{"id":13498,"date":"2026-07-30T01:44:11","date_gmt":"2026-07-30T01:44:11","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13498"},"modified":"2026-07-30T01:44:11","modified_gmt":"2026-07-30T01:44:11","slug":"brin-kerugian-lingkungan-yang-ditimbulkan-sampah-plastik-capai-rp-225-triliun-setahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13498","title":{"rendered":"BRIN: Kerugian Lingkungan yang Ditimbulkan Sampah Plastik Capai Rp 225 Triliun Setahun"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pemerintah menargetkan, kebocoran sampah plastik dari aktivitas masyarakat&nbsp;yang dibuang&nbsp;ke&nbsp;alam&nbsp;bebas,&nbsp;dapat diturunkan sebesar 70 persen pada 2025.<\/p>\n<p>Namun faktanya, perhitungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat hingga tahun 2024 ini baru 41,68 persen sampah plastik yang tidak dibuang ke alam bebas.<\/p>\n<p>Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi BRIN, Muhammad Reza Cordova menyatakan, potensi kerugian negara akibat kebocoran sampah plastik ke laut mencapai Rp 225 triliun per tahun.<\/p>\n<p>Dari perhitungan BRIN dari 2018 sampai 2023 secara kasar, rata-ratanya kurang lebih sekitar 484 ribu ton per tahun (sampah plastik) yang bocor ke lautan dunia dari kegiatan masyarakat kita.<\/p>\n<p>&rdquo;Kerugian kita antara Rp 125 triliun sampai Rp 225 triliun per tahun,&rdquo; kata Reza, pada Media Lounge Discussion (MELODI), bertajuk Kebocoran Sampah Plastik ke Laut Indonesia dan Strategi Penanganannya, di Gedung B.J Habibie, Jakarta, Rabu (11\/9\/2024).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245084342\/brin-sampah-plastik-indonesia-terbawa-ke-perairan-afrika-selatan\">Baca: 10-20 Persen sampah plastik Indonesia cemari perairan global<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Bisa kita bayangkan secara kasar, dari 2018 sampai 2023 ini sudah enam tahun. Sekarang masuk tahun ke tujuh. Berarti secara kasar kita sudah kehilangan Rp 2.000 triliun akibat sampah plastik,&rdquo; tambah dia.<\/p>\n<p>Estimasi kerugian tersebut, terang Reza, dilihat dari kerugian secara ekonomi, pariwisata, kesehatan, hingga dari sisi teknis.<\/p>\n<p>BRIN, kata dia, terus melakukan penelitian dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dalam mendeteksi jenis sampah plastik. Termasuk, melibatkan akademisi dari berbagai multidisiplin ilmu.<\/p>\n<p>&ldquo;Karena kalau kita bicara plastik, sampah plastik ini ketika terkena sinar matahari, angin, dan lain-lain, akan jadi mikroplastik. Semakin kecil ukuran plastik, semakin mudah pula akan masuk ke dalam tubuh kita,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245080858\/brin-rekomendasikan-pendekatan-ekoregion-dalam-pengelolaan-sampah-plastik\">Baca: BRIN tawarkan konsep ekoregion dalam menangani sampah plastik<\/a><\/p>\n<p>Upaya lainnya, menurut Reza, perlu dilakukan proses bioremediasi yang membutuhkan waktu panjang.<\/p>\n<p>&ldquo;Ketika sampah sudah bocor ke lingkungan, apa yang kita lakukan? Kita coba cari mikroba apa yang paling tepat untuk bisa &lsquo;memakan&rsquo; sampah plastik itu,&rdquo; ucapnya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Reza juga menyoroti komitmen pimpinan daerah dalam penyediaan anggaran untuk pengelolaan sampah khususnya sampah plastik.<\/p>\n<p>Anggaran pengelolaan sampah, sebut dia, disebut optimal bila mencapai 3 hingga 4 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).<\/p>\n<p>&ldquo;Tapi yang terjadi saat ini, baru mencapai 0,07 persen. Satu persen saja enggak sampai, Itu satu problematika besar,&rdquo; tandasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pemerintah menargetkan, kebocoran sampah plastik dari aktivitas masyarakat&nbsp;yang dibuang&nbsp;ke&nbsp;alam&nbsp;bebas,&nbsp;dapat diturunkan sebesar 70 persen pada 2025. Namun faktanya, perhitungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat hingga tahun 2024 ini baru 41,68 persen sampah plastik yang tidak dibuang ke alam bebas. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi BRIN, Muhammad Reza Cordova menyatakan, potensi kerugian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":13499,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17,686],"class_list":["post-13498","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-lingkungan","tag-sampah-plastik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13498","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13498"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13498\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13499"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13498"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13498"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13498"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}