{"id":13512,"date":"2026-07-30T01:44:15","date_gmt":"2026-07-30T01:44:15","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13512"},"modified":"2026-07-30T01:44:15","modified_gmt":"2026-07-30T01:44:15","slug":"memotret-ekowisata-di-indonesia-melindungi-atau-justru-mengancam-kelestarian-satwa-liar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13512","title":{"rendered":"Memotret Ekowisata di Indonesia: Melindungi atau Justru Mengancam Kelestarian Satwa Liar?"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Praktik ekowisata berkelanjutan telah menunjukkan perkembangan positif di beberapa wilayah di Indonesia. Namun demikian, ada tantangan yang harus diatasi, terutama dalam hal pengawasan, infrastruktur, dan kesadaran pihak terkait.<\/p>\n<p>Demikian diungkapkan Rektor Universitas Pakuan, Prof. Didik Notosudjono, sebagai <em>keynote speaker<\/em> dalam webinar &ldquo;Ekowisata Satwa Liar Berkelanjutan: Pembelajaran Dari Asia&rdquo; pada Rabu, (11\/9\/2024).<\/p>\n<p>Untuk memastikan bahwa ekowisata benar-benar berkelanjutan, Indonesia perlu&nbsp;memperkuat regulasi, meningkatkan pendidikan lingkungan, dan memastikan bahwa pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal dan lingkungan secara jangka panjang.<\/p>\n<p>Dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam mengembangkan ekowisata berkelanjutan melalui berbagai cara.<\/p>\n<p>Antara lain melakukan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, kolaborasi dengan masyarakat lokal, inovasi teknologi, monitoring dan evaluasi, penyadaran publik dan kampanye ekowisata berkelanjutan.<\/p>\n<p>&rdquo;Melalui peran-peran tersebut, perguruan tinggi tak hanya dapat mendukung pengembangan ekowisata berkelanjutan, tapi juga dapat berkontribusi dalam melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Webinar ini diselenggarakan Belantara Foundation bekerja sama dengan Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Biologi FMIPA, Prodi Pendidikan Biologi FKIP dan LPPM Universitas Pakuan sebagai bagian rangkaian Belantara Learning Series Episode 11 (BLS Eps.11).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/wisata\/245077489\/upaya-masyarakat-pulau-pahawang-kembangkan-ekowisata-berkelanjutan\">Baca: Upaya warga Pulau Pahawang kembangkan ekowisata berkelanjutan<\/a><\/p>\n<p>Belantara juga menggandeng Indonesia Ecotourism Network (Indecon), Indonesia; Darrang College, Assam, India; Turtle Conservation and Research Programme, India; Borneo Eco Tours, Malaysia dan Department of Zoology Jahangirnagar University, Bangladesh.<\/p>\n<p>Mahasiswa&nbsp;dari&nbsp;lima universitas yaitu Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas Tanjungpura dan Universitas Nusa Bangsa&nbsp;ikut&nbsp;menyaksikan&nbsp;webinar&nbsp;ini&nbsp;secara&nbsp;daring.<\/p>\n<p>Webinar Internasional-BLS Eps.11 diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (10 Agustus), Global Tiger Day (29 Juli), World Elephant Day (12 Agustus), dan International Orangutan Day (19 Agustus) serta Hari Pariwisata Sedunia (27 September).<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna dalam sambutannya,&nbsp;berharap webinar dapat meningkatkan pemahaman stakeholders tentang makna sesungguhnya dari ekowisata satwa liar berkelanjutan.<\/p>\n<p>&ldquo;Ekowisata satwa liar seharusnya bisa menjadi wahana untuk melibatkan dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, serta sekaligus memberikan perlindungan ekologis terhadap satwa liar dan keanekaragaman hayati lainnya&rdquo;, ujarnya.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Secara tidak langsung, lanjutnya, kegiatan ekowisata berkelanjutan dapat memberikan edukasi lingkungan hidup, baik kepada pengunjung maupun masyarakat&nbsp;sekitar, yang sekaligus juga dapat membuka kesempatan bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan perekonomian dan kehidupan sosialnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/wisata\/242882365\/8-spot-wisata-alam-di-tangerang-yang-mudah-diakses-dari-jakarta\">Baca: Masih ada spot ekowisata di Tangerang, Banten<\/a><\/p>\n<p>&rdquo;Kini, ekowisata satwa liar telah menjadi bagian dalam mendukung dan mengembangkan pembangunan berkelanjutan, di tengah semakin rusak dan kritisnya sumber daya hayati,&rdquo; imbuh Dolly.<\/p>\n<p>Sementara, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Hadi Sukadi Alikodra, menekankan pentingnya kolaborasi antarpihak dalam mencapai tujuan dengan konsep triple helix pada program ekowisata dan bioprospeksi hidupan liar untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.<\/p>\n<p>Konsep ini menggabungkan peran kademisi, sektor bisnis, dan pemerintah.<\/p>\n<p>&ldquo;Dengan melibatkan berbagai pihak, konsep triple helix dapat digunakan untuk mencari pendekatan inovatif guna meningkatkan pengembangan dan implementasi ekowisata dan bioprospeksi hidupan liar berkelanjutan di Indonesia,&rdquo; ujarnya.<\/p>\n<p>Pendiri dan Direktur Eksekutif Indecon, Ary S. Suhandi, mengimbuhi wisata satwa liar telah menjadi tren signifikan di tingkat global yang didorong oleh meningkatnya minat masyarakat terhadap alam, konservasi, dan wisata berkelanjutan.<\/p>\n<p>Ekowisata juga dapat dimanfaatkan untuk berkontribusi pada upaya pelestarian alam maupun budaya. Namun hal itu jika pariwisata dikelola dengan baik dan benar.<\/p>\n<p>&ldquo;Jika tidak, maka pariwisata juga memiliki risiko menimbulkan dampak negatif baik pada lingkungan maupun sosial budaya. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan kesadaran masyarakat menjadi krusial didahulukan&rdquo;,<br \/>ujar Ary.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Praktik ekowisata berkelanjutan telah menunjukkan perkembangan positif di beberapa wilayah di Indonesia. Namun demikian, ada tantangan yang harus diatasi, terutama dalam hal pengawasan, infrastruktur, dan kesadaran pihak terkait. Demikian diungkapkan Rektor Universitas Pakuan, Prof. Didik Notosudjono, sebagai keynote speaker dalam webinar &ldquo;Ekowisata Satwa Liar Berkelanjutan: Pembelajaran Dari Asia&rdquo; pada Rabu, (11\/9\/2024). Untuk memastikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":13513,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3697,3080],"class_list":["post-13512","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-belantara-foundation","tag-ekowisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13512","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13512"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13512\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13513"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13512"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13512"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13512"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}