{"id":12752,"date":"2026-07-30T01:38:10","date_gmt":"2026-07-30T01:38:10","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12752"},"modified":"2026-07-30T01:38:10","modified_gmt":"2026-07-30T01:38:10","slug":"tinjauan-berkala-cagar-biosfer-komodo-diusulkan-diperluas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12752","title":{"rendered":"Tinjauan Berkala Cagar Biosfer Komodo Diusulkan Diperluas"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Cagar Biosfer Komodo (CBK) diusulkan untuk diperluas. Usulan perluasan Cagar Biosfer Komodo itu akan menambah 25 kilometer persegi (km2) daratan dan 479 km2 perairan laut.<\/p>\n<p>Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Manggarai Barat Theresia Yunita memaparkan, luas kawasan inti Cagar Biosfer Komodo saat ini adalah 1.817 km2, termasuk 603 km2 daratan (33persen) dan 1.214 km2 (67persen) perairan laut.<\/p>\n<p>Dilansir di laman resmi brin.go.id, Cagar Biosfer Komodo terletak di kawasan Sunda Kecil yang terdiri dari gugusan pulau dan perairan di sekitarnya. Letaknya di sisi timur garis Wallacea dan memiliki bentang alam yang sangat unik.<\/p>\n<p>Kawasan inti mempunyai nilai yang sangat tinggi, mengandung kekayaan sumber daya hayati dan budaya.<\/p>\n<p>Kawasan inti Cagar Biosfer Komodo terdiri dari sabana, hutan dataran, sebagian hutan hujan tropis di puncak gunung, hutan pantai, hutan bakau, perairan laut, serta deretan pegunungan dan perbukitan.<\/p>\n<p>Daerah tersebut dipengaruhi oleh angin muson, dan iklim secara umum kering. Di bentang alam tertentu, seperti perbukitan dan pegunungan, iklimnya lebih lembab.<\/p>\n<p>Kawasan inti Cagar Biosfer Komodo meliputi Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Pulau Gilimotang, pulau-pulau kecil di sekitar keempat pulau tersebut, dan perairan laut.<\/p>\n<p>Cagar Biosfer Komodo merupakan seluruh kawasan konservasi Taman Nasional Komodo (TNK). CBK berperan sebagai sistem penyangga kehidupan kawasan lindung, khususnya fungsi perlindungan flora dan fauna.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245113421\/indonesia-berkomitmen-serahkan-tinjauan-berkala-7-cagar-biosfer-sesuai-jadwal\">Baca: Komitmen RI serahkan tinjauan berkala 7 Cagar Biosfer sesuai jadwal<\/a><\/p>\n<p>Fungsi keseimbangan ekologi, perubahan iklim, dan fungsi hidrologi yang telah dirasakan oleh masyarakat di wilayah ini.<\/p>\n<p>Hal tersebut disampakannya pada gelaran Finalisasi Dokumen Tinjauan Berkala (Periodic Review) Tahun 2024 Tujuh Cagar Biosfer Indonesia di Gedung BJ. Habibie Jakarta, September 2024.<\/p>\n<p>Menurutnya, sebagai lingkungan yang gersang, CBK mempunyai sedikit atau tidak ada curah hujan sama sekali selama kurang lebih 8 bulan dalam setahun, dan sangat dipengaruhi oleh hujan muson.<\/p>\n<p>Tingkat kelembapan yang tinggi sepanjang tahun hanya ditemukan di hutan kuasi-awan di puncak gunung dan punggung bukit.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Selain itu kawasan inti juga mempunyai peranan sebagai sumber plasma nutfah bagi kehidupan manusia, yaitu manfaat iptek, pendidikan dan pelatihan, dukungan budidaya perikanan, ekowisata, dan jasa ekosistem lainnya.<\/p>\n<p>Sistem zonasi TNK sebagai kawasan inti Cagar Biosfer Komodo, meliputi zona inti yang terdiri dari hutan belantara, kamuse zona, zona tradisional, zona rehabilitasi, dan konservasi Komodo.<\/p>\n<p>TNK juga sebagai zona penyangga, biasanya mengelilingi atau berbatasan langsung dengan kawasan inti.<\/p>\n<p>&ldquo;Selain zona inti ada juga zona penyangga, biasanya mengelilingi atau berbatasan langsung dengan kawasan inti. Dalam menentukan zona penyangga disarankan hanya untuk kepentingan ekologis kegiatan yang sehat seperti pendidikan lingkungan, stasiun penelitian, rekreasi, budidaya agroforestri, ekowisata dan pembangunan alam berkelanjutan,&rdquo; urainya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245133360\/raja-ampat-diusulkan-menjadi-cagar-biosfer-di-bawah-mab-unesco-untuk-lindungi-kekayaan-lingkungan\">Baca: Raja Ampat diusulkan menjadi Cagar Biosfer di Bawah MAB UNESCO<\/a><\/p>\n<p>Hasil identifikasi dan pemetaan Cagar Biosfer Komodo, wilayah buffer zone meliputi lahan seluas 259.680,14 hektar terletak di Kabupaten Manggarai Barat.<\/p>\n<p>Di samping itu ada daerah transisi sebagai daerah peralihan CBK di selatan dan utara berupa laut dan dalam timur dan barat berupa desa dan kota.