{"id":15000,"date":"2026-07-30T01:53:37","date_gmt":"2026-07-30T01:53:37","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15000"},"modified":"2026-07-30T01:53:37","modified_gmt":"2026-07-30T01:53:37","slug":"wisatawan-berburu-fenomena-embun-beku-di-dataran-tinggi-dieng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=15000","title":{"rendered":"Wisatawan Berburu Fenomena Embun Beku di Dataran Tinggi Dieng"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia<\/strong> &#8211; Fenomena embun beku (embun es) atau yang dikenal dengan embun upas kembali &#8220;menyelimuti&#8221; wilayah di sekitar kompleks Candi Arjuna, Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, dalam tiga hari terakhir.<\/p>\n<p>&#8220;Kebetulan tiga hari ini kembali muncul embun beku setelah tiga minggu kemarin ada hujan,&#8221; kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelola Objek Wisata Dieng Sri Utami di Banjarnegara, Minggu (14\/7\/2024).<\/p>\n<p>Dia mengatakan berdasarkan hasil pengecekan, suhu udara di sekitar kompleks Candi Arjuna pada hari Minggu (14\/7\/2024), pukul 05.30 WIB, tercatat mencapai minus 1 derajat Celcius.<\/p>\n<p>Bahkan, kata dia, wilayah di sekitar kompleks Candi Arjuna yang diselimuti embun beku pada Minggu (14\/7\/2024) pagi lebih luas jika dibandingkan dengan dua hari sebelumnya.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau ketebalan (embun beku) tergantung pada posisinya, tidak merata,&#8221; katanya menjelaskan.<\/p>\n<p>Dia mengakui saat sekarang banyak wisatawan yang berkunjung ke Dieng karena sedang masa liburan sekolah. Sebagian wisatawan yang lain ingin merasakan fenomena embun beku dan memilih untuk menginap di sejumlah penginapan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243344586\/mengenal-fenomena-embun-es-di-dieng-dan-dampak-buruknya-pada-pertanian\">Baca: Mengenal fenomena embun beku di Dieng<\/a><\/p>\n<p>Dilansir Antaranews.com, wisatawan-wisatawan yang menginap itu pun &#8220;berburu&#8221; embun beku di sekitar kompleks Candi Arjuna pada Minggu (14\/7\/2024) pagi.<\/p>\n<p>&#8220;Dari pantauan kami, tadi pagi ada lebih dari 100 wisatawan yang berburu embun es,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, dia mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG, fenomena embun beku akan sering muncul di Dieng saat puncak musim kemarau seperti tahun-tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Menurut dia, masyarakat setempat dengan mengandalkan kearifan lokal sering kali bisa memprediksi kemunculan embun beku yang ditandai dengan cuaca pada siang hari terlihat cerah tanpa adanya mendung atau hujan dan sore harinya mulai terjadi penurunan suhu udara.<\/p>\n<p>Sri Utami mengharapkan, kondisi cuaca di Dieng tetap cerah tanpa adanya hujan dan embun beku masih berpotensi muncul hingga pelaksanaan Dieng Culture Festival (DCF) XIV pada 23-25 Agustus 2024, sehingga dapat menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung DCF.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/daerah\/243103924\/hujan-es-di-sragen-137-rumah-rusak\">Baca: Perubahan iklim membuat hujan es sering terjadi di Indonesia<\/a><\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Dalam kesempatan terpisah, seorang warga Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Alif Faozi mengakui suhu udara pada Minggu (17\/4\/2024) pagi terasa sangat dingin.<\/p>\n<p>&#8220;Bahkan tadi saat mau shalat Subuh, saya pakai water heather untuk berwudu, tapi airnya enggak terasa hangat, mungkin karena saking dinginnya. Namun saya enggak sempat cek berapa suhu udaranya,&#8221; kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa Desa Dieng Kulon itu.<\/p>\n<p>Ia mengakui fenomena embun beku tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menginap di Dieng.<\/p>\n<p>&#8220;Kebetulan sekarang &#8216;kan sedang masa liburan, banyak wisatawan yang datang ke Dieng dan sebagian di antaranya menginap. Tadi pagi mereka terlihat menikmati fenomena embun beku ini,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Dilansir mongabay.co.id, fenomena embun beku di Dieng biasa terjadi pada periode Juni-Juli-Agustus. Hal ini tak lepas dari embusan angin dari Australia menuju Asia melewati Indonesia<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/243045580\/perubahan-iklim-membuat-banjir-makin-sering-terjadi-di-planet-bumi\">Baca: Perubahan iklim membuat banjir akan semakin sering terjadi<\/a><\/p>\n<p>Angin dari belahan bumi selatan ini relatif lebih dingin, karena benua Australia sedang mengalami musim dingin dan mengakibatkan penurunan suhu yang signifikan pada malam hari.<\/p>\n<p>Kondisi ini&nbsp;mencapai puncaknya pada saat sebelum matahari terbit atau waktu di mana suhu minimum umumnya tercapai.<\/p>\n<p>Penurunan suhu yang terjadi secara kontinyu sejak malam hingga dini hari menyebabkan embun yang semula terbentuk dan menyelimuti rumput, dedaunan, atau tanaman kemudian membeku.<\/p>\n<p>Fenomena ini bukanlah kejadian luar biasa dan umumnya terjadi di musim kemarau antara Juni &ndash; September. Terkadang, fenomena ini juga terjadi pada Mei, namun mulai intens dan sering mulai Juni dan puncaknya di Agustus.<\/p>\n<p>Meski menjadi atraksi menarik bagi wisatawan, fenomena embun beku ini menjadi ancaman bagi petani, karena bisa mengakibatkan tanaman kentang mereka rusak dan mati.<\/p>\n<p>Esti Utami, dari berbagai sumber.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211; Fenomena embun beku (embun es) atau yang dikenal dengan embun upas kembali &#8220;menyelimuti&#8221; wilayah di sekitar kompleks Candi Arjuna, Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, dalam tiga hari terakhir. &#8220;Kebetulan tiga hari ini kembali muncul embun beku setelah tiga minggu kemarin ada hujan,&#8221; kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelola [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":15001,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2387,4187],"class_list":["post-15000","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-dieng","tag-embun-beku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15000","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=15000"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/15000\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/15001"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=15000"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=15000"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=15000"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}