{"id":1283,"date":"2026-07-30T00:26:11","date_gmt":"2026-07-30T00:26:11","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1283"},"modified":"2026-07-30T00:26:11","modified_gmt":"2026-07-30T00:26:11","slug":"hantavirus-diam-diam-mengancam-gejalanya-kerap-disangka-flu-biasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1283","title":{"rendered":"Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia &#8211;&nbsp;<\/strong>Indonesia dan dunia internasional kini tengah mewaspadai ancaman hantavirus. Penyakit yang ditularkan melalui tikus dan dapat memicu gangguan serius pada ginjal maupun paru-paru.<\/p>\n<p>Meski baru ramai diperbincangkan, virus ini sebenarnya telah lama ada di Indonesia dan diduga banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai flu biasa.<\/p>\n<p>Sejumlah penelitian menunjukkan hantavirus telah ditemukan di Indonesia sejak 1980-an. Dalam studi komprehensif di berbagai kota besar, <em>seroprevalensi <\/em>hantavirus pada manusia tercatat mencapai sekitar 11,6 persen.<\/p>\n<p>Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus tersebut meski tidak pernah didiagnosis secara resmi.<\/p>\n<p>Kondisi ini dikenal sebagai <em>&ldquo;iceberg phenomenon&rdquo;,<\/em> yakni hanya sebagian kecil kasus yang terlihat, sementara jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar.<\/p>\n<p>Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus dikategorikan sebagai <em>zoonosis emerging<\/em> atau penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/247384831\/hantavirus-telah-masuk-indonesia-tiga-orang-dinyatakan-meninggal\">Baca: Hantavirus Telah Masuk Indonesia<\/a><\/p>\n<p>Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam umumnya langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, gejala awal hantavirus hampir identik, mulai dari demam, nyeri otot, mual, hingga kelelahan.<\/p>\n<p>Akibat kemiripan tersebut, banyak kasus diduga salah diagnosis atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali.<\/p>\n<p>Berbeda dengan penyakit lain yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, maupun air liur tikus.<\/p>\n<p>Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, hingga permukaan yang telah terkontaminasi.<\/p>\n<p>Mengacu pada laman resmi Kemenkes RI, hantavirus memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya. Pertama, <em>Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome<\/em> (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa.<\/p>\n<p>Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, hingga gagal ginjal.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/247385686\/kemenkes-konfirmasi-kasus-hantavirus-di-indonesia-meningkat-dalam-dua-tahun-terakhir\">Baca: Konvirmasi Kasus Hantavirus Meningkat Dalam 2 Tahun<\/a><\/p>\n<p>Kedua, <em>Hantavirus Pulmonary Syndrome<\/em> (HPS) yang lebih sering ditemukan di Amerika. Jenis ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas.<\/p>\n<p>Tingkat kematian atau <em>case fatality rate<\/em> (CFR) hantavirus juga tergolong tinggi. Pada beberapa tipe virus, angka kematiannya bahkan dapat mencapai 50 persen.<\/p>\n<p>Di Indonesia, jenis hantavirus yang paling sering ditemukan adalah <em>Seoul virus<\/em> (SEOV) yang menyebar melalui tikus rumah seperti <em>Rattus rattus dan Rattus norvegicus.<\/em><\/p>\n<p>Karena hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan virus ini dinilai lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas di kawasan hutan atau satwa liar.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/247385660\/dpr-desak-pemerintah-harus-beri-ketepatan-informasi-soal-hantavirus\">Baca: DPR Desak Pemerintah Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus<\/a><\/p>\n<p>Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono mengatakan kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar hantavirus.<\/p>\n<p>Di&nbsp;antaranya pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, hingga masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.<\/p>\n<p>Menurutnya, risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.<\/p>\n<p>Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/kesehatan\/247204474\/virus-nipah-ditemukan-di-indonesia-tapi-mengapa-belum-ada-kasus-penularan-pada-manusia\">Baca: Virus Nipah Ditemukan di Indonesia<\/a><\/p>\n<p>Saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan. Area tersebut juga sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.<\/p>\n<p>Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan <em>One Health<\/em> menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit <em>zoonosis <\/em>seperti hantavirus.<\/p>\n<p>&ldquo;Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,&rdquo; jelas Arief<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Indonesia dan dunia internasional kini tengah mewaspadai ancaman hantavirus. Penyakit yang ditularkan melalui tikus dan dapat memicu gangguan serius pada ginjal maupun paru-paru. Meski baru ramai diperbincangkan, virus ini sebenarnya telah lama ada di Indonesia dan diduga banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai flu biasa. Sejumlah penelitian menunjukkan hantavirus telah ditemukan di Indonesia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":1284,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[477,520,564,82,519],"class_list":["post-1283","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-brin","tag-hantavirus","tag-kemenkes","tag-kesehatan","tag-tikus"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1283"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1283\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1284"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}