{"id":13035,"date":"2026-07-30T01:40:59","date_gmt":"2026-07-30T01:40:59","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13035"},"modified":"2026-07-30T01:40:59","modified_gmt":"2026-07-30T01:40:59","slug":"catatan-panduan-pendidikan-perubahan-iklim-kemendikbud-pentingnya-integrasi-dimensi-afektif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13035","title":{"rendered":"Catatan Panduan Pendidikan Perubahan Iklim Kemendikbud: Pentingnya Integrasi Dimensi Afektif"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Akhir Agustus 2024 lalu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), merilis panduan pendidikan perubahan iklim.<\/p>\n<p>Panduan pendidikan perubahan iklim ini merupakan hasil nyata pertama dari proses perencanaan panjang integrasi pendidikan perubahan iklim ke dalam pendidikan formal di Indonesia yang dimulai sejak pertengahan 2023.<\/p>\n<p>Panduan pendidikan perubahan iklim ini ditujukan kepada pemangku kebijakan di daerah, kepala sekolah, dan pendidik, dengan tujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai isu perubahan iklim, termasuk definisi dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Selain itu, panduan ini menekankan pentingnya pendidikan perubahan iklim sebagai alat untuk memberdayakan generasi muda yang kritis dan proaktif melalui aksi mitigasi dan adaptasi iklim.<\/p>\n<p>Meskipun positif, panduan pendidikan perubahan iklim ini memerlukan pengembangan terkait konten, mekanisme implementasi, dan strategi jangkauan agar dapat diimplementasikan secara maksimal dan efektif.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244998081\/masalah-pendidikan-perubahan-iklim-di-indonesia-praktik-baik-yang-telah-dilakukan\">Baca: Praktik baik yang telah dilakukan dalam pendidikan iklim di Indonesia<\/a><\/p>\n<p><strong>Integrasi dimensi afektif<\/strong><br \/>Menurut UNESCO, pendidikan perubahan iklim dituntut untuk mencakup tiga dimensi pembelajaran, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sosio-emosi\/perasaan), dan konatif (perilaku).<\/p>\n<p>Sayangnya, dari segi konten, panduan pendidikan perubahan iklim yang dirilis Kemendikbud belum menekankan dimensi afektif atau perasaan.<\/p>\n<p>Panduan panduan pendidikan perubahan iklim ini hanya mengakui pentingnya dimensi afektif, tapi tidak menyertakan strategi konkret untuk meningkatkannya di kalangan peserta didik.<\/p>\n<p>Ini berpotensi membuat dimensi afektif terabaikan dalam proses pembelajaran, mengingat topik ini belum lazim diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia.<\/p>\n<p>Penelitian Kelvin Tang (PhD Candidate, University of Tokyo) di Jepang menemukan bahwa dimensi afektif adalah prediktor paling penting untuk niat berperilaku yang berkelanjutan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/pendidikan\/244986485\/masalah-pendidikan-perubahan-iklim-di-indonesia-belum-tepat-sasaran-1\">Baca: Pendidikan perubahan iklim di Indonesia belum tepat sasaran<\/a><\/p>\n<p>Individu yang memiliki keterlibatan emosional dengan perubahan iklim akan lebih memiliki kemauan untuk melakukan aksi iklim.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Artinya, dimensi afektif adalah kunci penting untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan (knowledge-action gap). Kesenjangan ini membuktikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk menghasilkan aksi nyata.<\/p>\n<p>Pendekatan emosional yang interaktif dan mendalam, seperti yang diterapkan di Prancis, bisa menjadi contoh.<\/p>\n<p>Di sana, pendidikan perubahan iklim tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga melibatkan siswa secara emosional melalui diskusi terbuka tentang kekhawatiran dan ketakutan terhadap dampak perubahan iklim antarsiswa serta antara siswa dan guru.<\/p>\n<p>Dalam proses ini, guru memosisikan diri mereka setara dengan siswa, tanpa bersikap menghakimi terhadap perasaan yang disampaikan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244988841\/masalah-pendidikan-perubahan-iklim-di-indonesia-kurangnya-sinergi-antarkebijakan-2\">Baca: Masalah pendidikan perubahan iklim di Indonesia 2<\/a><\/p>\n<p>Refleksi secara emosional ini sangat krusial dalam pembelajaran transformatif&mdash;salah satu prinsip pedagogis dari pendidikan perubahan iklim, yang menargetkan perubahan cara berpikir siswa.<\/p>\n<p>Pengakuan atas perasaan siswa ini belum tampak pada panduan pendidikan perubahan iklim di Indonesia&nbsp;yang&nbsp;baru&nbsp;dirilis.<\/p>\n<p>Peta kompetensi di dalam panduan ini, misalnya, masih menggunakan kata-kata seperti &lsquo;memahami&rsquo;, &lsquo;mengenal&rsquo;, dan &lsquo;mengidentifikasi&rsquo;, yang mencerminkan pendekatan pedagogi konvensional berbasis transmisi pengetahuan dan fokus pada dimensi kognitif.<\/p>\n<p>Akibatnya, metode pengajaran yang diterapkan bersifat pasif, menyerupai metode &lsquo;menyuapi&rsquo; atau spoon-feeding.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi hal ini, kata-kata seperti &lsquo;mengekspresikan&lsquo;, &lsquo;mengeksplorasi&rsquo;, &lsquo;mengaplikasikan&rsquo;, &lsquo;menganalisis&rsquo;, dan &lsquo;mengembangkan&rsquo; dapat ditambahkan ke dalam panduan, seperti yang direkomendasikan oleh panduan pendidikan perubahan iklim di Arizona, Amerika Serikat (AS), Victoria, Australia, dan Prancis.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini&nbsp;telah&nbsp;terbit&nbsp;di&nbsp;The&nbsp;Converstaion,&nbsp;Penulis:&nbsp;Kelvin Tang (PhD Candidate, University of Tokyo)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Akhir Agustus 2024 lalu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), merilis panduan pendidikan perubahan iklim. Panduan pendidikan perubahan iklim ini merupakan hasil nyata pertama dari proses perencanaan panjang integrasi pendidikan perubahan iklim ke dalam pendidikan formal di Indonesia yang dimulai sejak pertengahan 2023. Panduan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":13036,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3705],"class_list":["post-13035","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-panduan-pendidikan-perubahan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13035","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13035"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13035\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13036"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13035"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13035"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13035"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}