{"id":13558,"date":"2026-07-30T01:44:47","date_gmt":"2026-07-30T01:44:47","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13558"},"modified":"2026-07-30T01:44:47","modified_gmt":"2026-07-30T01:44:47","slug":"butuh-transportasi-publik-berkualitas-untuk-atasi-polusi-udara-di-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13558","title":{"rendered":"Butuh Transportasi Publik Berkualitas untuk Atasi Polusi Udara di Jakarta"},"content":{"rendered":"<p> <!--img1--> <\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyebut sumber utama polusi udara di Jakarta adalah sektor transportasi.<\/p>\n<p>Dimana hampir&nbsp;70 persen sumber polusi udara Jakarta bersumber dari sektor&nbsp;tranportasi&nbsp;yakni&nbsp;emisi kendaraan bermotor, terutama kendaraan pribadi.<\/p>\n<p>Karena itu solusi tepat untuk mengatasi polusi udara di Jakarta adalah pembatasan kendaraan bermotor dan membenahi sistem transportasi publik yang hingga hari ini, bisa dibilang belum memadai.<\/p>\n<p>Seperti apa kondisinya dan apa rekomendasi yang ditawarkan berikut hasil kajian tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang telah terbit di The Conversation pada Agustus lalu,<\/p>\n<p>Upaya mengurai masalah transportasi publik seharusnya lebih difokuskan untuk menjadi jalan keluar masalah polusi udara Jakarta, tanpa menegasikan sumber-sumber polusi lainnya, seperti limbah pabrik dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).<\/p>\n<p><strong>Kondisi transportasi Jabodetabek<\/strong><br \/>Selama ini, beberapa pihak menganggap pemerintah cenderung menyalahkan masyarakat yang enggan berpindah dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik.<\/p>\n<p>Hingga saat ini, penduduk Jakarta dan sekitarnya cenderung masih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum dalam melakukan mobilitas.<\/p>\n<p>Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai sekitar 148 juta kendaraan pada tahun 2022 dan didominasi oleh sepeda motor sebesar sekitar 125 juta unit.<\/p>\n<p>BPS juga mencatat produksi kendaraan bermotor dalam negeri mencapai 6,18 juta unit pada tahun 2021. Jumlah tersebut naik 42% dari tahun 2020 yang hanya berjumlah 4,35 juta unit.<\/p>\n<p>Di Jakarta, Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia mencatat jumlah kendaraan bermotor pada 2022 berjumlah sekitar 3,7 juta mobil dan 17,3 juta motor.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/244802884\/pro-kontra-penerapan-sistem-ganjil-genap-untuk-sepeda-motor-di-jakarta\">Baca: Prokontra penerapan sistem ganjil genap pada sepeda motor<\/a><\/p>\n<p>Jumlah ini menunjukkan bahwa jumlah mobil dan motor meningkat sangat drastis berturut-turut sebesar 269persen dan 721persen dalam waktu dua puluh tahun terakhir.<\/p>\n<p>Dapat kita bayangkan betapa eksesifnya jumlah kendaraan bermotor di Jakarta saat ini.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Di wilayah pinggiran Jakarta seperti Kota Tangerang, Banten, jumlah kendaraan pribadi (mobil dan motor) pada tahun 2022 juga tinggi, yakni mencapai sekitar 3,4 juta kendaraan.<\/p>\n<p>Sementara itu, jumlah kendaraan bermotor di kota penopang lainnya&ndash;Bogor, Depok dan Bekasi&ndash;berkisar 6,1 juta kendaraan.<\/p>\n<p>Dari sisi ekonomi regional, pemerintah daerah mungkin senang dengan banyaknya kendaraan bermotor, karena semakin banyak kendaraan, semakin banyak pula pajak yang dipungut; yang berpengaruh ke besaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing daerah.<\/p>\n<p>Namun dari sisi lingkungan, dapat kita bayangkan jika sekitar 30 juta kendaraan lalu lalang setiap harinya, berapa banyak emisi yang dikeluarkan ke udara?<\/p>\n<p>Transportasi publik belum memadai, kendaraan pribadi pilihan rasional<br \/>Warga Jabodetabek memang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dalam melakukan mobilitas sehari-hari.<\/p>\n<p>Ini kemungkinan besar disebabkan oleh transportasi publik belum memadai serta mekanisme pembiayaan dan kepemilikan kendaraan pribadi yang kini semakin dipermudah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/241767322\/polusi-udara-di-jakarta-makin-parah-apa-kabar-pembatasan-kendaraan-bermotor\">Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan untuk atasi polusi udara di Jakarta<\/a><\/p>\n<p>Statistik Komuter tahun 2019 menyebutkan 91,6persen komuter Jabodetabek, alias pelaku perjalanan yang keluar-masuk Jakarta setiap hari, tidak memiliki keinginan untuk beralih ke moda transportasi umum.