{"id":14464,"date":"2026-07-30T01:50:32","date_gmt":"2026-07-30T01:50:32","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=14464"},"modified":"2026-07-30T01:50:32","modified_gmt":"2026-07-30T01:50:32","slug":"gen-z-dan-baby-boomers-mana-yang-paling-menderita-akibat-perubahan-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=14464","title":{"rendered":"Gen Z dan Baby Boomers, Mana yang Paling Menderita Akibat Perubahan Iklim?"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Kajian di tingkat global maupun nasional banyak kaum muda dari Generasi Z (Gen Z) dan Milenial sangat risau terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim.<\/p>\n<p>Gen Z merupakan kelompok penduduk global yang lahir dalam periode 1998-2012, sedangkan Milenial lahir di antara 1981-1995.<\/p>\n<p>Level keresahan mereka pada kondisi bumi saat ini, khususnya perubahan iklim, lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, seperti Generasi X (1965-1989) dan Baby Boomers (1946-1964).<\/p>\n<p>Kondisi tersebut melahirkan aksi iklim yang sangat kencang dari kaum muda Gen Z maupun Milenial dibandingkan orang-orang tua.<\/p>\n<p>Bahkan, aksi tersebut juga memicu lahirnya meme &ldquo;Ok Boomer&rdquo;, sebagai sindiran sejumlah anak muda terhadap generasi tua yang dianggap kolot terhadap langkah maju, termasuk aksi iklim.<\/p>\n<p>Sayang, sindiran ini justru menimbulkan sentimen antargenerasi dan tindakan saling menyalahkan. Generasi muda menganggap generasi tua telah merusak lingkungan dan memperparah perubahan iklim. Generasi tua juga dicap lamban untuk mengatasinya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244937823\/perubahan-iklim-picu-gelombang-panas-akan-makin-sering-terjadi\">Baca: Perubahan iklim membuat fenomena gelombang panas ekstrem<\/a><\/p>\n<p>Sementara itu, generasi tua mengeluhkan anak muda yang mereka anggap &ldquo;mental lembek&rdquo; dan hanya doyan main gadget. Mereka juga acap &ldquo;menyuruh&rdquo; yang muda untuk bertindak mengurus persoalan lingkungan.<\/p>\n<p>Membawa sentimen generasi dalam isu perubahan iklim justru tidak menyederhanakan persoalan. Banyak faktor yang akhirnya luput dari pertimbangan saat melihat akar masalah krisis iklim serta dampak-dampaknya.<\/p>\n<p>Meskipun meme-meme bernada sindiran menambah paparan publik terhadap isu lingkungan, percakapan semacam ini justru bisa menggeser fokus publik terhadap cara penanganan perubahan iklim.<\/p>\n<p>Setiap generasi membutuhkan lebih banyak perbincangan seputar dampak perubahan iklim. Dengan bercakap-cakap lebih banyak, antargenerasi seharusnya saling berempati dan berdialog untuk merumuskan aksi bersama, sesegera mungkin.<\/p>\n<p><strong>Generasi mana yang paling menderita?<\/strong><br \/>Kejadian tak menyenangkan akibat perubahan iklim baik panas ekstrem, kebakaran hutan, puting beliung, banjir, maupun ombak dahsyat mengakibatkan kerugian banyak orang di berbagai negara dan juga daerah di Indonesia.<\/p>\n<p>Namun, pengalaman terhadap kejadian maupun bencana antargenerasi jelas berbeda<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\"><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244922750\/prediksi-iklim-jawa-tahun-2100-waspadai-panas-menyengat-di-perkotaan\">Baca: Waspadai suhu panas di masa depan<\/a><\/p>\n<p>Gen Z yang lahir dalam periode 1998-2012 bertumbuh di situasi suhu Bumi sudah lebih hangat setidaknya 0,5&deg;C sejak era praindustri (1850-an), dibandingkan generasi Baby Boomers yang lahir di antara tahun 1948-1962.<\/p>\n<p>Perbedaan ini juga terasa apalagi oleh Generasi Alpha yang lahir dalam periode 2013-2022.<\/p>\n<p>Kedua generasi ini, termasuk Millenial yang lahir dalam periode 1981-1995, menjadi kelompok yang sangat merasakan dampak perubahan iklim di masa depan.<\/p>\n<p>Jikalau seluruh negara dunia serius dan ambisius meredam perubahan iklim (termasuk melenyapkan pembakaran batu bara), mereka akan menjalani sebagian besar hidupnya di tengah kenaikan suhu Bumi sebesar 1,5-2,4&deg;C.<\/p>\n<p>Semakin panas suhu Bumi, kemalangan yang menimpa manusia akan terus parah. Ini dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.<\/p>\n<p>Sementara itu, dengan skenario yang sama, generasi Baby Boomers merasakan kenaikan suhu 1,9&deg;C.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/244731190\/hari-lingkungan-hidup-sedunia-sekjen-pbb-kembali-serukan-inggalkan-bahan-bakar-fosil-untuk-hadang-krisis-iklim\">Baca: Sekjen PBB serukan pengurangan bahan bakar fosil tuk hadang perubahan iklim<\/a><\/p>\n<p>Karena mayoritas sudah berusia lanjut, Boomers mereka lebih rentan mengalami dampak perubahan iklim dalam waktu dekat seperti panas menyengat, kebakaran hutan, longsor, dan hujan ekstrem.<\/p>\n<p>Di negara berkembang seperti Indonesia, situasi itu bisa berefek lebih memprihatinkan. Sebagai contoh, generasi tua yang menjadi petani, mulai dari Generasi X hingga Boomers, banyak terpapar panas ekstrem di ladang dan ketidakpastian cuaca.<\/p>\n<p>Ini berdampak pada kesehatan sekaligus sumber nafkah mereka.<\/p>\n<p>Nelayan generasi Baby Boomers di desa-desa pesisir Sumbawa, misalnya, tak bisa disalahkan atas dan perubahan iklim. Sebaliknya, mereka justru menjadi korban.<\/p>\n<p>Dalam kasus lain, ada pemuda yang terbukti menerima suap dari perusahaan perusak lingkungan yang membuat Bumi semakin celaka.<\/p>\n<p><strong>Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Diah Ayu Prawitasari, Dosen Tetap Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Kajian di tingkat global maupun nasional banyak kaum muda dari Generasi Z (Gen Z) dan Milenial sangat risau terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim. Gen Z merupakan kelompok penduduk global yang lahir dalam periode 1998-2012, sedangkan Milenial lahir di antara 1981-1995. Level keresahan mereka pada kondisi bumi saat ini, khususnya perubahan iklim, lebih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":14465,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4048,460,17,173],"class_list":["post-14464","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-baby-boomers","tag-gen-z","tag-lingkungan","tag-perubahan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=14464"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/14464\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/14465"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=14464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=14464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=14464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}