{"id":1518,"date":"2026-07-30T00:27:09","date_gmt":"2026-07-30T00:27:09","guid":{"rendered":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1518"},"modified":"2026-07-30T00:27:09","modified_gmt":"2026-07-30T00:27:09","slug":"dari-rahim-ke-bumi-ketimpangan-gender-disebut-akar-krisis-iklim-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/7cloud.asia\/?p=1518","title":{"rendered":"Dari Rahim ke Bumi: Ketimpangan Gender Disebut Akar Krisis Iklim di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong> <!--img1--> <\/strong><\/p>\n<p><strong>7cloud.asia &#8211;&nbsp;<\/strong>Kesetaraan gender dan kepemimpinan perempuan dinilai bukan sekadar pelengkap, melainkan kunci utama dalam mendorong aksi iklim yang berkeadilan di Indonesia.<\/p>\n<p>Hal ini terungkap dalam Seminar Hari Kartini bertajuk &ldquo;Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia&rdquo; yang diselenggarakan di kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta pada Senin (27\/04\/2026).<\/p>\n<p>Para pembicara menegaskan bahwa krisis iklim tak bisa diselesaikan tanpa membongkar ketimpangan gender yang mengakar.<\/p>\n<p>Eva Kusuma Sundari dari Sarinah Institute memperkenalkan konsep &ldquo;ekologi rahim&rdquo; sebagai cara pandang alternatif terhadap relasi manusia dan alam.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/247279259\/hari-perempuan-internasional-memperjuangkan-kesetaraan-gender-dalam-aksi-iklim-global\">Baca: Memperjuangkan Kesetaraan Gender Dalam Aksi Iklim Global <\/a><\/p>\n<p>Dia menegaskan bahwa rahim bukan sekadar organ biologis, melainkan ruang kehidupan yang mengajarkan kesetaraan.<\/p>\n<p>&ldquo;Dalam rahim, semua setara, tidak ada dominasi. Prinsip asih, asah, asuh itulah yang seharusnya diterapkan dalam mengelola bumi,&rdquo; kata Eva.<\/p>\n<p>Politikus Partai Nasdem ini menerangkan, kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini berakar dari cara pandang manusia yang menempatkan diri sebagai penguasa alam.<\/p>\n<p>Sikap eksploitatif dan dominatif terhadap bumi dinilai bertentangan dengan prinsip dasar kehidupan yang seharusnya memelihara, bukan mengendalikan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/sosial-budaya\/245736669\/un-women-perubahan-iklim-turut-memicu-kemunduran-hak-hak-perempuan-dunia\">Baca: Perubahan Iklim Memicu Kemunduran Pemenuhan Hak Perempuan<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Jangan main-main dengan alam, agar alam tidak &lsquo;membalas&rsquo; manusia. Ketika kita merusak lingkungan, itu menunjukkan ketidakmampuan mencintai dan menghormati kehidupan,&rdquo; tegasnya.<\/p>\n<p>Dia juga menekankan pentingnya kesadaran individu sebagai fondasi perubahan. Tanpa kesadaran tersebut, transformasi menuju keadilan ekologis hanya akan menjadi wacana kosong.<\/p>\n<p>Pembicara lainnya, dosen Program Studi Kajian Gender UI, Dr. rer. pol. Hariati Sinaga, S.Sos.,M.A., menyoroti bahwa keadilan iklim tidak dapat dipisahkan dari keadilan lingkungan.<\/p>\n<p class=\"class-paragraph\">Menurutnya selama ini kebijakan pembangunan kerap mengabaikan kelompok paling rentan, termasuk perempuan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/lingkungan\/246598275\/perempuan-bicara-soal-keadilan-iklim-solusi-yang-adil-harus-berangkat-dari-komunitas\">Baca: Perempuan Bicara Soal Keadilan Iklim<\/a><\/p>\n<p>&ldquo;Keadilan lingkungan berangkat dari pengalaman kelompok yang paling terdampak. Dampak pembangunan tidak pernah netral&mdash;ada kelompok yang diuntungkan, tapi ada juga yang dikorbankan,&rdquo; jelas Hariati.<\/p>\n<p>Lebih jauh, dia menjelaskan relasi gender memainkan peran penting dalam menentukan akses, kontrol, dan kepemilikan atas sumber daya alam.<\/p>\n<p>Ketimpangan ini, lanjut Hariati, membuat perempuan lebih rentan terhadap dampak krisis iklim, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun kesejahteraan sosial.<\/p>\n<p>&ldquo;Lingkungan tidak dialami secara sama oleh semua orang. Faktor gender, kelas, ras, hingga orientasi seksual menentukan siapa yang paling menderita akibat krisis ekologis,&rdquo; katanya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.7cloud.asia\/humaniora\/247352062\/perempuan-masih-tersisih-koalisi-perempuan-indonesia-desak-negara-benahi-ketimpangan-struktural\">Baca: Koalisi Perempuan indonesia Desak Negara Benahi Ketimpangan Struktural<\/a><\/p>\n<p>Ia menegaskan bahwa tanpa membongkar ketimpangan gender, upaya mengatasi krisis iklim hanya akan memperdalam ketidakadilan yang sudah ada.<\/p>\n<p>Seminar ini menutup dengan satu pesan tegas: krisis iklim bukan semata persoalan lingkungan, melainkan krisis keadilan.<\/p>\n<p>Tanpa kepemimpinan perempuan serta perspektif gender, solusi yang dihasilkan berisiko mengulang pola eksploitasi yang sama, hanya dalam wajah yang berbeda.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7cloud.asia &#8211;&nbsp;Kesetaraan gender dan kepemimpinan perempuan dinilai bukan sekadar pelengkap, melainkan kunci utama dalam mendorong aksi iklim yang berkeadilan di Indonesia. Hal ini terungkap dalam Seminar Hari Kartini bertajuk &ldquo;Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia&rdquo; yang diselenggarakan di kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":1519,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[421,655,167,17,656],"class_list":["post-1518","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-aksi-iklim","tag-gender","tag-krisis-iklim","tag-lingkungan","tag-perempuan-berdaya-indonesia-maju"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1518","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1518"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1518\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1519"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/7cloud.asia\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}