<\/p>\n<p>Beberapa alasannya adalah waktu tempuh lama, tidak praktis, dan jauhnya akses yang terintegrasi antarmoda transportasi. BPS juga mencatat bahwa 6 dari 10 komuter menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasi utama.<\/p>\n<p>Belum memadainya sistem transportasi publik memantik berbagai siasat yang dilakukan oleh warga, di antaranya adalah mengompreng dan mengandalkan ojek daring, selain membeli dan menggunakan kendaraan pribadi.<\/p>\n<p>Pilihan ojek daring sebagai salah satu moda pengumpan juga sering kali dianggap menjadi alternatif, bahkan solusi, dari masalah yang ada.<\/p>\n<p>Namun, jika kita teliti lebih jauh, kepemilikan kendaraan pribadi dan adanya bisnis ojek daring justru menunjukkan bahwa sistem transportasi publik kita selama ini masih problematik.<\/p>\n<p><strong>Upaya pemerintah yang sayangnya belum efektif<\/strong><br \/>Pembenahan transportasi publik di Jabodetabek sebetulnya bukan hal baru. Sudah banyak upaya untuk membangun dan memperbaikinya.<\/p>\n<p>Misalnya, DKI Jakarta sudah memiliki JakLingko, sebuah sistem transportasi terintegrasi mapan yang menggabungkan TransJakarta, minitrans (BRT) dan mikrotrans (non-BRT) sebagai moda pengumpan (feeder).<\/p>\n<p>Berbagai proyek infrastruktur besar seperti Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit\/MRT dan Lintas Raya Terpadu (LRT) juga dibangun untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik massal di Jakarta.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/cerita-kota\/241767313\/penataan-transportasi-publik-dan-pembangunan-kawasan-berkonsep-tod-akankah-kurangi-kemacetan-di-jakarta\">Baca: Penataan transportasi publik dan pembangunan kawasan berkonsep TOD<\/a><\/p>\n<p>Pertanyaannya, meski moda transportasi publik di ibu kota semakin beragam, apakah jalurnya sudah cukup menjangkau semua wilayah dan sistem pengumpannya sudah mendukung konektivitas dengan wilayah pinggiran?<\/p>\n<p>Di samping penyediaan infrastruktur, pemerintah juga sudah berupaya untuk mengajak warga untuk menggunakan transportasi publik demi lingkungan yang lebih baik.<\/p>\n<p>Misalnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memiliki program Gerakan Nasional Kembali Ke Angkutan Umum pada tahun 2022 dan Program Langit Biru.<\/p>\n<p>Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) juga melakukan uji emisi kendaraan sebagai bentuk dukungan terhadap pengendalian pencemaran udara.<\/p>\n<p>Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah mengajak warganya untuk turut menggunakan transportasi publik. Namun, semua itu belum mampu mengajak masyarakat beralih, sehingga butuh pembenahan struktural.<\/p>\n<p>Seperti apa seharusnya pembenahan itu harus dilakukan, akan diulas dalam tulisan selanjutnya.<\/p>\n<p><strong>Penulis:<\/strong><br \/><strong>Dwiyanti Kusumaningrum<\/strong><br \/><strong>Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)<\/strong><\/p>\n<p><strong>Anggi Afriansyah<\/strong><br \/><strong>Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyebut sumber utama polusi udara di Jakarta adalah sektor transportasi. Dimana hampir&nbsp;70 persen sumber polusi udara Jakarta bersumber dari sektor&nbsp;tranportasi&nbsp;yakni&nbsp;emisi kendaraan bermotor, terutama kendaraan pribadi. Karena itu solusi tepat untuk mengatasi polusi udara di Jakarta adalah pembatasan kendaraan bermotor dan membenahi sistem transportasi publik yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":13559,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9,402,597],"class_list":["post-13558","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-jakarta","tag-polusi-udara","tag-transportasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13558","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13558"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13558\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13559"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13558"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13558"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13558"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}