek-proyek infrastruktur besar&mdash; yang mengatasnamakan adaptasi perubahan iklim, tidak justru memperparah kesenjangan, ketidakadilan atau menambah beban negara dalam bentuk utang,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutkan, Nadia Hadad mengatakan bahwa sistem pendanaan&nbsp;iklim yang adil dapat dirancang melalui reformasi arsitektur pendanaan global.<\/p>\n<p>Salah satunya dengan mengalihkan aliran pendanaan global dari sektor-sektor yang intensif emisi ke sektor yang lebih hijau.<\/p>\n<p>&ldquo;Distribusi pendanaan yang adil harus berfokus pada upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem, restorasi lingkungan serta bertransisi ke energi terbarukan,&rdquo; ujar Nadia.<\/p>\n<p>Indonesia harus memiliki mekanisme finansial untuk memastikan tidak ada penyaluran dana iklim dan lingkungan hidup bagi aktor-aktor yang merusak ekosistem dan keanekaragaman hayati serta melanggar hak asasi manusia.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245312180\/cop-29-delegasi-indonesia-dinilai-tak-bawa-pesan-yang-kuat-terkait-pendanaan-iklim\">Baca: Delegasi Indonesia tak bawa pesan kuat soal Pendanaan Iklim<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Indonesia memerlukan kebijakan yang kuat untuk membangun mekanisme pendanaan iklim yang adil untuk subjek rentan,&rdquo; kata Nadia.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Termasuk dalam subjek rentan yaitu masyarakat adat dan komunitas lokal, petani dan nelayan kecil\/tradisional, buruh, perempuan, penyandang disabilitas, dan kaum muda.<\/p>\n<p>Nadia mengatakan penyaluran dana iklim harus diutamakan untuk masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai garda terdepan dalam menjaga, melindungi dan mengelola ekosistem alam sebagai ruang hidup dan sumber penghidupan mereka.<\/p>\n<p>Saat ini, pendanaan iklim bagi masyarakat adat dan lokal masih sangat minim.<\/p>\n<p>Ode Rakhman, Direktur Nusantara Fund menuturkan penyaluran dana bagi masyarakat adat dan komunitas lokal harus menggunakan mekanisme akses secara langsung dengan porsi yang lebih besar.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245281121\/mengulik-pembahasan-pendanaan-perubahan-iklim-di-cop-29\">Baca: Pembahasan pendanaan iklim di COP 29<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Pendanaan langsung bagi masyarakat adat dan komunitas lokal merupakan cara paling efektif dibandingkan dengan mekanisme pendanaan lainnya, seperti Dana Desa,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p>Nusantara Fund telah mendukung 157 inisiatif masyarakat adat dan komunitas lokal di Indonesia senilai 950 ribu dolar sejak Januari hingga Oktober 2024.<\/p>\n<p>Pada akhir November 2024, Nusantara Fund akan menyalurkan pendanaan langsung tambahan sebesar 600 ribu dolar untuk mendukung sekitar 90 inisiatif dari masyarakat adat dan komunitas lokal di penjuru Indonesia.<\/p>\n<p>Penyaluran dana iklim secara langsung kepada masyarakat adat dan lokal merupakan solusi efektif dalam upaya meningkatkan ketahanan sosial dan ekosistem dari risiko krisis iklim.<\/p>\n<p>&ldquo;Masyarakat adat dan lokal lebih memahami kondisi ruang hidup dan tantangan keanekaragaman hayati sehingga memungkinkan bagi mereka untuk menerapkan solusi yang efektif dan praktik berkelanjutan,&rdquo; kata Ode.<\/p>\n<p>Mekanisme pendanaan langsung juga akan memperkuat kesetaraan sosial dan ekonomi yang lebih adil melalui kepemilikan serta pengelolaan dana secara kolektif.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Komitmen negara-negara maju untuk memenuhi kewajibannya terkait pendanaan iklim kembali ditagih di sela gelaran Konferensi Iklim PBB ke-29 atau COP 29 yang sedang berlangsung. Manager Policy Koaksi Indonesia, Azis Kurniawan mengatakan negara-negara berkembang membutuhkan 1,1 triliun dolar setiap tahunnya untuk pendanaan iklim. &ldquo;Pendanaan ini sangat krusial untuk mempercepat transisi energi terbarukan dan membantu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":12222,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3439,241],"class_list":["post-12221","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-cop-29","tag-pendanaan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12221","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12221"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12221\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12222"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12221"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12221"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12221"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}