{"id":14260,"date":"2026-07-30T01:49:28","date_gmt":"2026-07-30T01:49:28","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=14260"},"modified":"2026-07-30T01:49:28","modified_gmt":"2026-07-30T01:49:28","slug":"kawasan-wisata-bromo-makin-rawan-banjir-ini-rekomendasi-untuk-memulihkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=14260","title":{"rendered":"Kawasan Wisata Bromo Makin Rawan Banjir, Ini Rekomendasi untuk Memulihkan"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211;&nbsp;Kegiatan&nbsp;pariwisata&nbsp;di kawasan Kaldera Tengger (dikenal dengan kawasan wisata Bromo), Jawa Timur, ternyata&nbsp;mengakibatkan kawasan&nbsp;ini&nbsp;makin&nbsp;rawan&nbsp;banjir.<\/p>\n<p>Tanah di kawasan wisata Bromo sebagian besar terdiri atas pasir vulkanis yang sebetulnya mudah menyerap air dan menjadi kawasan resapan air hujan.<\/p>\n<p>Namun, ada dugaan bahwa kaki-kaki wisatawan maupun kendaraan yang setiap hari melintas membuat pasir tersebut menjadi padat.<\/p>\n<p>Riset yang dilakukan Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijayabekerja sama dengan pengelola TNBTS pada 2017-2018 memperkuat dugaan tersebut.<\/p>\n<p>Kawasan wisata Bromo mengalami pemadatan tanah akibat pijakan manusia, hewan, maupun kendaraan bermotor, di lokasi atau jalur-jalur ilegal (di luar jalur &lsquo;resmi&rsquo; yang ditetapkan oleh pengelola taman nasional).<\/p>\n<p>Terbentuknya jaringan jalur-jalur ilegal dengan karakteristik tanah yang padat tidak hanya menyebabkan hilangnya vegetasi dipermukaan tanah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244972367\/riset-aktivitas-wisatawan-akibatkan-kawasan-wisata-bromo-makin-rawan-banjir\">Baca: Pariwisata membuat kawasan wisata Bromo rawan banjir<\/a><\/p>\n<p>Ini juga berefek pada berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air. Dampaknya, terjadi peningkatan limpasan air permukaan dan banjir yang semakin sering terjadi di kawasan Bromo.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Apakah kondisi ini bisa diperbaiki dan apa yang harus dilakukan? Berikut hasil rekomendasi tim peneliti dari Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijaya<\/p>\n<p>Pemadatan tanah di kawasan Bromo sebenarnya bisa pulih secara alami dengan membiarkan akar vegetasi dan hewan-hewan tanah membentuk lubang pori dan menggemburkan tanah.<\/p>\n<p>Namun, pemulihan ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebuah riset di Gurun Mojave menunjukkan bahwa secara alami, pemulihan tanah yang memadat membutuhkan waktu sekitar 70-124 tahun.<\/p>\n<p>Pemulihan ini pun baru bisa optimal jika suatu area tidak terganggu oleh pijakan kaki maupun gilasan roda kendaraan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Selain cara alami, tanah juga dapat kita pulihkan melalui cara mekanis dengan secara langsung memecah lapisan-lapisan tanah permukaan yang keras.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/wisata\/244769058\/kawasan-gunung-bromo-akan-ditutup-untuk-wisatawan-pada-21-24-juni-2024-dalam-rangka-ritual-yadnya-kasada\">Baca: Kawasan wisata Bromo ditutup sementara<\/a><\/p>\n<p>Ini mempercepat peresapan air hujan ke dalam tanah. Namun, pendekatan ini membutuhkan kerja keras dari pengelola.<\/p>\n<p><strong>Menyeimbangkan pariwisata dan konservasi<\/strong><br \/>Untuk mencegah pemadatan tanah dan kerusakan lainnya, pengelola taman nasional sebenarnya telah membatasi akses pengunjung ke area-area yang sensitif terhadap gangguan seperti di Bukit Teletubbies.<\/p>\n<p>Pihak pengelola juga telah menerapkan sistem kuota pengunjung seperti yang diberlakukan untuk jalur pendakian Gunung Semeru.<\/p>\n<p>Namun, usaha pembatasan hanya berdasarkan kuota ini sepertinya belum cukup. Pengelola dapat menetapkan jalur wisata yang jelas dan mendorong pengunjung untuk tetap berada di jalur-jalur tersebut untuk mengurangi gangguan pada tanah.<\/p>\n<p>Penegakan aturan dan sanksi tegas terhadap pengunjung yang keluar dari jalur &lsquo;resmi&rsquo; ini patut diperhitungkan.<\/p>\n<p>Upaya preventif seperti perbaikan dan pembangunan pagar dua sisi di sepanjang jalur juga penting untuk mencegah wisatawan masuk ke kawasan terlarang (terutama di area-area yang sensitif).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244744664\/aksi-bersih-sampah-di-kawasan-taman-nasional-bromo-tengger-semeru-kumpulkan-ratusan-kilogram-sampah-plastik\">Baca: Aksi bersih sampah di kawasan wisata Bromo<\/a><\/p>\n<p>Infrastruktur yang bagus dapat mengatur aliran pengunjung sehingga dapat mengurangi dampak buruk aktivitas wisata.<\/p>\n<p>Hal yang tak kalah penting adalah komunikasi risiko lingkungan di Bromo kepada wisatawan dan pemangku kepentingan lokal seperti pemandu wisata, pemilik jasa angkutan, maupun pemilik penginapan.<\/p>\n<p>Seluruh pihak patut menyadari bahwa aktivitas mereka dapat berdampak negatif terhadap kelangsungan kawasan Bromo.<\/p>\n<p>Kolaborasi pengelola taman nasional juga komunitas lokal sangat penting untuk menerapkan strategi penyeimbangan aktivitas wisata dan konservasi ini.<\/p>\n<p>Komunitas lokal, yang sebagian besar bergantung pada pariwisata untuk mata pencaharian mereka, perlu menjadi bagian integral dari percakapan konservasi.<\/p>\n<p>Dengan menyelaraskan kepentingan komunitas dengan tujuan lingkungan, upaya edukasi terus menerus, dan praktik manajemen yang lebih baik, sangat dimungkinkan untuk menciptakan praktik pariwisata berkelanjutan yang menguntungkan semua pihak.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Danny Dwi Saputra, Dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Kehutanan, Universitas Brawijaya<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Kegiatan&nbsp;pariwisata&nbsp;di kawasan Kaldera Tengger (dikenal dengan kawasan wisata Bromo), Jawa Timur, ternyata&nbsp;mengakibatkan kawasan&nbsp;ini&nbsp;makin&nbsp;rawan&nbsp;banjir. Tanah di kawasan wisata Bromo sebagian besar terdiri atas pasir vulkanis yang sebetulnya mudah menyerap air dan menjadi kawasan resapan air hujan. Namun, ada dugaan bahwa kaki-kaki wisatawan maupun kendaraan yang setiap hari melintas membuat pasir tersebut menjadi padat. Riset yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":14261,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[408,4001],"class_list":["post-14260","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-banjir","tag-kawasan-wisata-bromo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14260"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14260\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14261"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}