{"id":13574,"date":"2026-07-30T01:45:05","date_gmt":"2026-07-30T01:45:05","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13574"},"modified":"2026-07-30T01:45:05","modified_gmt":"2026-07-30T01:45:05","slug":"pembangunan-tanggul-laut-raksasa-di-teluk-jakarta-solusi-atau-justru-memicu-masalah-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=13574","title":{"rendered":"Pembangunan Tanggul Laut Raksasa di Teluk Jakarta, Solusi atau Justru Memicu Masalah Baru"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Pemerintah saat ini sedang melanjutkan kembali pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) di Teluk Jakarta yang direncanakan akan memiliki panjang 46 kilometer.<\/p>\n<p>Pembangunan tanggul laut raksasa di&nbsp;Teluk&nbsp;Jakarta&nbsp;ini disinggung oleh calon gubernur DKI Jakarta Ridwan Kamil, yang mengutarakan komitmennya untuk merealisasikan proyek ini jika terpilih menjadi gubernur.<\/p>\n<p>Saat ini, sudah terbangun 13 kilometer tanggul laut di&nbsp;Teluk&nbsp;Jakarta, sehingga masih menyisakan sepanjang 33 kilometer tanggul laut yang belum rampung pembangunannya.<\/p>\n<p>Dari 33 kilometer tanggul laut ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan menggarap 11 kilometer, sedangkan 22 kilometer sisanya menjadi tanggung jawab Pemprov DKI Jakarta.<\/p>\n<p>Pemprov DKI Jakarta masih menunggu desain yang dibuat oleh Kementerian PUPR, seperti disebutkan dalam perjanjian sebelumnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/245076338\/seperlima-wilayah-jakarta-berada-di-bawah-permukaan-laut-seperti-ini-dampaknya-pada-lingkungan-dan-kehidupan-warganya\">Baca: Seperlima wilayah Jakarta berada di bawah permukaan air laut<\/a><\/p>\n<p>Pembangunan tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta ini disebut sebagai salah satu upaya untuk mengatasi persoalan banjir dan rob di Jakarta.<\/p>\n<p>Selain mengatasi banjir, pembangunan tanggul laut raksasa ini&nbsp;juga&nbsp;sebagai upaya penyelamatan pesisir utara Pulau Jawa dari ancaman tenggelam karena kenaikan permukaan laut.<\/p>\n<p>Namun, analisis yang dipublikasikan Ekologi Maritim Indonesia (EKOMARIN) belum lama ini menyebut bahwa&nbsp;rencana pembangunan tanggul laut di Teluk Jakarta tidak akan menjadi solusi bagi masalah yang dihadapi Jakarta.<\/p>\n<p>Analisa tersebut menyebut, daratan Jakarta yang belakangan makin sering mendapat kiriman banjir rob diakibatkan permukaan tanah lebih rendah dari permukaan air laut.<\/p>\n<p>Proyek tersebut, justru dinilai bisa memicu beragam masalah berikutnya seperti isu sosial ekonomi dan teknis lingkungan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243211082\/masalah-lingkungan-terbesar-2023-naiknya-permukaan-air-laut-akibat-krisis-iklim\">Baca: Naiknya permukaan air laut menjadi masalah serius bagi lingkungan<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Menurut EKOMARIN, tanggul laut Jakarta hanya akan menjadi solusi palsu dengan cara mengeruk keuntungan secara ekonomi di kawasan pesisir itu.<\/p>\n<p>&ldquo;Dalam kertas posisi kami melihat enam catatan kritis terhadap proyek strategis nasional tersebut,&rdquo; ungkap Koordinator Nasional EKOMARIN Marthin Hadiwinata dikutip mongabay.co.id<\/p>\n<p>Alasan kenapa proyek bernama National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) itu dinilai menjadi solusi palsu, adalah karena isu serius tentang penurunan permukaan tanah di wilayah daratan Jakarta.<\/p>\n<p>Dilansir mongabay.co.id, fenomena penurunan permukaan tanah di Jakarta masih terjadi secara bervariasi, dengan rerata yang sama antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya.<\/p>\n<p>Marthin mengatakan kalau kasus penurunan muka tanah bisa diperbaiki dengan cara mengurangi atau bahkan menghentikan konsumsi air tanah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/24565643\/ribuan-desa-pesisir-di-indonesia-timur-terancam-krisis-akibat-perubahan-iklim\">Baca: Ribuan desa pesisir terancam hilang karena kenaikan permukaan laut<\/a><\/p>\n<p>Cara tersebut sudah dilakukan oleh Tokyo (Jepang) yang memulainya pada 1950 hingga 1970, dan itu berhasil menurunkan rerata permukaan tanah.<\/p>\n<p>Alasan kedua kenapa NCICD menjadi solusi palsu, adalah karena faktor sedimentasi yang mengalami perubahan pola akibat perubahan garis pantai, hidrologi, dan potensi intensitas kegiatan di lokasi reklamasi.<\/p>\n<p>Tetapi, di saat yang sama terjadi peningkatan arus yang akan meningkatkan tekanan terhadap ekosistem di sekitar Kepulauan Seribu. Kondisi itu terjadi karena adanya peningkatan buangan material bahan pencemar dan sedimen.<\/p>\n<p>&ldquo;Dampak lain yang diterima karena sifat dinamisnya laut adalah pertumbuhan karang di Kepulauan Seribu yang akan terganggu akibat tekanan bahan pencemar dan sedimen,&rdquo; jelasnya.<\/p>\n<p>Alasan ketiga, tanggul laut bisa menjadi upaya untuk menopang reklamasi, baik pada fase konstruksi atau pun saat operasional.&nbsp;Jika seperti itu, menurut&nbsp;EKOMARIN,&nbsp;NCICD justru bisa memicu dampak buruk terhadap kualitas air di sekitar lokasi proyek.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Pemerintah saat ini sedang melanjutkan kembali pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) di Teluk Jakarta yang direncanakan akan memiliki panjang 46 kilometer. Pembangunan tanggul laut raksasa di&nbsp;Teluk&nbsp;Jakarta&nbsp;ini disinggung oleh calon gubernur DKI Jakarta Ridwan Kamil, yang mengutarakan komitmennya untuk merealisasikan proyek ini jika terpilih menjadi gubernur. Saat ini, sudah terbangun 13 kilometer [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":13575,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2093,3853],"class_list":["post-13574","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-tanggul-laut","tag-teluk-jakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13574","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13574"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13574\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13575"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13574"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13574"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13574"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}