{"id":12714,"date":"2026-07-30T01:38:01","date_gmt":"2026-07-30T01:38:01","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12714"},"modified":"2026-07-30T01:38:01","modified_gmt":"2026-07-30T01:38:01","slug":"nissa-wargadipura-dari-pesantren-ath-thaariq-garut-raih-fao-heroes-2024","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12714","title":{"rendered":"Nissa Wargadipura dari Pesantren Ath-Thaariq Garut Raih \u201cFAO Heroes 2024\u201d"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Nissa Wargadipura, pengelola Pesantren Ath-Thaariq di Garut, Jawa Barat, pada hari Rabu (16\/10\/2024) menjadi salah seorang penerima anugerah bergengsi &ldquo;FAO Heroes&rdquo; atau &ldquo;Pahlawan Pangan&rdquo; dari Badan PBB Urusan Pangan Dunia (Food &amp; Agriculture Organization) FAO.<\/p>\n<p>Nissa Wargadipura&nbsp;adalah salah seorang dari 26 tokoh dunia yang dinilai berhasil membantu mewujudkan akses dan ketersediaan pangan yang beragam, bergizi, terjangkau dan aman.<\/p>\n<p>Berkerudung putih merah jambu, Nissa yang berperawakan kecil, naik ke atas panggung bersama tujuh penerima lain yang hadir langsung di acara penganugrahan penghargaan &ldquo;Food Hero&rsquo;s FAO Global Family Farming Forum&rdquo; di Roma, Italia.<\/p>\n<p>Diwawancarai VOA melalui telepon sesuai menerima penghargaan itu, Nissa mengatakan &ldquo;Food Heroes&rdquo; yang diterimanya seakan &ldquo;menggeser paradigma yang ada selama ini tentang apa yang disebut sebagai pertanian yang berhasil.&rdquo;<\/p>\n<p>Nissa sejak tahun 2008 mengajarkan santri-santrinya beragam teknik pertanian yang fokus pada pangan bernilai gizi tinggi dan model perkebunan keluarga berkelanjutan (family farming).<\/p>\n<p>Dilansir VOA Indonesia, Nissa mengatakan &ldquo;family farming atau perkebunan keluarga berbasis <em>biodiversity<\/em> (keanekaragaman) dan tidak memakai pupuk kimia, terbukti berhasil menggeser cara pandang dari pertanian modern dan revolusi hijau ke gerakan agro-ekologi.<\/p>\n<p>&ldquo;Lihat bagaimana gerakan family farming yang dilakukan petani-petani kecil ini justru dapat menjadi gerakan besar,&rdquo; tandasnya.<\/p>\n<p>&ldquo;Lihat bagaimana yang memastikan akses pada pangan, dan bahkan menyelamatkan pangan dunia, bukan perusahaan-perusahaan multi nasional atau multi internasional, tetapi rakyat.&rdquo;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/245206673\/satu-dekade-era-jokowi-sudah-tapi-belum-kedaulatan-pangan-indonesia\">Baca: Satu dekade era Jokowi gagal wujudkan kedaulatan pangan<\/a><\/p>\n<p><strong>Dirjen FAO: Pangan adalah HAM<\/strong><br \/>Dalam acara yang berlangsung di tengah gejolak politik dunia dan perubahan iklim itu, Dirjen FAO Qu Dongyu, menekankan bahwa pangan adalah hak asasi manusia.<\/p>\n<p>Ia menggambarkan tema Hari Pangan Sedunia tahun ini &ndash; yaitu &ldquo;Hak atas Pangan untuk Kehidupan yang Lebih Baik dan Masa Depan yang Lebih Baik&rdquo; &ndash; sebagai pengingat bahwa semua orang berhak atas kecukupan pangan.<\/p>\n<p>Data FAO menunjukkan ada sekitar 730 juta orang yang menghadapi kelaparan dan lebih dari 2,8 miliar orang di seluruh dunia yang tidak mampu mendapatkan makanan sehat.<\/p>\n<p>Oleh karena itu Qu Dongyu mendesak seluruh pemangku kepentingan untuk &ldquo;mengambil tindakan segera&rdquo; guna membangun sistem pertanian pangan yang dapat &ldquo;memberi gizi pada dunia.&rdquo;<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Saat memperkenalkan Nissa, pembawa acara di forum FAO itu menyebutnya sebagai penggagas sekolah petani muda &ldquo;yang membantu petani memiliki keahlian pertanian berkelanjutan dengan tidak melupakan nilai-nilai kearifan lokal.&rdquo;<\/p>\n<p>&ldquo;Ia (Nissa.red) telah berbagi ilmu ke seluruh masyarakat di sekitarnya,&rdquo; tambahnya.<\/p>\n<p>Sebagai perempuan yang lahir dari keluarga petani, yang senantiasa menggantungkan mata pencahariannya dengan mengolah lahan pertanian dan perkebunan di kaki Gunung Papandayan, di Garut, Jawa Barat,<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/245125845\/meski-menuai-kritik-tajam-pemerintah-tetap-lanjutkan-proyek-food-estate-di-merauke\">Baca: Warga Merauke menolak food estate di wilayahnya<\/a><\/p>\n<p>Nissa mengatakan kearifan lokal terbukti ikut menjaga dan mempertahankan ketersediaan pangan.<\/p>\n<p>&ldquo;Dalam kearifan lokal orang Sunda, kita mengenal sawah. Sawah adalah gudang makanan yang paling variatif, mudah diakses, murah dan aman. Di gudang makanan ini kita menemukan makanan yang berbeda-beda,&ldquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Ia lantas menyebut satu per satu sumber pangan yang ditemuinya sperti padi, ada eceng sawah, tutut, keong mas, genol atau ikan kecil-kecil, jamur yang tumbuh subur di pinggir2 pematang terutama setelah hujan dan banyak lainnya.<\/p>\n<p>Kekayaan luar biasaini baru di sawah saja, ujarnya, Ini semua aksesnya sangat mudah, murah dan jika dikelola secara organik maka circular economy yang dikelola pesantren ekologi ini tak terhingga.<\/p>\n<p>Bayangkan bagaimana jerami misalnya, yang setelah panen tidak dibuang, tapi dijadikan pakan ternak bebek dan angsa; atau daun-daun yang kering, dikumpulkan dan ditanam di tanah.<\/p>\n<p>Ini semua, lanjutnya, tidak terjadi dalam revolusi hijau karena semua harus bersih untuk kemudian diberi pupuk urea. Tapi kami mempertahankan apa yang ada di alam.<\/p>\n<p>&rdquo;Belum lagi jika kita bicara azola pinata yang sangat pintar menangkap protein dan oksigen di dalam udara,&rdquo; ujar Nissa yang akan memaparkan semua hal ini dalam forum dialog internasional di FAO pada hari Kamis (17\/10\/2024).<\/p>\n<p>Sumber:VOAIndonesia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Nissa Wargadipura, pengelola Pesantren Ath-Thaariq di Garut, Jawa Barat, pada hari Rabu (16\/10\/2024) menjadi salah seorang penerima anugerah bergengsi &ldquo;FAO Heroes&rdquo; atau &ldquo;Pahlawan Pangan&rdquo; dari Badan PBB Urusan Pangan Dunia (Food &amp; Agriculture Organization) FAO. Nissa Wargadipura&nbsp;adalah salah seorang dari 26 tokoh dunia yang dinilai berhasil membantu mewujudkan akses dan ketersediaan pangan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":12715,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3608,431],"class_list":["post-12714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-nissa-wargadipura","tag-pangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12714"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12714\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12715"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}