{"id":13181,"date":"2026-07-30T01:41:55","date_gmt":"2026-07-30T01:41:55","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13181"},"modified":"2026-07-30T01:41:55","modified_gmt":"2026-07-30T01:41:55","slug":"badan-meteorologi-australia-pemanasan-global-mengakibatkan-prediksi-la-nina-dan-el-nino-makin-sulit-dilakukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13181","title":{"rendered":"Badan Meteorologi Australia: Pemanasan Global Mengakibatkan Prediksi La Nina dan El Nino Makin Sulit Dilakukan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Badan Meteorologi Australia mengubah cara mereka mengkomunikasikan fenomena iklim seperti El Ni&ntilde;o dan La Ni&ntilde;a. Alasannya pemanasan global membuat prediksi berdasarkan masa lalu menjadi kurang dapat diandalkan.<\/p>\n<p>Minggu ini, Badan Meteorologi Australia mengingatkan warga dalam &ldquo;waspada La Ni&ntilde;a&rdquo; dan mengatakan jika sistem iklim di Pasifik benar-benar berkembang, kemungkinan besar fenomena tersebut hanya berumur pendek dan lemah.<\/p>\n<p>Secara historis, fenomena La Ni&ntilde;a terjadi saat air hangat berkumpul di bagian utara Australia&ndash; dikaitkan dengan kondisi yang lebih dingin dan basah di seluruh barat laut Australia hingga tenggara.<\/p>\n<p>Sementara, fenomena El Ni&ntilde;o seringkali diartikan kondisi atmosfer yang lebih hangat dan kering.<\/p>\n<p>Namun Dr Karl Braganza, manajer nasional layanan iklim di Badan Meteorologi Australia mengatakan, perubahan iklim dan kenaikan suhu lautan membuat pola&nbsp;lama tersebut menjadi kurang dapat diandalkan.<\/p>\n<p>Perubahan iklim mungkin tidak &ldquo;menghancurkan&rdquo; hal tersebut, katanya, &ldquo;tetapi frekuensi ketidakkonsistenan iklim dengan apa yang kita lihat di masa lalu akan semakin meningkat&rdquo;.<\/p>\n<p>Badan Meteorologi Australia menerbitkan informasi terkini secara berkala mengenai &ldquo;pendorong iklim&rdquo; seperti El Ni&ntilde;o, La Ni&ntilde;a, dan kondisi di Samudera Hindia yang dapat mempengaruhi curah hujan.<\/p>\n<p>Braganza mengatakan pihaknya mendorong masyarakat untuk melihat perkiraan jangka panjangnya daripada terlalu bergantung pada pemahaman berdasarkan masa lalu.<\/p>\n<p>Selama dekade terakhir, Badan Meteorologi Australia telah mengembangkan versi yang disebut &ldquo;model dinamis&rdquo; untuk prakiraan jangka panjang 90 hari.<\/p>\n<p>Versi saat ini, ACCESS-S, melakukan pengamatan terhadap lautan dan atmosfer, termasuk perubahan konsentrasi gas rumah kaca, dan menghasilkan prakiraan berdasarkan fisika.<\/p>\n<p>Braganza mengatakan model statistik lama yang berdasarkan prediksi pada pengamatan sejarah &ldquo;berfungsi dengan baik dalam iklim yang stasioner&rdquo;, namun model dinamis ini sekarang lebih berguna.<\/p>\n<p>&ldquo;Ini tidak bergantung pada masa lalu, tapi pada informasi terkini.&rdquo;<\/p>\n<p>Braganza mencontohkan El Ni&ntilde;o tahun lalu. El Ni&ntilde;o secara historis dikaitkan dengan kondisi panas dan kering, tetapi setelah awal musim panas, terjadi hujan lebat pada bulan Desember dan Januari.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">&ldquo;Model dinamis menangkap hujan tersebut,&rdquo; kata Braganza.<\/p>\n<p>Seperti kebanyakan prakiraan cuaca, kata Braganza, ACCESS-S tidak dapat memberikan akurasi 100persen: semakin jauh jaraknya, hasilnya juga semakin tidak akurat.