{"id":12932,"date":"2026-07-30T01:39:23","date_gmt":"2026-07-30T01:39:23","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12932"},"modified":"2026-07-30T01:39:23","modified_gmt":"2026-07-30T01:39:23","slug":"riset-mengungkap-emisi-yang-dihasilkan-gas-alam-tak-lebih-baik-ketimbang-batu-bara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=12932","title":{"rendered":"Riset Mengungkap Emisi yang Dihasilkan Gas Alam Tak Lebih Baik Ketimbang Batu Bara"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Survei persepsi risiko global (GRPS) yang dilakukan oleh Forum Ekonomi Dunia mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem menjadi risiko utama yang dihadapi dunia pada tahun 2024.<\/p>\n<p>Situasi ini akan mengganggu stok pangan dan meningkatkan harga bahan pangan pokok karena berpotensi gagal panen (World Economic Forum, 2024) seperti dilansir di cerah.or.id<\/p>\n<p>Kondisi ini diperparah dengan sejumlah bencana meteorologi dan fenomena&nbsp;gelombang panas<br \/>khususnya di Asia pada tahun 2023-2024.<\/p>\n<p>Fenomena iklim ini merupakan salah satu dampak meningkatnya suhu bumi yang pada tahun 2024 ini mendekati batas yang ditetapkan, yakni 1,5&deg;C dibanding masa praIndustri.<\/p>\n<p>Ilmuwan di seluruh dunia yang tergabung dalam Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change\/IPCC), telah berulang kali menekankan pentingnya komitmen semua negara di dunia untuk mencegah kenaikan suhu Bumi.<\/p>\n<p>Salah satunya, melalui kewajiban menghentikan pasokan dan permintaan bahan bakar fosil guna mencapai emisi nol pada 2050. Rencana ini mencakup pengurangan batubara hingga 95 persen, minyak (60&nbsp;persen), dan gas (45&nbsp;persen) pada tahun 2050 (IPCC, 2022).<\/p>\n<p>Mengalihkan bahan bakar fosil ke energi terbarukan adalah solusi nyata&nbsp;negara-negara di dunia yang bisa diterapkan untuk&nbsp;menurunkan&nbsp;emisi&nbsp;secara&nbsp;progresif.<\/p>\n<p>Namun, bukannya&nbsp;berfokus pada transisi&nbsp;ke&nbsp;energi&nbsp;terbarukan, baru-baru ini muncul narasi bahwa gas alam dapat menjadi bahan bakar alternatif utama pengganti batu bara karena dinilai rendah emisi.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/245050276\/rosan-tesla-urung-investasi-di-indonesia-karena-pembangkit-listrik-masih-gunakan-batubara\">Baca: Tesla enggan masuk karena listrik di Indonesia masih gunakan batubara<\/a><\/p>\n<p>Apakah klaim tentang&nbsp;gas&nbsp;alam&nbsp;ini benar dan seberapa efektif langkah ini?&nbsp;Simak&nbsp;ulasan&nbsp;berikut&nbsp;ini<\/p>\n<p>Dilansir di cerah.or.id, gas alam merupakan bahan bakar fosil yang terdiri dari metana (CH4) dan hidrokarbon lainnya. Saat ini, penggunaan gas alam sebagai sumber energi menempati posisi ketiga, setelah minyak bumi dan batu bara.<\/p>\n<p>Sementara, dalam hasil studi peer-review terbaru yang dilakukan ilmuwan ekosistem dari&nbsp;Amerika&nbsp;Serikat, Robert Howarth menyimpulkan bahwa Liquified Natural Gas (LNG) memiliki dampak iklim yang lebih besar dibandingkan bahan bakar fosil lainnya.<\/p>\n<p>Dilansir earth.org, penelitian Howarth mengungkap emisi yang dihasilkan dari penggunaan gas alam tidak lebih baik jika dibandingkan dengan batu-bara yang saat ini disebut sebagai bahan bakar paling kotor.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Batubara, hingga&nbsp;saat&nbsp;ini&nbsp;disebut&nbsp;sebagai&nbsp;bahan bakar fosil yang paling murah dan paling kotor, merupakan sumber emisi karbon terbesar dan bertanggung jawab atas lebih dari 0,3&deg;C dari kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,2&deg;C sejak Revolusi Industri.<\/p>\n<p>Batu bara disebut-sebut sebagai penyumbang utama polusi udara dunia, sehingga menmpati urutan teratas dalam&nbsp;target&nbsp;pengurangan penggunaannya.<\/p>\n<p>Namun penelitian Howarth sampai pada kesimpulan bahwa LNG 33% lebih buruk dalam hal emisi gas rumah kaca selama periode 20 tahun dibandingkan dengan batu bara, ketika memperhitungkan emisi siklus hidupnya.<\/p>\n<p>Faktanya, sekitar dua pertiga dari total emisi terjadi sebelum pembakaran akhir gas, baik untuk rumah tangga maupun untuk kebutuhan industri.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/ekbis\/245049084\/blp-transisi-energi-bisa-menghemat-subsidi-hingga-rp90-triliun-setahun\">Baca: Transisi energi memicu penghematan APBN hingga Rp 90 triliun setahun<\/a><\/p>\n<p>Emisi terbesar yang dihasilkan gas alam karena&nbsp;sebagian besar terdiri dari metana. Metana memerangkap sekitar 80 kali lipat panas karbon dioksida (CO2) selama 20 tahun, dan turun menjadi 28-34 kali lipat dalam satu abad.