<\/p>\n<p>Daerah peralihan adalah bagian timur bentuk perkotaan (Labuan Bajo), kawasan pertanian, kawasan pemukiman, dan kawasan kegunaan lainnya.<\/p>\n<p>Di daerah transisi ini dilakukan kegiatan pengembangan lingkungan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola lahan dan kegiatan produksi. Daerah transisi menjadi wadah kerja sama antar pihak.<\/p>\n<p>Khususnya masyarakat lokal yang terkait seperti lembaga pemerintah, LSM, kelompok budaya, ilmuwan, ekonomi publik, dan lainnya.<\/p>\n<p>Daerah transisi juga digunakan untuk praktik pembangunan ekonomi dan sosial budaya, kegiatan penelitian dan pengembangan, dalam bentuk eksperimen yang dapat dilakukan untuk menentukan pola dan proses ekosistem di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>&ldquo;Selama 10 tahun sejak review pertama, Cagar Biosfer Komodo mengalami kemajuan pesat dalam pembangunan, antara lain bidang pertanian sebagai kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan untuk menghasilkan bahan pangan. Bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya,&rdquo; imbuh Yunita.<\/p>\n<p>Di bidang kehutanan, sumber daya hutan merupakan salah satu penyangga kehidupan yang harus dikelola dengan bijaksana agar mampu memberikan kontribusi dan manfaat secara optimal dan lestari, dan pariwisata.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244850563\/mengenal-tujuh-cagar-biosfer-di-indonesia\">Baca: Pengelolaan 7 Cagar Biosfer di Indonesia sedang ditinjau<\/a><\/p>\n<p>Hutan rakyat dapat memberikan manfaat sebagai salah satu penyangga ekonomi masyarakat.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Pada bidang pariwisata, tambah Yunita, perkembangan pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat, menciptakan peluang bagi pemasaran produk lokal.<\/p>\n<p>Kebutuhan pangan untuk menyuplai pariwisata semakin besar seiring dengan ekspansi dan diversifikasi pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat.<\/p>\n<p>Di samping potensi ekonomi kelautan yang besar, Manggarai Barat dihadapkan pada ancaman perubahan iklim yang semakin meningkatkan kerentanan ekosistem pesisir terhadap kerusakan.<\/p>\n<p>Pengelolaan CBK bertujuan untuk mencapai keberhasilan fungsi cagar biosfer yaitu fungsi konservasi keanekaragaman hayati dan budaya. Untuk berkontribusi pada konservasi lanskap, ekosistem, spesies, dan variasi genetik.<\/p>\n<p>Fungsi pembangunan ekonomi berkelanjutan untuk mendorong pembangunan ekonomi dan manusia yang berkelanjutan secara sosial budaya dan ekologis.<\/p>\n<p>Fungsi dukungan logistik untuk memberikan dukungan penelitian, pemantauan, pendidikan dan pertukaran informasi berkaitan dengan isu-isu lokal nasional dan global konservasi dan pembangunan.<\/p>\n<p>Dirinya menerangkan, dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut, pengelolaan CBK diharapkan dapat berkontribusi dalam beberapa hal, yaitu meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan mengatasi perubahan iklim.<\/p>\n<p>Meningkatkan kontribusi sumber daya perairan beserta ekosistemnya untuk perekonomian daerah dan nasional.<\/p>\n<p>&ldquo;Mengoptimalkan pengelolaan dan distribusi manfaat pengelolaan pariwisata yang berkeadilan dan berkelanjutan. Untuk kesejahteraan masyarakat, meningkatkan tata kelola pembangunan pariwisata, dan lingkungan hidup yang baik,&rdquo; pungkasnya.<\/p>\n<p>Sumber:brin.go.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Cagar Biosfer Komodo (CBK) diusulkan untuk diperluas. Usulan perluasan Cagar Biosfer Komodo itu akan menambah 25 kilometer persegi (km2) daratan dan 479 km2 perairan laut. Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Manggarai Barat Theresia Yunita memaparkan, luas kawasan inti Cagar Biosfer Komodo saat ini adalah 1.817 km2, termasuk 603 km2 daratan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":12753,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3622,544],"class_list":["post-12752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-cagar-biosfer","tag-komodo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12752"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12752\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12753"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}