<\/p>\n<p>Model ini digunakan terus-menerus dan memberikan perkiraan jangka panjang berdasarkan hasil 99 model yang dijalankan yang memberikan kemungkinan curah hujan dan suhu di atas atau di bawah rata-rata.<\/p>\n<p>&ldquo;Ini adalah perkiraan yang bersifat probabilistik, jadi ketika Anda mengatakan ada kemungkinan 70persen curah hujan di atas rata-rata, itu juga berarti ada kemungkinan 30persen curah hujan di bawah rata-rata,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, &ldquo;Masyarakat perlu menggunakannya untuk melindungi risiko mereka, dibandingkan menggunakannya untuk memandu seluruh operasi mereka.&rdquo;<\/p>\n<p>Braganza mengatakan pihaknya menyadari bahwa beberapa komunitas mengembangkan ekspektasi mereka sendiri terhadap curah hujan atau suhu &ldquo;berdasarkan pengetahuan mereka tentang sejarah&rdquo; yang menjadi pemicu iklim seperti El Ni&ntilde;o yang seringkali lebih kering.<\/p>\n<p>Jika kami mengatakan, &lsquo;ada El Ni&ntilde;o&rsquo;, kami menemukan bahwa masyarakat membuat prakiraan curah hujan sendiri,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p>Cuaca Australia dipengaruhi oleh tiga kali La Ni&ntilde;a yang jarang terjadi pada tahun 2020 hingga 2023, diikuti oleh El Ni&ntilde;o yang berakhir pada bulan April.<\/p>\n<p>La Ni&ntilde;a adalah fase El Ni&ntilde;o Southern Oscillation (Enso) yang terkait dengan suhu permukaan laut yang lebih dingin dari rata-rata di wilayah Pasifik khatulistiwa.<\/p>\n<p>Biro tersebut mengatakan minggu ini bahwa suhu permukaan laut global merupakan rekor terpanas setiap bulannya, mulai April 2023 hingga Juni 2024.<\/p>\n<p>Juli dan Agustus tahun ini hanya sedikit lebih rendah dari rekor suhu tahun lalu, &ldquo;tetapi jauh lebih hangat dibandingkan tahun-tahun lainnya sejak pengamatan dimulai. .pada tahun 1854&rdquo;.<\/p>\n<p>Badan Meteorologi Australia mengatakan tiga dari tujuh model iklim internasional, termasuk modelnya sendiri, menunjukkan bahwa suhu tropis Pasifik dapat melampaui ambang batas La Ni&ntilde;a mulai bulan Oktober dan tiga model lainnya memiliki suhu yang mendekati ambang batas tersebut.<\/p>\n<p>Badan Cuaca Nasional AS mengatakan ada kemungkinan 71persen kemungkinan terjadinya La Ni&ntilde;a yang lemah sebelum bulan November.<\/p>\n<p>Sumber:TheGuardian<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Badan Meteorologi Australia mengubah cara mereka mengkomunikasikan fenomena iklim seperti El Ni&ntilde;o dan La Ni&ntilde;a. Alasannya pemanasan global membuat prediksi berdasarkan masa lalu menjadi kurang dapat diandalkan. Minggu ini, Badan Meteorologi Australia mengingatkan warga dalam &ldquo;waspada La Ni&ntilde;a&rdquo; dan mengatakan jika sistem iklim di Pasifik benar-benar berkembang, kemungkinan besar fenomena tersebut hanya berumur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":13182,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[68,1610,3469,956],"class_list":["post-13181","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-el-nino","tag-iklim","tag-la-nina","tag-pemanasan-global"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13181","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13181"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13181\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13182"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13181"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13181"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13181"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}