<\/p>\n<p>Ventilasi gas dan emisi sampingan (Fugitive emision) adalah penyebab utama emisi metana. Ventilasi gas adalah praktik yang memompa keluar gas yang tidak diinginkan untuk menjaga kondisi aman dalam proses ekstraksi minyak dan gas.<\/p>\n<p>Meskipun pelepasan gas adalah pelepasan metana yang disengaja, emisi sampingan adalah pelepasan gas yang tidak disengaja ke seluruh sistem pasokan bahan bakar fosil.<\/p>\n<p>Mayoritas pelepasan metana berasal dari proses hilir, yang meliputi pemurnian, transmisi, dan distribusi produk gas&nbsp;alam.<\/p>\n<p>&rdquo;Jadi, meskipun pembakaran batu bara menghasilkan emisi CO2 yang lebih besar dibandingkan pembakaran gas alam, emisi metana yang dihasilkan gas alam &ldquo;dapat mengimbangi perbedaan ini,&rdquo; demikian penelitian tersebut seperti dikutip earth.org.<\/p>\n<p>Diterbitkan di <em>Energy Science &amp; Engineering<\/em>, pada Kamis (3\/10\/2024) penelitian ini mengamati jejak gas rumah kaca dari ekspor LNG dari Amerika, yang saat ini merupakan eksportir bahan bakar terbesar di dunia.<\/p>\n<p>Ekspor gas dilarang di AS hingga tahun 2016. Namun pada tahun 2023, tujuh tahun setelah larangan tersebut dicabut, AS menyumbang 21 persen pasokan LNG global.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244867766\/6-cara-untuk-melepaskan-indonesia-dari-jerat-batu-bara-secara-bertahap\">Baca: Enam cara agar Indonesia bisa membebaskan diri dari batu bara<\/a><\/p>\n<p>Berdasarkan bukti sebelumnya mengenai potensi dampak ekspor gas, pemerintahan Biden pada bulan Januari memberlakukan moratorium peningkatan ekspor LNG, sambil menunggu bukti ilmiah lebih lanjut mengenai dampak pengiriman tersebut.<\/p>\n<p>&ldquo;Jeda persetujuan LNG baru ini melihat krisis iklim apa adanya: ancaman nyata di zaman kita,&rdquo; bunyi pernyataan Gedung Putih. Pada bulan Juli, seorang hakim federal menghentikan moratorium tersebut.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Menurut Howarth, sekitar setengah dari total emisi yang terkait dengan produksi gas alam ditimbulkan saat gas diangkut melalui pipa ke terminal pantai setelah dibor.<\/p>\n<p>Meski demikian, tahapan produksi lainnya, termasuk pendinginan dan pengiriman, juga memberikan kontribusi yang besar.<\/p>\n<p>Khusus untuk emisi dari transportasi kapal tanker menyumbang 5,5 persen dari total emisi, dan secara mengejutkan kapal tanker modern menunjukkan emisi gas rumah kaca yang lebih tinggi dibandingkan kapal tanker bertenaga uap karena berkurangnya metana dalam gas buang.<\/p>\n<p>&ldquo;Ilmu pengetahuannya cukup jelas di sini: hanya angan-angan bahwa gas secara ajaib berpindah ke luar negeri tanpa emisi apa pun,&rdquo; kata Howarth kepada The Guardian.<\/p>\n<p>&ldquo;Menganggap kita harus menggunakan gas ini sebagai solusi iklim adalah sebuah kesalahan. Ini adalah tindakan ramah lingkungan (greenwashing) yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan minyak dan gas yang terlalu meremehkan emisi dari jenis energi ini.&rdquo;<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>1.&nbsp;https:\/\/earth.org\/lng-33-worse-for-climate-than-coal-over-20-year-period-groundbreaking-research-reveals\/<\/p>\n<p>2.&nbsp;https:\/\/www.cerah.or.id\/publications\/report\/detail\/transisi-energi-indonesia-lepas-landas-tanpa-gas<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Survei persepsi risiko global (GRPS) yang dilakukan oleh Forum Ekonomi Dunia mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem menjadi risiko utama yang dihadapi dunia pada tahun 2024. Situasi ini akan mengganggu stok pangan dan meningkatkan harga bahan pangan pokok karena berpotensi gagal panen (World Economic Forum, 2024) seperti dilansir di cerah.or.id Kondisi ini diperparah dengan sejumlah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":12933,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[198,3682],"class_list":["post-12932","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-emisi","tag-gas-alam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12932","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12932"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12932\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12933"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12932"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12932"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12932"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}